
Dibutuhkan waktu beberapa jam agar peti itu jadi, setelahnya Alka memantrai peti agar fidak dapat terendus oleh perkumpulan pemuja Dajjal itu.
Mereka siap untuk mengangkat Zerata, saat hendak mengangkatnya, Zerata telihat bergerak, kawanan langsung buru-buru menghampirinya, terlambat, dia ditarik oleh bayangan hitam entah darimana datangnya. Dua bayangan hitam itu dalam sekejap menarik Zerata, Alka yang cekatan langsung mengejar dan merubah tubuhnya dalam wujud jin.
Aditia dan yang lain ikut mengejar, tentu Alka lebih dulu karena dia memiliki kekuatan jin ditubuhnya yang memiliki darah Darhayusamang.
"Lepaskan dia!" Alka berteriak.
Bayangan itu masih terus menariknya dengan ketinggian yang masih bisa digapai hingga membuat tubuh Zerata terseret-seret di tanah.
"Lepaskan kakakku!" Alka menangis dan menjerit, Aditia bingung kenapa Alka menangia histeris begitu?
"Lepskan kakakku, aku mohon." Kali ini dia memohon karena masih tidak terkejar, semakin kencang Alka mengejar, semakin cepat lajunya, Alka menyabet cambuk dan kaki Zerata terikat sempurna, Alka menarik cambuk itu dengan kuat agar tubuh Zerata bisa tertahan dan tidak ditarik lagi. Sayang tarikan Alka lebih lemah dari bayangan yang menarik tubuh kakaknya. Aditia yang sudah berada di dekat Alka, dia langsung membantnya menarik cambuk agar tubuh Zerata tidak diseret lagi. Ganding, Jarni, Hartino dan Alisha juga sampai di dekat Alka setelah mengejar dengan penuh tenaga tapi tetap tertinggal, akhirnya membantu Alka juga menarik cambuknya agar tubuh Zerata bisa dilepaskan.
dalam hitungan sepuluh menit, tubuh Zerata dilepaskan dan dua bayangan itu kabur dari kawanan.
Zerata lemas karena proses tarik-tarikan itu membuat tubuhnya sakit.
"Aku akan menguburmu pada peti yang dimantrai, maka kau akan mengakhiri penderitaan ini." Alka memeluk kakaknya, kakak lelaki yang dulu sangat ia sayangi sebelum itu terjadi.
"Kubur aku, aku mohon." Zerata membalas memeluk adiknya dengan sangat erat. kalau begini mereka terlihat seperti adik kakak betulan.
"Dit, bantu aku menguburnya, aku mohon."
"Apa tujuan Menguburnya?"
"Tentu saja untuk ...."
"Jangan bohong!" Aditia marah.
"Aku jelaskan nanti, bantu aku menguburnya, harus sekaranh agar kakakku bisa istirahat dengan tenang, aku mohon." Alka memohon.
"Dit, bantu kakak dulu baru penjelasan kemudian." Ganding menepuk pundak Aditia, mengingatkan bahwa mereka sedang dalan keadaan bahaya untuk sekedar saling menjelaskan.
"Baiklah, kita bantu menguburnya."
Peti dibawa ke luar, Alka dan kawanan mulai mengangkat Zerata ke peti itu, Alka menangis saat kakaknya perlahan ... menghembuskan nafas terakhirnya.
Alka menutup peti, membaca mantra untuk agar petinya tidak pernah ditemukan lagi, lalu mengubur peti itu dengan hati-hati.
Setelahnya, Aditia memanggil ruh anak yang awalnya sudah bersekutu dengan Alka, karena dia diperlihatkan bagaimana Zerata tidak peduli padanya saat Alka melihat ke dalam ingatan anak itu.
Alka meminta ruh anak itu membujuk semua anak untuk ikut ke dalam angkot dengan tenang dan kembali kepada tempatnya.
Saat semua anak sudah masuk, hanya tersisa Ani di sana.
“Ani, ayo masuk.” Alka merangkul Ani untuk masuk ke dalam angkot.
“Aku ingin bertemu ibu dan ayah.”
“Tidak bisa, karena kamu dan orang tuamu sudah beda alam, makanya kau harus ikut kami ya.” Alka membujuk.”
__ADS_1
“Tapi aku takut kalau ibu dan ayah rindu.”
“Nanti mereka kirim doa, kamu akan tahu saat mereka kirim doa, rasanya akan sangat hangat, di sana hangat, tidak seperti di sini, dingin kan?” Alka bertanya.
“Iya, dingin sekali, kami juga tidur di lapangan luas ini, tidak diperbolehkan oleh ....”
“Sudah cukup, sekarang naik ya, ikut teman-teman Ani, nanti kalau sudah sampai di tempat baru, Ani pasti suka dan selalu akan ingat ayah dan ibu dalam hati, nanti kelak kalau sudah waktunya kamu pasti ketemu lagi sama orang tuamu di sana, di sisi Tuhan.”
Ani menuruti, dia ikut naik angkot, sementara Ganding dan yang lain duduk di belakang bersama ruh anak-anak itu, walau berdesak-desakan bersama puluhan anak, mereka tak masalah, jiwa-jiwa itu memang tidak terlalu butuh tempat yang luas, asal mereka tidak buat ulah.
Aditia dan Alka duduk di depan, Aditia menjalankan angkotnya. Selama angkot jalan, Alka terbawa kenangan akan masa lalu, ketika itu, ketika keluarganya akhirnya bersatu.
KETIKA ITU
“Alka, ini kakakmu, namanya Zerata, dia sama sepertimu, ibunya manusia tapi sudah tiada.”
“Cantik sekali adikku ini, aku sudah mendengar tentangmu dari Bapak dan ibu, selamat datang di keluarga kita.” Alka canggung menerima pelukan dari kakaknya, kakak satu ayah ini.
Ibunya Alka terlihat tidak terlalu peduli pada Alka, dia hanya sibuk dengan suami dan uangnya.
“Alka, kau harus berlatih dengannya, dia itu mampu merubah dirinya menjadi orang lain dengan sangat mirip, kau tidak bisa kan? itu karena kau terlalu angkuh, hingga tidak ingin jadi orang lain, padahal, jika saja kau jadi orang lain, maka kau bisa mengelabui banyak orang.” Darhayusamang tanpa malu mengatakan itu, dia tidak memperhitungkan kerinduan, rasa marah dan kecewa karena ditinggalkan oleh orang tuanya.
Tapi saat ini Alka begitu terlena dengan keluarga yang utuh, hingga kejelekan orang tuanya sama sekali tidak terlihat.
“Saba Alkamah, kau itu seeorang yang punya prinsip bukan?” Zerata bertanya. Mereka sudah ada di luar rumah Darhayusamang yang berada di komplek tetua yang dipimpin oleh Mudha Praya. Saat ini, para Tetua adalah orang-orang berpengaruh. Sebelum dibumihanguskan oleh Ayi Mahogra.
“Prinsip? Kalau punya prinsip aku tidak akan ke sini, aku akan memusuhi orang tua kita, karena mereka tidak peduli padaku, tapi tanpa punya harga diri aku mengikuti saja, alih-alih berprinsip, aku tidak punya hati.”
“Kau bilang aku cantik, kita itu mirip, berarti kau sedang memuji dirimu sendiri, bukan?” Alka mengejek kakaknya yang selalu saja memujinya.
“Kau akhirnya paham, aku memang sedang memuji diriku sendiri.
“Alka, setelah perang ini selesai, mari kita tinggal bersama, aku ingin mengurusmu sebagai seorang kakak.”
“Ternyata bukan hanya aku yang rindu pada keluarga yang utuh, kau juga sama, kan?” Alka mengejek.
“Yang ini sulit aku bantah.”
“Tentu saja Zerata, aku tahu karena kita ini saudara.”
“Kalau kita saudara, panggil aku Aa. Aa Zerata.” Zerata terlihat sangat ingin punya adik kecil.
“Haruskah?” Alka bertanya dan agak bingung dengan panggilan seperti itu, rasanya aneh saat dia selalu menjadi kakak bagi kawanan, saat ini dia mendapatkan seorang kakak yang akan menjaganya, di titik ini Alka sangat amat bahagia.
Mereka berdua berlatih bersama, Zerata mengajari Alka menyerupai orang lain.
“Kau harus tahu dulu karakter orang itu, dengan cara mengamati, kalau sudah selesai, kau bisa mulai berusaha mempelajari gestur tubuhnya, tapi yang ini agak sulit, karena ciri khas orang berbeda-beda, tapi kalau kau mengamatinya dengan baik, itu mudah.”
Zerata berubah menjadi Alka, Alka terdiam. Sangat mirip, bahkan cara Zerata tersenyum.
“Bagaimana? kita jadi kembar.” Zerata tertawa, karena sekarang mereka berdua sangat amat mirip.
__ADS_1
“Kita seperti kembar.”
“Kau suka Alka? Bagaimana kalau aku bertahan dalam wujud ini?”
“Tapi kan, kau jin laki-laki.”
“Aku rela jadi perempuan jika saja kau bahagia, adikku.”
“Aa Zerata, aku ingin kita berdua yang bahagia, bukan salah satu saja.”
“Apa tadi? Kau tadi memanggilku apa?” Zerata bertanya.
“Aa Zerata.”
“Sekarang kita sudah sepakat bahwa kita adalah adik dan kakak kandung, tidak akan terpisahkan, oleh apapun.”
“Tapi ... mungkin aku tidak bisa selamanya di sini, aku harus kembali pada kawanan.”
“Tidak masalah, kelak aku yang akan bergabung pada kalian, jika perang ini usai.”
“Tapi kalau kawanan tahu, aku ikut berperang, mungkin mereka akan menjauhi dan tidaka kan mau menjadi saudaraku lagi.” Alka terlihat sangat kecewa pada dirinya lagi.
“Kalau mereka tidak mau padamu lagi, aku akan bersamamu, kita berdua akan menjadi kakak adik yang sangat terkenal, si manusia setengah jin, si jin setengah manusia, lalu kita akan menguasai dunia.”
“Tapi tidak bisa, Aa, kan masih ada Ayi dan Mudha Praya.”
“Ya, kalau begitu, kita habisi saja mereka berdua, lalu kita yang mimpin.”
“Aa, bagaimana mungkin kita mengalahkan mereka, Ayi dan Mudha Praya saja tidak saling sanggup menghadapi diri mereka masing-masing hingga perang ini akan dilakukan.”
“Mimpi aja dulu, aku ingin kita berdua jadi kakak adik yang sangat solid, kamu harus selalu berada di pihakku ya. Jangan perdi seperti ayah dan ibu kita, saling genggam dan saling sayang. Ingat itu ya.”
“Iya, Aa. Terima kasih karena sudah percaya dan yakin padaku.”
“Selalu, kita ini kakak adik yang akan menguasai dunia bukan?”
“Aa, jangan bilang gitu, aku sedikit takut.”
“Yasudah ayo mulai berlatih.” Zerata kembali meminta Alka berlatih.
Kenangan tentang hari ini muncul tiba-tiba membuat Alka meneteskan air matanya saat kesadarannya sudah kembali lagi di sisi Aditia, dia mengusap air matanya.
“Apa kau begitu menyayanginya? Dia sudah membuat banyak anak mati Ka, kau harus sadar itu!”
“Dit, kalau Dita membunu anak kecil, apa yang akan kau lakukan?”
“Kau jangan gawur, tidak mungkin Dita membunuh anak kecil.”
“’Aku pikir Zerata juga tidak akan pernah melakukan hal keji itu, tapi akhirnya dia melakukan itu juga kan? Apakah kalau Dita melakukan hal yang sama seperti Zerata kau akan diam saja?” Alka bertanya dengan kesal.
“Tapi Zerata salah!”
__ADS_1
“Aku tahu, kau pasti akan menyembunyikan adikmu di suatu tempat agar dia tidak di tangkap, karena bagimu, Dita adalah adik manis yang sangat kau sayang, sama seperti Zerata, dia satu-satunya keluargaku yang sangat sayang padaku, sampai ... sampai ... aku yang menyebabkannya menjadi seperti itu!” Alka berteriak, seketika angkot yang tadinya bising karena suara anak-anak, jiwa yang berkumpul di angkot itu dengan cara bertumpuk, hening tanpa suara.