Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 358 : Kemala 7


__ADS_3

Rajima mengetuk kakinya tiga kali, tanda bahwa dia memanggil Dewi Sudarwani, tapi tak ada yang datang seperti janjinya, dia tak datang ke sini, apakah karena ini kediaman raja hingga dewi tidak berani datang? Itu yang Rajima pikirkan.


Dia lalu berbaring dan akhirnya tertidur karena lelah.


Pagi datang, Rajima terbangun karena beberapa dayang membangunkannya, dia diharuskan membersihkan diri lagi seperti sebelumnya, Rajima enggan sebenarnya melakukan ritual semacam ini, tapi apa boleh buat, di sini perintah raja adalah perintah yang tidak boleh dilanggar, padahan Rajima menolak pernikahan ini.


Setelah selama hampir satu jam dia dibersihkan, kembali dipakaikan pakaian dan sepatu yang mewah pada masa itu karena dihiasi dengan emas. Rambutnya dihias dengan konde yang tidak terlalu besar dan terakhir tusuk konde yang terbuat dari emas dengan bentuk seperti ... bunga anggrek bulan?! Rajima terkejut dengan tusuk konde itu, kenapa tusuk kondenya mirip dengan yang yang digunakan oleh Dewi Sundarwani, aneh.


Seteleh berpenampilan sangat cantik itu, dia lalu pergi ke pendopo para selir, diperkenalkan dengan selir yang ada, tatapan mereka terlihat tidak senang dan iri dengan kecantikannya Rajima. Setelah ssi perkenalan selesai, Rajima di bawa ke suatu tempat yang berada di atas kolam, ada raja yang sedanag duduk di sana, raja rupanya sedang sarapan, Rajima diminta menemani.


“Bagaimana malammu?” Raja bertanya.


“Seperti malam-malam sebelumnya Raja.” Rajima melayani raja, dia mengambilkan makan dan minuman, seperti suami istri.


“Apakah tidak ada yang istimewa di kamar kerajaan yang aku berikan? Bukankah kamarnya jauh lebih besar dari kamarmu?”


“Ya, itu benar, tapi apalah arti kamar besar sedang aku hanya akan terus berada di dalamnya tanpa bisa keluar, seperti sebuah sangkar emas, raja.”


“Jadi pandanganmu soal menjadi selir masih sama?” Raja bertanya dengan nada yang cukup ditekan.


“Pandangan hamba tentang menjadi selir sudah berubah, raja.” Raja tersenyum mendengar itu, mungkin dalam pikirannya, hanya dalam waktu semalam kekayaan bisa membuat Rajima berubah pikiran.


“Kalau begitu apa pandangan baru itu?”


“Bahwa menjadi selir, bukan hanya mengikat dirimu tapi juga menyiksa dirimu.”


“Apa maksudmu!” Raja terlihat kesal hingga meninggikan suara, karena itu para pengawal datang dan hendak menolong raja yang mereka pikir dalam bahaya.


“Tidak perlu! Kami hanya sedang mengobrol, menjauh kalian.” Raja memerintahkan pengawal untuk menjauh.


Rajima masih dengan tenang melayani raja, tidak takut atau gentar dengan para pengawal yang baru saja hendak menyerangnya, dia memang bukan gadis yang bisa panik dengan mudah.


“Maksud hamba adalah, tadi hamba pergi ke pendopo selir, dari sana hamba melihat sekumpulan gadis sedang menatap hamba dengan tajam dan marah, hamba tahu, pasti alasannya, karena hamba calon saingan baru, yang mungkin mereka pikir takkan bsia mereka tandingi, mengingat predikatku lebih lebih tinggi, wajah dan kecerdasan maksudku.”


“Aku suka cara dirimu memandang dirimu sendiri, tapi pernikahan ini akan tetap terjadi, aku ingin kita melaksanakan secepatnya.”


Rajima berhenti melayani Raja, saat ini dia sedang menuang teh dari teko emasnya.


“Apa kau keberatan?” Raja bertanya dengan wajah kemenangan.


“Tidak, tentu saja tidak, bagaimana hamba bisa menolak.” Rajima kembali menuang teh hangat ke dalam gelas raja


Sarapan yang sangat tidak menyenangkan itu selesai, Rajima tidak makan apapun karena dia tidak suka makan saat hatinya sedang marah, makanan enak hanya untuk perayaan, sedang tak ada perayaan yang ingin Rajima lakukan saat ini, seharusnya dia melakukan perayaan kematian, kematian atas kebebasannya.


Raja meminta pernikahan itu dilakukan dalam waktu tiga hari ke depan, Rajima hanya tinggal di kamar menunggu eksekusi, pernikahan memang layaknya pemenggalan bagi kehidupannya, maka mati sepertinya jalan terbaik. Sedang dewi itu juga berbohong, mana dia, katanya akan membantu, lalu utnuk apa dia melakukan perjanjian kalau tiada gunanya.


Tak terasa, hari ini adalah waktunya pernikahan, Rajima didandani dengan sangat cantik menggunakan kebaya pernikahan kerajaan, Rajima telah menerima takdir untuk menikah dengan raja, ritual ini sebenarnya hanya adat, pegukuhan Rajima sebagai anggota keluarga baru, yaitu selir raja, semua orang akan tunduk jika melihat wajahnya, karena dia wanitanya raja. Wanita raja hanya boleh dinikmati oleh raja.


Rajima berjalan ke tempat pernikahan, dia diiringi oleh beberapa pelayan, Rajima menatap raja yang telah duduk di singgasananya, dia bersiap menerima pengukuhan Rajima, pernikahan ini belum diatur sesuai agama, masih dijalankan sesuai adat. Aturan tentang poligami juga belum benar-benar dijalankan, sedang ratu di samping raja, menatap Rajima dengan wajah teduh, perempuan yang cantik, tapi sayang, saingannya begitu banyak. Rajima semakin muak dengan ini semua.


Begitu sudah mendekati altar raja, Rajima bersujud untuk menerima surat pengukuhannya sebagai selir di kerajan ini, setelah surat itu diterima, Rajima akan membaca surat pengukuhan itu dengan lantang lalu menyetujuinya sebagai bagian dari ritual.


Rajima mulai membaca surat titah raja, cukup panjang karena berisi persetujuan raja atas pengangkatan Rajima sebagai selir dan juga semua kewajiban yang harus dia laksanakan sebagai selir, semua rata-rata adalah untuk kepentingan raja, termasuk tidak boleh bertemu dengan siapapun, selain raja. Setelah itu Rajima harus mengatakan persetujuannya.


Maka akhir dari surat titah itu selesai dia ucapkan, sekarang waktunya Rajima harus mengucapkan kata persetujuan.


“Hamba ... hamba ... setuju.” Rajima mengatakan dengan bergetar, karena hatinya bertentangan, Raja mendengar itu terlihat sangat senang. Setelah ikrar persetujuan itu, mereka resmi menjadi suami istri, raja pergi dari ruangan itu, sedang ratu masih di sana untuk memberikan wejangan.


“Kuharap kita bisa menjadi seperti seorang kakak dan adik.” Ratu memulai obrolan tidak resmi, dia ratu yang sangat lembut.


“Apa mungkin Kak, seorang yang saling merasa sebagai saingan, bisa menjadi kakak adik?” Rajima bertanya dengan kasar, sedang dayang yang lain terlihat marah karena ratunya diperlakukan dengan kasar.

__ADS_1


“Jaga bicaramu selir baru, kau tidak diizinkan menghina ratu.” Dayang senior milik ratu marah.


“Aku tidak menghina yang mulia ratu, aku hanya sedang bertanya pada ratu, bagaimana caranya kami bisa menjalin hubungan yang mesra seperti itu.”


“Tapi itu tidak patut ditanyakan dihadapan seorang ratu yang mulia.” Dayang itu masih marah dan hendak naik pitam.


“Sudah cukup, Rajima, kalau kau menganggapku saingan, maka kita tak punya jalan untuk menjalin kemesraan, tapi jika kau menganggapku keluarga, mungkin kita bisa memulai hubungan yang lebih baik.”


“Aku tidak berbicara tentang diriku Ratu, aku berbicara tentang dirimu, apakah Yang Mulia Ratu bisa menganggap aku sebagai adik?”


“ Selir Rajima! Kau keterlaluan.”


“Dayang diam! kau menyelakku ketika hendak berbicara.” Ratu marah ke dayang miliknya, dayang itu lalu terdiam karena sadar telah menyelak ratunya, dia meminta maaf dan tertunduk.


“Selir Rajima yang cantik, dengar ini baik-baik, aku adalah kakakmu, aku menanggapmu sama seprti selir yang lain, kalian adalah adik-adikku.”


[Tentu saja, dia sedang bilang kalau aku tidak  ada istimewanya dengan yang lain, aku hanya wanita selingkuhan raja, budak raja, sedang ratu saja masih boleh bertemu dengan raja atau ratu dari kerajan lain, sedang kami tidak, hanya di kamar saja.] Rajima berkata dalam hatinya.


Setelah itu Rajima dituntun ke kamar raja, dia akan menunggu di sana hingga malam tiba, karena malam ini, Rajima akan menjadi milik raja seutuhnya.


Rajima menunggu di kamarnya, dia masih masih dengan pakaian pernikahan, dia juga memakai semua perhiasan yang raja berikan, menunggu waktu kematian tiba, matinya rasa bebas dan juga cita-cita yang tinggi.


Waktu berganti, malam pun tiba, Rajima telah menjaga riasannya agar ketika raja tiba di kamarnya sendiri, dia akan merasa sangat bahagia, melihat mainan barunya sudah menunggu di kamar untuk siap dipermainkan.


Raja masuk sendirian, tanpa pengawal, tanpa dayang, tanpa patih, dia hanya sendirian, menatap dengan lekat istri barunya, hadiah dari demang yang tak punya hati, karena anaknya sendiri dijadikan tumbal untuk kemegahan dunia yang ingin dia dapatkan, apakah ayah-ayah di dunia ini memang tak punya hati?


Raja masuk dan meminta Rajima menanggalkan pakaiannya, setelah pakaian ditanggalkan, raja hanya mengenakan pakaian dalam.


“Tanggalkan juga bajumu, aku ingin melihatmu tanpa sehelai benang pun.” Raja memerintah.


Rajima meihat raja yang berdiri di hadapannya.


“Ya, tentu saja.”


“Apakah hanya karena kecantikanku makanya kau menikahiku dan tidak mau melepasku?”


“Lalu apalagi alasan yang cukup kuat selain itu?”


“Maka jika kau tidak mampu melihat kecantikanku, kau akan melepaskanku bukan?” Rajima bertanya.


“Raja mengangguk, tentu saja, jika aku tidak bisa melihat lagi kecantikanmu, maka kau akan aku lepaskan.”


“Maka maafkan aku.”


Rajima mengeluarkan tusuk konde yang dia pegang, lalu mengarahkan tusuk konde itu padar raja dengan waktu yang sangat singkat, mata raja sebelah kanan ditusuk dengan konde berbentuk bunga anggrek bulan itu, seketika darah dari mata raja muncrat mengenai wajah Rajima, tidak berhenti disitu, Rajima lalu menusuk lagi satu mata raja yang tersisa. Akibatnya dua mata raja menjadi buta, darah memenuhi wajah Rajima, teriakan raja membuat pengawal masuk dan berhamburan, Rajima tahu kalau keadaan seperti ini akan terjadi.


Rajima lalu berlari, hendak kabur karena seluruh pengawal sibuk pada raja yang sudah buta.


Tapi saat Rajima hendak kabur, raja berteriak mengeluarkan mantra.


Tak akan ada satupun lelaki yang akan bisa menikahimu, tak akan ada satupun lelaki yang mampu menyentuh tubuhmu, tak akan ada satupun lelaki di dunia ini yang mampu! Tidak raja maupun di bawahnya! Seluruh lelaki itu akan merasakan apa yang aku rasakan, sakit yang tak terperi!


Mantra itu berisi tentang kutukan, kutukan itu tersemat pada leher Rajima seperti sebuah ikatan yang mengunci takdir jodoh Rajima.


Rajima berlari setelah mendengarnya, ada seseorang yang sudah menunggunya di depan pintu kamar raja, Rajima ditarik hingga akhirnya mereka menembus hutan untuk kabur.


Dia dijaga oleh dua orang yang menariknya agar masuk ke hutan yang masih kawasan kerajaan.


Tidak ada yang mengejarnya sama sekali, aneh, dia baru saja membuat raja buta, lalu dia dilepas begitu saja. Rajima melihat kepada dua orang yang mengantar dia, sepertinya tidak asing.


“Kau ....”

__ADS_1


“Lari saja dulu, kami sudah diperintah untuk mengantarmu pulang,” ucap salah satunya.


Rajima menurut saja, dia tak punya pilihan selian mengikuti yang bisa membantunya.


Butuh waktu dua hari untuk sampai rumahnya, karena mereka berjalan tanpa istirahat, tidak tidur saat malam hari, jadi bisa memangkas banyak waktu, begitu sampai rumah tengah malam, Rajima takut apakah bapaknya akan memarahinya atau malah akan membunuhnya kalau sampai tahu apa yang dia lakukan.


“Masuk dari pintu belakang.” Orang itu meminta mereka masuk dari pintu belakang.


Begitu masuk bapak dan ibunya sudah menunggu di dalam sambil minum teh.


Rajima terdiam, dia merasa ada yang aneh, kenapa orang tuanya tak histeris sama sekali, seharusnya mereka kaget melihat kedatangan anaknya.


“Istirahat dulu nak, kau pasti lelah.” Ibunya membawa Rajima ke kamar, Rajima masih tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ibunnya tidak keberatan dia pulang bahwa ayahnya juga terlihat tenang dengan kehadirannya.


Ibunya memberikan teh hangat pada Rajima dan setelah itu, dia tertidur dengan nyenyak, apa yang tidak dia dapatkan beberapa hari ini mulai dari keberangkatannya ke kerajaan, sampai hari pernikahan, dia bahkan tidak bisa tertidur sama sekali.


Rajima merasa sinar matahari mengenai wajahnya, dia bangun, aneh, Rajima tidak ada di kamarnya, dia ada di ....


“Sudah bangun ananda?” Seorang yang dia kenal dan sangat cantik, membuat matanya tersilaukan dengan pakaian yang begitu berkemilauan, Dewi Sundarwani. Rajima berada di guanya yang penuh dengan emas itu.


“Kenapa aku berada di sini?” Rajima bertanya.


“Kau memang di tempat yang semestinya.”


“Maksudnya?”


“Ini tempatmu saat ini, sementara ini sampai pasukan raja tidak bisa menemukanmu lagi.”


“Apakah mereka memang mencariku?”


“Tentu saja.”


“Aku tidak melihatnya saat kami kabur ketika itu.”


“Tentu saja, karena jalur kaburmu tidak pada dunia yang manusia hidup.”


“Aku tidak paham.”


“Kau kabur melalui jalur yang aku bukakan.”


“Jalur yang dibukakan.”


“Tentu kau juga tahu, bahwa guaku tidak bisa dilihat oleh orang biasan, hanya orang yang aku pilih yang bisa melihat gua ini, orang yang aku sengaja undang. Kami adalah makhluk ghaib, kami disebut jin, beberapa adat lain menyebut kami dewi, demit, lelembut atau apalagi, tapi satu yang pasti bahwa kami tinggal berdampingan dengan kalian, di dimensi yang berbeda.”


“Kau itu demit?” Rajima mundur dari tempat duduknya, padahal itu adalah tempat di mana dewi tidur.


“Kau takut?”


“Aku ....”


“Kau pikir kenapa tusuk kondeku ada di istana itu? aku menyelundupkannya dari orang yang tidak setia pada raja, karena aku tidak bisa masuk istana, raja itu memiliki sekutu jin yang cukup kuat, hingga pertahanannya tidak bisa aku tembus saat kau memanggilku. Tapi aku berhasil memasukkan tusuk kondeku, tusuk konde yang tidak memiliki kekuatan sama sekali, karena tidak perlu serangan ghaib untuk menumbangkan raja, maka tusuk konde kosong yang diperlukan untuk menumbangkannya, sedang selama belasan tahun kami bertarung, tak tembus satupun kirimanku.


Sungguh benar pepatah lama, bahwa wanita adalah sumber kemakmuran dan juga kehancuran. Kau harus melihat bagaimana dia tumbang, selama beberapa waktu kau tidur ini.”


“Sudah berapa lama aku tidur?”


“Berhari-hari, kami sudah merencanakan semuanya ... dan kau adalah seorang pengeksekusi yang sangat hebat.”


“Kami?”


“Ya, kami.”

__ADS_1


__ADS_2