Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 513 : Mulyana 18


__ADS_3

“Yan! Jawab aku!” Nando berteriak dengan sekuat tenaga, masih saja Mulyana tak menjawab, Nando melepas pegangan itu, mundur dan berteriak tak karuan.


Mencari Mulyana.


“Hei! kau ke sini!” Suara berbisik itu yang hanya menjawab Nando, maka Nando akhirnya bersiap untuk mendekati suara itu, tapi sebelum dia berlari, tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseuatu, seseorang atau entahlah, tubuhnya ditarik dengan paksa dan ….


“Sudah kubilang jangan lepas aku!” Mulyana terlihat kesal, wakau wajahnya tidak terlihat, Nando tahu itu suara temannya.


“Kau tidak menjawab panggilanku lalu ada yang memanggilku, makanya kupikir mungkin kau bukan Mulyana, aku hanya ….”


“Kalau kau nyamperin suara itu, kau akan terjebak di sini selamanya!”


“Maaf Yan, tapi tadi aku tidak mendengar suaramu.”


“Aku juga tidak mendengar suaramu, kemungkinannya pasti karena telinga kita ditutup. Makanya, kita hanya bisa mengandalkan pada sentuhan, makanya jangan lepaskan peganganmu, sini mana tanganmu.” Mulyana lalu memegang tangan Nando.


Hening, tak ada suara lagi.


“Nando ….” Mulyana tiba-tiba berkata, tapi terdiam lagi.


“Kenapa Yan?”


“Kita cepat keluar, akan sangat bahaya jika kita di sini.”


Nando mengangguk, walau Mulyana tak bisa melihat anggukan itu, mereka lalu berjalan lagi, terus berjalan dalam kegelapan.



“Kemana adikmu!” Ibunya Sudah datang, Aep terlihat sangat khawatir, dia bahkan sangat berkeringat, karena sedari tadi mencari, tapi tak bisa melihat adiknya di manapun.


“Tadi dia bilang mau naik wahana kora-kora, lalu aku main yang lain, tapi setelah itu aku tidak bisa menemukannya sama sekali, aku tidak tahu dia di mana.” Aep terlihat panik.


“Kau jangan panik, dia akan baik-baik saja, kita pulang dan beritahu ayahmu, dia akan menemukan Mulyana lebih cepat dibanding kita, karena dia punya banyak pesuruh.” Ibunya lalu menarik Aep untuk pulang, sementara Aep keberatan, dia masih ingin mencari adiknya, sayang sekali, suasana sudah sangat sepi, tapi tak terlihat Mulyana sama sekali.


Akhirnya mereka sampai rumah, kebetulan Drabya ada di rumah, ibu lalu menceritakan apa yang terjadi, terkait hilangnya Mulyana.


“Tidak apa, kalian tak perlu khawatir, karena dia sedang menyelesaikan kasus, salahnya gegabah. Dia akan pulang segera.”


“Ayah, apakah ayah sengaja membiarkannya mencari jalan keluar sendiri?” Aep protes.


“Jangan berbicara seolah ini salahku, salahmu tak mampu menjaga adikmu, kau membiarkannya hilang.”


“Tapi aku tahu aku tak bisa berbuat apapun, sedang ayah! Ayah bisa mencarinya dengan bala bantuan mereka, pasukan ayah!”


“Pasukanku bukan pesuruh yang kau bisa seenaknya suruh-suruh, makanya kau juga harus tetap berlatih, walau kau bukanlah Kharisma Jagat, tapi kau bisa saja menjadi pemegang khodam.


Alih-alih berlatih, kau malah menikmati status manusia biasa, kau membiarkan adikmu menanggungnya sendirian.” Drabya memang cukup kecewa dengan keputusan Aep yang tak ingin memiliki kemampuan apapun, itu membuat apa-apa yang dilatih ayahnya menjadi sia-sia.


“Ayah aku mohon, aku mohon carilah Mulyana, aku takut dia akan celaka.”


“Dia takkan celaka, karena aku merasakan energi kuatnya, dia Kharisma Jagat, jadi jangan meremehkannya.”


“Ayah!”


“Sudah kembali ke kamarmu, ini bukan urusanmu, dia akan kembali. Itu saja yang perlu kau pegang.”


Aep menyerah, dia akhirnya masuk ke kamarnya, tapi hatinya tidak tenang, bagaimana bisa dia tenang, sedang adiknya di luar sana, entah di mana.


“Apakah dia akan bisa menyelesaikan kasusnya kali ini sendirian?” Drabya bertanya pada Abah Wangsa.


“Aku agak khawatir karena dia masuk ke dimensi lain, dia bersama anak itu, tidak seharusnya mereka masuk ke sana.”


“Siapa yang membawa mereka masuk ke sana?” Drabya bertanya.

__ADS_1


“Anak itu yang membawanya masuk ke sana.”


“Apakah Mulyana akan menyadari bahwa anak itu yang menjadi alasan?” Drabya bertanya laig.


“Kalau dia memang sepeka itu dan merupakan Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi, dia akan menyadarinya.”


“Apakah kita perlu membantunya?”


“Tidak, kita akan mengawasi dari jauh, kita harus melatihnya agar dia bisa menentukan keputusan dengan berbagai kondisi.”



Pagi tiba, Aep masih tidak tenang, dia tidak tidur sama sekali, dia hanya terus berpikir, ke mana adiknya, kenapa bisa menghilang, bahkan dia melewatkan waktu sarapan, hingga siang hari kemudian datang, Adi dan Rahman juga ikut datang, mereka main ke rumah Aep, sungguh kunjungan yang tidak disangka-sangka.


Aep menemukan kesempatan ini untuk segera keluar dari rumah, dia ingin mencari adiknya, karena untuk izin keluar, itu memang agak sulit dari keluarga ini, anak-anak itu memang dijaga ketat karena banyak alasan, salah satunya jodoh adat yang tidak dilestarikan oleh Drabya pada keluarganya.


“Bu, aku pergi bersama teman sekolah, ada PR yang harus kami kerjakan.” Aep lalu pergi tanpa mendengar balasan izin dari ibunya, ibunya berlari ke luar halaman rumah agar bisa membatalkan keinginan Aep, tapi terlambat, mereka bertiga akhirnya pergi ke taman terdekat setelah berlari dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


“Kenapa kita harus berlari sih?!” Rahman yang mulutnya seperti penggosip itu bertanya.


“Adikku hilang!”


“Hah? Mulyana hilang? di mana? Kapan? Kok bisa?” Adi terlihat sangat khawatir, Rahman si penggosip itu juga terlihat cemas walau tak bicara banyak seperti Adi.


“Semalam, dia dan aku berpisah, kami main di taman kota yang lagi ada wahana itu loh, dia naik kora-kora, aku main yang lain, lalu kami janjian akan bertemu di tempat ibu kami mengantar, tapi setelah waktunya tiba, dia tidak kembali, aku awalnya tidak terlalu khawatir, dia kalau main memang suka lupa waktu, tapi aku tunggu-tunggu sampai ibuku datang, dia tak juga kembali, akhirnya aku dan ibu berkeliling mencari dia hingga taman bermain itu tutup, Mulyana masih tak ketemu juga.” Aep menceritakan semua, mereka duduk di taman dekat rumah itu.


“Di taman kota itu ada gosip tentang penumbalan anak Ep, kita harus segera menemukan Mulyana, aku takut kalau ....”


“Rahman!” Adi kesal dan menegur Rahman, karena dia malah masih sibuk gosip.


“Kita cari sekitar taman kota itu Ep, kita cari dan tanya orang di sekitar sana, lagian kau ke sana kenapa tak mengajak kami? Kalau kita beramai-ramai kan pasti saling jaga.” Adi yang memang lebih dewasa terlihat sangat bijaksana.


“Itu mendadak, ayah tiba-tiba mengizinkan kami untuk ke sana, karena kita libur sekolah akibat anak yang menabrak kepalanya dengan pintu kelas kita itu.”


“Sudahlah, ayo kita cari dia sekarang.” Adi, Rahman dan Aep akhirnya pergi ke taman bermain itu dengan naik angkot, untung Aep selalu  bawa uang di kantong celana.


“Kita harus berjalan sampai kapan, Yan?” Nando bertanya pada temannya. Tangan mereka masih saling menggenggam.


“Aku juga tidak tahu, tapi kita harus keluar dari sini.”


Mereka berdua terus berjalan dalam kegelapan, mendengar banyak suara dan langkah kaki yang kadang terasa sangat dekat. Mengenai suara-suara itu, terkadang suara itu terdengar seperti suara cekikikan, kadang terdengar seperti suara mengaum dan kadang terdengar seperti suara berdehem, sungguh ramai di tempat gelap ini.


“Yan, aku takut.” Nando semakin mendekat pada Mulyana, kedua tangannya juga menggenggam lengan Mulyana.


“Apa yang kau takuti Ndo?” Mulyana tiba-tiba berhenti melangkah.


“Ya ini lah, gelap ....”


“Kalau aku yang ... antar mau?” Mulyana berkata dengan hati-hati.


“Kemana?” Nando bertanya.


“Ke tempatmu.” Mulyana menjawab, tubuhnya sudah berbalik, menghadap Nando.


“Ke mana itu?” Nando bingung.


“Kalau kau masih tidak ingin ... ‘pulang’ kita mungkin akan terjebak selamanya di sini.”


“Kok bisa begitu? bagaimana dengan ibuku?” Nando tiba-tiba histeris menangis.


“Kau sudah terlalu lama di sini, sudah berapa lama? Tanganmu dingin sekali.” Mulyana menyadari bahwa Nando bukanlah apa yang dia sangkakan selama ini setelah dia menggenggam tangannya. Karena selama ini, mereka tidak pernah saling bersentuhan, jadi Mulyana tak paham.


Mulyana lalu mengeluarkan sebuah lilin, lilin yang selalu dia bawa kemana saja, lilin yang dulu saat dia masih kecil pernah menerangi jalannya di dunia bawah, lilin yang merupakan senjata satu-satunya yang Drabya berikan pada kasus pertama Mulyana.

__ADS_1


Setelah dia menyalakan lilin yang tidak perlu pemantik untuk menimbulkan apinya, hanay perlu satu jentikkan jari dari Mulyana, karena itu memang bukan lilin biasa, maka terlihatlah, terlihatlah Nando dalam wujud yang sangat ... nyata.


“Apa yang kau rasakan sekarang Nando?” Mulyana bertanya.


“Dingin.”


“Coba mendekat pada lilin ini.”


Nando mendekat dan mengarahkan tangannya pada lilin itu, “Tidak terasa apapun!” Nando histeris.


“Kau tahu? Tidak ... kau ingat di mana rumahmu?” Mulyana tiba-tiba bertanya.


“Aku ....”


“Kau ingat makanan apa yang kau makan sebelum kau menemuiku tadi?” Mulyana bertanya lagi.


“Makan? aku makan ....”


“Kau ingat pagi ini terbangun dan sarapan dengan keluargamu? kalau ya, pakai baju apa ibumu?” Mulyana kembali bertanya, “dia masak apa untukmu dan keluargamu? apa kau ingat rasa masakannya?”


“Kenapa kau bertanya begini, kenapa kau memaksaku menjawab? Lalu kenapa tak ada satu pun yang kuingat?!” Nando menangis, dari cahaya lilin itu wajah Nando yang pucat dengan bekas darah pada kepala yang mengering dan baju lusuh serta kaki tanpa alas akhirnya terlihat.


“Nando temanku yang baik ... kita sudah beda alam.” Mulyana ikut menangis, dia ingin memeluk Nando, tapi sayang, Nando tiba-tiba hilang, dia menghilang tanpa jejak.


“Oh tidak! dia pasti tertidur lagi!” Mulyana meniup lilinnya dan sekarang dia sudah berada di perpustakaan itu lagi, di mana tadi dia berada untuk membaca bukunya. Tapi ada yang berbeda, ini sudah bukan malam, tapi ini siang, ada beberapa orang yang sibuk membaca buku, kehadiran Mulyana yang tiba-tiba tidak mengusik siapapun karena memang tidak ada yang peduli.


Mulyana lalu berlari ke luar, tentu lewat pintu biasa, bukan lewat pintu saat dia masuk malam sebelumnya, setelah keluar, dia berlari terus untuk pulang.


“Mulyana!” Suara Aep terdengar, mereka bertemu di jalan.


Mulyana terdiam dan sadar itu kakaknya.


“Kau ini dari mana saja! Kami mencarimu, kau hilang semalam!” Aep kesal tapi yang terpenting adalah adiknya kembali.


“Apa kalian kenal Nando?” Mulyana bertanya tiba-tiba tanpa menjawab kakaknya.


Mendengar nama itu, Rahman dan Adi mundur.


“Da-da-dari mana kau tau nama itu?” Rahman bertanya dengan suara yang bergetar.


“Aku bertanya sekali lagi, apa kalian kenal Nando?” Mulyana terburu-buru sedang Rahman dan Adi kurang kooperatif.


“Tidak aku tidak ....”


Mulyana tiba-tiba mendekati dua teman sekolahnya, menepuk dua bahu sebelah kiri temannya sambil membaca mantra.


“Kau menggendam mereka!” Aep baru sadar.


“Bawa mereka ke tempat sepi, aku perlu penjelasan!” Aep melihat Mulyana sudah dalam sikap serius, tidak berani membantah, pasti ada alasan, makanya dia akhirnya patuh, mereka membawa Adi dan Rahman ke tempat yang lebih sepi, yaitu belakang gedung perpustakaan, sebuah gang yang jarang di lalui.


“Siapa Nando?” Mulyana bertanya lagi, Rahman yang terdiam akhirnya mulai bicara ....


____________________________________


Catatan Penulis :


Mau kasih tahu aja, ada yang berhasil nebak kalau Nando bukan manusia, akunnya aku sertakan di bawah ya, selamat! Aku mau kirimin kamu sweater AJP, kirim alamat rumahmu ya ke DM instagram aku, nanti aku kirim, ongkir aku yang tanggung.


Buat yang lain aku tahu kalian curiga pada Nando, tapi tak ada yang menjawab sejelas akun di bawah ini. Ayo dong lebih berani jawab, jangan takut, jawab aja, siapa tahu bener.


Kalau kalian baca AJPnya hati-hati, harusnya kalian sadar kalau Nando tidak pernah berbicara dengan siapapun kecuali dengan Mulyana, walau dia selalu berkumpul dengan teman-teman, tapi dia tak pernah berinteraksi langsung dengan semua orang, dia hanya bicara dengan Mulyana. Kalau tidak percaya, silahkan balik lagi ke part awal Mulyana sekolah sampai sekarang, maka kalian akan sadar, Nando tak pernah berbicara dengan siapapun kecuali dengan Mulyana. Karena memang tak ada yang melihat dia, selain Mulyana.


Ok, soal Nando udah ketahuan ya, sisanya siapa sih perempuan yang menubruk kepalanya di pintu sekolah? next part ya.

__ADS_1


Untuk akun ini silahkan DM aku alamatmu.



__ADS_2