
“Bagaiamana cara kita mengalahkannya?” tanya Aditia.
“Aku ini siapa Dit?” Abah bertanya.
“Karuhunku.”
“Prabu itu siapa?”
“Khodam? Karuhun?” Semua menjawab bersamaan dengan jawaban berbeda.
“Itu dia, kita harus tahu apakah ada perjanjian antara Prabu dan Eep hingga dia bersedia menjadi tuan dari jin tua itu.” Abah memberikan langkah pertama.
“Lalu Setelahnya?” Aditia bertanya lagi.
“Setelahnya kita harus mematahkan perjanjian jika memang ada, tapi jika dia Karuhun, maka kita harus membuatnya berpaling.”
“Maksudnya?” Aditia bingung dengan perkataan Abah.
“Kau tahu kenapa Malik tidak punya Karuhun?”
“Karena Karuhunnya direbut oleh kakaknya, caranya? membuat Karuhunnya berpaling.”
“Semudah itu? maksudku, apa memang mudah membaut Karuhunnya berpaling, lalu ke siapa Karuhunnya harus di tempatkan? Kita semua punya dan aku tidak bersedia memiliki lebih dari satu Karuhun karena itu tidak baik, hanya Ayi yang sanggup memiliki lebih dari satu Karuhun.” Aditia menolak mentah-mentah karena dia tidak mau memiliki Prabu, si jin laknat itu.
“Bagaimana denganmu Lais? Kau tidak memiliki khodam kan?” Abah Wangsa tiba-tiba berkata, Lais yang tiba-tiba ditembak dengan pertanyaan seperti itu terpaksa berbohong karena, dia tidak boleh ketahuan memiliki khodam yang jauh lebih laknat dan gelap dari Negara lain.
“Kalau begitu kita bisa membuat Prabu berpaling kepadanya.”
“Tidak, aku menolak, Prabu terlalu serakah, Lais takkan sanggup menahannya.” Hartino tiba-tiba mengajukan keberatannya.
“Hei! Hati-hati kau bicara, aku sanggup, kenapa aku tidak sanggup?” Lais kesal karena dia tiba-tiba disepelekan, terlebih oleh Hartino.
“Har, kalau Lais bersedia, kenapa tidak?” Ganding membela Abah.
“Dia ini wanita, kalian harusnya tidak mengorbankan dia.”
“Har, siapa yang mengorbankan dia, justru dia akan punya pelindung, aku yakin kemampuan Lais cukup untuk mengendalikan Prabu, lagian ini skema terburuk, belum tentu dia adalah Karuhun Eep, bisa jadi dia hanya khodam yang perlu kita putus saja perjanjiannya diantara mereka.” Aditia mendukung Ganding.
“Terserah Lais, tapi kau tidak terpaksa karena kita semua meminta kan, Lais?” Hartino memastikan dulu apa yang sebenarnya Lais inginkan.
“Aku tidak keberatan, kita bisa memindahakan Prabu ke tubuhku, tapi aku minta, hanya aku yang akan melakukan perjanjian dengannya, kami berdua, aku tak mau siapapun ada saat aku melakukan perjanjian dengan Prabu, jika dia khodam. Tapi jika dia adalah Karuhun, maka kita lakukan tanpa perjanjian.” Lais menerima usulan Abah.
__ADS_1
Tepat saat tengah malam mereka kembali ke pabrik, tidak seperti hari-hari sebelumnya, Aditia dan Alka merasakan energi yang sangat berat, ini sepertinya kunci dari alam ghaib ini telah ada di sini, energinya berbeda.
Aditia dan yang lain bergegas berlari ke arah kunci itu terasa energinya, masih ada ‘mereka’ yang belum dibinasakan, masih banyak malah. Itu pekerjaan kelak, karena Aditia harus menemukan dulu kunci alam ghaib ini.
Tepat di tengah seksi menjahit, Aditia melihat seseorang berdiri, ruangan ini sudah kosong, karena mereka sudah membinasakan jiwa-jiwa di ruangan ini, seseorang itu nampak sedang bersila, seperti sedang semedi.
Begitu jarak lima sekawan dan Lais sudah dekat dengan seseorang itu, mereka sadar, itu adalah Eep dan juga Prabu, mereka nampaknya sedang menjaga sesuatu, sebuah … mesin jahit!
Ganding tertawa mengakak.
“Dit kuncinya gede bener.” Aditia juga ikut ketawa sangat kencang, karena kuncinya adalah mesin jahit itu.
Yang lain ikut terbahak-bahak, sungguh menggelikan sekali.
“Prabu, kau mau bikin baju untuk selir-selirmu atau gimana sih? Segala mesin jahit dijadiin kunci.” Hartino tertawa semakin keras karena dia tak menyangka yang dijadikan kunci adalah mesin jahit.
“Kalian mau menyerahkan nyawa? Mau melamar kerja menjadi budakku? Pasti hasil jahitan kalian akan sangat istimewa.” Eep tertawa sambil berdiri, Prabu telah masuk ke dalam tubuh Eep.
Lima sekawan membentuk formasi segi enam atau heksagon, dimana Lais berada paling depan dan Jarni paling belakang, sisanya mengisi ruang sehingga bentuk heksagon terbentuk sempurna.
Mereka ingin Prabu melihat Lais sebagai tuan yang menarik, sehingga mereka akan membuat Lais sangat kuat di mata Prabu, makanya bentuk heksagon ini adalah bentuk paling sempurna untuk mengalirkan kekuatan melalui tali ghaib yang telah diuntai Jarni menggunakan ular-ular mininya, sehingga Prabu akan mengira kalau Laislah pemilik kekuatan besar itu, padahal itu adalah energi yang disalurkan dari setiap orang kepada Lais melalui ular mini Jarni.
Langkah ini sebenarnya sangat bahaya, karena bisa saja ketahuan dan membuat Prabu menyerang mereka semua, tapi bisa jadi ini adalah langkah yang paling mungkin untuk membuat Prabu berpaling, mereka ambil resiko.
Dia terus menyerang Prabu, sementara yang lain tetap di formasi dan menyalurkan energi mereka melalui ular Jarni yang terus bergantian mengambil energi dan menyalurkannya.
Lais terus menyerang Prabu, beberapa kali Lais jatuh dan kalah, tapi dia bangkit lagi mengejar Prabu ke segala arah dengan bantuan energi dari lima sekawan, Prabu mulai kewalahan dengan pedang Lais yang begitu besar dan energinya yang tiada habis, sedikit banyak Prabu mulai tertarik memiliki tuan seperti Lais, tapi ada yang janggal, dia melihat ada ular-ular kecil yan mengelilingi Lais, dia tidak tahu apa itu, tapi bisa jadi sesuatu yang membantu penyerangan Jarni.
Prabu juga mulai berpikir, aneh sekali Lais terus yang menyerang, sedang yang lain hanya diam saja, Prabu memiliki ide gila, alih-alih menyerang Lais, dia tiba-tiba berlari ke formasi heksagon milik lima sekawan dan menarik Hartino keluar dari formasi, Hartino yang mulai lemah karena energinya telah dialirkan pada Jarni, tidak bisa melawan dengan maksimal, semua orang jadi tidak fokus dan berusaha mengejar Eep di ruangan itu untuk menyelamatkan Hartino, sedang Lais mulai lemah karena energinya habis terkuras dan tidak dialirkan lagi.
Semua orang berusaha meraih Hartino tapi Prabu mencengkramnya dengan erat, tidak membiarkan Hartino lepas, Hartino telah sangat lemah, begitu juga dengan yang lain.
Prabu tertawa karena prasangkanya benar, mereka sedang mengelabuinya.
Prabu memegang kepala Hartino sehingga tubuhnya hanya bergantung saja mengikuti pelarian Prabu di ruangan itu.
Lais terus mengejar walau telah sangat lemah, dia tidak bisa biarkan Hartino menjadi korban. Karena terlihat bahwa Prabu sedang menyedot habis energi Hartino, bisa-bisa jiwanya dibawa lagi seperti Ardi, si Polisi itu.
Lais terus mengejarnya, hingga dia melihat Hartino mulai kehilangan kesadaran, seluruh tubuhnya mulai terlihat membiru Lais terus menyerangnya tapi serangan itu selalu gagal, di titik ini Lais bisa melakukan apapun … apapun!
“Kutunaikan janjiku, saat ini juga, ambillah yang menjadi milikmu!” Teriak Lais, entah pada siapa, lima sekawan tidak begitu sadar karena fokus menyelamatkan Hartino.
__ADS_1
TIba-tiba Lais berubah bentuk menjadi wujud seorang nenek-nenek tua yang mengerikan, nenek itu berbicara dalam bahasa yang tidak diketahui darimana asalnya, bukan bahasa Sunda kuno atau bahasa dari negeri ini lainnya.
Semua orang heran dan bingung siapa itu, termasuk Hartino, dia kaget Lais meruah bentuknya.
“Sekarang, kita seumuran!” Prabu berteriak pada nenek itu, Lais yang sudah berubah itu tertawa, hanya Prabu yang bisa melihat nenek itu sejak melihat Lais kemarin, dia juga tertarik dengan Lais sejak itu, bukan karena apa yang lima sekawan lakukan, formasi heksagon itu bahkan tidak bisa membuat Prabu tertipu.
“Babusheksabir tabnijarbabat khais." Nenek itu berkata dan mulai menyerang Prabu dengan membabi buta menggunakan tubuh Lais dalam wujud nenek-nenek.
Semua orang terlihat takjub kecuali Alka.
"Apakah tak mengapa Lais seperti itu?" Aditia bertanya.
"Lais tahu resikonya." Alka hanya mengatakan itu saja.
Khodam Alka terus saja menyerang pedang tang begitu panjang dan besat itu disabet-sabet ke arah Prabu, beberapa kesempatan meleset, tapi sisanya mengenai tubuh Eep.
Eep yang manusia biasa mulai kehabisan tenaga dan kesakitan karena sabetan pedang itu. Hartino akhirnya terlepas dati pegangan Prabu dalam tubuh Eep.
Aditia menangkap Hartino yang terlepas itu. Hartino lemas karena selama tubuhnya dipegang oleh Prabu dalam tubuh Eep, energinya ikut diserap.
Tapi Hartino tetap sadar.
Melihat Prabu sudah jelas kewalahan Lais menghabisinya dengan banyak sabetan pedang, dia brutal tanpa ampun, tubuh nenek itu terlihat sangat fit dibanding wajah dna umurnya.
Prabu kalah, pada sabetan terkahir Prabu kabur, menghilang meninggalkan tubuh Eep.
Eep jatuh terkulai lemas, tubuhnya terlihat jadi kurus kering, berbeda dengan sebelumnya.
Jadi ini tampilan asli Eep, kurus kering.
Nenek itu akhirnya mendekati kawanan, energinya ternyata jauh lebih gelap dari energi milik Prabu.
Hingga yang lain merasa sangat mual dan lemas saat nenek dalam tubuh Lais itu mendekat.
Lima sekawan mundur kecuali Hartino.
Dia maju dan berusaha untuk menggapai Lais, walau semakin dekat Hartino semakin pusing terpengaruh dengan energi gelap khodam Lais ini.
Tapi Hartino tetap mendekatinya, dia meraih tangan Lais, Lais berwujud nenek itu perlahan berubah, menjadi bentuk asli dirinya, tapi ... Lais muntah darah, sangat banyak hingga dia akhirnya jatuh terkulai lemas.
Hartino menangkap tubuhnya agar tak jatuh ke lantai. saat jatuh itu Lais masih terus memuntahkan darahnya dalam jumlah sangat banyak.
__ADS_1
Hingga tangan Hartino penuh dengan darah Lais, Hartino terus memperhatikan wajah yang sudah terkena banyak cipratan darah itu.
Setelah yakin Hartino lemas, tubuhnya gemetar, dia menangis sejadinya sambil berteriak ... ALISHA!!!