
Bus ghaib itu terus berjalan dengan kecepatan sangat tinggi, Ganding dan Jarni terus menasehati Har untuk tidak ugal-ugalan, tapi Hartino masih saja terus mengemudikan dengan kasar.
“Har, bentar deh, coba berhenti.” Ganding tiba-tiba berkata, karena dia merasa ada yang aneh.
“Kenapa?” Hartino langsung menghentikan mobis dengan menginjak rem secara langsung, cara berhenti yang kasar, persis seperti caranya mengemudikan.
“ini bukannya tempat kita naik bus ini?” Tanya Ganding.
“Hah?” Hartino memperhatikan keluar, dia dari tadi memang sibuk dengan menyetirnya, karena akhirnya punya kesempatan untuk menyetir ugal-ugalan, selama ini Aditia dan Ganding selalu melarangnya untuk menyetir angkot Mulyana, karena tahu sepak terjang menyetir Har, dia menyetri dengan aman, hanya jika Alisha ada di sampingnya.
“Emang iya Jar?” Hartino bertanya pada Jarni.
“Iya, kita diputar-putar.”
Jarni meminta Hartino membuka pintu bus, dia ingin keluar. Hartino membuka pintu bus dan dia keluar, diikuti oleh Har dan Ganding, tapi bus dijaga oleh ular mini Jarni agar tidak ada ruh yang keluar.
Begitu sampai di luar, malam terasa sangat dingin, Jarni menyentuh aspal dari jalanan, kanan kiri masih hutan, mereka bukannya tadi sudah keluar dari areal gerbang kampus? Kenapa sekarang kembali ke sini lagi. Begitu selesai memegang aspal, Jarni berkata ....
“Anor Bujangkara.”
“Serius Jar?” Hartino kaget.
“Digelangkan di mana?” Hatino masuk ke dalam bus dan mencari-cari sebab mereka tergelangkan.
“Nggak tahu, cuma Aditia yang bisa lihat kan? dimana dia sekarang? Aku tidak bisa merasakan energi mereka Nding.” Jarni mulai khawatir.
“Aku juga, Har, kau bisa merasakan Aditia dan Alka?”
“Bentar.” Hartino memejamkan mata, mereka yang setiap hari bersama, tahu rasanya energi masing-masing dan hapal betul, tapi Hartino juga tidak merasakan energi itu.
“Gimana?”
“Nggak terasa, padahal kita di dunia ghaib yang sama, ada apa ini?” Hartino jadi serius, ketika kasus mulai terasa berat, kawanan akan cenderung kembali ke sifat asli mereka, mengerjakan kasus dengan sungguh-sungguh,
Anor Bujangkara artinya adalah jiwa yang digelangkan, kau tahu bukan bentuk gelang adalah melingkar sempurna, agar benda itu menjadi gelang, maka tidak boleh ada yang putus dalam untaian gelang itu, tapi ... pasti ada bagian yang menjadi untaian pengikat, maka Ganding dan yang lain harus mencari untaian pengikat itu agar bisa keluar dari diputar-putar oleh sesuatu, karena jiwa yang digelangkan, akan membuat jiwa tersebut tidak bisa keluar dari situasi yang diciptakan oleh seseorang atau sesuatu, jiwa tersebut sengaja dibuat berputar-putar tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Bahkan sekelas kawanan saja bisa kena, itu artinya, Anor Bujangkara yang digunakan sangat tinggi, harus ditemukan bagian pengikatnya, agar mereka bisa keluar.
“Cari sekeliling bus, pasti di bus karena ini adalah medianya.” Ganding memerintah, karena tidak ada Aditia di sini dan dia yang paling jenius, sedang Hartino, kau tahulah, dia itu hanya tampan saja, tapi malas berpikir, kecuali mengenai tekhnologi, dia baru jagoannya.
Kawanan akhirnya mencari pengikat Anor Bujangkara itu di sekeliling bus, mereka mencari mulai dari dalam bus, sementara para jiwa yang gosong terlihat mulai panik tapi tidak bisa keluar karena ular Jarni menjaganya.
...
“Rif ayo kita mulai cari jalan keluar lagi.” Melati meminta Arif untuk jalan lagi, dia merasa bahwa sudah tidak ada yang mengincarnya lagi, maka dia berani untuk jalan.
“Mel, sudah berapa hari ya kita di hutan, HPku dan juga jam tanganku mati total, sejak hari pertama aku tersesat.”
“Entah, mungkin sudah tiga hari,” Melati menjawab.
“Tapi kenapa kok malam ini terasa lebih panjang dari malam biasanya Mel?” Arif bertanya lagi.
“Kau merasakan itu?” Melati terlihat khawatir.
“Iya.”
“Kalau begitu, ayo cepat cari jalan keluar, kita harus menemukan jalan beraspal, aku tidak akan membuatnya menemukanmu.” Melati menarik Arif tiba-tiba karena dia takut Arif tertangkap.
Saat Melati dan Arif berlari, dari arah depan mereka tiba-tiba terlihat segerombolan monyet neraka sedang berjalan, mereka menyadari kehadiran Melati dan Arif.
Melati menutupi Arif, tapi terlambat monyet itu tahu.
“Mel, itu apa!” Arif sangat ketakutan.
“Dhohok Kapik, monyet neraka, anak-anak raja monyet.” Melati menjawab.
“Mereka jenis apa? kok kami tidak pernah lihat sebelumnya.” Arif mundur.
__ADS_1
“Memang tidak akan terlihat oleh mata awam, mereka bukan seorang hewan biasa, tapi mereka adalah, minyet ghaib penunggu hutan ini.”
“Kau gila! kenapa kita dihadang monyet ghaib?”
“Mereka inginkan dirimu.”
“Diriku?!” Arif semakin mundur tapi tetap memegang baju Melati, agar jika lari, dia bisa menarik Melati juga.
“Arif lari dalam hitungan ketiga, aku akan coba menghalau mereka.”
“Tidak akan! Aku takkan menonggalkanmu, kau itu perempuan, masa aku lari kau yang menangani mereka.”
“Aku bukan perempuan biasa, aku ... bukan manusia.”
Arif melepas pegangannya, dia ketakutan karena sekararang ternyata dia hanya sendirian.
“Kau sengaja memutarku di hutan ini bukan? di mana tubuhku?” Arif bertanya.
“Aku tidak menarik ruhmu keluar, kau memang tersesat masuk saat aku panggil menggunakan suara Nola.”
“Melati!” Arif kesal.
“Maafkan aku, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu, tapi aku tidak punya cara selain memanggil orang yang mentalnya sedang lemah. Kau mudah sekali dikendalikan karena lemah dan khawatir, hingga kau bisa ditipu. Maafkan aku Arif, sejak kau datang ke dunia kami, tujuanku hanya ingin memberitahumu yang sebenarnya terjadi, tapi ... aku egois Rif, aku senang memiliki teman di sini, kau baik walau aku tahu kalau Nola yang cari, lama kelamaan aku jadi ... tidak ingin kau pergi.”
“Melati!” Arif semakin kesal.
“Makanya, larilah, pergilah, aku bukan orang baik yang harus kau jaga seperti Nola.” Melati memegang kalung di lehernya melepas kalung itu dan memberikannya pada Arif.
“Pakai ini, mereka akan membencimu dan tidak ingin mendekatimu, pakai ini dan larilah, setelah kau melihat saung tempat kita biasa berlindung, kau berjalan tujuh puluh langkah ke arah kanan, pegang kalung itu dengan erat sambil berhitung, kau akan menemukan jalan pulang.”
Melati memberikan kalungnya, Arif enggan menerima tapi Melati memberikan kalung itu dengan paksa dan memintanya pergi.
Arif berlari meninggalkan Melati sendirian, dia akhirnya tidak memiliki bau yang dibenci oleh Dhohok Kapik, mereka senang melihat jiwa yang begitu wangi karena Melati mati saat masih perawan dan memiliki jiwa yang suci.
Saat monyet itu hendak menyerang, Melati sudah menutup mata dan pasrah jika akhirnya harus musnah atas serangan monyet-monyet itu. Tapi tidak terjadi, Melati kembali membuka mata dan ternyata Arif sudah dihadapannya.
Arif menarik Melati untuk lari, tapi terus dikejar oleh monyet itu ketika Arif berbalik, wangi Melati semerbak tercium lagi, Arif kembali berbalik untuk menghadang monyet dengan kalung itu.
Monyet itu sadar kalau kalunglah yang membuat bau itu, mereka memaksakan diri menyerang Arif dan membuat Arif kewalahan, kalung itu akhirnya jatuh, saat mau direnggut kembali, tangan Arif dengan cepat disentuh oleh monyet itu dan Arif kepanasan, tangannya langsung melepuh.
“Arif!” Melati mencari kalung jimat itu agar bisa menyelamatkan Arif yang sekarang terkepung oleh monyet neraka itu tapi tidak ketemu, kemana kalung itu tadi jatuh, karena tidak juga ketemu, Melati akhirnya berlari ke dalam lingkaran monyet yang mengepung Arif dan membantu Arif berdiri karena saat ini dia sedang terduduk kesakitan memegangi tangannya yang melepuh.
“Mel, kayaknya kita nggak bisa pulang.” Arif kecewa pada dirinya.
“Bisa, kau pasti bisa pulang, mereka suka padaku, bukan padamu, aku akan membiarkan mereka memakan jiwaku, kau larilah, mereka akan sibuk berebut jiwaku, kau larilah.”
“Tidak akan Mel, aku gagal menjaga Nola, makanya aku takkan pernah pergi meninggalkanmu. Aku akan menjagamu.”
“Kau mengingatkanku pada kakakku, dia selalu menjagaku. Tadi kenapa kau tidak pergi tapi malah kembali? Kau membuat dirimu dalam marabahaya.”
“Aku takut kalau Nola mungkin juga akan sepertimu, sendirian di sini, di dunia ghaib ini Mel. Aku ingin ada seseorang yang mungkin bisa menjaga Nola sepertiku menjagamu, aku hanya ingin Nola tidak sendirian, makanya aku kembali.”
“Kau benar-benar lelaki yang baik.” Nola dan Arif bersiap dilahap oleh panasnya api Dhohok Kapik, mereka mulai mendekat, panasnya terasa hingga membuat Arif dan Melati terbatuk dan lemas.
Didetik berikutnya mereka akan gosong dan ....
BUMMM!!!
Bunyi suara sabetan dari cambuk Saba Alkamah, Aditia dan Alka berlari, mereka sampai duluan, mereka menemukan Arif dan juga Melati, monyet itu disabet-sabet dengan cambuk berkali-kali hingga terluka, bahkan ada yang beberapa mati, terpaksa harus dilakukan karena hendak menyerang Alka dan Aditia, sedang Aditia menyerang dengan keris mininya.
“Arif!” Nola melihat Arif yang sedang duduk dan memegang Melati, Winda dan Nola membantu mereka berdua untuk bangun, pasukan monyet neraka semakin banyak karena mencium aroma Melati yang semakin terasa, panas dari monyet-monyet tersebut juga membuat aroma Melati semakin menyebar.
Arif memeluk Nola sahabat yang dia cintai akhirnya ketemu, walau dia heran, kenapa Nola juga ada di sini, Semua orang akhirnya menepi mencari tempat aman, disarankan oleh Samidi, dia bahkan tidak ikut bertarung, padahal dia dukun, Monyet itu entah datang darimana, semakin banyak Alka dan Aditia kewalahan, mereka berdua bertarung dengan sangat membabibuta.
Sementara Bobby dan yang lain melihat Melati, mereka juga langsung saling mendekat dan berpelukan, Melati menangis sesegukan, Bobby dan yang lain juga sama, walau mereka semua bingung, kenapa mereka semua berkumpul di dunia yang berbeda ini.
Alka merubah tubuhnya menjadi tubuh jin, dia harus berubah agar bisa menghalau semua jin monyet setan ini dengan lebih baik.
__ADS_1
“Ka, aku kosong!” Aditia mengingatkan Alka kalau dia kosong, Abah belum kembali.
“Kau bukakan pintu ghaib untuk mereka agar bisa kembali ke dunia kita, bawa Melati dan rombongan Bobby juga ke dunia kita dulu, karena wanginya Melati yang membuat semua monyet itu berdatangan, yang aku takutkan kalau sampai ... Rajanya datang, kita hanya berdua, tak ada Abah, kau hanya memiliki kemampuan setengah. Cepat, bawa mereka masuk dunia kita dulu.” Alka meminta Aditia membuka pintu, karena kalau dia yang membuka Pintu Aditia pasti jauh lebih kewalahan, karena dia sedang kosong tanpa abah.
Aditia menuruti, karena itu jalan satu-satunya, dia kembali ke rombongan dan menyentuh tanah untuk membuka pintu, saat pintu ghaib terbuka, semua orang akhirnya kembali ke dunia manusia dan Aditia kembali menutup pintu ghaib itu, kembali kepada Alka yang sedang bertarung, saat mereka bertarung masih menghadapi ratusan monyet neraka yang tidak boleh tersentuh tubuhnya itu karena akan membakara apapun yang tersentuh, Aditia mendengar langkah berat, apa yang ditakutinya muncul, Raja monyet ini keluar, dia dan Alka saling pandang, mereka harus jujur, kalau ini tidak seimbang, sementara Ganding dan yang lainnya juga tidak bisa merasakan mereka berdua dimana itu yang membuat Aditia dan Alka bingung kenapa Hartino dan Ganding sulit dipanggil, mereka tidak tahu, bahwa hutan sudah dijaga oleh Raja agar tidak bisa dirasakan energi ghaibnya oleh para dukun, hingga kawanan terputus sudah koneksinya.
“Dit, lari!” Alka lari duluan, Aditia mengejar Alka.
“Kau pacar yang tidak setia, lari duluan.” Aditia kesal.
“Kita memang pacaran?”Alka tersenyum, dia tadi memang lari duluan, tapi itu bukan karena tidak setia, dia tahu kalau Aditia tidak akan lari duluan, makanya dia lari duluan dan akhirnya diledek oleh Aditia, baru kali ini seorang Aditia dan Alka lari dari musuh, bukan karena kalah ilmu, tapi kalah banyak, ini namanya dikeroyok monyet dan bapaknya.
“Buka pintu Dit, kita balik lagi kalau udah sama yang lain.” Alka meminta.
“Kalah dong kita sekaran?”
“Kamu mau mati konyol di sini?”
“Kalau sama kamu, jadinya romantis, bukan mati konyol.”
“Dit, kau mau kuhajar!” Alka kesal, masih saja bisa gombal.
Aditia membuka pintu ghaib dan memastikan hanya mereka berdua yang keluar.
...
“Kita udah balik ke dunia kita.” Rendi senang karena dia akhirnya bisa kembali ke dunia yang mereka anggap telah mereka tinggalkan.
“Ren.” Melati mendekati sahabat-sahabatnya.”
“Ya Mel?”
“Bob dan semuanya kecuali, Nola, Arif, Winda dan lelaki ini! Melati menatapnya dengan sangat marah, kita adalah ... ruh.” Semua orang terlihat sangat kaget.
“Lu ngomong apa sih Mel?” Bobby berkata dengan marah.
“Bob, kalian dan aku, sudah tiada.”
“Mel!” Bobby dan yang lain membentak.
“Ini tahun 2021, jadi tidak mungkin kalian masih hidup.” Arif membantu Melati menjelaskan.
“Tahun 2021? Apa maksudmu, aku punya istri dan anak, apa maksudmu ini tahun 2021?” Bobby berteriak pada Melati, sedang tim 2021 hanya diam dan menangis.
“Kita sudah tiada Bob.” Melati mencoba menjelaskan lagi, tapi mereka masih tidak terima.
Aditia dan Alka datang.
“Melati berhenti, dia takkan sadar, karena sedang terkena Anor Bujangkara, kemungkinan teman-temanku juga kena.” Aditia dan Alka sudah kembali.
“Apa maksudnya itu?” Rendi bertanya.
“Pertama, beritahu aku, kenapa tubuhmu terkubur di tengah hutan ini?” Aditia bertanya, karena penglihatan dia hanya potongan, makanya dia bertanya.
“Kau seharusnya bertanya pada lelaki busuk ini!” Melati menunjuknya.
“Maafkan aku Melati, aku bertobat makanya aku membantu keluargamu untuk menemukan tubuhmu dan membuatmu kembali dengan tenang, aku membantu keponakanmu yang sekarang sudah dewasa untuk menemukan tubuhmu dan ruhmu.” Samidi berkata sambil bersujud.
“Keponakanku? Berarti saat ini umurnya 20 tahun?” Melati menebak, Winda mengangguk, karena mereka semua seumuran.
“Kalau begitu ... anakku, juga sudah dewasa?” Bobby menangis.
“Aku akan ceritakan yang aku tahu, tapi aku butuh penjelasan kalian dengan jujur juga, walau potongan ini mungkin pahit untuk aku ceritakan.” Aditia meminta semua orang duduk karena dia butuh waktu tahu uraian potongan yang dia lihat untuk bisa menyelamatkan semua orang, kembali ke dunia masing-masing.
“Baik, mulailah.” Bobby meminta Aditia mulai.
“Ada seorang perempuan ....”
__ADS_1