
"Yah, kita bener-bener harus ke sana?" Aditia bertanya karena Mulyana hendak mengetuk pintu rumah mewah itu.
"Ya lah, ini perumahan yang bagus, terlalu aneh istri Koswara punya rumah di sini sedang suaminya banyak hutang."
"Kita ngapain di sana?"
"Dit, memang kamu pikir Ayah selalu punya rencana? Terkadang beberapa hal dilakukan nekat."
Mulyana menarik Aditia untuk mengetuk rumah mewah itu.
Seorang wanita keluar, wanita yang berbeda dari wanita sebelumnya yang menyambut kedatangan istri Koswara.
"Ada apa ya Pak?" Salah satu pelayan wanita yang membukakan pintu bertanya.
"Nyonya Koswara ada?"
"Nyonya Koswara? Siapa itu? Salah alamat." Pelayan itu hendak menutup pintu tapi Mulyana menahan pintu itu dengan kakinya.
"Katakan pada nyonya rumah ini, kami dari orang pajak, kami harus bertemu dengannya mengenai pajak." Mulyana mengarang bebas lagi. Aditia menatap bingung ayahnya hanya menaikan alis.
Pelayan wanita itu berlari ke dalam, sepertinya kata pajak menakutkan di rumah ini.
"Silahkan masuk, Pak." Mulyana dan Adiia dipersilahkan masuk ke rumah lumayan mewah itu.
Begitu masuk semua perabotan mewah terlihat. Sepanjang mata memandang, semua terlihat berkilau karena berwarna emas. Dingind, hiasan bahkan lantai semuanya merefleksikan warna emas yang paling elegant.
Mulyana duduk membelakangi tangga, Pelayan Wanita berlari naik ke atas.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki dari tangga, tapi cukup banyak.
Mulyana langsung berbalik dan memperlihatkan wajahnya pada nyonya rumah.
Begitu melihat Mulyana nyonya rumah kaget dia berhenti sejenak tapi jelas sudah tertangkap basah.
"Jadi, ini rumah milik Pak Koswara?"
Mulyana mendahului obrolan, sementara istri Koswara harus turun tangga dan perlahan mendekat. Dia sudah tidak bisa kabur lagi.
"Buatkan mereka minum." Istri Koswara memyuuh dia orang pelayannya untuk membuatkan minuman.
"Mau minum apa?" Salah satu Pelayan bertanya.
"Air putih saja." Mulyana menjawab, karena dia tahu, istri Koswara hanya ingin membuat dua pelayannya pergi.
Mereka akhirnya duduk di sofa mewah ruang tamu itu.
"Jauh sekali kalian mengejar saya?"
"Tentu saja, karena anda orang yang paling mencurigakan."
"Astaga Pak Mulyana, anda memang seorang yang sangat terbuka dan langsung pada tujuan."
Cara bicara istri Koswara menjadi berbeda, dia terlihat anggun dan sangat berkelas. Berbeda dari sebelumnya.
"Saya tidak menculiknya. Saya tidak tahu dia dimana, dan soal hutang dia pada koperasi, akan aku lunasi."
"Tentu saja nyonya, kau kaya raya, bagaimana mungkin kau tidak mau membayar." Mulyana mencemooh.
"Jadi berapa yang kau butuhkan?"
"Tidak perlu karena aku bukan petugas penagih hutang."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Istrinya bertanya.
"Kami menemukan tubuh suamimu di kali dekat pelelangan ikan. Suamimu telah tiada."
Istrinya terdengar kaget, dia langsung berkeringat dan mulai berbicara.
"Kalian mau memerasku?! Dia sudah meninggal?! Bagaimana mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin jelas kami melihat ruhnya yang minta tolong."
"Pergi kalian! Pergi!" Perempaun itu histeris dan mengusir Mulyana beserta anaknya.
Mereka dilempar keluar lalu mau tidak mau harus kembali ke angkot.
"Petugas pajak apa itu? Mana ada petugas pajak datang ke rumah."
"Bisa saja, Aditia sok tahu."
"Aneh aja kali Yah. Lagian kenapa kok bisa kepikiran petugas pajak Yah?"
"Orang kaya itu cuma takut dua hal, satu miskin, dua petugas pajak." Ayahnya tertawa.
Mobil mulai dikendarai lagi. Aditia tidak diberitahu hendak kemama mereka.
Sampai lokasi, ternyata rumah Pak Dirga.
"Tumben banget berduaan ke sini?" Mereka sudah di halaman rumah Dirga.
"Ya, biasa mau ganggu lo." Mulyana dan Aditia disuguhi teh hangat dan gorengan pisang.
"Ada kasus apa lagi?" Dirga bersemangat.
"Lu pikir gue petugas sensus!" Dirga kesal.
"Bisa lah, ini mah kan gampang." Mulyana memaksa.
"Yaudah ntar gue tanya temen gue."
"Lu curiga kenapa ama pemilim rumah?"
"Kayaknya ini pembunuhan di dalam keluarga lagi deh."
"Hah? Pembunuhan di dalam keluarga?" Dirha bingung, Aditia juga terlihat kaget.
"Kok bisa elu ambil kesimpulan gitu?"
"Gue curiga ama istrinya, jangan-jangan ada udah di balik batu. Dia menyamar jadi orang miskin, lalu ternyata dia orang kaya. Buat apa orang sekaya itu hanya menikah dengan pedagan ikan yang sudah berumur. Menipu uangnya tidk mungkin.
Mungkin uang pedagang ikan itu hanya reveh saja bagi istrinya."
"Jadi ada kemunkinan istri bunuh suami?" Dirga bertanya.
"Ya, bisa jadi."
"Apa motifnya?"
"Itu yang aku belum tahu, makanya bantu aku cari tahu pemilik rumah itu."
"Ya aku akan bantu, aku akan carikan pemilik rumah itu. Kau juga harus menemukan motifnya. Kenapa tidak cek rumah sakit? Kenapa kalian hanya terfokus pada kali itu saja?"
"Kenapa harus ke rumah sakit?"
__ADS_1
"Kau sudah menemukan nama dan juga fotonya? Lebih mudah kan sekaranh? Siapa tahu tubuhnya sudh diketemukan."
"Tidak mungkin Pak, orang ruhnya aja bilang dia dibuang di kali itu."
"Dit, kalau dibuang di kali itu, apakah selalu terkubur di sana?"
Mulyana menatap Dirga, Aditia juga jadi berpikir keras.
"Ya betul itu, bisa jadi di kali itu hanya ada petunjuk! Besok kita ke kali itu siang saja, lebih terang jadi bisa mencari bukti atau petunjuk."
"Baiklah Yah."
"Adit besok mau tetap ikut?"
"Iya Ayah, Adit mau ikut besok, penyelidikan ini seru."
"Adit nggak takut sama mereka?" Dirga bertanya.
"Kadang takut, tapi sekarang udah biasa."
Mulyana tersenyum.
...
Siang hari Mulyana dan Aditia sudah di kali itu, mereka menyusuri kali untuk menemukan petunjuk.
Mereka jalan sambil mengorek atau mencabut, mencari yang mencurigakan.
Setelah beberapa jam mencari mereka istirahat dulu.
"Nggak ada yang aneh Yah." Aditia kelihatan kelelahan.
"Ya, tidak mudah mencari yang aneh di sini bisa jadi juga apa yang kita cari sudah hanyut."
"Andai orang itu bisa bicara, tapi dia hanya menunjuk-nunjuk saja."
"Dit, itu apa yang kamu duduki?" Ayahnya bertanya.
"Apa Yah?"
"Itu yang dibawah kakimu, Dit. Jangan ambil pakai tangan, ambil pakai sapu tangan yang kita bawa."
Aditia mengambil apa yang ayahnya tunjuk dengan sapu tangan, melihat itu secara seksama dan melemparnya lagi karena tersadar.
"Dit! Kenapa dilempar!"
"Jijik, itu ... itu ... jari telunjuk!" Aditia berteriak.
"Jadi begitu maksudnya."
Mulyana mulai mengerti, pantas dia menunjuk terus sambil berkata dia dibuang di sini.
"Yah, mau kemana?" Mulyana sudah membungkus jari telunjuk itu dan memasukkannya ke plastik lalu kantung celananya.
"Ke rumah sakit, cari temen jarinya. Siapa tahu ada. Pantas bilang ga ada mayat yang diketemukan di sini. Ternyata ...."
Aditia mengejar ayahnya, ini adalah pengalaman yanh cukup melelahkan tapi Aditia mengerti kenapa ayahnya selalu pulang larut setiap hari.
Ini semua untuk membantu orang, Aditia bangga.
Kelak, dia pun akan menjadi seperti ayahnya. Anak lelaki yang membanggakan.
__ADS_1