
“Kakak mohon Amanda jangan ngekos ya, Kakak janji bakal kerja, temen Kakak bilang ada lowongan.”
Amanda masih tidak bicara pada kakaknya, dia sekarang sudah membereskan semua baju untuk bersiap ngekos, walau sebenarnya dia akan menumpang pada temannya dulu, tidak mudah mencari tempat kos di dekat tempat kerjanya.
Tapi Amanda sudah bertekad untuk pindah, dia masih saja diam tak mau bicara lagi dengan kakaknya.
“Manda ... apa segitu bencinya kamu sama Kakak?”
Manda menatap kakaknya dengan tajam, tidak menanggapi perkataannya dia meninggalkan meja makan, karena tadi dia sedang makan, sarapan yang dia beli sendiri tanpa membelikan kakaknya, Amanda tidak peduli lagi dengan kakaknya, selama ini dia selalu membantu kakaknya hanya menuturi ibunya saja.
“Manda ... kalau memang kau memang masih ingin pergi dari rumah ini. Kakak nggak bisa paksa kamu untuk tinggal, ini kalung ibu, kamu pegang, kalau emang butuh jual aja.
Trus ini ada uang sedikit, sisa dari uang melayat, kamu pakai buat kebutuhan ya.” Kakaknya menyerahkan kalung dan juga sejumlah uang.
Amanda mengambil kalung dan uang itu, karena mamang butuh dan tetap pergi membawa tas berisi baju.
Manda dijemput oleh seorang teman perempuannya lalu pergi meninggalkan rumah itu tanpa ragu.
Sementara Amanda pergi dari rumah, di saat yang sama, Aditia dan Alka datang ke rumah itu.
“Assalamualaikum,” Aditia mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam.” Kakaknya Manda membalas salam, pintu rumah memang tidak tertutup.
“Saya Aditia, maaf kemarin tidak datang saat pemakaman Bang.” Aditia bertandang sebagai tetangga yang telat datang melayat.
“Iya nggak apa-apa, masuk yuk.”
Kakaknya Manda lalu masuk ke dalam, mengambilkan teh hangat dan kue basah yang kebetulan masih ada, pemberian tetangga saat melayat.
“Kok repot-repot sih Bang, cuma mau melayat aja.” Aditia jadi tak enak, karena dia lupa membawa buah tangan dan kedatangannya sebagai tamu berbeda dari penyamaran biasanya yang tak perlu membawa-bawa buah tangan seperti sekarang ini.
“Gimana Bang? sekarang lagi sibuk apa?” Aditia bertanya.
“Yah begini aja sih Bang, lagi cari kerja aja, adik saya ngekos sekarang, biar lebih dekat sama tempat kerja.” Kakaknya Amanda menutupi kejadian sebenarnya.
“Lulusan apa Bang?” Aditia bertanya lagi.
“Belum lulus, kayaknya nggak lanjut kuliah deh, mau kerja aja.”
“Oh gitu, coba ngelamar di tempat kami aja Bang.” Alka tiba-tiba berkata, Aditia terlihat kaget karena menawarkan hal yang biasanya dia tidak begitu mau ikut campur.
“Oh gitu, emang bisa?”
“Iya, nanti kirim email aja CVnya ya.” Alka terlihat serius.
“Iya, Alhamdulillah, saya emang lagi cari kerja banget, semoga rejeki saya ya.”
“Iya Amin.”
“Oh ya, meninggalnya kenapa Bang? sakit?”
“Itu juga yang kami agak bingung, ibu tuh sebenarnya orang yang kuat, jarang sakit, walau banyak pekerjaan, dia selalu bisa menjaga kesehatan tubuhnya, tapi entah kenapa kemarin ibuku lemas terus, kata Dokter sih Anemia, tapi ibuku tidak punya penyakit itu, walau sudah diberi obat tapi masih saja tidak membaik. Ya ... mungkin namanya umur.”
__ADS_1
“Jadi meninggal mendadak setelah sakit sebentar ya, Bang?” Alka bertanya.
“Iya, kata adik saya sih, punggungnya juga ada lebam aneh, kayak orang dipukulin, tapi lebamnya lebar, dari leher bagian belakang sampai setengah punggung.
Saya nggak tahu kenapa, adik saya juga nggak tahu, trus sebelum kami periksa lebamnya, ternyata ibu udah nggak ada.”
“Wah pasti sedih sekali ya, karena sakitnya cepet jadi nggak ada waktu untuk lebih ngurus ibu lagi?” Aditia menanggapi.
“Iya, nyesel saya, tau gitu mah kuliah yang bener, biar lulus tepat waktu, biar ibu bangga.”
“Ya balik lagi seperti kata abang tadi, kan udah takdir ya.” Aditia menenangkan.
“Bang maaf mau tanya, kemarin dikuburan katanya ada kejadian ya?” Aditia melanjutkan lagi.
“Oh itu, adik saya pingsan. Tapi pas sebelum pingsan dia nunjuk-nunjuk ke atas keranda, nggak lama kemudian pingsan, pas dia pingsan, kain yang nutup keranda tiba-tiba terbang ketiup angin. Kami semua kaget.”
“Oh begitu, tapi kejadian lain nggak ada Bang? soalnya heboh banget ibu-ibu ini pada cerita, saya ampe penasaran.” Aditia mencobam mengoreka lagi, mencoba dengan santai dan tenang, tapi memang agak sulit melakukannya, takut disangka tetangga yang ingin ikut campur urusan tetangganya. Untung Alka menawarkan pekerjaan tadi, jadi kakaknya Manda lebih terbuka, Alka memang pintar.
“Hmm ... sebenarnya ada, mungkin ini yang dibicarakan oleh ibu-ibu di sini, tapi ibu saya orang baik kok, jadi mana mungkin dia begitu karena dosa pada orang.”
“Begitu kenapa Bang?” Aditia penasaran.
“Pasa saya buka tali pocongnya dan membuka wajahnya untuk menghadap ke tanah, saya melihat ... wajah ibu saya sangat hitam.” Kakaknya Manda sedih mengenang kejadian itu, tak dia ceritakan pada Manda kejadian ini karena takut membebaninya, pun tetangga yang melihat sudah diwanti-wanti agar jangan menyebar rumor.
Tadi Aditia hanya asal bicara saja soal gosip yang dikatakan tetangga mereka, hanya untuk memancing, biasanya kalau diberitahu begitu, orang akan terpancing.
“Menghitam? Kok bisa?”
“Aduh kasihan sekali, pasti itu karena penyakitnya.” Alka langsung menyelak agar Kakaknya Amanda tidak terlalu memikirkannya lagi.
“Iya kali ya, apakah karena Anemia ya? kekurangan darah jadinya begitu?” Kakaknya Manda menebak saja, maklum dia tak punya keahlian dibidang medis, hanya menebak saja.
“Ya, bisa jadi.” Alka menimpali.
“Yaudah Bang, kalau begitu kami pamit, ini ada sedikit uang buat mungkin bantu-bantu selametan, soal pekerjaan itu, jangan lupa kirim CVnya ya, sama surat lamaran kerja, siapa tahu jodoh dan rejeki abang.” Aditia hendak pamit dan mengingatkan soal pekerjaan itu.
Lalu dia dan Alka keluar rumahnya dan menaiki angkot yang diparkir jauh dari rumah itu.
“Apa rasanya rumah itu?” Aditia bertanya pada Alka.
“Bau aneh Dit, aneh banget. Bukan tanah kuburan seperti katamu, bukan bau iblis, aku juga tak dapat menemukan bau apa itu.”
“Kalau begitu sama, kita harus tahu dulu apa sumber dari bau itu, kita perlul bertemu adiknya yang katanya ngekos di dekat tempat kerjanya.
Aku perlu bantuan Hartino untuk mendapatkan alamat tempat kerja adiknya, besok kita akan temui dia di tempat kerja. Aku ingin tahu apa yang dia lihat di atas keranda itu.” Aditia lalu menelpon Hartino untuk meminta data.
Setelah itu dia dan Alka lalu berkendara ke markas ghaib.
...
Anak pemilik toko emas itu terbangun tengah malam, dia melihat ibu dan ayahnya sedang tidur di sofa rumah sakit, dia kehausan, dia ingin minum, dia coba memanggil mami dan papinya tapi tidak ada yang bangun, dia lalu mencoba untuk bangun, semua masih terasa sakit, dia baru saja dioperasi pagi tadi dan sekarang sudah hampir satu hari setelah dia di operasi.
Pada tengah malam ini, dia malah terbangun dan ingin minum.
__ADS_1
Anak pemilik toko itu lalu mencoba untuk bangkit, tapi tidak bisa, sekujur tubuhnya masih lemas, kaki dan tangannya sakit.
Dia mencoba memanggil orang tuanya, tapi masih tidak ada yang bangun, dia sangat frustasi dan mencoba untuk bangun, tidak bisa, tubuhnya terasa berat, sangat berat.
Tapi aneh, bukan karena luka bekas operasi, karena operasi dilakukan pada kaki dan tangan, lalu kenapa perutnya terasa berat sekali, seperti ada yang ....
Ketika anak pemilik toko emas itu melihat ke arah depan, ke arah perutnya, dia melihat sesosok wanita dengan wajah yang sangat mengerikan, kepalanya terlihat terbelah, dengan gaun yang amat panjang, sedang berdiri di atas perutnya, wajahnya menatap dia dengan seringai yang mengerikan.
Anak pemilik toko emas itu ketakutan, dia ingin berteriak, tapi tidak bisa mulutnya tiba-tiba diinjak dengan kaki sosok mengerikan ini, hingga rasanya dia tak mampu bernapas.
Anak pemilik toko masih mencoba untuk berteriak dan melepas injakan sosok ini, tapi tidak mampu. Dia menangis karena takut dan sesak nafas.
“Sadar kamu, sadar!” Tiba-tiba anak pemilik toko tersadar, sudah banyak orang di sini, sudah ada Dokter dan beberapa Perawat.
“Anaknya sudah sadar bu, di sini nggak pernah kejadian kayak gini sebelumnya, baru kali ini bu.” Seorang perawat berkata, sedang anak pemilik toko emas itu terlihat kebingungan, dia masih merasakan sesak yang teramat sangat tadi, tapi beryukur karena sosok itu sudah hilang.
“Ini hari kedua dan dua hari ini anak ibu kesurupan terus. Mana tadi ketawa-ketawa kenceng banget, sambil loncat-loncat di kasur, padahal baru aja selesai operasi tangan dan kakinya yang patah, itu bener-bener bahaya loh bu.” Perawat lain menimpali.
“Iya dia emang suka gitu kalau ketakutan, maaf ya Dok, Sus.” Maminya menjelaskan, itu membuat anak pemilik toko emas kesal, dia tak pernah seperti ini, baru kali ini saja.
Perawat dan Dokter akhirnya keluar dari ruang perawatan, sedang di ruangan itu hanya ada pemilik toko emas, suami dan anaknya yang masih belum bisa tidur.
“Mi, kenapa tadi bilang kalau aku suka begini, aku nggak pernah kesurupan sebelumnya, lagian tadi aku nggak kesurupan, aku justru lagi minta tolong untuk diambilin air, tapi tiba-tiba ada yang berdiri di atas perutku, aku panik dan berusaha untuk lepas, tapi nggak bisa.”
“Jangan ngawur kamu! udah tidur, istirahat, kamu harus pemulihan, kan baru selesai operasi.”
“Pi, apa ini aku lagi dikerjain sama penghuni kamar itu!”
“Makin ngawur ah, udah kamu pokoknya tidur ya, kalau nggak Papi panggil Dokter biar kamu disuntik obat tidur aja, supaya bisa istirahat, nggak mikir yang aneh-aneh.” Papinya terlihat kesal, anak pemilik toko itu akhirnya menyerah dan tidak lama kemudian dia tertidur.
Papinya memastikan anaknya tertidur dengan lelap, baru dia bicara dengan istri dan juga ... putri.
“Tuan putri kenapa ke sini?”
Sosok mengerikan itu menatap anak pemilik toko emas itu dengan tajam tidak mengindahkan apa yang ditanyakan oleh suami pemilik toko emas itu.
“Pulang ya.” Sekarang pemilik toko emas yang bicara.
Sosok itu menatap pemilik toko emas dan mencekiknya, pemilik toko emas itu sesak nafas, sementara suaminya mencoba untuk menenangkan sosok mengerikan itu dengan membaca mantra, seketika sosok itu menghilang dan kepanasan.
Pemilik toko itu segera mengambil dupa yang dia bawa, membakarnya dan menyebar asapnya ke seluruh bagian kamar itu, beruntung tidak terdeteksi sebagai potensi kebakaran pada alat deteksi asap di kamar perawatan itu.
“Kita harus datang ke tempat itu lagi untuk meminta bantuan, karena ....” Pemilik toko emas itu berkata setelah menyebar asap dupa itu.
“Tapi, dia pasti meminta sesembahan lagi, aku tidak sanggup, aku nggak mau lagi.” Suaminya menjawab.
“Kau bisa menanganinya sendiri?” Pemilik toko emas itu mengancam.
“Aku ....”
“Kalau mau bicara lelah, aku juga sangat lelah, tapi kau mau dia tak bersama kita lagi? bukankah pabrikmu berkembang pesat karena Tuan Putri, lalu toko emasku juga banyak pelanggan karena dia! kau mau mengingkari itu setelah mendapatkan begitu banyak keuntungan?” Pemilik toko emas mengingatkan suaminya.
“Kita akan pergi ke tempat itu lagi.” Suami pemilik toko emas itu akhirnya setuju.
__ADS_1