
Malam tiba, saat makan malam Ami datang untuk mengantarkan makanan. Dia tetap menjadi buah bibir, sedang Aditia sibuk membersihkan piring kotor dan juga beberes, karena ini jadwalnya piket.
Dia piket bersama Aris.
“Dit, tadi kamu negor kawanan elit ya?”
“Hmm.” Aditia hanya menjawab sekenanya saja.
“Kamu kenapa negue mereka?”
“Nggak hanya kasih tahu saja, lain kali jangan begitu.”
“Seharusnya kamu nggak kasar ke mereka Dit, siapa tahu kamu bisa bawa kita berdua jadi temenan sama mereka.”
“Nggak perlu, kita semua bisa temenan kok, tapi atas dasar kita sama-sama mau temenan, bukan karena saling memanfaatkan.”
“Maaf ya Dit.”
“Kenapa minta maaf?” Aditia bertanya.
“Karena elu merasa gue manfaatin.” Aris pergi lagi dengan kecewa seperti tadi pagi.”
“Ris, maksud gue nggak gitu.” Terlambat Aris sudah pergi.
“Kenapa?” Suara Ami, dia ke dapur untuk memberikan piring kotor.
“Nggak apa-apa.” Aditia mengambil piring kotor dari tangan Ami.”
“Gue bantuin ya.”
“Silahkan kalau mau mah.”
Ami jongkok di samping Aditia membantu cuci piring.
“Kau biasa mengerjakan ini?” Ami bertanya.
“Cuci piring?”
“Ya, semua ini, cuci piring, beberes.”
“Ya, aku dan Dita mengerjakan pekerjaan rumah secara bergantian. Kalau Dita cuci piring aku menyapu dan mengepel.”
“Dita?”
“Adikku.”
“Oh, dia seperti kita juga?”
“Seperti kita?”
“Ya, bisa melihat yang itu.” Dita menunjuk sekumpulan anak gundul dengan wajah pucat sedang bermain di belakang rumah dekat mereka cuci piring.
“Tidak. Dia tidak bisa lihat.”
“Kok gitu? bukankah semua keturunan bisa melihat?”
“Maksud keturunan apa ya?”
“Ya keturunan itu pasti bisa melihat atau mengobati, aku dan adik-adikku semua punya kemampuan.”
“Adikku dan ibuku tidak.”
“Loh kok bisa? Apakah ibumu orang biasa?”
“Ya orang biasa, seperti kita aja. Memang apa lagi?”
“Dit, ibumu bukan keturunan?”
“Maksudmu apa sih?”
“Keturunan seperti kita, bisa melihat ‘mereka’.”
“Tidak, ibuku tidak bisa melihat seperti kita.”
“Pak Mulyana tidak menikah dengan jodoh adatnya?”
“Jodoh adat? Apalagi itu?” Aditia semakin pusing.
“Kau tahu kan, kalau kita itu kamu dan aku harus menikah dengan orang yagn ditunjuk oleh tetua? Semua orang menikah berdasarkan aturan tetua.”
“Rasanya terlalu dini membicarakan pernikahan di usia kita ini.”
“Dit, kau tidak tahu kalau aku ....” Ami menahan perkataannya.
“Apa?”
“Hmm, tidak. Aku sudah selesai membantumu, aku kembali ke depan ya.”
Ami berjalan dan wajahnya terliha kecewa. Aditia kesal, kenapa semua orang terlihat kecewa saat berbicara dengannya.
Aditia akhirnya beranjak karena telah selesai, saat dia bangun tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat aneh, seperti seorang anak kecil menangis, entah kenapa dia merasa harus mendatangi anak itu.
Aditia berjalan masuk ke dalam hutan.
Semakin masuk ke dalam hutan, dia semakin mendengar suara menangis itu dengan jelas.
“Siapa di sana?” Aditia tahu, itu seorang anak manusia, bukan setan.
Tangis itu berhenti.
__ADS_1
“Siapa itu!” Aditia mengulang pertanyaanya. Tapi tidak ada jawaban.
Aditia terus berjalan, saat itu dia meleati dua buah pohon yang saling berjejer mirip gapura, pohon itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar.
Kaki Aditia melewati dua pohon itu dan seketika langit berubah menjadi terang benderang, hutan berubah menjadi desa yang dipenuhi orang-orang, ada anak yang yang bermain kejar-kejaran, ada warung-warung yang menjual sayuran, baju dan lainnya. Mirip pasar tapi tidak terlalu besar, lalu ada rumah-rumah yang berjejer terbuat dari bilik-bilik.
Rumah panggung, kau harus naik tangga jika ingin masuk rumah di sini. Aditia bingung, tempat apa ini? apakah ini desa sebelah, tapi bukankah sebelumnya masih malam, lalu kenapa di sini telah siang hari.
Aditia berjalan dan akhirnya menemukan sumber suara, seorang anak yang memakai gaun putih tengah jongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“De, kamu kenapa?” Aditia bertanya, anak itu masih menangis saja.
Aditia mencoba untuk menyapa lagi, “De, kenapa? orang tuamu mana?” Anak itu akhirnya menunjuk arah belakangnya, Aditia melihat satu rumah yang sama dengan rumah yang lain.
“Mau aku antar pulang?” Aditia bertanya lagi.
Anak itu mengangguk dan mengulurkan tangan, dia ingin Aditia menuntunnya.
Aditia menerima uluran tangan itu dan membawanya ke rumah yang dia tunjuk.
Aditia mengetuk rumah itu, tapi tidak ada jawaban, Aditia mengucapkan salam, tapi entah kenapa, suaranya menjadi parau hingga salamnya tidak kedengaran.
“Assalam ... mu ... a ... la ... i ... kum.” Susah payah Aditia mengatakan salam, masih tidak ada jawaban.
“De, nggak ada yang bukain, kita jalan-jalan aja dulu yuk?”
Adik kecil itu mengangguk, mereka berdua lalu hendak turun, tapi tiba-tiba pintu rumah terbuka, seseorang keluar. Seorang perempuan dengan memakai kemben dan kain jarik sebagai rok, rambut panjang tergerai sampai semata kaki menyapa. Wajahnya putih bersih, tapi agak pucat.
“Kamu siapa?” tanyanya.
“Saya mau antar adek ini, dia nangis tadi, mungin diisengi anak lain.”
“Masuk dulu.” Perempuan itu meminta Aditia masuk ke rumah dan membawa adik kecil itu juga masuk.
“Saya buatkan minum dulu ya.” Perempuan itu masuk, adek kecil itu duduk di samping Aditia.
“Itu tadi kakakmu?” Adek itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Aditia.
“Ini minumnya, teh hangat dan camilan.” Perempuan itu berkata sembari membawa teh dan camilan dengan baki.
Aditia hendak meminumnya tapi direbut oleh adik kecil yang menangis tadi. Dia meminum tehnya lalu makan camilan sampai habis.
“Heh, kau ini serakah sekali! Biarkan tamu minum dan makan!” ujar perempuan itu.
“Tidak apa, dia mungkin lelah dan lapar tadi menangis.”
“Kamu dari mana?” tanya perempuan itu.
“Dari ... dari ... dari mana ya aku?” Aditia lupa dia dari mana, tidak heran kenapa dia tidak merasa aneh dengan perubahan waktu, dari malam ke siang antara desa ini dan juga hutan belakang kakek Dadan.
“Yasudah menginap saja dulu di sini. Namaku Yahnaweja panggil saja Yahna. Namamu siapa?”
“De! De! Jangan lari, kembali ke rumah.” Aditia merasa anak itu nakal sekali, berlari saja dari rumah seperti itu.
“De! De!” Aditia terus mengejar sampai akhirnya dia kehilangan anak itu disebuah tikungan antara jalan dan sebuah warung.
Aditia berbelok dan melihat anak itu berjongkok sembari menutup kedua tangannya.
“Kamu kenapa suka sekali lari sih? aku capek mengejarmu. Berlari seperti tadi tidak sopan.”
Anak itu berdiri dan memegang tangan Aditia. Dia menarik tangan Aditia ke sebuah warung yang sudah tutup, tapi ada bangku di luar warung yang bisa mereka tumpangi untuk duduk.
“Kenapa kita di sini? Kakakmu galak ya, makanya kau tadi lari, dia sering memukulmu?” Aditia melihat memar banyak di tangannya.
Anak itu mengangguk.
“Apa kakakmu juga tidak memberi makan?”
Anak itu mengangguk lagi, seharusnya dia tidak bisu karena dia bisa menjawab pertanyaan Aditia, berarti dia mengerti bahasa yang Aditia tuturkan.
“Orang tuamu mana?” Anak itu menggeleng.
“Apa mereka sudah tiada?” Anak itu kembali mengangguk.
“Kasihan kamu, sayang aku tidak punya uang, jadinya aku tidak bisa memberikanmu jajanan.”
Anak itu tersenyum lalu dia bersandar di tangan Aditia, tidak lama kemudia dia tertidur.
Aditia mengusap kepalanya agar anak itu tidur dengan tenang.
Aditia tidak memikirkan kenapa dia bisa di sini, kenapa dia lupa dia dari mana, dia ingat keluarganya, samar, dia ingat namanya. Tapi dia lupa detail tentang dia dari mana sebelum ke sini, dia berusia berapa tahun atau bahkan teman-temannya.
Hari berganti petang, anak itu bangun. Dia mengajak Aditia untuk ke sungai. Dia menyerok air sungai dengan kedua tangan kecilnya, kalau ditakar, mungkin anak ini baru berusia sekitar lima sampai enam tahun, dia memakai gaun putih panjang semata kaki, rambut tergerai sampai selutut wajahnya sangat cantik putih bersih. Tapi dia tidak memakai alas kaki, kalai dilihat semua orang di sini ternyata tidak memakai alas kaki.
“Ini bisa kita minum?” Aditia bertanya. Anak itu mengangguk dan memberikan air minum itu dengan kedua tangannya.
Aditia mengambil air dari tangan gadis kecil itu dan meminumnya, segar sekali, terasa sedikit manis. Air sungai paling segar dan enak yang pernah Aditia minum.
“Kau begitu takut dengan kakakmu ya? Sampai lebih suka minum di sini daripada di rumah.”
Anak itu mengangguk dan kembali menyerok air untuk minum.
Setelah puas dari rasa haus, Aditia kembali ditarik oleh anak kecil itu masuk ke sebuah perkebunan buah-buahan, perkebunan itu aneh. Karena buahnya tidak seragam. Ada yang seukuran kepalan tangna, ada yang seukuran ceri, ada yang seukuran pepaya. Warnanya juga berwarna warni, entah ini perkebunan apa, dalam satu pohon semua buah berbentuk, berwarna dan berukuran beda.
“Anak itu mengambilkan tiga buah yang berukuran ceri berwarna hijau semua, dia memberikannya kepada Aditia untuk dimakan.”
“Ini buatku?” Aditia bertanya. Anak itu mengangguk, “terima kasih.” Aditia memakannya, satu buah, dua buah dan berhenti, anak itu buru-buru meminta Aditia memakan buah ketiga. Aditia menurutinya walau bingung.
“Kenapa aku harus makan buah yang seperti ceri itu ketiganya?”
__ADS_1
Anak itu menunjukan jari telunjuk. Lalu jari telunjuk, tengah dan jari manis bersamaan, lalu menunjukan kelima jarinya.
“Oh, maksudmu aku harus makan buah itu dengan jumlah ganjil?”
Gadis itu mengangguk.
“Kenapa?” Aditia bertanya lagi.
Anak itu tersenyum dan menarik Aditia kembali ke warung yang telah tutup itu dan beristirahat. Tapi bukan di bangku depan warung itu, melainkan dihalaman warung itu, walau tidak besar, tapi mereka bisa bersandar.
“Kita tidur di sini malam ini?” Aditia bertanya, waktu memang berjalan seperti biasa.
Aditia merasa pasti anak ini diperlakukan dengan kasar oleh kakaknya, makanya dia begini. Takut pulang. Lalu dia mulai berpikir keras, kenapa dia bisa ada di sini, kenapa dia tidak ingat sebelumnya dari mana, ataupun ingatan tentang keluarganya, Aditia ingat ayah dna ibunya serta Dita. Tapi kenangan tentang mereka kenapa tidak ada.
Sakit kepalanya mencoba mengingat, lalu dia akhirnya tertidur.
...
Pagi datang, tidak da kokok ayam, seseorang meneriaki Aditia.
“Hei pendatang! Bangun kau! ini tokoku, seenaknya tidur di sini.” Ternyata pemilik warung. Aditia bangun dan dia tidak melihat anak kecil itu lagi, apakah dia telah kembali ke rumahnya?
Aditia bangun dan meminta maaf, dia langsung kembali ke rumah anak itu dan mengetuk pintunya.
Perempuan berambut sangat panjang itu kembali membuka pintu.
“Kau lagi, siapa namamu?”
“Adikmu sudah pulang?”
“Ya, dia sudah pulang, sekarang dia sedang tidur, capek bermain katanya.”
“Boleh aku melihatnya?” Aditia merasa curiga, dia merasa tidak percaya. Jangan-jangan anak itu dipukuli oleh kakaknya.
“Tidak, kau mau ke kamar kami?!”
“Oh maaf. Aku hanya takut dia masih ketakutan.”
“Dia hanya suka mencari simpati orang saja. Namanya juga anak kecil, kau pasti juga tahu kelakukan adikmu kan? kau punya adik?”
Aditia menatap dengan bingung kepada perempuan itu. Adik ....
“Tidak, aku tidak punya adik.” Aditia mulai lupa memiliki adik, tapi ingatan tentang orang tua masih ada.
“Oh pantas kau tidak paham.”
“Orang tua kalian sudah meninggal?” tanya Aditia, dia kembali masuk ke ruang tamu dan disuguhi teh hangat serta kue basah.
“Tidak! masih ada kok, pasti anak itu lagi yang memberitahumu kan?”
“Iya, jadi dia bohong?”
“Ya, anak itu suka berbohong agar orang kasihan. Dia anak nakal.”
“Tapi dia sangat manis menurutku.”
“Kau orang baru, pendatang, mana tahu sifat aslinya. Terkadang yang kasar hatinya lembut dan yang terlihat baik hatinya busuk.”
“Pendatang, lalu aku datang dari mana?”
“Kau yang beritahu aku, kau darimana dan siapa namamu?”
“Aku? aku entah darimana, aku hanya ingat bertemu adikmu yang sedang menangis. Aku sama sekali tidak ingat kenapa aku bisa ada di sini.” Aditia terlihat kebingungan.
“Kalau begitu, tinggal di sini saja, soal makan aku bisa aturkan.” Yahnaweja menyisir rambut panjangnya sembari menggoda remaja itu.
“Tidak apa, aku bisa menumpang tidur di warung kosong sementara waktu sementara aku mengingat apa yang terjadi.” Aditia menolak.
“Di sini kau bisa hidup nyaman, asal kau mau bantu-bantu di sini. Tidak gratis.”
“Oh kalau bekerja aku mau, aku tidak suka menyusahkan orang lain.”
“Kalau begitu, kau mau tinggal di sini?”
“Ya, aku mau.”
Dug!!! Aditia merasa dadanya di pukul sangat kencang ketika mengatakan kesediaannya untuk tinggal bersama di rumah Yahnaweja.
“Kenapa?” Yahnaweja bertanya. Dia masih menyisir rambutnya dengan santai, seolah melihat Aditia kesakitan bukan hal yang membahayakan.
“Tidak, dadaku sakit rasanya.”
“Kalau begitu minum tehnya, itu bisa menghangatkanmu dan juga makan camilannya.”
“Iya terima kasih.” Aditia mengangkat gelasnya dan hendak meminumnya, saat dia gelas itu baru bertemu dengan mulutnya dan teh itu hendak masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba dia batuk karena mencium aroma busuk yang entah berasal dari mana.
“Kenapa?” Yahnaweja bertanya lagi.
“Tidak, maaf, saya hanya tersedak.” Padahal dia belum minum dan dia merasa mencium bau yang sangat busuk dari gelas itu. Padahal tadi saat disajikan, aroma teh sangat wangi melati, tapi kenapa sekarang malah bau busuk.
Aditia tahu ada yang tidak beres, makanya dia langsung pamit hendak ke sungai, dia mau minum air sungai saja yang segar dan terasa manis itu.
Aneh sekali, kenapa Aditia tidak ada pikiran untuk pergi, dia bahkan lupa kenapa dia ada di sini.
________________________________
Catatan Penulis :
Hari ini Insyaallah aku double up ya, up yang kedua nanti seperti biasa jam 11 malam ya. Selamat tahun baru semoga semua tetap bahagia dan tahun depan kita tetap bisa saling berinteraksi dalam karya-karyaku. Udah nggak sabar mau masuk ke karya baru, tapi masih mau tekunin AJP dulu.
__ADS_1