
“Sur! Sur! Surti!” Majikannya Ibu Setiabudi terus mengoncangkan tubuh pembantunya itu, setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Surti bangun.
Majikannya lega, karena tadi Surti diantar oleh security, di bawa menggunkan motor.
Security masih di sana, lalu datang beberap orang lagi, yaitu security lain dan pak RT.
“Sudah bangun, Bu?” Pak RT bertanya. Mereka semua berada di ruang tamu mewah milik Ibu Setiabudi.
“Sudah Pak, minum dulu Sur.” Majikannya membangunkan Surti dan meminumkan teh hangat, sedang pembantu lain membalurkan minya kayu putih pada punggung Surti, pembantu wanita tentunya, dengan memasukkan tangannya pada punggung Surti dibalik baju.
“Sur, kamu kenapa? kok bisa pingsan?” Majikannya bertanya.
Surti diam tak menjawab.
“Sur, kamu kenapa?” Pembantu lain di rumah itu bertanya, karena dia melihat Surti seperti ingin bicara tapi tak keluar satupun kata dari mulutnya.
“Sur! Kamu kenapa lagi?” Majikannya mulai khawatir.
Hanya keluar suara serak dari mulut Surti. Tapi tak ada satu patah katapun.
Surti memegang lehernya, dia seperti kesakitan.
“Ambil kertas sama pensil pulpen.” Majikannya menyusuh pembantu lain untuk mengambil apa yang dia minta.
Setelah kertas dan pulpen itu diberikan kepada Surti, dia lalu mulai menulis.
Kata pertamanya .... [SETAN.]
Semua orang terperanjat.
“Setan apa Sur?” Pak RT yang bertanya.
[TUKANG BUBUR.] Surti hanya menjawab singkat karena dia masih lemas dan kesulitan menjelaskan panjang pakai kertas dan pulpen.
“Astagfirullah, Surti ketemu sama Marudin tukang bubur?!” Security yang terlihat sudah berumur bertanya dengan suara yang sangat kencang.
Surti tidak tahu nama tukang bubur setan itu, tapi mungkin yang mereka maksudkan sama.
“Siapa Marudin tukang bubur?” Majikan itu bertanya, dia memang sudah lama tinggal di sana, tapi dia tidak terlalu sering bergaul dengan tetanggan komplek, maklum, suami istri dan kedua anaknya itu sibuk masing-masing, anak-anaknya sudah kuliah, sedang ibu dan bapak Setiabudi sibuk bekerja, pulang ke rumah bisa sangat malam.
Orang-orang komplek memang jarang bergaul, sedang para Security biasanya tahu banyak hal, karena mereka yang menjaga komplek, jadi semua hal yang terjadi di sana, dia tahu dengan baik.
“Dia adalah setan yang suka mengganggu di komplek ini, biasanya orang yang diganggu, setelahnya akan kesulitan bicara, Surti harus ditangani oleh Kiai Tardi yang biasa menyembuhkan penyakit ghaib, tapi sayang ....”
“Sayang kenapa Pak?” Ibu Setiabudi bingung.
“Kiainya, sebulan lalu baru saja meninggal, setelah Kiai Tardi meninggal, tukang bubur itu jadi lebih sering mengganggu.” Pak RT berkata dengan kesal karena ulah tukang bubur itu membuat beberapa orang sekarang menjadi sakit dan sulit bicara seperti Surti.
“Hah? sebentar-sebentar, kalian ini bicara apa sih?” Bu Setiabudi, tidak percaya soal itu, karena dia orang yang berpendidikan tinggi, dia tidak mau termakan omongan tidak jelas dasarnya, apalagi soal ghaib.
__ADS_1
“Bu, kami bicara soal tukang bubur setan bernama Marudin, dia itu suka mengganggu orang yang kebetulan melihatnya, entah karena apa, mungkin nasib buruk, kalau orang itu memang bermaksud membeli buburnya, tentu orang itu akan dikerjai, setelah dikerjai, orang itu akan sakit, tidak bisa berbicara, suaranya akan seperti ini, sudah ada beberapa orang korbannya.”
“Duh Pak, saya nggak percaya deh sama yang begitu itu.”Bu Setiabudi tidak mau percaya.
“Bu, ada CCTV kan di luar gerbang rumah Ibu, menghadap kanan dan kiri, dua sisi?” Pak RT bertanya, karena hampir semua rumah dilengkapi CCTV di bagian luar gerbang, walau memang jangkauan cameranya tidak terlalu luas, tapi bisa jadi menjelaskan apa ang diliaht Surti malam itu.
Ibu Setiabudi lalu membuka telepon pintarnya, karena aplikasi untuk mengakses CCTV ada di sana, dia membuka aplikasi CCTVnya, lalu memilih waktu yang akan dia lihat rekaman CCTV itu.
Setelah memilih waktu yang kira-kira di mana Surti keluar dari rumah untuk membeli bubur itu, dia membuka layarnya lebih besar dan menyalakan televisi yang ada di ruang tamu, lalu menghubungkan telepon genggamnya pada televisi itu, dilakukan agar bisa melihat rekaman CCTV bisa dilihat lebih besar dan bersama-sama.
“Itu Surti baru keluar dari rumah bawa mangkok untuk beli bubur, saya minta dia belikan, untuk saya dan juga suami saya.” Ibu Setiabudi menjelaskan.
Dari rekaman CCTV itu Surti terlihat membuka gerbang, lalu menutupnya lagi, setelah itu dia terlihat seperti mengejar sesuatu, tangannya melambai-lambai, tidak terdengar suara dari sana, karena rekaman hanya menampilkan gambar, tidak suara.
Rekaman CCTV hanya menangkap sampai ujung rumah saja, sisanya Surti tidak kelihatan lagi.
“Bu, coba mundurkan rekamannya, kalau memang Surti memanggil tukang bubur, seharusnya tukang bubur akan terekam begitu melewati depan rumah Ibu.” Pak RT berkata.
“Baiklah.” Ibu Setiabudi lalu memundurkan rekaman sekitar setengah jam, mereka menunggu tapi tak kunjung melihat apapun, sampai adegan di mana Surti membuka gerbang dan terlihat mengejar tukang bubur, aneh.
“Aneh kan Bu, kalau dia mengejar tukang bubur, seharusnya kita semua bisa melihat tukang bubur itu lewat dengan gerobaknya, tidak mungkin tidak tertangkap CCTV saat lewat.
Kalau Surti tidak mengejar tukang bubur, lalu dia mengejar apa? itu jelas tukang bubur yang dia kejar. Ya Kan, Sur?” Pak RT bertanya lagi pada Surti.
[Iya.] Surti menjawab singkat dengan tulisan. Dia mengiyakan kalau mengejar tukang bubur setelah keluar dari gerbang.
“Baiklah Pak, saya akan sabar menunggu rekaman itu dari grup chat komplek, tapi Pak, soal Surti bagaimana? apakah saya bawa ke rumah sakit saja? Saya tidak mungkin diam saja.” Bu Setiabudi tidak mau kalau asisten rumah tangganya celaka dan dia diam saja.
“Baiklah Bu, silahkan, tapi saya akan tetap usut, demi kenyamanan bersama.” Pak RT berkata dan setelah itu dia pamit bersama para securitynya.
Mereka ke pos komplek yang ada di pintu masuk komplek, membicarakan soal kejadian yang dialami Surti, sekalian Pak RT mulai mengirim pesan singkat di grup chat komplek, meminta tetangga Bu Setiabudi mengirimkan rekaman CCTV pada jam tertentu, sesuai janjinya.
Tidak lama beberap penghuni komplek mulai mengirim video CCTV yang terekam, di mana Surti lewat. Video itu jika digabung maka akan menjadi runut, ketika Surti jalan ke dari rumah majikannya, hingga melewati rumah-tumah tetangga.
“Tidak ada apa-apa yang dikejar Surti.” Pak RT bicara pada security.
“Betul, lihat ini Pak, pada rumah ketiga, Surti tidak lagi melambaikan tangan seperti memanggil seseorang atau sesuatu, dia tiba-tiba diam sesaat dan berjalan dengan tatapan kosong, hingga rumah terakhir yang menangkap gambar Surti saat melewatinya, Surti masih terus berjalan.”
“Iya, kemungkinan saat ini Surti sudah dalam pengaruh ghaib, dia terus berjalan sampai ujung komplek, tempat di mana sudah tidak ada bangunan lagi, tapi tanah kosong, ujung komplek ini memang belum dibangun karena proyek pembangunannya mangkrak, pemilik tanah memutuskan untuk membiarkan tanah-tanah kosong itu terbengkalai karena belum ada modal untuk membangun rumah.
Di tanah kosong itu kita menemukan Surti tengah malam. Padahal dia keluar dari rumah jam 7 malam, majikannya juga bilang kalalu dia menelpon Surti pada jam setengah sembilan malam, karena merasa Surti terlalu lama pergi keluar.” Pak RT meneruskan.
“Pak, kalau begitu kejadiannya, ini pasti kerjaan tukang bubur itu, Surti tidak sadar bahwa dia sudah melihat tukang bubur setan.” Suasan pos jadi sangat dingin dan mencekam.
“Pak, ktia harus adain doa bersama agar tukang bubur setan itu nggak ganggu lagi di komplek kita ini.” Salah satu security memberikan ide.
“Ya, itu ide bagus, kita jadwalin untuk doa bersama di lapangan komplek saja.
Ting ... ting ... ting .... Suara ketukan mangkuk terdengar, suara yang biasa dibunyikan oleh tukang bubur keliling jika dia sedang mendorong gerobaknya agar orang yang mau beli tahu, ada tukang bubur lewat.
__ADS_1
“Pak!” Semua security mendekat pada Pak RT, takut kalau itu adalah tukang bubur setan.
“Lihat keluar, siapa tahu itu tukang bubur beneran.” Pak RT juga takut, mana rumahnya paling jauh, sementara security lain tempat tinggalnya bukan di komplek ini.
“Pak, takut.” Tidak ada yang berani melihat keluar.
“Kalau begitu, lihat bersama, kalau setan, kita bisa teriakin maling atau apalah.”
“Pak, yakin berani neriakin setan maling?” Seorang Security masih berdiri dekat dengan Pak RT karena takut.
“Yuk, udah kita lihat saja apa benar itu tukang bubur setan.”
Pak RT lalu menarik semua orang untuk tetap berdekatan dan keluar dari pos, saat mereka semua melongok keluar, sepi, hening, hanya ada suara angin.
“Pak, nggak ada apa-apa?” Mereka semua setuju, tidak melihat apapun.
Saat hendak kembali masuk pos, tiba-tiba ada suara ketukan mangkuk lagi, tapi dari arah belakang mereka terkejut dan spontan melihat ke arah suara.
Tapi tetap saja, tidak ada orang di belakang mereka, tapi dari jauh, terlihat ada gerobak bubur yang hendak melintas, jaraknya masih jauh, mereka semua buru-buru masuk ke pos, menutup pintu pos dan semua merunduk, memastikan bahwa apapun yang melewati pos mereka nanti, tidak melihat bahwa di sana ada orang.
“Pak, itu tukang bubur setannya kan?” Seorang Security bertanya dengan berbisik.
“Nggak tahu, kayaknya iya, nanti pas di lewat, kita jangan tunjukin muka ya, semua nunduk, takut kalau kita lihat dia, suara kita jadi hilang juga, ingat itu.” Pak RT mengingatkan.
Suara ketukan mangkuk yang nyaring semakin terdengar, sema orang tetap siaga, walau ketakutan dan keringat dinign.
Saat suara semakin dekat dan akhirnya berada tepat di depan pos itu, gerobak seperti berhenti, lalu ketukan mangkuk itu dibuat lebih nyaring. Apapun yang mendorong gerobak itu, tidak bermaksud baik, dia tahu ada orang yang bersembunyi, dia ingin menjebak orang-orang itu.
Tapi Pak RT dan para Security itu terlihat sangat ketakutan, karena takut setan ini mencelakai mereka, Pak RT akhirnya meminta semua orang untuk membaca ayat kursi, dengan kencang dan lantang.
Setelah membaca ayat kursi dengan lantang, akhirnya Pak RT dan Security memberanikan diri untuk melihat ke arah luar, saat melihat ke arah luar, sudah tidak ada apapun di sana, kemana gerobak itu, karena suara gerobak di dorong dan dihentikan di depan pos, serta pukulan pada mangkuk yang menghasilkan suara nyaring, benar-benar hilang.
“Pak, gimana ini? sekarang dia hilang.” Semua orang terlihat panik, walau setan itu telah hilang, tapi tidak dapat dipungkiri, kali ini mereka lolos, besok-besok saat patroli sendirian, siapa yang jamin takkan ada yang ganggu?
“Antar saya pulang ya.” PaK RT tiba-tiba meminta antar pulang, sementara kalau Security mengantar Pak RT, berarti mereka perlu balik lagi ke pos, sendirian atau berdua dengan teman.
Tapi ini sangat mengkhawatirkan, karena bisa jadi, saat kembali ke pos, mereka malah ketemu dengan tukang bubur setan itu.
“Pak, takut, nggak berani.” Semua Security menjawab dengan pasti.
“Trus saya pulangnya gimana?” Pak RT mengeluh.
“Nginep aja Pak, bilang istri nggak berani pulang, besok pagi baru pulang ke rumah bapak.”
“Yasudah, kita semua istirahat dulu saja, sembari menunggu pagi.”
Pak RT tidak mau mengambil resiko dengan pulang sendirian, anaknya banyak dan istrinya manja, mereka masih butuh untuk didampingi.
Maka menginap di pos adalah cara paling aman.
__ADS_1