Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 523 : Mulyana 29


__ADS_3

Sebelum Mulyana benar-benar jatuh, Aep menahan tubuh itu lalu menggendongnya di punggung, setelah dia memastikan tubuh Mulyana sudah aman di punggungnya, dia berlari untuk pulang, tubuh Mulyana yang sedang kosong, harus dijauhkan dari bahaya, karena pertama, banyak dukun yang ingin tubuh itu, terowongan ghaib ada di tubuh kosong itu.


Kedua, jin juga banyak yang mengincar agar bisa seenaknya keluar masuk antara dunia manusia dan dunia ghaib.


Sungguh tubuh Mulyana sangatlah berharga, kakaknya berlari dengan sekuat tenaga menggendong adiknya yang sedang menyelamatkan Nando, maka tugas menyelamatkan tubuh Mulyana, akan diperjuangkan oleh kakaknya.


Aep terus berlari tanpa berani melihat ke belakang, karena kalau sampai dia tidak fokus, bisa jadi kehilangan keseimbangan, walau Mulyana adik, tapi tubuhnya tetaplah berat. Dia bukan anak bayi lagi.


“Yan, kenapa harus masuk ke zona ghaib di jalanan sih? kenapa nggak di rumah aja! Ya Allah Yan, nafasku hampir habis, kau ini benar-benar Panglima yang tidak tahu diri, rajamu kau suruh-suruh!” Aep mengeluh tapi tak dia lepaskan tubuh adiknya sedetikpun, dia terus berlari.


“Hei, lepaskan tubuhku.” Mulyana terbangun, lalu meminta Aep melepasnya.


Aep berhenti sejenak, melihat ke belakang arah tubuh adiknya.


“Keluar kau! berat ini!” Aep berkata dengan lantang.


“Lepaskan aku, aku mau jalan sendiri saja!” Mulyana memaksa untuk turun dari punggung kakaknya.


“Kau mau keluar sendiri atau sengaja ingin ikut sampai rumah? Kau tahu kan, rumah Drabya? Kharisma Jagat ternama, kau ingin jadi peliharaan ayahku? Kau tahu kan, bagaimana disiksanya sampai kau patuh dan jinak?” Aep mengancam.


Rupanya ada jin  yang entah dari mana melihat tubuh istimewa yang sedang kosong digendong oleh seseorang.


“Lepaskan aku!” Mulyana memberontak, dia ingin dilepaskan oleh Aep lalu berlari menguasai tubuh itu.


“Kau pikir kau akan bisa lepas dariku? kau tidak lihat punggungku memiliki mantra tua Karuhun? Kau tidak akan bisa lepas dariku selama tubuh adikku menempel di punggungku, kau pikir aku raja amatir yang tidak membawa perbekalan untuk menghadapi jin jahat sepertimu!” Aep kesal karena jin itu yang sadar bahwa, punggung Aep memiliki mantra yang membuat tubuh Mulyana menempel erat setelah digendong tadi, hingga tak ada jin yang tiba-tiba masuk bisa berontak dengan kekuatannya dan memaksa Aep melepas Mulyana.


Mantra tua Karuhun itu membuat Kharisma Jagat menjadi lemah dan menempel pada mantra itu, mantra tua Karuhun itu untuk Kharisma Jagat yang nakal, sebagai hukuman. Drabya sudah menulis mantra itu pada punggung Aep agar tak ada jin yang bisa menggunakan kekuatannya pada tubuh Mulyana jika saja Mulyana terpaksa masuk ke terowongan, yaitu tubuhnya sendiri untuk sampai zona ghaib.


Makanya jin itu memaksa Aep melepaskan Mulyana yang tubuhnya dirasuki jin entah dari mana itu, karena kalau bukan Aep yang melepas, maka tak ada yang bisa menguasai tubuh Kharisma Jagat itu.


Hening, berarti jin itu sudah keluar, jarak ke rumah itu tinggal sebentar lagi, Aep terus berlari, hingga akhirnya dia sampai juga di rumah, di depan rumah dia melihat ibunya sudah menunggu di luar pagar rumah, ibunya pasti cemas.


Aep terus berlari hingga sudah ada di hadapan ibunya.


“Bagaimana dia? apakah dia sakit?” Ibunya bertanya.


“Bu, tolong bukakan pintu gerbangnya.”

__ADS_1


“Kau lepaskan dia saja, aku yang pegang, kau buka gerbangnya.” Ibunya menyarankan, karena mungkin khawatir dengan punggung anak sulungnya.


“Baiklah, pegang kakakku bu, dia sedang kosong.” Aep berkata sambil hendak menurunkan Mulyana.


“Ya, kau pasti lelah menggendong kakakmu.” Ibunya berkata sambil hendak mengambil tubuh Mulyana dari punggung Aep yang kakinya sudah turun ke tanah hingga Aep hanya memegang tangan saja, bukan lagi bagian bokongnya, bagian yang kau pegang ketika menggendong orang di punggungmu.


“Loh, kenapa?” Ibunnya heran, karena tiba-tiba Aep mundur sambil masih memegang tangan adiknya dan memastikan tubuh adiknya masih menempel dengan ketat ke punggung Aep agar mantra tua Karuhun masih memberikan efek pada tubuh Mulyana. Aep dan ibunya sekarang memiliki jarak yang lebih jauh.


“Dia bukan kakakku, dia adikku! Bagaimana mungkin seorang ibu tidak tahu itu dan bisa salah?!” Aep merasa ada yang janggal, ibunya memang selalu memiliki kekhawatiran yang berlebih, tapi dia tak pernah menunggu di luar gerbang dan mana mungkin dia salah, mengatakan Mulyana adalah kakaknya, sudah pasti dia ....


Lalu saat diminta untuk membuka gerbang, dia tak mau dan malah meminta tubuh Mulyana, Aep langsung tersadar, wanita ini bukan ibunya, dia hanya replika dari seorang dukun entah dari mana.


“Kau memang seseorang yang cerdas, tak heran, keluarga Kamajaya memang terkenal sangat detail, hingga sulit dikelabui, tapi bukankah adikmu ini hanya beban, jika dia tak ada, kau yang akan menguasai semua.” Wanita yang menyamar menjadi ibu itu, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria tua yang yang berpakaian serba hitam, khas pakaian sebuah perguruan sesat.


“Itu justru masalahnya Pak, kalau dia tak ada, saya yang repot karena wajib jadi Kharisma Jagat, saya tidak suka, sedang adik saya sangat suka jadi Kharisma Jagat. Lalu soal menguasai semua? Maksudnya harta kekayaan? Waduh Pak, harta ayah saya kalau dibagi dua saja, masih bisa membiayai hidup mewah tujuh turunan keluarga kami, jadi kalau dibagi dua saja masih berlebihan, repot, masa ngurus kekayaan sendirian, Pak, apa mau bantu kami sekalian ngurus kekayaan kami?” Aep bersikap sombong, karena dia memang dari keluarga kaya raya, tidak butuh serakah, karena semua sudah ada porsinya.


“Lelaki dukun itu lalu bersiap untuk menyerang Aep, tapi sayang Aep keburu membuka pintu gerbang dan masuk, dia menutup pintu gerbang itu.


“Dasar pengecut!” Lelaki itu berkata dengan lantang, dia kesal, tidak bisa masuk ke dalam, karena gerbang itu sudah dipagari, kalau dia berani pedang, maka pagar itu membaca sebagai ancaman, tanganmu akan hangus, makanya tadi dia meminta Aep membuka gerbangnya agar bukan dia yang memegang gerbang dan bisa langsung kabur membawa tubuh Mulyana, jika saja Aep tertipu, tapi kita tahu, Aep terlalu cerdas untuk ditipu murahan seperti itu.


“Kau yang pecundang, sudah tahu aku bukan lawan yang seimbang, kau mau menindasku bukan? kalau bukan bertumpu pada kecerdasan, aku tak mungkin bisa bertahan di keluarga ini. Lagian kalau menghasut kami berdua dengan pembicaraan uang, kau salah, kami berdua tidak pernah bertengkar soal uang dan juga ilmu, karena kami punya tujuan hidup yang berbeda. Pulang sana, kau tak diterima di sini, tapi kalau kau ingin masuk sih, silahkan, maksudku ... silahkan kalau mampu.”


“Ada apa Ayah?” Seorang anak perempuan bertanya, umurnya sebaya dengan Aep.


“Aku gagal lagi membawa tubuh anak itu, padahal jika dapat, tubuh kosong itu bisa kita jadikan sandera untuk mengancam Drabya, sayang, anak-anaknya memang sudah dilatih untuk bertahan.” Dukun lelak itu kesal karena dia tak mendapatkan keinginannya.


“Tenang saja ayah, nanti kalau aku sudah besar, aku akan membantumu mendapatkan apa yang kau inginkan.” Anak perempuan itu memang agak beda, dia terlalu kuat untuk ukuran anak perempuan dewasa.


Kelak, kalian akan bertemu dengan anak perempuan itu di dalam Zona gelap, anak perempuan itu menjelma menjadi dukun perempuan yang mencuri zona gelap milik Mulyana dan menjadikannya sebagai zona yang menyesatkan dan akhirnya berhadapan dengan kawanan dan Aep. Anak itu ingin balas dendam pada Mulyana dan Aep karena kematian ayahnya.


Kalian ingat tidak, siapa wanita dukun itu?


...


Drabya menginjak leher lelaki tua itu, sedang semua anak buahnya sudah tumbang tak ada yang bisa menyelamatkannya.


“Kau ingin mati atau ingin babak belur?” Drabya mengancam, dia sudah melemahkan dukun tua yang mengincar jiwa cucunya untuk sisa umur, dia ingin hidup abadi.

__ADS_1


“Lepaskan aku, aku mohon, aku akan memenuhi semua keinginanmu, aku akan bertobat, aku mohon.” Inggil memohon, dia sudah babak belur.


“Kau berani sekali menantangku!” Drabya makin menginjak leher lelaki tua itu.


“Sudah cukup.” Abah Wangsa mengingatkan Drabya, bahwa lelaki dukun tua itu sudah kehabisan energi.


“Berani sekali kau! berani sekali kau!” Drabya menahan sikapnya di depan anak-anak tadi, makanya dia menyembunyikan sisi kejam.


Kalau kalian mungkin tahu, bahwa Mulyana dan Adik memiliki ciri khas yang sama, mereka selalu menyelesaikan masalah dengan hati, tapi kalau Drabya ... tidak! dia memiliki hati yang dingin jika saja ada dukun yang berani melawannya, karena dia merasa posisinya jauh di atas para dukun itu, dia adalah raja yang memimpin semua manusia yang memiliki khodam, berani sekali kakek tua ini menantangnya.


“Ampun, ampunilah aku, aku mohon!” Inggil memohon dengan bersujud setelah kaki Drabya tidak lagi berada di lehernya.


“Dengar ini baik-baik, kalau aku melihatmu lagi di kawasanku dan berburu, niscaya kau takkan lagi bisa menginjak bumi ini, kau akan langsung kukirim ke dunia ghaib dan tubuhmu akan aku cincang habis, mengerti kau!” Drabya berkata dengan berjongkok dan memegang wajah Inggil secara kasar.


Inggil mengangguk ketakutan, semua anak buah dan ayahnya Nando melihat itu, betapa tersadarnya mereka, bahwa Drabya bukan orang biasa, bahkan inggil dukun tua itu, kalah dengan waktu yang cukup singkat oleh lelaki paruh baya itu.


Inggil dilepas dan anak buahnya mengikuti, sementara Drabya masih di sana menahan kesal.


“Kau tahukan, kalau caramu salah, bukan begitu menangani seorang dukun, Drabya!” Abah Wangsa mengingatkan.


“Kau atau aku tuannya? Aku membiarkanmu dekat dengan Mulyana bukan untuk membuatmu menjadi Karuhun pembangkang, ikuti aku, karena aku tuanmu.” Drabya mengatakannya dengan wajah bengis.


Dia memang berhati dingin, sangat keras dan kejam.


Abah benar, melepas Inggil begitu saja, adalah salah, karena kelak, dia akan mencelakai cucunya Drabya.


Apakah kalian tahu siapa Inggil? Tak kah kalian curiga padanya?


Jika kalian lupa, maka aku akan ingatkan, kalian ingat tentang pura terbalik di Bali? di sana kawanan ditipu oleh seorang Manager dari hotel dan vila serta seorang suami yang mengkhinati istrinya untuk uang namanya Anto, takdirnya berakhir tragis di penjara. Mereka berdua menipu kawanan dan bermaksud membuat kawanan menjadi lemah dan kalah.


Adakah dari kalian yang masih penasaran, tentang seorang lelaki yang menelpon Anto dan juga Manager untuk mencelakai kawanan? dia pemilik vila dan hotel itu, vila yang Mulyana tutup dengan pagar karena dipakai praktik klenik, Lelaki tua itu sangat dendam, apalagi tahu, kalau dia adalah anak dari Drabya.


Maka sekarang rasa penasaran kalian akan terjawab, karena Inggil masih tetap melakukan praktik tumbal pada keturunannya dan hidup lebih panjang karena memeras umur cucu lainnya dalam keluarga, umurnya mampu menjangkau kawanan hingga ketika dia mengetahui kawanan datang ke Bali untuk menyelesaikan kasus, dia langsung membuat rencana untuk menghabisi kawanan. Sayang, rencana itu tetap gagal, untuk kedua kalinya, tempat praktik tumbalnya ditutup oleh Kharisma Jagat dan ketiga kalinya dia kalah, Inggil lupa, keturunan siapa Aditia, seorang Drabya yang menginjak lehernya saat ini.


Tentu Abah Wangsa tidak tahu, kalau Inggil masih mengincar cucu Drabya saat itu, karena Inggil si pengecut tak menunjukkan wajahnya, dia hanya menggunakan harta dan kekuasaan untuk merencanakan membunuh kawanan, terutama Aditia.


Semoga malam ini, kalian tidak penasaran lagi ya, tentang lelaki yang menelpon itu.

__ADS_1


Selamat malam, besok lanjut lagi, nggak janji tapi.


__ADS_2