Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 152 : Aditia 12


__ADS_3

Mulyana dan kawanan kembali ke dunia ghaib sebelum dunia milik manusia, dimana pintu yang dibuka oleh Kusno berada.


“Terima kasih karena kalian berdua menjalankan semua perintahku dengan baik, yang bisa membuka ikatan ghaib pada Abah memang hanya keris mini ini, makanya ketika kemarin Alka datang untuk menjemputku, aku meminjamkan keris itu pada Alka.”


“Iya Pak, aku dan Jana berada di radius yang aman hingga tidak terdeteksi Kusno, ketika dia masuk ke dunia gelap, otomatis dia tidak lagi bisa mendeteksi kedatangan kami, karena dunia gelap yang diciptakan Sukapuran adalah zona hampa. Begitu Kusno masuk, seperti yang Bapak perintahkan aku dan Jana buru-buru ke sini, untuk membuka ikatan ghaib pada Abah dan masuk ke pintu yang telah dibuka oleh Kusno dengan Sukapuran.”


“Ya, kau melakukan segalanya dengan baik.”


“Tapi Pak, jujur, Jana agak takut kalau kita tidak berhasil.”


“Jana, kau ini Kharisma Jagat, tapi begitu lembek.” Alka meledeknya, Jana memang salah satu Kharisma Jagat yang tidak terlalu frontal. Dia selalu memilih jalur aman. Biasanya Kharisma Jagat tipe seperti ini akan menyembuhkan melalui herbal dan tidak bertarung.


“Abah, ayo kita kembali ke dunia manusia.” Mulyana mengajak Karuhunnya untuk pulang.


“Ayo.”


“Tapi sebentar, aku tetap marah ya Ka, kau melanggar janji dengan menemui Aditia.” Mulyana teringat sesuatu dan tidak jadi pulang.


“Paaakkk, itu kan keadaan berbahaya, kata Bapak kan, aku boleh menemui Aditia jika keadaannya genting.”


“Genting untuk Aditia, bukan untukku, tidak seharusnya Alka melibatkan adikmu dalam kondisi berbahaya seperti itu.”


“Dia bukan adikku, dia tuanku Pak.” Alka kesal.


“Yasudah, kami pulang dulu.” Mulyana tidak mau membuat keributan dengan anak angkat perempuannya itu, dia memilih kembali.


Saat kembali ke tubuhnya, Mulyana perlahan membuka mata, sedang tubuh Kusno masih tertidur seperti sebelumnya.


Mulyana sadar sepenuhnya di dalam tubuh miliknya sendiri, agak sulit bangun dan berat, mungkin karena beberapa hari ini dia tidak bangun.


“Ayah! Ayah!” Istrinya langsung memeluk suaminya yang baru saja bisa duduk dengan susah payah.


“Bu, sebentar, berat ini.” Mulyana mengingatkan istrinya dia baru saja bangun dan badan terasa berat.


“Sini aku bantu kau duduk di sofa.” Dirga bangun dan mengangkat tubuh Mulyana dengan cara menggendongnya di belakang.


Setelah Mulyana duduk di sofa, istrinya duduk di sampingnya.


“Ternyata benar kata orang sini, Ki Kusno sangan hebat ilmunya Yah.”


Mulyana tertawa.


“Tidak Bu, dia dukun palsu!” Mulyana berkata.


“Kok gitu, dia udah nolongin kamu loh, bangunin kamu.” Istrinya menyangkal.


“Kalau begitu, kenapa dia tidak ikut bangun?”


Semua orang yang ada di situ baru sadar, Ki Kusno belum bangun dan tetap pada posisi saat dia tertidur pertama kali.


Dirga mendekati Ki Kusno dan menggoyangnya, tubuh dukun itu langsung jatuh ke samping kiri.


“Lihat kan, dia dukun jahat Bu.”


“Tapi, kamu bangun loh Yah, itu karena dia, kita harus bangunkan dia.” Istrinya Mulyana masih bersikukuh kalau dukun itu baik.


“Bu dengar aku, dua orang yang kemarin Dirga bawa, Jana dan Alka, adalah dua orang yang menolongku. Mereka dua anak muda yang bisa ilmu ghaib dan betul menolong orang tanpa pamrih, tidak seperti dia.” Mulyana menunjuk dukun yang masih tertidur itu.


“Bagaimana mereka menolongmu Yah? sedang mereka saja tidak ada di sini.”


“Kata siapa? Alka, Jana, kalian boleh menunjukan diri.”


Tiba-tiba Jana dan Alka sudah duduk di hadapan istrinya Mulyana secara tiba-tiba. Istrinya Mulyana kaget dan hampir terjatuh.


“Ba-bagaimana kalian berdua ada di sini dengan tiba-tiba?!”


“Tadi mereka ditutupi oleh khodamnya, jadi tidak terlihat oleh mata awam kita Bu, memang sehebat itu mereka berdua.” Ini adalah alasan yang Mulyana buat agar istrinya percaya bahwa dukun itu jahat dan bukan dukun itu yang membangunkan Mulyana.


“Jadi benar bahwa Ki Kusno tidak menolongmu Yah? dukun palsu dia?”


“Bukan hanya dukun palsu, tapi dukun jahat!”


“Maksudnya jahat apa, Yan?” Dirga bertanya.


“Dia yang menyebabkanku tidur panjang.”


“Astagfirullah!” Istrinya Mulyana kaget.


“Ya Bu, dia juga yang menyebabkan semua orang sakit aneh di wilayah ini.”

__ADS_1


“Tapi Yah, dia menyembuhkan orang-orang, bukan membuat mereka sakit.”


“Dia sengaja membuat mereka sakit agar bisa menyembuhkannya. Dia menebar sakit aneh melalui jin, lalu jin itu diperintah untuk membuat orang yang dukun itu kehendaki menjadi sakit, setelah itu dia dipanggil untuk menyembuhkan, apdahal dia hanya memerintah jinnya untuk berhenti mengerjai korban. Setelah dia kehabisan uang atau ingin pamornya semakin tinggi, maka dia kembali mengutus jinnya untuk membuat korban yang sama sakit lagi, begitu terus sesuai keinginan dia.


Aku minta tolong Bu, kau tanyakan apakah benar perkataanku bahwa orang yang sakit dan di tolong Kusno itu sembuh sebentar dan sakit lagi? kalau benar, berarti benar, itu cara Kusno untuk mendapatkan uang dan nama.”


“Baik Pak, besok aku akan tanya tetangga, kita kan tinggal di sini belum lama, jadi sekalian aku tanyakan besok apa yang kau suruh.”


“Baiklah Bu, terima kasih.”


“Tapi Pak, bagaimana kau tahu banyak soal dunia ghaib?” istrinya Mulyana bertanya.


“Itu ....” Mulyana tergagap, dia tidak mungkin kan bilang, bahwa dia Kharisma Jagat.


“Jana dan Alka yang jelaskan ke Mulyana ya soal barusan?” Dirga menyelamatkan momen Mulyana hampir ketahuan oleh istrinya. Kalau rumah tangga lain normalnya, suami takut ketahuan kalau dia punya wanita lain. Beda kasus dengan Mulyana, dia takut ketahuan punya Karuhun.


“Oh iya yah, berarti kalian yang pintar dan hebat. Masih muda tapi sudah menolong orang, saya juga yakin sih, suami saya mana ngerti dunia ghaib, orang sama pohon belakang rumah aja dia takut, kata orang-orang sih di sana suka ada pocong.”


“Mulyana takut sama pohon belakang rumah karena ada pocongnya?” Dirga tertawa terbahak-bahak.


“Iya Pak, tuh malu tahu Yah, kamu takut sama pohon doang.” Istrinya ikut tertawa karena berhasil meledek suaminya dan mencairkan suasana.


Mulyana memang terkadang pura-pura lemah hanya agar terlihat manusiawi. Dirga tertawa sebenarnya karena dia tahu, Mulyana pernah menghadapi lebih dari pocong yang ada di pohon belakang rumah itu.


Kusno lalu di tidurkan di sofa, Mulyana rencananya akan mengembalikan jiwanya jika Kusno bersedia memberikan Sukapuran itu. Mulyana akan menaruh kembang itu di markas sebagai koleksi benda mistis untuk bahan pelajaran Kharisma Jagat junior seperti Jana. Dan tentu manusia istimewa seperti Alka juga.


Mulyana dan Dirga keluar untuk merokok, para istri membereskan rumah dan menjaga Aditia.


“Beneran itu di pohon belakang ada pocong?” Dirga bertanya.


“Ga, masa gue biarin tuh jin iseng menyerupai pocong ada di belakang rumah gue?”


“Trus kenapa istri lu bilang elu takut?”


“Dia cerita kalau orang-orang sini bilang rumah kami angker pas dulu baru pindah, masa gue mestri bilang, udah gue usir semua pas kita pindah. Ya gue bilang aja takut.”


“Yan, Yan. Istri kok dibohongin mulu. Mau sampai kapan Yan?”


“Sampai aku tutup usia Ga, aku tidak mau dia terlibat, bahkan hanya sekedar tahu, aku sayang dan mencintai istriku, aku ingin dia dan anakku kelak hidup dengan tenang dan damai, aku tidak masalah babak belur, yang penting keluargaku aman.”


“Maksudku, kalau kau jujur, istrimu akan paham dengan dunia yang kau tempati selain di sini. Aku kasihan saat kemarin dia seperti orang yang sedikit kurang akal. Dukun bilang apa dia langsung nurut, aku tahu itu karena dia sangat mencintaimu, tapi sungguh itu bisa fatal untukmu.”


“Jangan bicara seolah keputusanku tidak menikah adat itu salah Ga, aku tahu jalan yang aku ambil berat, makanya aku ingin aku saja yang menanggungnya, jangan istriku.”


“Dia harus ku didik untuk menggantikanku, umur tidak ada yang tahu, makanya aku terpaksa harus menyeretnya dalam pertempuran melawan jin jahat.”


“Aku janji Yan, aku akan tetap di sisi kamu, aku nggak mau sahabatku ini kesulitan sendirian, jadi kau tenang ya, kita akan terus berusaha dan berjuang.”


“Jangan terlalu dekat dengaku Ga.”


“Loh kenapa?” Dirga bingung.


“Nanti istrimu cemburu.”


“Ku hajar kau Yan!” Dirga kesal, ternyata Mulyana hanya mengatakan lelucon.


“Tapi biar bagaimanapun, terima kasih sudah menemani istriku, kau dan istrimu adalah keluarga kami, kau kan tahu, hubunganku dengan keluargaku sangat buruk, pernikahanku saja mereka tak kuundang.” Mulyana tertunduk teringat bahwa pernikahannya tanpa keluarga dia. Beruntung istrinya tidak mempermasalahkan karena Mulyana sedari awal bilang keluarganya ada di luar kota sehingga tidak bisa hadir.


“Iya, kau tenang saja, karena aku yang mengalami, kau akan melakukan hal yang sama bukan? bahkan mungkin lebih.”


...


Setelah hari ke lima Kusno akhirnya menyerah, dia memberikan kembang itu pada Mulyana, Mulyana buru-buru menaruh kembang itu di markas ke dalam botol kaca yang membuat tampilannya begitu indah.


Yang indah memang terkadang sangat kejam.


Mulyana melepaskan Kusno yang sangat lemah untuk kembali pulang. Mulyana juga menyekap semua jin Kusno di dunia gelap, mereka akan ditinggalkan di sana, tidak perlu kembali karena mereka sumber penyakit di wilayah ini.


Karena itu Kusno menjadi tidak memiliki kekuatan lagi. Dia menjadi lemah.


“Sampai kapan kau akan begini?” Kusno rupanya kembali melakukan ruwatan, Mulyana sengaja memantaunya.


Kusno terlihat sangat kurus dan lemah, dia sudah beberapa bulan ini terus melakukan tirakat di hutan itu.


“Pergi kau!” Kusno kesal pada Mulyana karena dia selalu saja ada saat Kusno kesulitan seperti saat ini, dia kelaparan tapi tidak punya makanan.


“Ini makanlah No.” Mulyana memberinya nasi bungkus.


Kusno kelaparan dia mengambil dan memakannya.

__ADS_1


“Kau tahu No, bahwa ‘mereka’ itu sama seperti kita, punya hati, punya perasaan. Seperti Abah, dia turun padaku dari ayahku, garis kami menjaga Karuhun menjadi putih dan bersih, dengan cara kami menjaga sikap dan melakukan apapun yang bermanfaat untuk manusia lain.


Kau pun pasti bisa melakukan itu No, menjadi lebih baik lagi, maka khodammu juga juga akan baik, tanpa perlu kau melakukan tirakat kau juga akan mendapatkan khodammu.”


“Kau ini berisik sekali, hidupku bukan urusanmu!” Kusno pergi kembali ke hutan setelah kenyang.


Setelahnya, kelak Kusno akan membantu istri Pak Lurah untuk menyantet Marni. Mulyana tidak pernah berhenti untuk membujuknya tapi hidayah hanya Tuhan yang memberikan pada hamba-Nya. Maka Mulyana hanya terus berdoa. Kejadian Marni kelak yang akan membuat Kusno jera dan sepenuhnya berhenti mencelakakan orang lain dengan illmu hitam.


...


“Adit, bekal makannya udah dimasukin belum?” Ibunya terlihat terburu-buru, maklum dia harus memandikan dua anak secara gantian, memakaikan baju dan menyediakan sarapan, Mulyana juga sibuk membantu istrinya.


Saat ini Aditia berumur enam tahun, sudah sekolah dasar, semakin tampan. sementara Dita sudah sekolah taman kanak-kanak.


Dita yang dititipkan tapi dicintai dengan sangat besar seperti anak kandung. Bahkan ibunya Aditia cenderung selalu mendahulukan Dita, karena Dita perempuan dan Aditia laki-laki, jadi Aditia harus lebih kuat.


“Dita cantiknya Ibu, hebat sudah pandai pakai baju sendiri.”


“Dita mau duduk di depan saja Bu.” Dita lagi-lagi minta duduk di bagian depan motor ayahnya.


“Nggak boleh, Adit yang mau duduk di depan.”


“Adit! Ngalah sama adek, kamu itu kakak, jadi harus jaga adeknya.”


“Tapi gantian dong Bu, kan Dita kemarin udah duduk di depan.”


“Dita cantiknya Ibu, mau nggak temenin ibu duduk di belakang, besok baru temani ayah duduk di depan, gimana?” Ibunya membujuk, Dita pada dasarnya dididik dengan baik oleh pasangan Mulyana dan istrinya, makanya dia menjadi anak yang sopan dan baik.


“Iya Bu, baiklah, tapi besok Dita boleh yang duduk sama Bapak di depan.”


“Anak hebat, yaudah sekarang ayo kita naik motor Ayah.”


Mulyana sudah di depan dengan motornya, walau masih bagus tapi itu adalah motor lama.


Aditia duduk di bagian depan motor, lalu ayahnya, kemudian Dita terakhir ibunya. Berkendara seperti ini tidak patut ditiru, tapi karena sekolahnya dekat mereka berani bermotor dengan jumlah yang banyak itu.


Motor melaju dengan santai.


Aditia tiba-tiba berteriak.


“Mbak! awas!!!”


“Kenapa Dit!” Ibunya bertanya karena mendengar Aditia berteriak.


“Adit salah lihat Bu!” Mulyana buru-buru mencari alasan agar istrinya tidak berpikir aneh.


Begitu sampai sekolah istrinya mengantar Dita untuk masuk kelas dan Mulyana masih di motor, Aditia sudah bisa masuk ke kelasnya sendiri, sekolah dia dan adiknya satu gedung.


“Dit, sebentar.” Mulyana menahan anaknya agar tidak masuk dulu, sementara istrinya sudah masuk ke gedung sekolah.


“Adit ingat kan, Ayah bilang apa?”


“Apa Yah?”


“Mbak yang tadi nyebrang saat lampu hijau dan menabrakan dirinya ke setiap kendaraan, cuma ktia berdua yang lihat.”


“Oh iya.”


“Jadi ...?”


“Aditia tidak boleh bilang sama ibu dan Dita apa yang Aditia lihat, nanti Ibu dan Dita bisa ketakutan.”


“Pintar, Aditia harus ingat itu terus ya Nak.”


“Iya Yah, maaf ya, tadi Adit bingung, mbak itu nyebrangnya berlari, trus menubrukkan dirinya ke setiap kendaraan yang lewat hingga berdarah-darah.


“Dit, kalau seorang manusia sudah tertabrak sekali saja, akan pingsan, jadi kalau dia menabrakkan diri berkali-kali, pasti bukan ....”


“Bukan manusia, tapi jiwa yang tersesat ....”


_________________________________________________


Catatan Penulis :


Part selanjutnya masih Aditia ya, aku rencananya akan masih lanjutkan part Aditia beberapa part lagi sampai bertemu lima sekawan, baru kita masuk ke part lima sekawan bertarung bersama lagi ya.


Pada masih kuat kan baca AJP?


Btw rangking AJP naik bagus bgt nih dua hari ini, dari rangking ratusan sudah masuk ke rangking puluhan.

__ADS_1


Bantu kami naik rangking dengan vote dan hadiah ya.


Terima Kasih.


__ADS_2