Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 329 : bangga 7


__ADS_3

“Ini hari kedua, bisa nggak pada serius, kita harus dapat jawabannya, jangan terlalu lama di sini.” Alka mengingatkan sebelum mereka semua keluar dari angkot. Beberapa orang bertanya, kenapa para guru yang terlihat berada ini memakai angkot sebagai kendaraan mereka. Lalu Aditia menjawab, karena angkot ini peninggalan ayahnya dan yang lain belum punya mobil. Untuk semua orang percaya.


“Iya, aku janji.” Aditia menjawab, yang lain juga bersiap, ini benar-benar menegangkan dibanding pertarungan dengan jin di hutan kemarin.


Mereka masih di dampingi Ibu Erika, begitu masuk kelas, aura kebencian muncul dari tatapan anak-anak itu, pertarungan kemarin masih membekas.


“Baik, sekarang ketua kelas boleh memimpin untuk salam pagi ya.” Ibu Erika meminta ketua kelas untuk mengucapkan salam pagi, karena ini sekolah islam, maka salam paginya dimulai dengan Assalamualaikum, membaca doa belajar dan diakhiri dengan hamdallah. Semua anak mengikuti dengan antusias.


Setelah itu Ibu Erika menyambung dengan pelajaran membaca. Karena pada jaman ini, anak-anak TK sudah mulai diperkenalkan huruf vokal dan cara membacanya.


Sementara Ibu Erika sedang mengajar, yang lain menyebar dan memperhatikan semua anak.


“Diperhatiin ya gurunya.” Ganding mencoba berinteraksi dengan salah satu anak.


Anak itu menatap Ganding dengan tatapan tajam, masih dendam dengan kejadian kemarin.


“Sekarang semuanya mulai menulis yang ibu tulis di papan ya, di dampingi ibu dan bapak guru ini.” Ibu Erika kembali memberikan waktu pada anak-anak itu untuk mengenal kawanan.


Mereka kembali mendekati anak-anak itu, Aditia telah berjanji pada dirinya untuk lebih bersabar.


Aditia mendekati anak kemarin lagi, dia memang bukan orang yang sabar dan bijak, tapi dia adalah orang yang sungguh-sungguh. Aditia mendekati anak perempuan kemarin lagi.


“Kamu bisa nggak?” Aditia bertanya, anak itu menatap Aditia dengan kasar.


“Kakak liatin boleh?” Aditia mendekati anak itu dengan mengubah panggilan menjadi kakak, dia ingin anak itu merasa dekat.


“Nggak usah Pak, aku bisa.” Anak itu menolak.


“Liatin aja boleh dong, panggilnya kakak aja.”


“Nggak mau, nggak sopan panggil guru kakak.”


“Nggak apa-apa ini rahasia kita berdua aja.”


“kok aku dipaksa?” Anak itu mulai resah lagi.

__ADS_1


“Nggak maksa, cuma supaya kamu sama aku bisa belajar bareng aja.”


“Kamu kan udah gede, kok masih mau belajar.”


“Ih, belajar mah sampai mati.  Nggak bisa berhenti, tau.”Aditia kembali mendekati anak itu dengan cara interaksinya pada Dita, adiknya. Dia ingin anak kecil perempuan ini merasa bisa mempercayai Aditia.


“Lama banget Kak, masa belajar sampe mati, mama dan papaku aja sekarang udah nggak belajar lagi, makanya kalau aku tany PR, katanya tanya guru aja, soalnya mama dan papa udah nggak belajar lagi, jadi nggak bisa nemenin.”


“Oh, itu karena mama dan papamu itu sekarang lagi  bekerja, itu juga bagian belajar, cuma dapet uang belajarnya.”


“Oh, kalau udah gede, belajarnya dapat uang?”


“Iya begitu.”


“Aku mau cepet gede ah, biar bisa dapat uang banyak.”


“Emang uang banyaknya buat apa?” Aditia bertanya.


“untuk Fani, anaknya mbak yang jagain aku, kalau mama sama papa beli mainan, Fani nggak dikasih, tapi aku nggak mau pinjemin, soalnya kan aku juga suka, tapi kalau punya uang banyak, aku bisa beliin Fani mainan yang sama juga, jadi mainnya bareng.” Sungguh pemikiran yang masih sangat bersih sekali, dia tak ingin mengalahkan keinginannya bermain, tapi masih memiliki empati yang tinggi.


“Oh , kamu baik ya ternyata, emang Fani jarang dibeliin mainan?”


“Yaudah belajar yang bener makanya, biar nanti kamu bisa banyak uang pas udah gede karena belajarnya dapat uang juga.”


“Tapi emang bener, kalau udah gede, belajarnya dapat uang?”


“Iya, makanya sekarang belajarnya yang sungguh-sungguh, biar pas gede bisa belajar dapat uang.”


“Iya Kak, makasih ya, tapi ... sungguh-sungguh itu apa ya?”


“Yaaaa ... sungguh-sungguh itu, kamu harus belajarnya serius, nggak bolong-bolong, nggak banyak main.”


“Oh kalau itu aku bisa, aku kan suka belajar.” Anak itu terlihat optimis.


“Kalau begitu sekarang mau diajarin Kakak?”

__ADS_1


“Iya mau kok.” Aditia mendapatkan hatinya dengan cara yang bijak. Alka melihat itu dari jauh dan tersenyum, Aditia sudah bisa menaklukan anak.


Hari terus berjalan, berganti menjadi minggu, semakin hari kawanan semakin mahir menangani anak-anak itu dengan baik, bahkan sejak kedatangan kawanan anak-anak mulai lebih tenang, bahkan Ganding telah mendapatkan kepercayaan anak yang istimewa, dia jauh lebih mampu menangani anak itu, seperti hari ini, setelah sudah dua minggu lebih mereka bergaul dengan anak-anak itu.


“Jadi sekarang udah paham ya, kalau kamunay capek, jangan dipaksa, belajar harus buat kamu senang, bukan maksa, kalau udah sakit matanya, ya harus berhenti dulu.” Ganding bersama anak dengan autisme itu.


“Iya Pak.” Anak itu menjawab tanpa menatap mata, salah satu hal yang sulit dilakukan oleh anak penyandang autis.


“Kamu selain suka baca buku, suka apalagi?” Ganding bertanya, setiap malam kawanan mereview apapun yang mereka dapatkan dari anak-anak ini dan pertanyaan Ganding pada anak ini belum pernah ditanyakan, makanya dia bertanya.


“Aku suka makan ayam goreng dan kentang goreng, tapi nggak boleh, karena aku harus diet, kata Dokter, aku nggak boleh kebanyakan terigu, karena nggak bagus bu penyakitku, jadi aku makan ayam goreng tepung dan kentang gorengnya satu minggu sekali.”


Ganding menatap anak itu dengan sedih, karena dia sudah melakukan observasi sebelum mendekati anak ini, anak autis tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula, susu, tepung terigu dan gandum, karena kandungan pada makanan tersebut dapat berubah menjadi zat morfin pada tubuh anak autis, lalu serangkaian zat tersebut tidak mampu diserap oleh anak autis, akibat tidak terserapnya zat tersebut, maka zat tersebut masuk ke dalam aliran darah dan akhirnya akan merusak jaringan saraf.


Berbeda dengan anak normal yang dengan mudah menyerap zat pada makanan-makanan itu, maka tidak akan ada efek samping yang berarti. Itu makanya anak autis ini harus diet makanan yang zatnya tidak dapat diserap tubuh itu.


“Kamu sedih nggak bisa makan yang kamu suka ya?” Ganding bertanya lagi.


“Iya, aku maunya makan banyak, tapi kalau udah banyak nanti aku kambuh.” Orang tua anak ini sunggu hebat, karena mampu membuat anaknya disiplin, walau begitu ingin makan, tapi karena sudah dilatih sejak umur dua tahun untuk diet makanan yang berbahaya bagi tubuh autisnya, makanya dia mampu mengendalikan diri dengan baik dibanding anak-anak autis lainnya.


Tidak heran anak ini bisa masuk sekolah regular, bukan sekolah khusus anak berkebutuhan khusus, itu pasti karena kerja keras orang tuanya yang mendisplinkan anaknya.


“Kamu tuh hebat tahu, karena kamu bisa tahu mana yang baik dan nggak buat badan kamu, itu temen-temen kamu makannya nggak dijaga, tapi kamu hebat bisa disiplin, orang tua kamu pasti bangga sama kamu.”


“Emang iya? Soalnya mama sama papaku nggak pernah bilang bangga, aku cuma dilarang sama diancam-ancam, kalau aku nggak nurut dietku, nanti aku nggak punya teman.” Wajahnya terlihat sedih walau saat ini dia tidak menatap Ganding.


“Itu namanya bangga, karena kamu nurut apa yang mereka bilang, cuma kan nggak diucapin aja, setiap hari mama sama papa selalu ada buat kamu kan? kasih tahu kamu nggak boleh ini itu, trus pastiin kamu sehat, itu karena mama dan papa takut kamu sakit, kalau kamu sakit, mereka pasti sedih.”


“Bisa juga sih begitu, soalnya kalau aku kambuh, mama suka nangis, tapi aku masih nggak bisa berhenti marah kalau lagi kambuh, maunya mukul aja.”


“Tuh kan, berarti mama tuh sayang dan bangga, kalau kamu nurut dan ikutin dietnya kamu, kamu memang berbeda dari anak lagi, tapi bukan berarti lebih buruk, kamu itu unik aja.”


Anak itu tersenyum, mungkin karena jarang ada yang bilang padanya bahwa dia itu anak yang membanggakan, orang tua mereka sibuk mengusahakan pengobatan terbaik, tapi lupa bahwa jiwa mereka juga butuh diobati, diyakinkan dan dikuatkan, bahwa mereka anak yang hebat walau berbeda.


“Kamu janji ya, harus terus belajar dengan baik.”

__ADS_1


“Iya Pak.” Anak itu menjawab dengan ramah.


Hari ini mungkin hari terakhir kawanan akan berada di TK ini, karena besok mereka akan digantikan oleh jin yang menyerupai untuk menggantikan, sudah dua minggu dan mereka harusnya sudah selesai berlatih dan ke medan perang sebenarnya.


__ADS_2