Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 204 : Tinung 8


__ADS_3

Di dalam sebuah gubuk, di perbatasan desa yang letaknya masuk ke dalam perkebunan terbengkalai, tinggal seorang pria yang sudah cukup renta.


“Mereka tidak seharusnya datang ke desa kita.” Lelaki itu bicara sendiri, tidak ada siapapun di sana.


Lelaki itu telah tinggal di gubuk yang menurut warga adalah gubuk angker, tidak ada yang berani ke sana, karena setiap akan ke gubuk itu pasti saja akhirnya tersasar di tengah perkebunan jagung yang pohonna tinggi-tinggi. Sehingga gubuk itu tidak pernah terlihat sama sekali.


“Kita harus menghadapi mereka, walau mereka anak-anak muda, tapi mereka tidak bisa dianggap enteng, apalagi yang satu bukan manusia biasa.


Pasti mereka adalah suruhan lelaki itu, yang dulu datang sempat membuatmu ingin ‘pulang’ tapi akhirnya aku tidurkan lagi dan sekarang saat kau sebentar lagi akan bangun dalam wujud manusia yang lain, mereka malah datang kembali.


Tapi tenang saja anakku, mereka takkan pernah bisa menyentuhmu lagi. Karena kau harus bangun, aku ingin melihatmu hidup kembali, bahagia dan menikah. Lalu akhirnya punya anak. Ibumu seharusnya melihat ini, tapi dia sudah pergi Nak. Tapi kita bisa membawanya ke sini saat kau bangkit.


Lelaki itu berjalan dengan tongkat kayunya keluar dari gubuk dan menghampiri pusara, pusara istrinya.


...


“Jadi, apa rencananya?” tanya Mbah Nur.


“Kami harus melakukan itu Mbah, mau tidak mau, suka tidak suka. Karena akan terlalu lama jika kami menunggu sampai enam bulan, kita harus segera membawa Tinung pulang.” Alka dan Aditia sudah di rumah Mbah Nuraeni, membicarakan rencana mereka.


“Tapi itu bisa jadi bahaya untuk bayinya.”


“Tidak akan, aku akan pastikan bayinya baik-baik saja.”


“Tidak ada indikasi, seharusnya hal itu tidak boleh dilakukan.” Mbah Nur ragu.


“Maaf, tapi saya memaksa.” Alka terpaksa harus mengatakan itu.


“Saya tahu niat kalina baik, makanya saya juga akan bantu. Tapi kalian harus bersiap, jika kelak terjadi hal yang tidak diinginkan.” Mbah Nur mengingatkan bahwa mungkin ini pertarungan yang sengit.


“Ya, kami akan persiapkan semuanya.” Alka meyakinkan Mbah Nur agar mengikuti rencana yang telah dibuat, walau memang ini nekat, tapi harus dilakukan.


Semua yang dibutuhkan sudah dipersiapkan, mereka akan melakukannya dikediaman wanita hamil itu.


Kamar tempat mereka biasa tidur, sudah disulap menjadi kamar yang jauh lebih baik untuk melakukan rencana itu.


Semua orang berkumpul termasuk Pak RT. Tidak banyak warga yang datang, karena ini memang rencana rahasia.


“Jadi ada apa ini Mbah?” tanya Pak RT.


“Kami akan mempercepat kelahiran anak itu. Waktunya kan harusnya dua minggu lagi, lalu pasti anak ini akan lahir di hari rabu. Tapi kami akan mempercepat kelahirannya sehingga hari kelahiran harusnya hari ini, yaitu hari senin.” Mbah Nur menejelaskan, karena Pak RT tidak tahu menahu mengenai hal tersebut.


“Lalu mereka untuk apa ke sini?” tanya Pak RT lagi.


“Mereka akan membantu kita.”

__ADS_1


Aditia mendekati Pak RT, dia tahu, bahwa sekarang waktuna untuk berbicara mengenai tujuan mereka ke desa ini.


“Pak, bisa kita bicara sebentar?” Aditia mengajak Pak RT untuk ikut keluar bicara dengannya, agar semua orang fokus mempersiapkan kelahiran bayinya.


“Jadi ada apa ini Dit?”


“Kami datang ke sini, tujuan utamanya selain ingin membantun sarana pembangkit listrik bagi desa, kami juga ingin membantu desa ini terlepas dari teror Tinung.”


“Hah?!” Pak RT terkejut, dia benar-benar tidak mengira, sekumpulan anak muda ini ternyata punya maksud dan tujuan yang berbeda.


“Iya Pak, mohon izinkan kami membantu.”


“Kalian ini siapa sebenarnya? Apakah proyek listrik itu bohong belaka?”


“Tidak Pak, mana mungkin kami berani mengatakan kebohongan sebesar itu. Proyek pembangikit listrik akan tetap berjalan sesuai janji. Kami akan memastikan desa ini akan teraliri listrik seperti desa lain yang telah lebih baik dalam sarana penyediaan listriknya.”


“Tapi kenapa tidak jujur dari awal?”


“Apakah kalau kami jujur kami akan diizinkan untuk datang? Kalian pasti mengira kami adalah sekelompok orang yang bekerja di media, kalian tidak suka kan, kalau kampung kalian dipublikasi dengan tema Tinung, makanya kalian tidak pernah meminta pertolongan untuk mengatasi teror Tinung.”


“Ya, memang kami benci sekali publiskasi, orang datang hanya untuk bertanya dan membuat desa ini rusak.”


“Makanya kami masuk dengan tujuan baik, Tinung dan listrik adalah tujuan kami datang ke desa ini.”


“Kalian yakin bisa mengatasi Tinung?” Pak RT bertanya.


“Ayahmu? Maksudmu Pak Mulyana?”


“Betul, dia itu ayahku, karena beliaulah kami ke sini, Tinung adalah bagian dari amanah yang harus kami jalankan, makanya kami datang ke sini.”


“Baiklah, seharusnya dari awal kalian jujur, apalagi kau anaknya Pak Mulyana, orang baik yang membantu desa kami, dia membangun jalan dan jembatan, agar warga desa yang hendak pergi ke desa lain tidak perlu memutar. Dia orang baik dan kalian datang dengan bantuan lain. Aku pasti izinkan.”


“Iya Pak, sebelumnya mohon maaf karena kami baru jujur sekarang.” Aditia meminta maaf lagi agar Pak RT semakin percaya.


“Baiklah, lalu apa yang perlu kita lakukan sekaran?” tanyanya.


Mereka berdua kembali ke dalam rumah, berunding bersama termasuk dengan suami wanita hamil tersebut.


“Kami akan memaksa proses persalinan Pak.” Alka membuka permbicaraan.


“Maksudnya anak saya akan dilahirkan secara paksa gitu?”


“Iya Pak.” Mbah Nur mengiyakan.


“Apa itu tidak berbahaya, apakah mereka berdua akan baik-baik saja?” Suaminya terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


“Kami akan lakukan yang terbaik agar proses persalinan berjalan dengan lancar Pak,” Alka berkata.


“Kenapa harus dilakukan persalinan mendadak seperti ini?” Suaminya bertanya lagi.


“Ini Pak data yang sudah kami susun.” Ganding menunjukan kumpulan kertas yang dia bawa.


“Apa itu?”


“Ini dalah data dari kelahiran semua korban Tinung. Semua bayinya lahir pada hari rabu, kesemua bayi itu juga memiliki tanda lahir yang sama persis, lalu saat dilahirkan juga memiliki wangi yang sama, yaitu wangi pandan dan kembang tujuh rupa.”


“Lalu apa hubungannya dengan bayi kami?” Suaminya bertanya lagi.


“Anak Bapak kemarin di USG dan dari hasil USG itu, kami mengetahui bahwa, bayi Bapak, akan lahir dengan tanda lahir di wajah, sama seperti bayi yang menjadi korban Tinung. Prediksi hari kelahiran juga kemungkinan dua minggu lagi dan sudah bisa kita tebak, hari kelahirannya pasti jatuh di hari rabu." Ganding masih menjelaskan.


"Jadi, maksud kalian, bayi kami juga akan menjadi korban Tinung?"


"Tidak jika Bapak mau setuju untuk mengizinkan Mbah Nur melakukan proses persalinan paksa."


"Mbah, apakah ini akan baik-baik saja untuk istri dan anakku?"


"Masalah hidup dan mati bukan hakku Pak, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin agar persalinan lancar walau waktunya tidak sesuai."


"Apa yang akan kau lakukan Mbah, untuk memaksa kelahiran anakku terjadi hari ini?"


"Aku akan melakukan induksi pada istrimu, induksi bisa memaksa kontraksi dan membuat jalur lahir lebih cepat terbentuk. Tapi ini cukup menyakitkan untuk istrimu."


"Mbah, kalau begitu istriku akan menderita?" tanya suaminya lagi.


"Ya, tapi lebih baik mana? menahan sakit saat ini, atau menahan sakit kehilangan anak? kau tahu kan, tetangga kita istrinya menjadi hilang akal setelah kehilangan anak akibat teror Tinung!" Mbah Nur memaksa, karena akan terlalu lama jika suaminya masih ragu


"Baiklah, tapi kalau sampai istriku kenapa-kenapa siapa yang bertanggung jawab?!"


"Kami akan bertanggung jawab, kami sudah menyediakan ambulans di depan, lalu tenaga medis akan sampai di rumah ini dalam waktu empat jam lagi. Semua sudah kami siapkan dengan matang Pak. Kami tidak bermaksud menumbalkan anakmu. Kami akan berusaha untuk melindunginya, makanya dia harus lahir hari ini, agar dia tidak lahir di hari rabu seperti bayi lain." Aditia ingin suaminya semakin yakin dan menjelaskan bahwa mereka penuh persiapan.


"Baiklah kalau begitu, silahkan lakukan yang terbaik Mbah, saya ingin istri dan anak saya lahir dengan selamat. "


Mbah Nur, Alka dan Alisha masuk ke kamar persalinan di mana istrinya sudha berbaring di sana.


Sementara Jarni menunggu di depan untuk bersiap, jika ada kedatangan tamu tak diundang bersama yang lain.


"Baiklah, kami akan melakukan persalinan sekarang ya Bu, aku akan melakukan proses induksi dengan teknik membrane stripping." Mbah Nur membuka kaki wanit hamil itu dan akan memasukan tangannya pada organ vitalnya.


Induksi menggunakan teknik membrane stripping ini dilakukan dengan cara Mbah Nur akan memasukkan jarinya ke dalam organ vital wanita hamil itu, lalu berusaha memisahkan lapisan kantung ketuban dengan leher rahim. Cara ini ada dapat membuat hormon prostaglandin terlepas dan akhirnya dapat memicu terjadinya persalinan.


Setelah itu, hanha tinggal menunggu waktu bayinya lahir dari proses mengejan yang dilakukan oleh si ibu.

__ADS_1


Apakah mereka akan berhasil? karena ini sebenarnya tindakan ilegal yabg dilakukan oelh Mbah Nur, hanya Bidan atau Dokter yang boleh melakukan teknik ini, apalagi, ini kali pertama Mbah Nur melakukannya, walau dia dulu sering membantu Bidan untuk melalukan persalinan dengan berbagai kondisi. Tapi, melakukannya sendiri, teknik yang benar-benar baru baginya, tentu membuatnya gugup.


Kita doakan mereka berhasil ya.


__ADS_2