Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 371 : Toko Emas 1


__ADS_3

“Beli di sana aja.” Amanda berkata pada ibunya, dia ingin menghadiahkan kalung emas pada ibunya, karena sedang berulang tahun.


“Kenapa di sana, yang langganan ibu aja,  kalau dijual lagi, potongannya kecil,” ujar ibunya.


“Emang ibu aku beliin buat dijual lagi?” Amanda terlihat kesal dengan perkataan ibunya.


“Siapa tahu besok-besok kamu butuh uang mendadak, kan bisa jual lagi kalungnya.”


“Enak aja, aku beli buat ibu, nggak akan aku ambil lagi.” Amanda akhirnya menarik tangan ibunya dan pergi ke toko emas yang paling belakang di pasar ini.


“Ci, mau kaling yang 5 gram ya, yang di mana tuh kalungnya?” Amanda bertanya.


“Oh yang 5 gram di sini.” Wanita paruh baya yang merupakan pemilik toko emas itu menunjuk salah satu etalase yang menyimpan beberapa baris kalung emas yang beratnya 4 sampai 5 gram.


“Yang ini nih bu, ayo pilih.” Amanda terlihat bersemangat, maklum, baru kali ini dia bisa membelikan ibunya perhiasan, dia baru bekerja di perusahaan tempat dia bekerja sekarang ini selama 1 tahun dan selama 1 tahun itu, dia menabung untuk membelikan ibunya perhiasan, tepat pada hari ulang tahun ibunya, Amanda berhasil mengumpulkan uang itu, makanya dia sangat senang.


Ibunya adalah seorang single parent, dia merawat Amanda dan kakaknya seorang diri. Ayahnya hilang saat sedang mencari ikan di laut bersama tiga orang lainnya, pekerjaan ayahnya Amanda memang seorang nelayan, tiga orang yang hilang bersama ayahnya adalah orang yang dipekerjakan ayahnya untuk bersama mencari ikan di laut.


Padahal dulu kehidupan mereka sangatlah berkecukupan, karena ayahnya Amanda mampu menafkahi keluarga dengan sangat baik, rumah mereka besar, mobilnya ada dua, ibunya punya banyak perhiasan dan semua kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan sangat baik, bahkan berlebihan.


Tapi itu semua habis setelah ayahnya Amanda hilang di laut bersama 3 orang nelayan lainnya yang dipekerjakan ayahnya Amanda.


Perahu mereka yang cukup bagus, juga tidak tahu di mana rimbanya.


Polisi dan juga TNI sudah ikut mencari, tapi nihil, mereka tidak diketemukan, tidak jasadnya, bahkan perahunya juga.


Saat itu Amanda baru duduk di bangku SMP, sedang kakaknya duduk di bangku SMA.


Untuk mencari ayahnya, ibunya mengeluarkan uang yang cukup banyak, awalnya 1 mobil dijual, walau tidak ada hasil, ibunya tidak menyerah, dia akhirnya menjual mobil ke dua untuk mencari ayahnya Amanda, tapi tetap tidak diketemukan.


Setelah 1 tahun pencarian dan membuat 2 mobil serta perhiasan ibunya ludes, akhirnya ibunya Amanda menyerah, dia tidak lagi mengusahakan mencari suaminya lagi.


Sisa harta yang dia punya hanya rumah yang saat ini sedang mereka tempati, rumah itu cukup besar tapi biaya yang mereka butuhkan untuk merawat rumah, pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari sangatlah besar. Maka akhirnya, ibunya Amanda  memutuskan menjual rumah besar itu, lalu membeli rumah yang lebih kecil, rumah hanya dua kamar cukup untuk mereka, Amanda dan ibunya tidur bersama sedang kakak laki-lakinya tidur di kamar satunya lagi.


Mereka memberi pesangon seadanya pada dua orang pembantu  dan satu orang supir yang tidak lagi mereka bisa gaji.


Sisa uang penjualan rumah yang sangat besar itu, ditabung untuk kuliah kakaknya Amanda, ibunya berharap, setelah kakaknya lulus kuliah dan bekerja, maka dapat membantu adiknya untuk kuliah.


Tapi sayang, harapan tinggal harapan, kakaknya Amanda sudah lima tahun berkuliah belum juga lulus, sebenarnya Amanda jauh lebih cerdas dibanding kakaknya, tapi ibunya percaya bahwa kakaknya mampu lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, sayang kakaknya Amanda tidak bisa memenuhi harapan ibunya, malah selalu menyusahkan ibunya yang harus pontang-panting kerja untuk membiayai kuliahnya yang tidak kunjung selesai.


Amanda yang sudah lulus SMA juga terpaksa tidak melanjutkan kuliah karena tahu ibunya takkan sanggup tetap menguliahkan mereka berdua.


Maka akhirnya dia mengalah dan bekerja di perusahaan retail yang banyak tersebar di daerah itu sebagai kasir.

__ADS_1


Amanda sekolah di SMK, dia sangaja sekolah di SMK agar begitu lulus sudah punya skill yang mumpuni untuk bekerja, maka dia membuktikan pada ibunya, bahwa dia bisa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai kasir.


Setelah satu tahun bekerja, dia sekarang bahkan sudah bisa membelikan ibunya kalung emas yang selama ini ingin sekali dia belikan, karena tahu, dulu ibunya selalu memakai perhiasan ketika ayahnya masih ada dan uang bukan sesuatu yang sulit dimiliki seperti sekarang ini.


“Yang ini aja, bagus.” Ibunya menunjuk suatu kalung yang belum ada bandulnya, kaling itu berantai cukup besar-besar dengan berat tidak sampai 5 gram.


“Ini Ci, coba liat dong.” Amanda menunjuk kalung itu dan penjual emas itu langsung mengambil kalungnya dan memberikan kalung itu pada Amanda.


“Bagus Bu, lihat deh.” Amanda mengambil kaca yang ada di atas etalase emas itu, ibunya terlihat sangat senang, karena ini emas pertama kali dia miliki setelah keadaan keluarga mereka kesulitan uang.


“Iya bagus Man, suka ibu.”


“Kalau begitu, pilih bandulnya bu.”


“Yang biasa ajalah bandulnya, jangan yang terlalu mahal,” ibunya berbisik.


“Tenang aja Bu, Manda udah siapin uangnya, jadi ibu pilih aja yang ibu suka, ya?” Manda lalu menarik ibunya untuk mencari bandul yang cocok untuk kalung itu.


Setelah melihat beberapa bandul yang harganya tidak terlalu mahal, ibunya memilih bandul paling murah dan mengatakan kalau dia sangat suka bandul itu, Amanda percaya, kalau ibunya memang suka, makanya dia membayar kalung dan bandul itu, setelah dibayar, mereka pulang ke rumah dengan menaiki angkot. Naik angkot adalah kebiasaan yang mereka lakukan jika ingin berpegian, walau dulu mereka selalu berpergian dengan mobil dan ibunya menyetir sendiri, tapi sekarang mereka harus pergi dengan menumpang kendaraan umum, bahkan jika sedang berhemat, mereka berjalan kaki ketika harus ke pasar.


“Bu, bagus ya.” Amanda mengagumi kalung yang sekarang sudah ada di leher ibunya.


“Kalau Manda suka, nanti Manda bisa pake kalungnya, kita pake bareng aja ya, Nak.”


“Manda, jangan gitu, dia kakakmu, kamu harus hormat padanya, kelak kalau dia sudah bekerja enak, maka dia akan membiayai kuliahmu, sementara itu, kamu haru sabar dulu ya.


“Aku nggak yakin sih Bu, dia bakal kerja dan membantu Manda, dia itu pelit dan tidak sayang Manda.”


“Nggak kok, dia sayang banget sama Manda, cuma Manda tidak pernah kasih kesempatan  untuk kakak bantu Manda.”


“Bu, Manda bisa kok cari uang buat kuliah, kalau emang berat banget kuliah, manda tidak usahlah kuliah, biar begini saja.”  Ibunya terdiam, sementara mereka masih di angkot untuk pulang.


Mereka sudah di rumah, kakanya masih terlelap tidur, padahal waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Tapi aneh, sarapannya sudah habis.


“Kalau udah bangun, beberes kenapa sih Kak, nggak kasian sama aku sama ibu?” Amanda terlihat kesal, karena rumah masih berantakan, cucian piring masih kotor sementara kakaknya masih bisa tidur lagi setelah makan.


“Emang lu pikir gue pembantu? Nggak usah sombong lu, kurang ajar banget mulut lu, masa nyuruh-nyuruh kakaknya buat beresin rumah! Udah kaya lu, mau babuin gue?” Kakaknya terlihat kesal, Amanda menyentuh harga dirinya sebagai seorang lelaki, budaya patriarki yang melarang lelaki mengerjakan pekerjaan rumah, memang masih kental di negara kita ini, ilmu parenting di desa ini juga takkan mampu membuka mata para ibu yang tetap memegang teguh budaya patriarki tersebut, di mana lelaki adalah pemimpin dan menjadi sentral dari masalah rumah tangga.


“Udah-udah ya, kamu mandi gih, kan barung bangun bukan?” Ibunya berkata dengan lembut.


“Ibu bisa nggak didik anak kayak gini yang benar? Lihat mulutnya, sudah kurang ajar, padahal hanya bekerja sebagai kasir saja sudah sombong.


“Kalau kau bisa bekerja lebih dari aku, kau buktikan, walau belum lulus, kau bisa mengguanakn trasnkrip nilai sebagai acuan bukan? tapi kenapa sekarang kau tetap nganggur dan tidak bekerja? Kau malas kan?” Amanda semakin mengejeknya.

__ADS_1


“Bicara apa kau, kurang ajarmu sudah di ujung kepala? Aku juga takkan mau ditawarkan sebagai kasir, gaji kecil kalau hilang brang ikut mengganti, aku akan bekerja di kantoran, kau tunggu saja!” Kakaknya terlihat marah dan akhirnya pergi ke luar.


“Ibu, jangan bela kakak lagi ya! dia harus sudah mulai dewasa, dia harus memikirkan kuliahnya dulu, dia lupa bagaimana berdarah-darahnya ibu ngumpulin uang buat dia kuliah, mau sampai kapan ibu manjain dia!” Amanda kesal pada ibunya.


“Manda, kau harus lebih pengertian pada kakakmu, dia itu tidak bisa kuliah dengan benar pasti karena kepikiran ayahnya.  Maka kau harus maklum.” Ibunya menasehati.


“Bu, kalau dia bisa hargain kita sebagai keluarga, aku tentu takkan terlalu keras padanya, dia terlalu banyak menghayal dan merasa keuangan kita baik-baik saja. Makan di sana-sini sama teman-temannya, ikut jalan-jalan terus bersama gengnya, lalu terakhir, sibuk membayari perempuan-perempuan incaran dia untuk makan dan nonton di bioskop!


Itu sangat menyebalkan Bu, sementara kita pontang-panting cari uang untuk membiayai kehidupan kita, dia bisa aja sibuk habisin uang dan malas di rumah.


Ibu tidak capek jadi kuli cuci? Kadang bantu catering hajatan, sungguh lelah bukan, bu? Uang itu untuk kebutuhan kakak, tapi uang itu bahkan selalu kurang baginya, hingga ibu harus menambah majikan untuk cuci gosok.


Sungguh geram hati ini, Bu. Kau harus tegas ya.”


“Tapi, kakakmu hatinya lembut, ibu tidak ingin dia tersinggung. Dia juga kehilangan ayahmu dengan hebat, karena dulu ayahmu adalah panutannya.”


“Bu! Dia bahkan berteriak padaku di depan orang, lembut bagaimana hatinya, dia itu sengaja terlihat lemah di mata ibu, agar ibu luluh, masa aku anak perempuan lebih tangguh dibanding dia!”


“Sudahlah Amanda.” Ibunya lalu berjalan ke arah dapur, saat dia berjalan dan membelakangi Amanda, Amanda langsung berteriak.


“Bu, sebentar!” Amanda mendekati ibunya yang telah berjalan hedak ke dapur tadi, jarak mereka sekitar lima kaki.


“Kenapa Manda?” Ibunya kaget dan hendak berbalik, tapi Amanda berteriak minta ibunya tetap pada posisi membelakanginya.


“Bu, kenapa leher bagian belakangmu ini membiru?” Amanda bertanya, karena leher itu terlihat membiru dengan tegas, pada bagian tengkuk.


“Hah?” Ibunya bingung.


“Ini sakit nggak?” Manda menekan bagian biru ditengkung ibunya itu.


“Sakit Nak!” Ibunya sedikit loncat saat tengkuknya ditekan.


“Sakit Bu? Ibu kenapa? sini Amanda kasih minyak tawon biar nggak sakit lagi.”Amanda mengambil minyak tawon di kamarnya lalu kembali kepada ibunya dan hendak mengoles minyak itu tapi ....


“Loh, mana lebamnya?” Amanda bingung karena lebam itu hilang, bidang tengkuk itu tidak lebar, jadi harusnya Amanda tidak salah lihat. Tapi lebam ini benar-benar hilang.


“Bu, sakit nggak?” Amanda mencoba tekan-tekan lagi bagian tengkuk itu, di tempat yang menurutnya sama di mana tadi dia menekan bagian itu juga dan ibunnya merasa sakit.


“Nggak Manda, nggak sakit lagi.”


Manda terdiam dan bingung, apakah tadi Manda salah liat?


Ibunya lalu pergi ke dapur dan hendak mencuci piring, sementara Manda memutuskan untuk membersihkan rumah sebelum pergi kerja nanti, karena dia sekarang shift siang.

__ADS_1


__ADS_2