
“Awas!!!” Aditia menarik tangan Alka, karena dia baru sadar, mereka tiba-tiba sudah di jalan besar, begitu mereka melangkahkan kaki ke arah kabut dan melewatinya, jalanan berubah, hampir saja Alka tertabrak motor, mereka memang muncul secara tiba-tiba, hingga membuat pengendara motor hampir saja menabraknya, dia bahkan berteriak sumpah serapah pada Alka dan Aditia lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
“Ini di mana?” Aditia bertanya, karena ini bukan desa itu.
“Kita ....”
“NYEBRANG!”
Mereka berdua sadar akan hal itu, mereka berdua telah keluar dari jalan persawahan itu dan menyebrang entah ke jalan mana. Sudah tidak lagi berada di desa itu.
Aditia dan Alka celingak-celinguk, mencari tahu di mana ini, tempat yang terlihat cukup ramai walau sudah malam.
Telepon genggamnya berdering, Aditia melihat ke arah telepon genggam itu, ternyata yang menelpon adalah Hartino.
[Dit! Di mana kamu?] Begitu telepon dijawab, Hartino langsung bertanya tanpa sapaan terlebih dahuulu.
[Entah, sebentar aku tanya dulu.] Aditia lalu bertanya pada pejalan kaki, dia dan Alka sudah memastikan mereka aman dan tidak di tengah jalan lagi seperti sebelumnya, hampir saja tadi Alka tertabrak, beruntung Aditia reflek dan menarik tangan Alk, pengendara motor itu langsung berteriak memaki mereka.
Tentu saja pengendara motor itu tidak salah, Aditia dan Alka yang muncul tiba-tiba, beruntung mereka tidak celaka.
[Katanya kita di pasar Kosambi Har.] Aditia menjawab setelah diberitahu mereka ada di mana.
[Oh, itu mah deket, kamu mau tahu nggak, aku dan Alisha ada di mana?] Hartino berkata.
[Kau di mana?]
[Jarakmu sampai ke desa itu lagi kurang lebih satu jam, kau tahu ... jarakku ke desa itu berapa lama?]
[Mana aku tahu! Aku bukan cenayang! Mungkin Alka tahu, dia kan cenayang!] Aditia tertawa, begitu juga Hartino, Alka yang sedari tadi menguping, memukul perut Aditia.
Pernyataan bahwa Alka cenayang tidaklah sepenuhnya salah, karena Alka bisa melihat pada ingatan seseorang, bukankah itu termasuk ilmu kecenayangan?
[Aku di ... BOGOR!]
Aditia tertawa terbahak-bahak, jarak dari Bogor ke desa itu sekitar tiga setengah jam, apapun di jalan persawahan itu sungguh sangat licik, mengirim dua tim ke tempat yang berjauhan.
[Yasudah, kau naik apalah, taksi online atau kereta, terserah yang paling cepat.] Aditia mencoba memberi solusi.
[Yang paling cepat itu private jet, aku bisa usahakan kalau kakak bolehin.]
[Kau mau kuhajar Har? Helipad mana yang mau kau pakai untuk landing, bodoh!] Aditia kesal pada Don Juan satu ini.
[Kau santai sajalah, aku kan hanya berusaha untuk lebih cepat sampai sana, yasudah aku akan ... bentar Dit, ada keramaian di ujung sana, bentar ya, aku akan melihat apa yang terjadi, karena aku merasakan energi yang mirip dengan jalan persawahan itu.] Hartino menutup teleponnya buru-buru, karena dia melihat kerumununan di tengah malam yang dingin ini.
“Har melihat apa?” Alka bertanya.
__ADS_1
“Entah, dia bilang hanya kerumunan, dia akan segera memberitahu kita kalau sudah tahu jawabannya.”
“Kita balik ke desa itu?” Alka bertanya.
“Sebentar, aku ingin mencari pintu ghaib yang bisa aku buka, kalau ada, berarti memang dia menggunakan banyak jalan untuk melempar korbannya.
Aditia berjalan, Alka mengikutinya dari belakang, Aditia mencoba mencari pintu ghaib yang mungkin menjadi celah bagi apapun yang mengirim korban dari jalan itu ke semua tempat berbeda selama ini.
Aditia dan Alka berjalan selama setengah jam, berkeliling, hingga mereka berdua terasa kelelahan, tak terasa sudah adzhan subuh.
“Loh, sudah Adzhan? Bukankah kita ke jalan persawahan itu tengah malam, lalu berjalan sebentar, menyebrang ke sini dan mencari pintu ghaib tidak sampai satu jam, tapi kenapa sekarang sudah adzhan subuh? Bukankah waktu berjalan terlalu cepat?”
“Perbedaan waktu dan lokasi, kita dilempar pada waktu dan lokasi yang berbeda, berarti, ada gap di mana kita tak sadar sekitar satu atau dua jam yang tidak kita sadari.” Alka mengambil kesimpulan.
“Tapi bukankah ada zona ghaib memang ada perbedaan waktu, Ka?”
“Ada, tapi pada zona ghaib ciptaan Tuhan, kalau zona ghaib ciptaan jin, tidak! mereka tak sehebat itu bisa memanipulasi waktu.” Alka mengingatkan Aditia soal itu.
“Berarti benar, kalau zona ghaib itu, diciptakan setelah ada kejadian, lalu apa kejadiannya?”
“Kita harus dengar lagi cerita Mang Emang.”
Mereka lalu bergegas ke masjid terdekat untuk solat subuh, setelah itu segera memesan taksi online agar bisa segera kembali ke desa. Alka tidak bisa melakukan teleportasi dengan jarak sejauh itu, yang ada dia bunuh diri jika memaksa.
Butuh waktu lebih lama dari perkiraan agar Aditia dan Alka bisa sampai ke desa itu, saat sampai, mereka langsung melihat Jarni dan Ganding sedang sarapan santai di rumah Paman Aep, sarapan ubi dan singkong goreng.
“Kak, kau mau sarapan atau mandi dulu?” Jarni bertanya pada kakaknya yang terlihat lelah.
“Aku ingin mandi lalu tidur, bolehkah?” Alka bertanya pada Aditia.
“Tentu saja, kau tidurlah, nanti kalau sudah ada informasi, aku akan ceritakan.” Aditia mengusap kepala Alka, dia terlihat kelelahan.
Alka masuk ke dalam rumah, karena mereka semua ada di halaman rumah Paman Aep.
Tak lama kemudian, Wak Eman datang, dia kembali membawa singkong dan ubi goreng, dia melihat Aditia dan Alka baru datang tadi dan meminta istrinya untuk menggoreng ubi dan singkong lagi.
Sekarang setelah matang, dia membawa gorengan itu ke rumah Aep sahabatnya.
“Wak, repotin banget ah.” Aditia terlihat tak enak, semakin lama mereka di sini, semakin merepotkan Wak Eman.
“Hanya alakadarnya, ini juga dari kebun kami Dit, sudah di makan, kopinya masih ada kan?” Wak Eman tadi membawa satu teko kopi hitam manis ke sini.
“Ya, masih ada Wak, terima kasih.” Ganding menjawab.
Sekarang, Jarni, ganding, Aditia dan Wak Eman sudah duduk di halaman rumah Paman Aep.
__ADS_1
“Wak, ceritakan lagi soal pamanku, karena ada beberapa hal yang harus dipastikan.” Aditia mengingatkan bahwa Wak Eman masih hutang cerita soal Aep.
“Oh baiklah, kalau begitu, mari kita lanjut lagi.” Wak Eman membuat dirinya nyaman dulu di bangku itu lalu mulai bercerita kembali.
Aep sudah bangun, dia terlihat lelah sangat lelah, Eman beberapa kali bulak-balik ke rumahnya untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Tapi pada siang hari, dia baru bangun.
“Bagaimana keadaanmu Ep? Ini minum dulu teh hangan, jangan langsung kopi, nasi lambungmu sakit.” Eman memberikan teh hangat yang dia buat di rumah Aep.
“Ya, terima kasih Man,” Aep menyeruput teh hangat yang manis itu, lalu dia duduk di tempat tidurnya, “aku merasa lelah saja, bagaimana dengan lahan sawah itu?” Aep kali ini balik bertanya.
“Seluruh semen itu sudah hancur, lalu sebelum aku membawamu pulang, aku juga melihat angin yang sangat besar membuat sisa semen itu terkumpul pada satu areal, setelah itu sisa semennya menghilang entah ke mana.
“Oh begitu, berarti lahan itu sudah bersih?”
“Sudah siap untuk kau tanami padi, Ep.”
“Baguslah.”
“Ep, tapi lucu ya, kau tidak meminta bantuan Sabdah untuk melawan dukun, kau malah meminta bantuannya untuk mengerjakan lahan sawah, kalian ini cocok dianggap petani ghaib.” Eman tertawa, Aep juga sama, dia tertawa terbahak-bahak, Eman benar, dia malah meminta bantuan jin itu untuk membersihkan sawah.
“Biarlah kami petani ghaib, daripada harus menjadi dukun.” Aep jadi ingat lagi dia sebenarnya masih diincar.
“Ep, lahanmu sudah aman? Apa mereka akan merusak lahanmu lagi?” Eman bertanya.
“Aku tidak tahu, apakah mereka akan tetap menggangguku, tapi satu hal yang pasti, mereka kali ini takkan bisa lagi mengerjaiku.”
“Kau akan melawan?”
“Aku akan melawan siapa saja yang menyakiti orang yang dekat denganku, dulu aku takut, tapi mereka sudah keterlaluan, ladang tempatku mencari nafkah saja mereka kerjai. Padahal aku tidak pernah sekalipun mengusik mereka, terserah mereka mau melakukan praktek dukun, tidak juga berusaha menyadarkan mereka, aku hanya ingin hidup tenang di tempat ini Man, bersamamu dan juga warga lain, membangun desa.” Aep teringat mimpinya saat datang ke desa ini.
“Ep, tapi kau tetap akan berlindung pada Tuhan juga kan?” Ada sedikit rasa takut pada diri Eman, saat Aep mengatakan akan melawan, yang terasa adalah darah pembunuh yang berdesir pada setiap perkataan Aep.
“Ya, tentu saja, tapi aku juga harus memastikan bahwa aku haruslah berdiri di kaki sendiri agar bisa hidup. Aku tak ingin lagi kehilangan Man.”
“Ya, aku mengerti, kau tidak ingin memanggil Mulyana ke sini? siapa tahu dia bisa menjadi penasehat spiritualmu, Ep.”
“Tidak, dia pasti sibuk, kau tahulah, dia juga harus menyelesaikan banyak kasus.”
“Ya, aku pernah dengar itu, tapi aku merasa kau butuh seseorang untuk bicara soal ini, aku tidak bisa bantu, karena tidak mengerti, EP. Maaf aku lancang.”
“Aku tahu kau khawatir, tapi percayalah padaku, aku akan baik-baik saja. Lagi pula, ini kan yang kau dan Mulyana selalu inginkan? Aku harus melawan kan?
“Ya, tapi ... ah, sudahlah, kau makan dulu, istriku sudah menyediakan makanan untuk kita, ayo kita makan di rumahku.” Eman mengajak Aep makan di rumahnya, hal biasa mereka lakukan jika Eman ada di rumah, makan bersama keluarga mereka.
Saat mereka berjalan hendak ke rumah Eman, mereka berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang selesai belanja dari pasar, melihat Eman dan Aep, bukannya menyapa, mereka malah berbisik-bisik, lalu tertawa tanpa bersikap ramah.
__ADS_1
Ada apalagi ini?