Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 34 : Mess 2


__ADS_3

Pagi ini Pak Ari pergi untuk bekerja, mereka mencoba melupakan apapun yang terjadi semalam, istrinya Pak Ari pun bukan tipikal yang terlalu percaya hal seperti itu, pasti ada alasan kenapa Pak Ari bisa salah lihat dan salah dengar semalam.


“Nanti Bi Iyem dateng ya Mah, kamu kalau capek istirahat aja dulu, biar Bi Iyem yang kerjain.”


“Iya Pah, yaudah, ati-ati ya.” Istrinya mencium punggung tangan Pak Ari lalu diikuti Akbar setelahnya. Pak Ari pergi dengan motor saja, karena jarak antara pabrik dan mess hanya sekitar 30 menit.


Setelah kepergian Pak Ari, Istrinya mulai beberes lagi, tadi pagi sarapan piring belum dicuci, makanya dia sekarang bersiap untuk mencuci piring.


“Akbar, main di ruang TV aja ya, Mamah cuci piring dulu.”


“Iya, Mah.”


Lalu dia mulai membereskan meja makan dan membawa piring ke tempat cucian piring.


Memulai dengan seluruh gelas yang kotor, menyabuninya dan membilas dengan air bersih, lalu menaruhnya dibagian pinggir wastafel supaya kering dulu, saat membilas gelas ke dua dan menaruh gelas itu lagi, istri Pak Ari kaget, kok, gelasnya tidak dalam keadaan terbalik, dia merasa barusan telah menaruhnya dalam keadaan terbalik agar air bekas cucinya turun dan gelas jadi cepat kering.


“Ah, mungkin aku lupa.” Istri Pak Ari membalik lagi gelas pertama dan menaruh gelas kedua di sampingnya. Lalu melanjutkan dengan gelas selanjutnya.


“Loh!” Istri Pak Ari kaget, karena kedua gelas yang barusan dia taruh terbalik sekarang sudah berubah posisi menjadi menghadap ke atas lagi, istri Pak Ari kaget dan bingung, karena dia tidak mungkin lupa, barusan dia sudah membalik kedua gelas itu.


Bulu kuduknya mulai berdiri, dia memegang tengkuknya karena merasa merinding, melihat ke kanan dan ke kiri karena dia yakin ada sesuatu yang sedang mengawasinya.


Dia terus melihat sekeliling, saat dia tidak sengaja melihat ke ruangan televise, dia melihat Akbar sedang berdiri menatap tajam ke arahnya, lalu tersenyum, bukan! dia tidak tersenyum, tapi dia menyeringai.


Istri Pak Ari seketika berlari hendak mendekati Akbar, saat sudah dekat ….


“Mah!” Seseorang memanggilnya dari arah pintu utama, karena terkejut dia menengok ke arah pintu utama.


“Akbar!” Ternyata Akbar ada dekat pintu utama, Istri Pak Ari spontan melihat lagi Akbar yang barusan dia lihat ada di depan televisi. Tidak ada, sudah tidak ada Akbar yang menyeringai itu.


“Mah, ini ada tamu.” Akbar memberitahu ibunya, ternyata ada tamu, makanya Akbar membukakan pintu.


“I-iya Nak.” Istrinya Pak Ari masih bingung, tapi dia harus menerima tamu yang datang dulu, hingga akhirnya perhatiannya teralihkan.


“Bu saya Iyem, yang disuruh kerja di sini.”


“Oh iya, suami saya sudah bilang Bi Iyem mau datang, masuk, Bi.” Istrinya Pak Ari mempersilahkan masuk, mereka duduk di ruang tamu, kalau dari ruang tamu, kita bisa melihat ruang televisi juga karena tidak ada sekat.


“Bi Iyem tinggal di mana?”

__ADS_1


“Deket bu, di gang dua belas, masuknya desa sebelah, tapi sebenarnya deket kok.”


“Iya, kalau gitu kita bisa mulai aja ya, rumahnya, kan, nggak gede, satu lantai, saya butuh bantuan untuk beresin baju dulu sama nyikat kamar mandi, kamar mandi di kamar saya dan kamar mandi di ruang tamu.”


“Iya, baik bu, cuma ….”


“Kenapa, Bi?”


“Ibu betah tinggal di sini?” Pertanyaan yang sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa, mimik muka Bi Iyem seperti mengisyaratkan hal lain.


“Betah Insyaallah, namanya rumah baru, ya perlu adaptasi.” Istri Pak Ari menjawab dengan diplomatis.


“Syukur kalau begitu, tapi saya nggak nginep ya bu, saya pulang sore.”


“Iya, nggak apa-apa, saya lebih suka kalau Bi Iyem nginep, kan memang ada kamar dekat dapur, tapi kata Pak Ari, Bi Iyem nggak bisa nginep yaudah nggak apa-apa.”


“Iya maaf bu, saya nggak berani.”


“Hah, nggak berani?”


“Eh nggak maksudnya, nggak berani ninggalin anak saya.” Bi Iyem terdengar mengada-ngada, karena bukan itu alasannya.


“Iya bu.” Bi Iyem mulai membersihan kamar mandi di dalam kamar utama terlebih dahulu.


“Akbar, mau cemilan atau mau main apa? Mamah mau terusin cuci piring.”


“Akbar mau main sepeda, Mah, boleh?”


“Boleh, tapi jangan jauh-jauh ya, takut nyasar, kan kamu belum tau daerah sini.”


“Iya, Mah.” Akbar lalu pergi keluar dan mulai bersepedah, sementara istrinya Pak Ari kembali ke wastafel cuci piring, gelas sudah kembali dalam posisi terbalik, jujur, istrinya Pak Ari juga tidak ingat betul apakah sudah membalik lagi gelas itu, tapi dia tidak mau ambil pusing apalagi mengeluh.



Brak!


Seseorang membanting pintu. Istrinya Pak Ari sedang minum teh di meja makan, sementara Bi Iyem sedang membereskan baju Akbar di kamar Akbar.


“Akbar, pelan-pelan, jangan dibanting!” Istri Pak Ari berteriak. Lalu Akbar telihat berlari lurus, dia pasti ke kamar mandi, karena kalau dari pintu depan, ada ruang tamu, lalu ruang televisi, setelahnya pintu kamar Akbar, baru kamar mandi luar. Jadi pasti dia ke kamar mandi. Karena dari kecil Akbar sudah dibiasakan kalau sehabis main di luar harus cuci tangan dan kaki.

__ADS_1


“Kalau sudah selesai cuci tangan dan kaki, ke sini, makan siang dulu.” Istri Pak Akbar berteriak lagi.


Tidak ada jawaban, hening.


“Bar ….” Dia memanggil lagi, “jangan kelamaan di kamar mandinya, jangan main air.” Masih tidak ada jawaban.


Istrinya Pak Ari lalu beranjak dari bangkunya dan hendak ke kamar mandi, pintu kamar mandi terbuka sedikit, tapi terlihat bahwa tidak ada orang di sana, pintu depan juga dalam keadaan terbuka sedikit. Bukankah tadi Akbar menutup pintu itu dengan cara dibantging? Kok sekarang posisinya terbuka?


Istri Pak Ari mulai merasa takut, dia jelas melihat Akbar, tapi kemana dia, kalau diingat-ingat, dia memang terlihat seperti Akbar, tapi kakinya, kakinya, sangat kotor, ada banyak tanah liat yang menempel di kakinya, bukan, bukan hanya telapak kaki, tapi di seluruh kakinya, ada tanah liat dan anak lelaki itu, sebenarnya terlihat lebih hitam dibanding Akbar.


“Bu!” Istri Pak Ari terkejut, dia sampai melompat karena panggilan itu.


“Ke-kenapa Bi?”


“Ibu kenapa? kok dari tadi teriak-teriak terus?”


“I-itu, tadi perasaan Akbar masuk terus ke kamar mandi, tapi kok sekarang nggak ada?”


“Hah? Nggak ada yang masuk ke kamar mandi, Bu.”


“Emang Bi Iyem nggak denger, tadi Akbar tutup pintunya dibanting, makanya saya bilang jangan banting.”


“Enggak, saya nggak denger pintu dibanting, Bu.”


“Tapi ….”


“Tapi kenapa, Bu?”


“Hmm, enggak.” Istrinya Pak Ari tidak mau membagi ketakutannya dengan Bi Iyem, dia takut kalau Bi Iyem tidak betah dan akhirnya tidak membantunya di rumah ini lagi.


“Yakin bu, nggak ada apa-apa?”


“Iya enggak, kayaknya tadi suara tetangga deh, saya tadi lagi bengong, jadi kayak kaget aja.”


“Iya Bu, jangan sering bengong, apalagi di sini.”


“Maksudnya?”


“Saya lanjut kerja lagi ya, Bu.” Bi Iyem lalu meneruskan pekerjaannya, dia tidak menjawab maksud perkataannya.

__ADS_1


Walau takut, tapi istri Pak Ari tidak ingin terlihat selalu mengeluh, apalagi posisi Pak Ari di pabrik cukup tinggi, dia tidak ingin menjadi beban bagi suaminya, dia akan tahan semuanya, semoga tadi hanya karena dia salah lihat … dan dengar.


__ADS_2