
"Istri kedua Pak Agus pernah berkata, bahwa penderitaanku akan berakhir setelah anak ketigaku mati, aku bisa memiliki anak keempatku dan membersarkannya, semua anak pertama sampai ketiga, tidak akan pernah lahir, aku sudah kehilangan dua anakku dan aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup jika hamil lagi dan kehilangan untuk yang ketiga kalinya.”
“Kenapa kau tidak bercerai?” Aditia bertanya.
“Tidak semudah itu Bang, hutang orangtuaku pada Pak Agus banyak, sedang aku juga masih punya dua orang adik yang masih sekolah, mereka dibiayi oleh Pak Agus, aku tidak bisa meninggalkannya.”
“Apa saat ini ada istri Pak Agus yang sedang hamil dan anak itu kemungkinan dikorbankan lagi?” Alka bertanya.
“Ada, istri ke empat Pak Agus sedang hamil anak ketiga, dia usianya tidak jauh dariku, kami dinikahi hanya selang satu tahun, tapi dia sakit-sakitan, dia tubuhnya lebih lemah dariku, makanya Pak Agus sangat menjaganya, kami semua tahu, dia menjaga tumbal di dalam perutnya, karena begitu janin itu berusia empat bulan dan ruhnya ditiup, maka dia akan menjadi tumbal bagi kekayaan Pak Agus.”
“Astaga, jaman sudah modern dan kalian masih saja diam saat melihat orang menindas yang lain.” Aditia kesal, Alka menepuk bahunya, agar Aditia tidak menghakimi gadis muda ini.
“Bisa bantu kami?” Alka bertanya.
“Aku bisa apa?”
“Kau bisa lepas darinya dan tentu saja hutang keluargamu juga lepas, mengenai adik-adikmu, aku usahakan kita akan membantu sekolahnya, bagaimana?” Alka menawarkan perjanjian.
“Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”
“Berikan kami akses untuk membawa istri ke empatnya keluar dari rumah ini.”
“Apa?! tapi dia dijaga ketat oleh Pak Agus, ada bodyguard yang jaga dia dan tentu Pak Agus sendiri.”
“Kapan dia tidak di rumah, mengenai Bodyguard, kami akan menanganinya, yang penting saat Pak Agus tidak di rumah.” Alka berkata lagi.
“Dia akan pergi dari rumah selama tiga hari pada minggu ketiga setiap bulan, dia mengurus kebun theh yang ada di Bogor, kalian bisa datang membawa wanita itu, tapi saya mohon, jangan adukan saya yang membantu kalian jika semua cara ini gagal, karena saya pasti dihabisi olehnya.”
“Ya, kami pasti berhasil, karena kami meminta pertolongan Tuhan, percayalah kita pasti menang.” Alka meyakinkan, lalu gadis muda itu pergi Alka dan Aditia serta Jarni mempersiapkan semuanya, karena waktu yang disebutkan oleh gadis muda itu adalah dau hari lagi, minggu ketiga setiap bulannya.
“Kita harus menyelamatkan anak itu Dit.” Alka berkata saat mereka kea rah gua Alka.
“Ya, kita harus menyelamatkannya.” Aditia menjawab.
…
Harinya tiba, saat ini seharusnya Agus tidak ada, dia pergi ke Bogor untuk ke kebun tehnya, Aditia dan Alka menunggu di luar, tidak terlalu jauh ataupun dekat, tapi masih bisa mengawasi, mereka akan menyelinap ke rumah Agus pada jam dua malam, ketika semua orang tidur, Alka tidak bisa menggunakan kekuatannya, sedang Jarni dan Aditia bisa menggunakan kekuatannya.
Sudah jam dua malam, mereka masuk lewat pintu belakang, pintu dibukakan oleh gadis muda itu, istri ke lima Pak Agus, setelah membukakan pintu gadis itu disuruh tidur oleh Aditia, karena mereka tidak ingin dia melihat apa yang akan dilakukan oleh Alka, Aditia dan Jarni.
Tiga sekawan sudah tahu kamar dari istri ke empat Pak Agus, mereka akan langsung ke sana, letaknya ada di lantai dua, saat naik, mereka melihat dua Bodyguard yang sangat besar badannya, mereka juga punya pegangan, hanya jin biasa saja, mudah bagi Jarni.
Jarni melemparuar mininya, ular-ular itu mengikat jin-jin itu agar tidak menolong para Bodyguard, lalu Aditia keluar memperlihatkan dirinya.
“Siapa kalian?” teriak salah satu Bodyguard, tentu tidak akan ada yang bangun karena Jarni sudah membuat mereka tidur dengan nyenyak melalui tembang mayit, gendam paling ampuh menidurkan orang seolah pingsan sampai dibangunkan oleh si penembang,
“Dit, bisa ngadepin pake cara biasa?” Alka bertanya.
“Bisa lah!” Aditia memang bisa ilmu bela diri, tidak ada satu pun Kharisma Jagat yang tidak bisa ilmu bela diri, tapi dua orang yang gagah dan besar ini, belum tentu Aditia bisa menang. Alka hanya melihat saja dulu sembari mendekati kamar.
Lima belas menit, Aditia kelelahan, dia tidak kalah, tidak juga menang.
__ADS_1
“Dit, butuh bantuan?” Alka bertanya, dia masih di depan pintu istri ke empat Pak Agus.
“Kalau tahu, ngapain nanya?” Aditia tanpa gengsi meminta bantuan Alka, dia memang kehilangan kekuatan ghaib, tapi kekuatan fisik tentu masih ada, karena dia setengah jin dan setengah manusia, kekutannya melebihi manusia biasa, ditambah dia juga jago bela diri.
Alka turun tangan, dia melawan satu orang, Aditia melawan satu orang, ternyata dua orang ini memang cukup handal, ilmu silatnya cukup tinggi, sudah sepuluh menit berjalan masih belum bisa mengalahkan.
“Kalian mau sampai kapan sih berantem, aku nembang aja ya? bosen tau!” Jarni protes.
“Lah, iya, kenapa nggak dari tadi!” Aditia kesal.
Mereka akhirnya berhenti, Alka dan Aditia bersiap, mereka menutup kupingnya dengan kapas, lalu Jarni mulai nembang, hanya butuh waktu lima menit mereka tertidur.
“Lima menit, seharusnya tadi kita taruhan, aku pasti menang.”
“Harta kekayaanmu tujuh turunan saja tidak habis, masih suka uang receh begitu Jarni?” Aditia meledek,
“Siapa bilang taruhannya uang, taruhannya bisa jadi tangan, kaki atau mata.”
“Jarni, kau itu gadis yang terlihat santun dan manis, tapi taruhanmu menakutkan.” Aditia meledek Jarni.
Mereka bertiga lalu masuk ke kamar istri ke empat Agus, istirnya tertidur karena dengar tembang mayit dari Jarni tadi, karena untuk istri yang lain sudah ditembangkan sebelumnya, tapi wanita ini mendengar barusan saat Jarni sedang menembang untuk para Bodyguard.
Alka menggendong ibu hamil ini dengan kedua tangannya, dia tentu lebih kuat dari Aditia kalau soal tenaga, ditambah ibu ini seorang perempuan, tidak baik jika Aditia yang menggendongnya.
Setelah itu mereka bertiga ditambah ibu hamil ke luar dari rumah Agus, setelah sebelumnya menulis surat untuk Agus yang ditinggalkan di kamar istri yang diculik.
Agus tidak akan melibatkan Polisi karena dia tahu, dia lebih bejat dari penjahat yang menculik istrinya.
Saat sudah memasukkan ibu hamil ke angkot, mereka langsung pergi ke salah satu apartemen milik Jarni, sudah ada Ganding dan Hartino di sana, saat melihat Alka menggendong ibu hamil mereka terlihat khawatir.
“Kau fikir Agus akan melibatkan Polisi, untuk urusan anak-anaknya saja dia tidak melibatkan Tuhan, apalagi sekarang hanya istri yang janinnya akan ditumbalkan, dia pasti akan mencari cara lain, dia akan masuk jebakan kita.” Alka bersikeras.
“Kak, tapi kalau ada tuntutan hukum, ini tidak main-main loh.”
“Iya Hartino, Kakak tahu, kita akan pastikan Agus tidak akan melapor ke Polisi.” Alka menyakinkan lagi.
Jam tujuh pagi mereka semua sudah sarapan, ibu hamil dibangunkan oleh Alka.
“Si-siapa kalian?” Ibu hamil itu bingung dan takut karena dia tidak tahu dimana dan bersama siapa.
“Tenang, saya Alka dan ini Jarni,” memang hanya Alka dan Jarni yang akan bicara, “kami datang karena ingin menghentikan usaha pesugihan yang dilakukan oleh Pak Agus, kau sedang hamil anak ketiga, kemungkinan anakmu akan dijadikan tumbal juga, kau tahu itu kan?” Alka bertanya.
Ibu hamil itu menangis sesegukan, dia memang tahu sepertinya nasib anak dalam kandungannya akan seperti apa.
“Kami istri-istri Pak Agus tahu, bahwa kami harus merelakan anak-anak kami gugur di usia ke empat bulan dan kami hanya berhak atas anak ke empat, tapi, itu semua adalah adat yang harus kami emban karena bersedia menikah dengan Pak Agus. Kami ikhlas karena keluarga kami ditanggung oleh Pak Agus, bukan pesugihan seperti yang orang-orang katakan, kalian hanya termakan gosip.”
“Baiklah, biar Jarni rasakan dulu janinmu, saat ini dia berumur tiga bulan kan?” Alka bertanya.
“Ya, silahkan kalian periksa, aku tidak ingin memiliki ikatan batin padanya agar bisa dengan mudah melepasnya sebulan lagi.”
Jarni memegang perut ibu hamil itu, lalu setelahnya dia melepaskan pegangan karena merasa panas.
__ADS_1
“Energinya jahat sekali, bukan janinnya, tapi setan ang menyertai janin itu.” Jarni berkata.
“Itu adalah adat yang harus kami emban! Bukan pesugihan, kalian salah!” Ibu hamil itu berteriak, karena itu dia jadi kram perut dan kesakitan.
“Kami tidak sedang meminta, tapi kami memerintah! Kalau kau tidak perduli dengan janinmu, biarlah kami yang perduli, jika kau berhasil melahirkannya, anak itu akan kami urus, mengerti!”
“Tidak! aku ingin anak ini tetap menjadi persembahan adat, karena itu semua kekayaan suamiku akan aman, kami semua makan dan diberi nafkah dari kekayaan itu, apakah kalian bisa menanggung kami kelak?”
“Itu hanya alasanmu yang mencintai harta Agus! Wanita bodoh yang lebih cinta harta dibanding kehidupan yang mulia!”
“Lalu kemana kalian saat kami kesulitan makan, kesulitan sekolah dan kesulitan uang saat sakit, Agus yang kalian hardik itulah yang menolong kami!”
“Dia meminta ganti lebih mahal bodoh!” Alka kesal lalu mencengkram lehernya, baru kali ini Alka terbawa suasana.
“Lepaskan aku, aku tidak ingin kalian mengacaukan adat keluarga Agus, lepaskan aku!”
“Tidak akan, ikat dia dengan ularmu, aku yakin wanita ini tidak perduli dengan janinnya, dia mampu melakukan apapun untuk kembali ke neraka itu.”
“Kalau kau sebut itu neraka, kenapa kami bisa makan enak setiap hari, bisa belanja semua yang kami inginkan, emas dan kemewahan itu, semua kami dapatkan, itu adalah surga, bukan neraka seperti yang kau katakan!!” ibu hamil ini rupanya sudha mabuk harta.
Jarni mengikatnya dengan ular mini, kaki dan tangan, dia tidak bisa bergerak, Jarni menyuapinya makan, wanita itu terpaksa tetap makan karena lapar mungkin, pasti bukan karena bayinya.
“Uang memang membuat orang lupa caranya menjadi manusia, anak sendiri rela dikorbankan." Alka kesal, dia dan Jarni sudah kembali ke meja makan bersama yang lain.
"Ibu hamil sudah makan?" Ganding bertanya.
"Sudah, sudah ditidurkan lagi oleh Jarni."
"Ka, kau tahu, orang-orang yang begitu itu, karena mereka kesulitan uang, mereka sangat sulit sampai makan aja susah, ketika akhirnya Agus memberikan angin surga palsu, mereka pasti sangat berterima kasih, tidak perduli seberapa berat yang harus mereka bayar. Hanya orang-orang miskin yang tahu hal ini. Aku tidak berniat untuk membenarkan yang dilakukan Agus, tapi aku ingin kalian melihat dari sudut pandang itu, jangan terlalu menghina wanita yang hamil itu."
Alka menatap Aditia dengan haru, dia memang terkadang lupa bahwa orang kesulitan uang dan selalu lapar akan cenderung menerima bantuan yang cepat tanpa fikir resikonya, yang penting bisa makan hari ini, karena lapar itu bukan cuna soal fisik, tapi juga mental.
"Maaf tadi aku kelepasan ya Dit, sekarang kita tinggal tunggu Agus menghubungi, dia si Bogor beberapa hari, jadi sekarang kita bisa bahas masalah lain dulu. Bagaimana dengan kamu Nding, Har? soal kasus yang kalian tangani?" Alka bertanya pada tim dua yang menangani kasus kasus Penglaris.
"Jadi, gini ceritanya Kak," Ganding memulai.
KELUARGA SUGIARTO (PENGLARIS)
Setelah mendapatkan alamat orang yang memakai jasa Alya untuk mendapatkan jin penglaris, Hartino dan Ganding mendatangi Sugiarto, orang itu bernama Sugiarto dan memiliki restoran seafood, restorannya berada di suatu ruko daerah yang cukup elit di bilangan Jakarta.
Saat sampai sana, mereka berdua terkesab dengan begitu ramainya pengunjung restoran itu, Alka tidak main-main mengundang jin kafir ke sini, benar-benar laris.
Hartino duduk di salah satu meja yang kebetulan kosong, Ganding memesan makanan di meja kasir, biar tidak perlu lama-lama menunggu.
"Gimana?" Hartini bertanya pada Ganding selesai memesan.
"Anak-anak jin ngumpul, tuh di kasir tiga, pada jilatin makanan yang lagi di masak, di setiap meja dua, tuh lagi nemplok di kaki lu satu liat kan? sama di dapur tuh, biasa buang air liur di makanan mentah." Hartini juga lihat semua maksudnya dia mau berdiskusi betapa ramainya di restoran ini, bukan hanya manusia.
Di kasir fungsinya untuk penambah rasa, jilatan itu mungkin punya cita rasa Nusantara yang semua pengunjung suka.
Lalu fungsi di meja dan melingkarkan kaki adalah agar para Pengunjung berlama-lama dan memesan lagi dan lagi, sampai lupa waktu.
__ADS_1
Sedang untuk yang di dapur sedang mengeluarkan liur adalah memberikan efek marinasi sebelum dimasak, Hartino ingin muntah, Ganding hanya tertawa saja.
"Jangan lemah lu, yuk kita mulai." Ganding memberikan kode.