
maak jou utojou
estali belarriak
bere iragana ahantzarazi
ni ikusten nauenean esaneko egin
nazazu baztertu ezinik
egin ezazu nire esklabo
egin dezala nire urrats guztiak jarrai dezala
obeditu
obeditu
obeditu
Alisha membaca mantra yang dia sudah pelajari dari dukun di negara Kamerun itu. Tempat dia berguru dan akhirnya menjadi salah satu petinggi di dalam sebuah perkumpulan dukun bahas kuno di negeri itu.
Kalau kau ke negara itu, kau tidak akan bisa menemukan daerah di mana Alisha belajar, karena tempat itu tidak ada di peta, tempat itu hanya bisa ditemukan oleh orang yang memiliki kemauan yang kuat akan suatu hal. Tempat itu akan memanggilmu. Alisha harus mendaki gunung kamerun berkali-kali sebelum akhirnya sampai puncak dan menerima panggilan itu.
Alisha berkali-kali hampir terserang hipotermia karena cuaca gunung yang ekstrim. Setelah mendapat panggilan ke tempat itu, Alisha harus menghadapi banyak ujian dan mencapai tujuanya.
Yaitu mampu melihat mereka dan mengendalikan mereka. Ilmunya di titik ini bahkan sudah lebih tinggi dari seorang Saba Alkamah yang tidak bisa mengendalikan jin. Karena ilmu itu tidak pernah ada di negeri ini.
Walau seperti Alka bilang, semua ada pertaruhannya. Alisha bahkan, tidak ragu untuk setiap pertaruhannya.
Setelah mengucapkan mantra di atas, Alisha melepaskan Aben yang linglung. JIn linglung, adalah kasus pertama di negeri ini. Bagaimana bisa jin dibuat linglung oleh seorang manusia.
Mantra diatas adalah mantra ahaztu. Mantra yang membuat jin lupa dan mampu dikendalikan kelak jika dibutuhkan.
Kalau pada manusia bisa dibilang, pelet, tapi bukan berkenaan dengan cinta. Sebuah pengendalian yang dilakukan agar korban mengikuti maunya si pembaca mantra.
Setelah Aben dilepaskan, tentu Aben telah memberi tahu semuanya, bukan karena dia pengaduan, tapi karena mantra itu berhasil, Aben menjadi tidak memiliki dirinya sendiri.
Alisha pulang, dia tinggal di apartemen mewah di jakarta, setelah sampai rumah, Alisha membuka bajunya dan ke kamar mandi yang dilengkapi bathub, setelah membuka baju dan menyisakan pakaian dalam saja, Alisha memperhatikan kaca.
Tulang rusuknya patah satu satu ruas garis. Itu adalah harga yang harus dia bayar karena mengucapkan mantra ahaztu, sebenarnya Alisha tidak ingin mengucapkan mantra itu. Tapi Aben terlalu teguh, akhirnya Alisha harus mengucapkannya, walau dengan pertaruhan rusuknya patah satu ruas garis.
Alisha menahan sakitnya. Setelah memastikan dia akan baik-baik saja, Alisha lalu berbalik hendak ke bathtub untuk berendam, saat kaca memantulkan bagian punggungnya, terlihat begitu banyak lebam dan garis kemerahan, seperti dia telah dipukuli atau disiksa.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang terlihat anggun, manja dan lemah dari luar itu, memiliki tubuh yang begitu banyak luka. Apakah itu untuk menahan luka dihatinya?
Alisha berendam, dia menikmati air hangat yang menyentuh setiap lekuk tubuhnya, sakit di bagian dada tidak hilang begitu saja, Alisha tetap menahannya, dia harus menahan sakit itu selama tujuh hari, setelah tujuh hari, sakit itu akan hilang dan tulang rusuknya akan kembali normal.
Esash ahaq tahdiran
Esash ahaq tahdiran
Esash ahaq tahdiran
__ADS_1
Suara serak yang dia dengar itu diiringi kedatangan seorang nenek tua, dengan busana compang-camping, wajah mengerikan, tangan dan kaki yang tinggal tulang, nenek tua itu mendekati Alisha, wangi bunga khas tanaman hias yang tumbuh di Kamerun tercium. Alisha membuka matanya. Nenek compang-camping dengan wajah mengerikan itu, telah berada di sampingnya. Matanya yang bulat besar dengan hitam saja sebagai bola matanya, menatap Alisha dengan tajam.
"Hanya tunjukan wajahmu jika aku sendirian." Alisha berkata.
Nenek itu duduk di samping bathub yang Alisha tempati, dia memegang tangan Alisha dan menciumnya.
"Jika sudah waktunya, aku akan memberikan apa yang kau mau, saat ini, jadilah patuh." Alisha mengusap rambut lepek nenek itu yang jika kau memegangnya, akan meninggalkan bercak darah pada tanganmu.
Nenek mengerikan itu tersenyum ketika Alisha mengusap rambutnya.
Alisha menitikkan air mata, setiap kali dia tersadar, sudah sejauh ini dia mengejar cinta kekasihnya, hancur sudah tubuhnya, mentalnya dan juga bahkan jiwanya.
Dia telah tersesat karena cinta, dia hanya ingin bersama kekasihnya, dia hanya ingin memahami apa yang kekasihnya lindugi, dia ingin menjadi bagian yang dilindungi itu. Maka pertama yang harus dilakukan adalah, mengerti dunia itu. Bahkan melampaui ilmu yang dimiliki Hartino sekalipun.
Alisha menikmati kembali mandi air hangatnya sembari menikmati setiap detik rasa sakit yang dia harus rasakan karena mengucapkan mantra pada Aben ditemani oleh nenek mengerikan dengan pakaian compang campingnya yang terlihat begitu patuh pada Alisha.
...
"Ben! ada apa?" Alka membawanya ke belakang gua, dia ingin bicara berdua saja.
"Aku kenapa?" Aben bingung.
"Kau menghilang tiga hari ini!" Alka kesal karena teman jinnya yang paling baik itu seperti linglung, hal yang tidak pernah jin manapun alami sebelumnya.
"Hah? tidak, aku setelah menyerupai Hartino kembali ke hutan, lalu aku bersemedi di bawah air terjun di bagian paling dalam hutan Ka, aku lupa berapa lama, sepertinya hanya sebentar."
"Oh, kau yakin?" Alka masih agar merasa janggal.
"Ya, tentu saja, mungkin aku tidak sadar memasuki zona dua alam hingga waktu bercampur aduk." Aben mencoba meyakinkankan, sebuah skrip yang Alisha berikan agar Alka percaya.
"Iya Alka." Aben tersenyum lalu dia pamit pulang, masuk ke dalam hutan.
Alka akhirnya kembali ke angkot jemputan, mereka akan menelisik kasus pada sebuah gedung pemerintah yang lama terbengkalai di Jakarta Utara. Kasus yang Mulyana belum sempat kerjakan.
"Aben baik-baik saja?" Aditia bertanya, Alka duduk di sampingnya, sementara yang lain duduk di belakang seperti penumpang, sedang angkot pintunya di tutup agar tidak dikira sedang narik.
"Ya, tapi ada yang aneh." Alka akhirnya mencoba jujur pada yang lain.
"Apa?" Tiba-tiba semua orang mendekati Alka, yang duduk di kursi penumpang pun mendekatkan dirinya, Alka jadi kaget.
"Dia terlihat memiliki ekspresi yang aneh, maksudku, ekspresi itu, ekspresi menyeringai yang tidak pernah Aben miliki. Seperti bukan dirinya."
"Emang jin bisa kemasukan?" Aditia bertanya atau hanya bergumam, hanya dia yang tahu.
"Harusnya tidak, mereka kan transparan, gimana cara kerasukannya?" Yang lain mikir keras.
"Nah itu dia, apa hanya perasaanku saja?" Alka jadi ragu, ini kasus yang hampir tidak pernah terjadi pada dunia perjinan.
"Trus gimana dong?"
"Urus kasus pendingan bapak aja Dit, itu dulu lebih urgent, sosok itu sudah lama sekali tertunda di jemput oleh bapak." Alka memberikan perintah.
"Siap bos." Semua orang akhirnya kembali ke posisi masing-masing.
__ADS_1
...
Ada sebuah gedung yang terdiri dari dua lantai di Jakarta Utara, gedung itu sudah terbengkalai cukup lama. Dulu sekali gedung ini digunakan untuk tempat pelatihan para calon Pegawai Negeri, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya gedung ini tidak digunakan lagi dan terbengkalai begitu saja. Tanpa perawatan. Hari ini mereka semua harus bertanya dulu dengan warga sekitar, tentu dengan cara pendekatan perlahan. Sebelum benar-benar masuk, karena mereka harus tahu dulu siapa yang dihadapi.
Akhirnya tim dibagi tiga lagi, Alka dan Aditia, Jarni dan Ganding, Hartino tetap berjaga di angkot dengan laptop canggihnya.
Tempat favorit Alka dan Aditia dalam mengumpulkan informasi adalah warung kopi dekat bangunan terbengkalai itu.
"Loh, berani?" Ibu itu menyajikan kopi yang mereka pesan.
"Kenapa memang?" Pertanyaan pamungkas yang pasti menggiring pada jawaban yang lebih luas.
"Itu tempatnya angker, memang belum dikasih tahu, kan dulu banyak yang mau bersihin sama renovasi, tapi nggak pernah berhasil." Ibu itu menjelaskan.
"Nggak, kita nggak pernah dikasih tahu tuh, memang pernah ada yang mau renov?"
"Duh nggak keitung deh, jadi itu gedung bukan dibiarkan terbengkalai, katanya orang-orang yang dulu mau renov, pusat udah sering tugasin, tapi pasti gagal. Rata-rata yang ditugasin, nggak akan tahan masuk barang setengah jam aja, pasti minta keluar lagi, soalnya ... gedung itu ... suka nyesatin."
Alka tersenyum, dapat sedikit informasi.
"Ah, kita mah nggak percaya gitu-gituan, Bu." Aditia menimpali sembari makan pisang goreng yang tersedia.
"Ih kamu nggak percaya, orang nih ya, dulu petugasnya kan masuk buat survey, itung-itung apa tuh ya?"
"Itung luas Bu?" Aditia menebak.
"Nah itu, iya luasnya, trus dia ...."
PETUGAS RENOVASI SEBELUMNYA
“Ukur luas ruangan dulu ya.” Seorang lelaki yang merupakan mandornya menyuruh anak buah untuk mengukur luas ruangan.
Mereka berlima masuk lebih dalam lagi ke gedung pelatihan terbengkalai itu, saat dia hendak mengukur ruangannya dengan sebuah alat ukur otomatis yang menggunakan sistem infra merah. Alatnya rusak.
“Kenapa?” Tanya mandornya.
“Ini meteran lasernya rusak kali ya, kok infrarednya nggak mau keluar.” Bawahannya mengeluh.
“Hah? baru ini, yang lama udah diganti karena sering error.” Mandornya menerima alat itu dan mencobanya.
Alatnya berfungsi dengan baik.
“Bisa kok. Nih.” Mandornya mengembalikan lagi alat itu.
Anak buahnya mencoba lagi dan akhirnya bisa.
“Iya bisa ternyata.” Anak buahnya mulai mengukur, saat dia pindah ke tempat lain, ada sesosok bayangan yang ternyata tadi menghalangi alat ukur dan membuatnya jadi kacau hingga dikira rusak, dia berpindah mengikuti lima orang itu yang tentu tidak tahu kehadirannya, tapi pasti bisa merasakannya.
Mereka terus masuk ruangan demi ruangan, hal ini perlu dilakukan agar luas ruangan itu bisa dikirim ke bagian admin pusat, guna menghitung biaya yang mereka butuhkan untuk merenovasi ruangan yang sudah tidak layak lagi.
Masih di lantai satu, mereka masuk ke bagian belakang, dulu ruangan itu digunakan untuk pantry, atapnya terlihat runtuh entah karena apa, untuk bangunan yang biasanya terbuat dari bahan berkualitas karena digunakan untuk tempat pelatihan, atap jatuh itu hal yang sangat janggal.
“Atap kok bisa jatuh gini, ada yang dudukin apa?” Mandornya berkata seenaknya.
__ADS_1
“Pak jangan bicara sembarangan, biar bagaimanapun ini tempat kosong lama.” Ucap salah satu anak buahnya yang lain.
Lalu tiba-tiba ada bunyi ambruk terdengar dari lantai dua, mereka berlari karena ingin tahu apa yang jatuh sehingga menimbulkan suara yang sangat bising dan mengagetkan.