
“Kamu udah makan?” Pemilik toko emas itu bertanya, dia sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga.
“Belum, ini baru mau makan, Papi mana?”
“Ke pabrik tadi pagi banget, katanya orderan lagi banyak.”
“Makan dulu ya.”
Ibunya membawa piring berisi makanan, lalu pergi ke kamar.
“Ini makanannya, kamu kemarin minta ayam hitam kan?” Pemilik toko itu menyodorkan makanannya.
Dia berdiam di kamar itu menunggu sosok yang akan menerima makanannya.
Sosok itu keluar, lalu mendekati pemilik toko emas.
Pemilik toko emas lalu menaruh makanan yang dia bawa di meja kamar itu.
“Jangan keluar ya, nanti Sum takut lagi.” Pemilik toko itu berkata sambil menatap perempuan dengan wajah mengerikan itu.
“Di sini aja, kalau mau main, di sini aja. Jangan keluar ya.” pemilik toko itu mengulang, sedang sosok yang dia ajak bicara tidak menggubris, hanya sibuk dengan makanannya.
Lalu pemilik toko itu keluar dari kamar dan menuju meja makan.
“Mi, mau sampai kapan kamar itu dikasih sajen, nanti kalau tetangga dengar, kita bisa disangka pemuja setan loh. Lagian masih percaya aja sama yang begitu-begitu.”
Anak pemilik toko emas bertanya.
“Sampai mami nggak ada, kamu nggak harus ikuti tradisi, tapi selama mami hidup, kamar itu tetap akan seperti itu, ngerti kamu?”
“Mi, udahlah, Mami sama Papi tuh aneh, hal kayak gitu harusnya tidak usah dipercaya lagi!” Anaknya kesal, karena dia paling sering ada di rumah dan memikirkan kamar kosong itu membuat dia merasat was-was.
“Kamu sarapan, kalau kamu takut, kamu bisa tinggal di apartemen kita aja, nanti Mami sama Papi yang ke sana ngunjungin kamu.”
“Kok malah aku yang diusir, harusnya setan itu yang diusir dari rumah ini!”
“Diam kamu! jangan bicara sembarangan.” Ibunya menutup mulut anaknya, agar dia diam.
“Nggak! aku nggak mau diam! pokoknya aku mau kamar itu dikosongin, aku anak kalian malah diusir, kalian orang tua yang aneh!” Anak itu lalu lari, dia hendak ke kamarnya yang ada di lantai dua, saat hendak menaiki tangga, tiba-tiba dia terjatuh, padahal sudah naik sampai setengah lantai, tapi tiba-tiba dia terjatuh hingga akhirnya pingsan.
Ibunya kaget dan berteriak.
“Apa yang kamu lakukan!” Ibunya berteriak pada sisi yang kalau dilihat oleh mata biasa, tak akan terlihat apapun, tapi dalam penglihatannya, ada seorang perempuan yang menarik kaki anaknya tadi. Perempuan penghuni kamar kosong itu.
Ibunya berteriak memanggil pembantu dan meminta supir menyiapkan mobil, dia akan membawa anaknya ke rumah sakit.
Saat sampai rumah sakit, kaki dan tangan anaknya patah, harus di operasi, ibunya setuju, soal biaya dia tak peduli, yang penting harus segera diselamatkan.
Saat prosedur operasi sudah dilakukan, jadwal operasi akan dilakukan besok, anak pemilik toko emas itu dipindahkan di ruang rawat inap, ibunya menungguinya di sana.
Tak lama kemudian ayahnya datang.
“Kenapa bisa jatuh?” Papinya bertanya.
“Di ... di ... ditarik sama dia.”
“Kok bisa!”
“Karena, dia,” pemilik toko emas itu menunjuk anaknya yang sedang berbaring dalam keadaan masih tertidur, tadi sudah siuman tapi sekarang dia sudah tidur lagi karena efek obat, “ dia minta kamar itu dibersihkan, dia nggak mau kita kasih makanan lagi ke dalam kamar itu.”
“Itu keterlaluan.”
“Iya, tak heran ‘dia’ marah dan menariknya dari tangga itu.” Maminya setuju dengan omongan suaminya.
“Pindahkan saja dia ke apartemen ya, biar kita yang berkunjung ke sana.”
“Sudah kutawarkan, tapi dia tak mau.”
“Mungkin iri, sudah mendarah daging di tubuhnya, selalu ingin menang. Yasudah, jatuh dan dioperasi semoga saja bisa menyadarkan dia.”
“Aku harap begitu, Pi.” Mami dan papinya lalu meninggalkan anak itu sendirian, karena mereka harus kembali ke tempat usaha masing-masing, dia dijaga oleh pembantu.
...
“Sum, udah datang dari tadi?” Sum memang tak memegang kunci rolling door toko emas, makanya setiap kali sudah sampai toko dia harus menunggu pemilik toko datang dulu.
“nggak apa, Ci. Anaknya gimana?” Sum bertanya.
“Mesti dioperasi.”
“Yah, kasian banget, nanti aku jaganya sendiri aja.”
“Kenapa begitu?” Pemilik toko bertanya.
“Takut Cici mau nemenin anaknya.”
“Nggak kok, udah ada pembantu yang jaga. Lagian kasian kamu kalau jaga sendirian.” Pemilik toko itu menolak bantuan Sum.
__ADS_1
Sum merasa aneh, kalau dia jadi pemilik toko emas, pasti tidak akan sibuk memikirkan toko emas, anaknya jatuh dari tangga dan akan dioperasi, kok bisa sesantai ini, punya uang banyak memang membuat orang jadi tidak terlalu pedulian, makin banyak uang, makin ingin lebih banyak lagi.
Padahal dengan semua uang ini, dia bisa saja tidak perlu datang ke toko. Biasanya kalau dia tak datang ke toko, akan ada pembantu yang menemani Sum di toko, untuk bantu membuka dan menutup toko.
Tapi pemilik toko malah tetap ingin ikut jaga toko.”
Toko buka, lalu menunggu beberapa jam ada satu pelanggan yang datang.
“Ci mau jual cincin nih, coba timbang dulu, suratnya ilang.” Penjual emas ternyata.
“Nggak ada surat ada potongan ya.” Pemilik toko itu berkata dengan tegas.
“Iya, potong aja, tapi jangan banyak-banyak ya, Ci. Anak saya sakit, mau buat beli kebutuhannya. Biar pakai BPJS juga ada yang dibutuhin kalau sakit mah.”
“Oh, anakmu sakit, yaudah kalau gitu nggak usah dipotong deh, sebentar kutimbang ya.” Pemilik toko itu buru-buru menimbang emasnya dan memeriksa keaslian emas itu, lalu setelah sepakat mengenai beratnya, pemilik toko memberikan uang hasil penjualan emas itu utuh tanpa potongan dan menambah sedikit untuk jajan anak penjual emas katanya.
Penjual emas itu berterima kasih, karena pemilik toko sangat baik padanya. Tapi sebelum itu dia membicarakan soal kematian ibunya Amanda.
“Ibunya Amanda meninggal Ci, kasian deh, mana anaknya udah nggak ada bapak. Jadi yatim piatu deh.” Penjual emas itu menggosip.
“Hah? baru beberapa hari yang lalu ke sini, sudah meninggal dunia?” Pemilik toko emas itu terkejut.
“Iya, kasian ya.”
“Kemarin dia ke sini sama anaknya, beli kalung di sini, eh sekarang malah dapat kabar gini.”
“Iya Ci, tapi dari itu semua yang paling aneh adalah, aku kan ikut bantu mandiin jenazahnya ya, Ci. Masa dari leher sampai setengah punggung lebam, mungkin dia pukulin anaknya kali ya.”
“Hah? anaknya penjahat memang?” Cici itu terlihat makin terkejut.
“Bukan penjahat, tapi pemalas, adiknya kasihan banget deh Ci, nangis sampai pingsan pasa ibunya mau dikubur.”
“Iyalah, kehilngan ibu memang hal yang bikin sedih ya.” Pemilik toko emas itu berkata dengan empati.
“Trus pas belum dikubur, adik dan kakak itu terlihat bertengkar, kayaknya gara-gara uang deh, adiknya maki-maki kakaknya, mungkin kematian ibunya ada hubungan ama kakaknya, makanya si Amanda sampai marah begitu sama kakaknya.”
“Wah, itu harus lapor polisi loh, kalau emang penganiayaan, harus otopsi, meninggalnya gimana.”
“Mana mau ada yang repot Ci, makanya kami langsung saja mempersiapkan pemakaman saat itu, karena Amandanya terlalu lemah untuk ngurus itu, untung kakaknya keburu datang.”
“Kalau ternyata dia yang aniaya, kalian mesti ati-ati loh, bisa jadi dia berbuat jahat pada orang lain lagi, sama ibunya aja sekejam itu, apalagi sama orang lain.”
“iya juga sih Ci.” Setelah bergosip ria, akhirnay penjual emas itu pamit pulang dan membawa uang yang cukup banyak untuk keperluan anaknya sakit.
“Ci, nggak rugi apa kalau ngasih harga begitu, harusnya pakai potongan lah.”
“Nggak apa-apa Sum, jadi orang harusnya baik sama orang, apalagi anaknya sakit, kasihan aku lihatnya.”
“Sum, itu layanin dulu ya orang mau beli, aku mau telpon yang jaga anakku, apakah sudah bangun karena anakku itu makannya agak pemilih, takut makanan rumah sakit nggak enak, aku mau minta pembantuku itu beli makan buat anakku di luar.”
“I-iya, Ci. Aku layanin dulu ya pembeli itu.”
Sum merasa bersalah karena tadi sempat menaruh curiga, ternyata pemilik toko sayang anaknya dan tahu anaknya akan tidak suka makanan rumah sakit dan meminta pembantunya untuk melayani keinginan anaknya itu.
[Mbak, gimana? udah bangun dia?] Pemilik toko emas bertanya setelah teleponnya diangkat oleh pembantunya itu.
[Bu! Tolong!] Pembantu itu malah berteriak.
[Lepasin aku! ada perempuan di sana Dok, dia mau bunuh saya, lepasin!] Anak pemilik toko emas itu terdengar histeris di telepon.
[Mbak, anakku kenaap?” Pemilik toko bertanya.
[Bu, tolong! Anakmu kesurupan kayaknya, ini teriak-teriak nggak jelas!] Pembantunya berteriak di telepon.
[Kau bakar dupanya, tunggu Dokter dan Perawat keluar dulu, lalu bakar dupanya, cepat sekarang!] Pemilik toko emas itu berteriak, Sum mendengarnya, bakar dupa? Sum agak aneh, karena di toko saja tidak ada hal semacam itu, di pasar ini, orang-orang keturunan rata-rata masih bakar dupa, tapi pemilik toko ini tidak, lain dari yang lain, padahal warga keturunan juga.
Setelah itu pemilik toko kembali ke depan toko dan wajahnya datar tanpa ekspresi, sungguh sesuatu yang membuat Sum semakin merasa aneh.
Toko ramai sekali semua orang datang tanpa henti, Sum terlihat kelelahan karena semua yang datang ternyata membeli emasnya dalam jumlah yang banyak.
“Sum, tutup toko ya, udah mau sore nih, aku mau ke rumah sakit juga.” Pemilik toko berkata, Suma terlihat senang karena dia memang lelah sekali.
Tapi dia ingat sesuatu.
“Bu, ini pintunya di tahan aja ya pake bangku, soalnya ....”
“Yaudah kamu tahan pake bangku aja.”
Sum masih trauma dengan apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.
Sum lalu membereskan semua emas lalu setelah selesai, toko di tutup, lalu mereka berdua berpamitan untuk pulang, Sum dijemput suaminya di luar pasar.
Sementara Pemilik toko emas dijemput suaminya dengan mobil untuk ke rumah sakit.
“Sum, kenapa? kok wajahmu lelah sekali.” Suaminya bertanya.
“Iya capek, itu tadi yang beli emas banyak banget.”
__ADS_1
“Oh, pantas kau capek.”
“Tapi aku heran Mas, masa anaknya jatuh dari tangga, tapi nggak panik, malah tenang aja layanain pembeli.”
“Yah, namanya orang kaya, pasti tenang karena ada pembantu yang jaga.”
“Tapi aku kalau jadi dia, mening nggak ke toko jaga anak aja, kalau toko kenapa-kenapa, bisa dicari lagi, kalau anak kenapa-kenapa gimana?”
Aw! Brak!
“Mas, kamu nabrak kucing?” Sum kaget, suaminya nabrak kucing ternyata.
“Iya ... kucin hitam lagi, aduh!” Suaminya terlihat kaget dan akhirnya mengambil plastik di jok motor dan membawa kucing itu untuk dikubur.
...
“Anak kita kesurupan kata Mbak, tadi siang.”
“Salahnya, kenapa tidak bisa menjaga mulut, sudah besar masih saja tidak mampu mengendalikan diri.”
“Pembantu kita pasti menyebar kata-kata yang tidak baik soal keluarga kita.”
“Yah begitu deh, dua pembantu kita yang sudah almarhum juga gitu.”
“Hmm, ganti pembantu lagi deh kita.”
“Mau gimana lagi?”
Mobil mereka melaju ke rumah sakit dan tak lama kemudian sampai, lalu mereka langsung ke ruang perawatan anaknya, mereka akan menginap berdua.
“Besok kamu dioperasi jadi udah nggak boleh makan ya.” Papinya berkata, anaknya masih diam dengan mata kosong ke atas, dia sedang tiduran di kasur perawatannya.
“Aku takut Pi.”
“Udah, jangan manja, kamu itu udah gede, operasinya dibius kok, kamu bangun tangan sama kakimu udah sembuh lagi.”
“Pi, bukan itu, aku takut sama ....”
“Udah kamu tidur ya, nih minum obat.” Maminya memaksa anaknya untuk minum obat agar anaknya tidur.
Tidak lama kemudian anaknya tertidur.
“Kamu kok ke sini, pulang aja ya.” Papinya berbicara pada sosok mengerikan yang berdiri di depan pintu.
“Mau main?” Maminya bertanya dan menghampiri sosok itu.
...
“Dit, kenapa?” Alka sepertinya sadar, ada yang mengganggu Aditia, karena sejak tadi dia diam saja di markas ghaib ini. Kasus terakhir cukup berat, hingga membuat mereka ingin istirahat dulu sejenak.
“Itu loh, kemarin aku cium bau aneh, aneh banget, tapi itu aku yakin bau ghaib.”
“Hah? di mana?” Alka bertanya lagi, yang lain terlihat penasaran dan akhirnya mendekat.
“Di rumah.”
“Pagar ghaibnya jebol?” Alka khawatir ada yang menyerang kediaman Aditia, musuh kawanan selalu ada saja yang usil.
“Nggak kok, masih utuh.”
“Lalu?”
“Saat ibuku dan Dita pulang melayat, aku mencium bau itu dari tubuh ibuku, aku sudah memeriksa ibu, tapi tak ada apa-apa pada tubuhnya maupun Dita, sampai malam aku menjaga mereka, takut kalau ketempelan, tapi tidak ada sosok yang terlihat.”
“Melayat? Mungkin karena dari kuburan, sisa energi ‘mereka’ menempel pada baju ibumu dan Dita Dit.”
“Iya, Ka. Tapi harusnya bau yang aku kenal, bau tanah kuburan aku tahu, saking tahunya aku sampai mual, ingat terakhir kali tanah kuburan itu masuk ke mulutku!” Aditia mengingatkan saat dia harus mencoba bahan kopi yang ternyata terbuat dari tanah kuburan pada kasus sebelumnya.
Alka tertawa karena ingat saat itu Aditia memaksa untuk meminumnya, menggantikan Alka.
“Kalau bukan bau tanah kuburan apa asumsimu?”
“Apa ini orang yang ngilmu ya? bisa aja yang dilayat ibuku dan Dita adalah orang yang punya pegangan, kan? energinya beda soalnya.”
“Kau sudah pergi ke tempat orang yang meninggal itu?”
“Sudah, tapi kosong, rumah itu bersih, hanya ada kakak beradik yang tinggal di sana aku pergi satu hari setelah aku mencium bau itu, karena aku harus menjaga ibu dan Dita takut ada serangan.”
“Mau kita cari tahu?”
“Kalian bukannya mengajak kita libur satu minggu ini?” Aditia bertanya.
“Ya kalau ada kasus dadakan, mau apa lagi?” Yang lain malah terlihat bersemangat, libur tiga hari membuat mereka bosan.
“Kalau begitu, mari kita ambil kasus ini?” Aditia jadi bersemangat.
“Kasus bapak yang lain gimana?” Hartino bertanya karena ingat kasus bapak juga masih banyak yang belum ditangani.
__ADS_1
“Bapak pasti ngertilah, jangan-jangan ini amanah Tuhan makanya didekatkan di tempat Aditia lokasinya, masa dekat dengan Aditia kita harus abaikan?” Ganding memberikan pendapatnya.
Semua sepakat.