Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 511 : Mulyana 16


__ADS_3

“Percayalah, tak ada gelap apapun lagi yang mampu membuatku takut, seandainya kau tahu apa saja yang pernah aku alami.” Mulyana ikut Nando, walau Nando penasaran, tapi tak jadi tanya, karena dia tahu, Mulyana takkan memberitahu, mereka akhirnya masuk ke perpustakaan itu untuk mencari makna kata yang diucapkan oleh anak perempuan yang menabrakkan kepalanya ke pintu kelas yang terkunci, Mulyana penasaran, mantra apa itu?


Nando melihat pintu belakang dan segera berlari, setelah sebelumnya memberitahu Mulyana bahwa mereka harus berlari, tidak mengejar sesuatu justru menghindari seesuatu, satpam sedang tidak ada hingga mereka bisa masuk.


Nando benar, bahwa pintunya tidak dikunci, pintu itu digunakna oleh Security untuk masuk ke dapur yang ada di bagian belakang perpustakaan, maka ketika bisa masuk ke pintu itu kita juga bisa masuk ke perpustakaan yang hanya memiliki dua pintu, pintu utama dan pintu lain yang menghubungkan dengan dapur perpustakaan.


Dari dapur itu mereka masuk ke meja yang berbentuk lingkaran, meja itu menutup akses masuk ke bagian dapur, meja itu biasanya digunakan oleh petugas untuk menerima buku yang akan dipinjam dari para pembaca. Bagian dapur memang terhubung dengan perpustakaan dengan pembatas sebuah dinding saja, tanpa daun pintu. Sedang meja lingkaran itu ada pintu kecil pada sisi paling kanan ada pintu kecil untuk bisa masuk ke dalam meja itu.


Mulyana dan Nando akhirnya keluar lewat dari pintu kecil yang ada di sebalah kanan pada meja petugas perpustakaan, meja yang menutup sepenuhnya berbentuk setengah lingkaran.


Sekarang kedua anak itu sudah ada di dalam perpustakaan, bersiap untuk mencari apa yang mereka penasarankan.


“Cari di mana Yan?” Nando bertanya.


“Buku legenda, kau tahu di mana?” Mulyana bertanya balik.


“Ya, aku tahu, sebelah sini.” Nando mengajak Mulyana berjalana ke arah yang dia ketahui bahwa itu adalah tempat di mana buku yang mereka cari berada.


Saat sedang berjalan, tanpa sengaja Mulyana melihat seseorang sedang berdiri di kegelapan, Mulyana berhenti, begitu juga dengan Nando.


“Kau melihatnya?” Nando bertanya pada Mulyana, kali ini Mulyana percaya pada Nando dan ingin terbuka, bahwa dia juga melihat apa yang dilihat Nando, tapi Mulyana ingin sekali lagi membuktikan, apakah penglihatan mereka sama.


“Apa yang kau lihat?” Mulyana bertanya.


“Kakek-kakek bungkuk yang memegang tongkat, sedang berdiri di kegelapan, menatap kita dengan tajam.”


“Kita melihat hal yang sama. Kita harus menyapanya, karena dia melihat kita dan tahu kita bisa melihat dia.”


“Apa kau gila!” Nando menolak.


“Tidak, tapi kata ayahku, setiap tempat yang pada malam hari tak ada manusia yang tinggali dan ditinggalkan dalam keadaan gelap, maka itu adalah tempat mereka yang tak terlihat, jika kita datang ke tempat seperti itu, maka kita harus menghormati pemilik ... zona.”


“Zona? Maksudmu apa sih? Hisroshima Nagasaki?” Nando bertanya.


“Itu mah Zona yang ditetapkan sebagai zona berbahaya yang memerlukan waktu ribun tahun untuk menjadi aman kembali, bukan itu!”


“Kau cerdas ternyata.” Nando heran, karena selama ini, Mulyana terlihat sangat bodoh dan tidak punya wawasan yang luas.


“Hanya terpikir saja, aku kan suka nonton film yang ditonton ayah dan ibu, itu loh tentang biografi negara-negara, jadinya aku ingat, itu kan lokasi pengemboman, makanya terpatri di otakku.” Mulyaan mencoba untuk memperbaiki keadaan, karena kebohongan dia dan kakaknya akan menjadi terbongkar karena perkataannya.


“Berarti ayah dan ibumu berwawasan luas juga ya, kok nontonnya film yang berat begitu.”


“Ya, ayah dan ibuku orang-orang yang cerdas, tapi aku dan Aep itu pemalas, kami sepertinya keturunan dari kakek kami yang memang pemalas.” Asal bicara sekali Mulyana ini, padahal kakeknya adalah keturunan Kharisma Jagat Agung yang tentu tidak bisa dibilang pemalas dan tidak cerdas. Anak kecil ini berani sekali memfitnah kakeknya.

__ADS_1


“Oh begitu, baiklah, sekarang kita jadi menyapa kakek itu?” Nando mengingatkan lagi maksud mereka yang sempat terinterupsi oleh perdebatan yang tidak begitu penting.


“Assalamualaikum?” Mulyana menyapa.


Jarak antara kakek dan dua anak itu hanya beberapa langkah. Kakek itu berdiri di kegelapan tanpa sentuhan cahaya sama sekali.


Saat disapa, sosok itu mendekat, tapi bukan melangkah, melainkan melayang.


Nandi terperanjat, dia mundur, sekarang tubuhnya di belakang Mulyana, Mulyana tidak kaget, karena dia biasa melihat makhluk seperti ini.


Wajah kakek itu ternyata sangat pucat, matanya menghitam, tengkorak wajah terlihat jelas, seolah hanya kulitlah penutup wajah itu, tak ada daging maupun otot karena benar-benar siluet tengkorak terlihat jelas pada wajah itu.


Kakek itu memakai tongkat yang berbentuk aneh, tongkat itu tidak lurus, melainkan berbentuk belok-belok seperti ... ular!


“Kau apa?” Kakek itu bertanya pada Mulyana.


“Anak manusia, cucu adam.” Mulyana menjawab dengan diplomatis.


“Bukan itu pertanyaanku!” Kakek itu berkata dengan suara parau yang sangat keras, dia kesal karena Mulyana tak mau menjawab jati dirinya.


“Tentu saja itu jawabanku, aku adalah anak manusia dan cucu Adam.” Mulyana kekeh dengan jawabannya.


“Kalau begitu, kenapa kau bisa melihatku kalau hanya anak manusia biasa?” Kakek itu bertanya.


“Karena aku cucu Adam, bukankah kau dan leluhurmu tahu, bahwa kakek moyangku adalah orang yang tinggal di langit bersama Tuhan? Sehingga kemampuan melihatmu adalah hal yang biasa?” Mulyana masih menjawab dengan diplomatis.


Mulyana tidak panik, dia hanya diam saja, lalu menutup mata, membaca mantra dan ketika mantra itu selesai diucapkan, dia kembali membuka mata, kakek itu melihat mata Mulyana, terdiam untuk beberapa saat dan ... “Astaga!” Kakek itu buru-buru memerintahkan ular yang melilit leher Mulyana untuk melepasnya, walau Mulyana tak terlihat kesakitan sama sekali.


“Kau itu ....” Belum juga selesai mengucapkan kata, Mulyana langsung memotong perkataan kakek, karena dia takut kalau kakek itu mengatakan hal yang tidak-tidak sehingga membuka jati diri dia dan keluarganya.


“Kami butuh buku yang memuat mantra kuno, apakah ada buku seperti itu di perpustakaan ini?” Mulyana bertanya pada kakek itu.


“Aku tidak ada niat membantu kalian, maaf.” Kakek itu mundur lagi dan membuat jarak antara mereka menjadi semakin lebar kembali.


“Kalau kau tak mau memberi tahu, aku akan beritahu ayahku, siapa yang membuat leher anaknya menjadi merah begini.” Mulyana mengancam, kakek itu terkejut, karena benar, leher itu merah, tapi bagaimana anak ini tidak kesakitan sehabis dililit seperti itu.


“Kau mengancamku!”


“Tidak, aku hanya sedang memohon, bantulah kami.” Mulyana memelas.


“Bahasa apa itu mantranya?” Kakek itu akhirnya mengalah, dia ingin dua anak pengganggu ini segera pergi dari zonanya.


“Sebentar ... hmm, begini bunyi mantranya, ‘GRAKSA BAJANG’.”

__ADS_1


“Bahasa sunda kuno, kau bisa mencari artinya di sini.” Tiba-tiba sebuah buku melesat entah dari mana, yang pasti dari suatu rak di perpustakaan ini.


“Kalau kau tahu itu bahasa sunda kuno, kenapa tak kau  beritahu artinya?” Nando protes, karena buku yang dia berikan sangat tebal, mereka harus mencarinya di sana.


“Aku tidak tahu artinya anak muda!” Kakek itu kesal, karena dua anak muda ini terlihat ingin sekali sesuatu yang mudah.


“Tapi kau tahu kalau itu bahasa Sunda kuno.”


“Kadang kita tahu suatu tempat, tapi tidak paham arah menuju ke sana yang paling cepat bukan? untuk tahu arahnya, kita harus berjalana dulu ke tempat itu beberapa kali dengan jalan berbeda, agar tahu arah tepat yang paling cepat, sama seperti aku tahu itu bahasa Sunda kuno, tapi tak paham artinya.”


“Kau itu sudah cukup berumur tapi ....”


“Nando kau bisa diam tidak!” Mulyana kesal karena Nando malah mengejek sosok yang sudah mau repot membantu mereka.


“Maaf kek, ini temanku memang suka usil.” Mulyana mencoba meredakan kemarahan sosok itu karena dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sudah sangat marah.


“Sudah, jangan ganggu aku, aku sedang menikmati malam yang sepi ini.” Kakek itu kembali ke tempat di mana tadi dia berada, Mulyana dan Nando mencari meja yang ada lampu mejanya, kebetulan ada lampu meja di setiap meja yang bersekat di perpustakaan ini.


Mulyana heran tapi itu tak terlalu mengganggu.


“Kamu baca halaman ganjil, aku baca halaman genap, biar cepat.” Mulyana memerintah, Nando patuh, saat seperti ini terlihat bahwa Mulyana bukanlah seperti orang yang Nando lihat sehari-hari. Mulyana sangat pintar.


Mereka terus membaca dengan cepat, Mulyana mengingatkan bahwa dia hanya punya waktu sedikit, dalam setiap lembar itu, mereka masih belum dapat sama sekali, hingga sudah setengah jam mereka di sana.


“Belum ketemu, gimana ini?” Mulyana panik.


“Kita bawa saja bukunya, buku ini tidak sering dibaca.” Nando memberi ide.


“Iya ya, bukunya berdebu dan halamannya ada yang rapat, menandakan tidak ada yang menyentuh dan membalik halamannya.” Mulyana segera menangkap isyarat yang nando katakan, tentang buku ini tidak banyak yang mengambil untuk dibaca.


“Betul, kau cerdas, maka jika buku ini hilang dalam satu atau dua hari, pasti tak ada yang menyadari, lagian ... kakek itu juga tak mungkin mengadu.” Mulyana dan Nando tertawa karena tahu, kakek itu adalah hantu yang tidak mungkin mengadu pada petugas perpustakaan.


“Baiklah, kita selundupkan buku ini, tapi buku ini aku yang bawa ya, aku akan pelajari nanti malam.”


“Ok, tapi bagaimana kau membawa bukunya? Nanti keluargamu tahu.”


“Tenang saja, aku punya cara agar buku ini tidak terlihat, kau tenang saja.” Mulyana lalu mengajak Nando untuk keluar, tapi sebelum keluar, betapa kagetnya mereka, karena tiba-tiba tidak menemukan pintu keluarnya, kemana meja petugas perpustakaan itu, kenapa tiba-tiba hilang, ke mana jalan keluarnya? Kenapa perpustakaan ini tiba-tiba hanya terdiri dari begitu banyak rak saja!


Mereka berdua sungguh terkejut.


“Kita ... sudah menyebrang Nando! Kau pernah menyebrang?”


“Hah? tentu saja, kalau di jalan kan kita sering menyebrang.”

__ADS_1


“Bukan itu bodoh! Ada seseorang yang membawa kita ke dunia ... mereka!”


“Oh Tuhan, matilah kita!” Nando gemetar, karena ketakutan, padahal tadi sebelum masuk dia yang khawatir Mulyana ketakutan. Tapi pada kenyataannya, sekarang dia yang sangat takut.


__ADS_2