Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 506 : Mulyana 11


__ADS_3

“Tapi jelaskan padaku, siapa sosok wanita itu, lagian, kambingmu tidak mati sia-sia, kambingmu itu membuat aku mampu memanah sosok wanita itu tepat di dadanya, aku lihat dia lemah karena itu.” Mulyana menyombongkan diri.


“Kau mau kita berdebat soal kambing sampai kapan?” Drabya sekarang yang kesal.


“Kau yang mulai!” Mulyana tak mau kalah tapi dia lalu membereskan semua peralatan ritual, penjelasan tetap menjadi hutang yang harusa ayahnya jelaskan, karena dia yakin, ayahnya tahu tentang wanita buruk rupa itu sejak awal.


...


Drabya dan Abah sudah memulangkan semua ruh tersesat termasuk ruh wanita itu, wanita yang menjadi dalang dari begitu banyaknya kejadian kecelakaan yang menimpa hewan dan tuannya di jalan itu. Kejadian yang membuat begitu banyak orang dan hewan yang mati dengan sia-sia dan menjadi ruh penasaran.


Mulyana menunggu ayahnya hingga pagi tiba belum datang juga, karena memang begitu banyak ruh yang harus dia pulangkan, termasuk ruh binatang yang tak punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan dosa apapun, karena mereka binatang, tapi ruh, tetap harus dipulangkan agar tidak membuat kegaduhan kelak.


Dunia bawah menjadi tentram lagi, tanpa pengganggu semacam itu, karena para jin, juga tidak suka mengganggu, mereka punya kehidupan sendiri dijalani, hanya pada jin usillah yang akhirnya mengganggu manusia.


Setelah senja, ayahnya pulang, Mulyana yang sudah menunggu ayahnya begitu lama, akhirnya semakin tidak sabar, bahkan tak memberi kesempatan ayahnya untuk mandi dan makan.


“Bisakah aku makan dan mandi dulu?” Drabya memberi perkataan sarkas agar anaknya paham untuk bersabar.


“Maaf ayah, aku hanya tidak sabar saja.” Sikap kekanakkan masih melekat erat pada diri Mulyana, bukankah seorang anak kecil pada dasarnya memang tidak sabaran?


“Kau terlalu gegabah Yan, ayah terlihat lelah, biarkan dia istirahat dulu.” Aep berkata menasehati, karena dia melihat jelas ayah kelelahan.


“Iya aku salah.” Mulyana lemas dan kembali ke kamarnya, membaca buku yang sedang dia selesaikan, sebuah buku tentang dunia ghaib yang ayahnya beri untuk dia baca.


Aep menyusul.


“Pasti kemarin sangat menyenangkan, kau terlihat tak sabaran untuk mendapat penjelasan.” Aep sudah tahu keseluruhan cerita, Mulyana selalu terbuka pada kakakknya, tapi sekarang kakaknya tidak terlalu sering menyentuh dunia ghaib, karena dari awal memang tidak tertarik, Aep hanya project salah paham saja.


Drabya meyangka, Abah pasti memilih anak sulung untuk dijadikan tuan selanjutnya, jadi Drabya mempersiapkan Aep untuk menggantikannya, Drabya lupa, bahwa Mulyana juga hitungannya anak sulung dari rahim yang lain.


Tapi sekarang setelah Abah dengan jelas menunjukkan siapa yang dia inginkan untuk dijaga kelak, Drabya tak terlalu memaksa Aep, walau Aep lebih tenang dan sabar, tapi Mulyana tidak dapat ditandingi kekuatannya, tubuhnya bisa lepas raga pada umur sekecil itu, hanya orang yang sangat tinggilah yang mampu memiliki ilmu seperti itu.


Kelak Mulyana akan seperti Aditia, menjelajah dunia Ayi Mahogra sebelum Seira Adam Hanida, Ayi yang menikah dengan Pangeran lalu menjadi Raja, nenek moyang keluarga Mulyana.


“Kenapa kau tidak ikut kita sih, Kak?” Mulyana protes.


“Kata ibu aku harus belajar, kau tahu kan, ibu ingin kita kuliah, kau juga pasti akan dipaksanya belajar setelah ayah selesai melatihmu, ibu bilang percuma gelar ghaib kalau tidak sekolah tinggi. Lagian, aku lebih suka belajar ilmu akademis dibanding mempelajari ‘mereka’.” Aep realistis, sedari kecil dia ingin sekali menolak, walau terpaksa harus mengikuti kemauan ayahnya, tapi sebenarnya dia tidak suka hal-hal klenik begitu.


“Tapi aku berbeda, aku suka sekali dengan hal ghaib.”


“Apakah ini anak yang sama yang ketakutan masuk ke gudang ghaib ayah?” Aep mengejek, Mulyana terlihat berbeda sekarang, dia menjadi sangat berani.


“Itu kan dulu, kau kan sudah kuceritakan tentang dunia bawah, aku bertemu banyak makhluk loh dan aku berani, oh ya, belum lagi ketika aku lepas raga pertama kalinya, kata ayah aku mahir melakukannya.”


“Iya adikku yang sangat hebat ini, sekarang kau baca buku dulu, nanti kita makan malam, setelah itu, kau dan ayah bisa berbincang tentang penjelasan dunia bawah itu.” Aep berkata sambil mengusap kepala adiknya, entah kenapa, Aep merasa bahwa, dia dan Mulyana tidak akan pernah menua bersama, hanya perasaan seorang kakak yang mampu merasakannya.


Makanya dia selalu memperlakukan adiknya dengan baik dan cenderung mau berkorban, kecuali ayah yang minta Aep untuk diam dan tidak membantu.


Aep merasa bahwa, hidup Mulyana akan sangat berat kelak, makanya sebagai kakak, dia ingin memberikan kenangan yang manis tentang masa kecil padanya.


“Kau tidak ikut kak? Kau tak mau dengar ceritanya?” Mulyana bertanya.

__ADS_1


“Tidak, aku akan mengerjalan PR dari ibu, jika tak kukerjakan, ibu akan mengamuk, kau tahulah, sekelas ayah kita saja takut jika ibu sudah marah.”


“Iya, iya, nanti kuceritakan kalau sudah ayah jelaskan ya, makasih kakak.”


Aep lalu keluar dari kamar itu dan membantu ibunya menyiapkan meja makan malam.


Tak terasa waktu bergulir dengan cukup cepat, mereka semua berkumpul di meja makan, makan dengan lahap masakan ibunya, tentu dibantu oleh pembantu yang berjumlah 3 orang, mereka memang orang kaya.


Makan malam terhidang, mereka makan dengan tenang. Aep sudah memperingati Mulyana agar tak mengungkit soal itu, dia ingin ibunya tenang menikmati makan malam.


Setelah makan malam selesai, Mulyana sungguh tak sabar lagi, dia melihat ayahnya membakar rokok di depan rumah, sedang asik menikmati malam, segelas kopi ada di meja di sampingnya, di halaman mereka memang ada beberapa bangku dan juga meja untuk tamu.


“Yah, aku mau ....”


“Ya, aku tahu, kau pasti penasaran soal wanita itu.”


“Yah, aku mau tahu dia siapa, apa benar dia jin?” Mulyana bertanya, karena dia merasa janggal, kenapa wanita itu juga dijemput, tidak disekap di rumah ini, karena seperti yang Mulyana tahu, ayahya selalu mengoleksi jin yang dia taklukan untuk dijadikan pasukan, semua Kharisma Jagat memang punya Khodam untuk menjadi pasukan, hanya berjaga-jaga saja.


Terlebih dia menikah dengan seorang wanita biasa, walau dia dimusuhi para tetua, tapi tak ada yang berani menyentuhnya, konon katanya, karena memiliki begitu banyak jin yang dipelihara, maka ketika dia diserang, jin yang dijadikan penyerang malah akan dikuasai oleh Drabya dan membuat orang yang menyerangnya menjadi kehilangan Khodam atau Karuhun.


Makanya perkumpulan tetua tak berani menyentuh Drabya yang melanggar jodoh adat.


Walau tak bisa dibilang juga mereka menyerah dan kalah, mereka hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi Drabya.


“Dia bukan jin, tapi dia ruh yang tersesat, Nak.”


“Jadi dia juga ada dalam daftar jemputan ayah?” Mulyana bertanya.


“Ya, dia salah satunya.”


“Karena memang aku ingin kau belajar menyelesaikan kasus, setiap kasus ada langkah yang harus dilakukan.


Pertama, kau harus datangi tempat kasus itu terjadi, lalu kedua kau harus memastikan bahwa itu jin atau ruh tersesat untuk tahu langkah selanjutnya, setelah tahu jenis apa ruh itu, kau harus segera mencari informasi lebih lanjut lagi di lingkungan sekitar, karena mitos itu, kemungkinan besar dihembuskan oleh orang yang paham, hanya untuk menakuti, tapi kejadian nyatanya ada.”


“Jadi bukan karena aku ingin dijadikan umpan seperti kambing itu?” Mulyana merungut lagi, dia jadi ingat hal itu, disamakan dengan status kambing ayahnya.


“Itu juga sih alasannya, kau kami jadikan umpan, soalnya kau ini polos sekali.” Ayahnya tertawa terbahak-bahak karena Mulyana mudah sekali dikerjai.


“Ayah!” Mulyana kesal mendengarnya.


“Bercanda anakku yang sangat polosss ....” Drabya menyubit pipi anak bungsunya.


“Lalu, ayah ceritakan dong, siapa wanita itu?” Mulyana sangat tak sabar untuk mendengar kisahnya.


“Baiklah, aku akan mulai dari asal-usul wanita itu ya. Pertama, dia adalah dukun wanita yang sangat terkenal dari sejak tahun 40 hingga 60an, wanita itu bahkan katanya, menjadi salah satu penasehat petinggi negara kita sebelum merdeka. Banyak urusan negara melibatkan mata batinnya.


Para petinggi itu melihat begitu banyak kejadian yang diprediksi oleh wanita itu kejadian. Makanya dia menjadi dukun tersohor di Negara ini kala itu, Yan.”


“Wah, dia memang manusia sebelumnya?”


“Manusia yang menyembah iblis. Karena Tuhan tak pernah memperlihatkan kita proyeksi masa depan, Tuhan ingin kita berusaha dan tawakal, bukan bergantung pada masa depan yang kita takutkan, karena nasib itu bisa berubah, seperti masa depan yang mungkin sudah ada, bisa berubah jika langkah kita berbeda.”

__ADS_1


“’Oh begitu, lalu Yah?”


“Wanita dukun itu lupa, bahwa dia hanyalah pesuruh iblis, menjadi kacung atas kemampuan iblis yang banyak dipalsukan untuk mendukung pernyataan kedukunannya tersebut.


Misal, Dukun wanita itu bilang kalau akan terjadi kecelakaan maut di laut, akan ada kapal yang tenggelam. Maka iblis itu membuat apa yang diucapkan dukun itu bisa terjadi dengan tipu dayanya. Ada juga yang benar melihat masa depan, tapi kita tahu, bisikan iblis itu, adalah serangkaian kemampuan iblis mencuri dengar berita dari langit.”


“Lalu dukun itu tetap berjaya dan meninggal sampai tua?”


“Tidak juga, dia meninggal dengan mengenaskan, karena tahu satu hal, dia ....” Drabya ragu memberitahunya karena ini adalah hal yang sangat sensitif, makanya dia mengecilkan suaranya.


“Apa ayah?”


“Dia tahu tentang apa yang akan terjadi pada tahun 1965.”


“Hah? apakah itu adalah ....”


“Ya, kejadian itu sudah dia lihat sebelum terjadi, dia memperingatkan para petinggi negara, agar informasinya bisa tembus kepada Presiden, karena dukun ini tidak pernah bisa bertemu dengan Presiden sebelumnya, penjagaan Presiden memang sangat keta kala itu.”


“Wah, seram sekali yang dia ketahui.”


“Ya memang, tapi aku pikir dia kurang bijak dalam menangani apa yang dia ketahui.”


“Memang kenapa ayah?”


“Karena setelah dia memberitahu apa yang akan terjadi, dia tidak sadar telah berbicara pada orang yang menjadi salah satu dalang dari kejadian itu, salah satu petinggi negara ini.


Dia berbicara padanya, dijanjikan akan bertemu Presiden, tapi sayang, dia malah dijebak dan akhirnya disiksa di suatu tempat, wajahnya dirusak karena untuk membunuh dukun itu tak mudah dan cukup mengerikan, ada banyak kutukan yang bisa dia lontarkan untuk membuat pembunuhnya hidup tidak tenang.


Maka cara untuk tetap aman membunuh dukun, adalah dengan merusak wajahnya, dengan rusak wajah, maka katanya para iblis penjaganya tak dapat mengenali dukun itu, hingga tak akan meluluskan mantra kutukannya.


Dukun itu mati dalam keadaan wajah hancur dan tubuh penuh memar, setelah dipastikan mati, lalu dukun itu dikubur di tanah itu, tanah yang membuat banyak orang kecelakaan karena hewan mereka yang pelihara menggigit mereka.


Dia diikubur di sana, saat itu, jalan itu memang masih sebuah rawa yang sangat luas, belum menjadi jalanan menuju perumahan, jadi mengubur orang dengan kedalaman yang cukup, takkan membuat tubuhnya bisa ditemukan.”


“Lalu kenapa dia menjadi penasaran? Apakah karena dendam?”


“Ya, tentu saja, apalagi Yan. Dia menjadi ruh yang penasaran, ditambah kemampuannya yang sangat tinggi dalam mengendalikan jin level rendah, dia lalu menolak kembali pda Tuhan dan malah melakukan kerusakan di bumi ini dengan tetap melakukan praktek tumbal atas rasa sakit hatinya.”


“Kenapa dia tak bunuh orang yang membunuhnya? Tapi dia malah membuat orang lain menjadi korban.” Mulyana terlihat sangat kesal mengingat itu.


“Itu karena dia dikubur dengan ritual, mereka menggunakan dukun lain untuk memastikan bahwa ruh dukun wanita itu takkan bisa pergi dari jalanan tempat di dikubur. Jadi, walau dia sangat ingat dendamnya dan ingat kejadian kematiannya, tapi tak akan bisa balas dendam pada pembunuhnya karena ritual dari dukun lain itu.”


“Lalu kenapa binatang?”


“Karena dia marah pada binatang yang setia pada tuannya, seperti dia yang setia pada para petinggi negara ini, tapi dia malah dihabisi, dia ingin agar binatang-binatang itu menghabisi tuannya, apa yang tidak bisa dia lakukan karena terikat dengan ritual saat kematiannya.”


“Oh begitu, sangat masuk akal ya Yah, sebelumnya aku merasa dia jahat sekali, karena menghabisi tuan dan binatangnya, tapi sekarang aku malah kasihan.”


“Jangan kasihan pada dukun Nak, mereka musuh kita, kelak kau akan berhadapan dengan mereka, jangan lemah ya.”


“Iya ayah, oh iya Yah, nama dukun wanita itu siapa?”

__ADS_1


“Hmm, namanya ... Nyi Eros.”


Hari itu sangat melelahkan bagi ayah dan anak itu, mereka akhirnya istirahat dengan sangat tenang dan bahagia, karena mampu menyelesaikan kasus pertama Mulyana dengan baik, walau ada satu kambing yang dikorbankan, tapi pengorbanan kambing itu tak sia-sia, menurut Mulyana, kalau menurut kalian gimana?


__ADS_2