
"Tapi, dia bukan jin petarung, kau hanya perlu menangkapnya, dia takkan berkutik, tapi ya itu, dia pandai kabur, aku pernah menangkap beberapa, walau akhirnya tak bertarung, tapi aku sering kelelahan untuk menangkapnya, siapkan staminamu." Drabya mengingatkan, walau tak berat, tapi bukan berarti tak sulit.
"Baiklah, Ayah. Lalu bagaimana dengan wanita itu?"
"Ini yang berat, kalau kau mental, dia punya energi yang tinggi, bawalah keris ini dan juga ikut sertakan Wangsa besamamu, karena aku khawatir, wanita itu bukan ruh biasa. Mulailah dari tempat di mana kau menemukannya pertama kali, cari tahu tempat apa itu, ada legenda apa di sana, maka kau mungkin bisa menelusuri siapa perempuan itu."
"Baik ayah, terima kasih, aku akan lakukan seperti yang ayah katakan."
Aep hanya mendengar cerita saja, tanpa ingin terlibat di dalamnya.
...
"Gimana orang tuamu?" Mulyana bertanya, mereka sedang ada di kantin kampus.
"Masih dingin, seperti dulu lagi sebelum kau datang, ibuku tak suka memasak lagi, padahal dulu hobinya masak, ayahku tak suka di rumah, yah ... mereka hanya akan bicara jika ada hal penting, aku terkadang merasa anak yatim, kadang juga merasa anak piatu, karena bertemu mereka secara sendiri-sendiri."
"Sedih sekali kau Dirga, sudah kuliah terpaksa, harus diam-diam menjalankan hobi, terus orang tuamu tak pernah ada." Aep berempati.
"Makanya kau harusnya bersyukur, ayah tidak memaksamu lagi."
"Itu kan karena ada kau, kalau tidak, dia juga akan memaksa." Aep protes.
"Setidaknya, dia mendampingi kita, sayang pada ibu kita dan selalu ada di rumah untuk menyelesaikan masalah kita. Kau tahu kan, ayah dan ibu juga suka bertengkar, tapi sehabis itu pasti langsung mesra lagi."
"Ya, itu benar." Aep setuju
"Kalian sedang pamer keluarga hangat pada orang yang keluarganya dingin?" Dirga kesal, karena dua kakak adik ini malah pamer keluarga mereka yang hangat.
“Kita harus menangkapnya, kau harus bantu juga Ep.”
“Ogah! Gue mau belajar, gue mau dapat IPK tertinggi.” Aep menolak, dia tak ingin ikut campur urusan ghaib.
“Ep, ayolah.”
“Mohon maaf, Ga, empatiku hanya sebatas kasihan, sisanya aku nggak ikutan, hidupku terlalu indah dari sekedar harus mengikuti adikku, mohon maaf ya, aku pamit.” Aep pergi dari kantin.
“Dia nggak mau bantuin karena trauma, terakhir dia itu bantuin aku hampir aja ketipu jin, makanya dia ketakutan.” Mulyana memberitahu alasan kepada Dirga agar tak marah pada Aep.
“Aku nggak apa-apa kok Yan, yang penting kamu tetep mau bantu aku.”
“Jadi ... begini caranya.” Mulyana membisiki Dirga.
...
Kakek tua itu sedang berdiri di atas tubuh ibunya Dirga, ibu itu sedang tidur, lagi-lagi dia tidur setelah makan siang tadi.
__ADS_1
Kakek itu membisiki sesuatu pada ibunya Dirga.
“Suamimu tidak cinta, lihat saja, dulu waktu kau sakit, dia tak mau antar ke rumah sakit, dulu waktu kau masak, dia bilang masakanmu tak enak. Dia malah sibuk di luar, dia pasti bersama perempuan lain untuk bersenang-senang. Kau juga harus bersenang-senang, jangan sampai dia saja ang bahagia kau malah selalu khawatir dan cemburu. Kau tidak lelah selalu memperhatikan dia, kau harus membahagiakan dirimu sendiri.
Tidak usah masak, tidak usah merawat diri, kau hanya perlu tidur dan makan, itu saja cukup.” Kakek tua itu berkata seperti itu terus, mengulang-ulang kejadian menyakitkan ibunya Dirga.
Dia tahu karena dia selalu memantau pasangan yang rentan ini, pasangan yang memilih diam tanpa mau berkomunikasi, pasangan yang selalu berprasangka, hingga mudah untuk dirasuki dengan perkataan fitnah.
Tak lama kemudian ayahnya Dirga pulang, begitu masuk, dia melihat istrinya sedang tidur di ruang keluarga.
“Lihat istrimu, dia pemalas, sudah tidak cantik, kelakuannya sungguh tak dapat ditoleransi. Bagaimana dia bisa merawatmu kalau merawat diri saja dia tak mampu, kau harus cari perempuan lain. Istri macam apa yang tidak masak, mau makan siang malah tidak ada apa-apa. Cari istri yang bisa masak saja, anakmu kan udah gede, jadi kamu bisa meminta cerai.” Kakek itu dengan bersemangat langsung mempengaruhi ayahnya Dirga dengan cara berbisik di telinganya.
Pandangan mata ayahnya Dirga pada istri menjadi berbeda, tadinya dia merasa biasa saja, sekarang dia menjadi marah.
Merasa sudah memberi uang tapi tidak dilayani dengan baik.
Tanpa membangunkan istrinya, dia pergi lagi dari rumah, tapi sebelum pergi, kakek tua itu mendekati lagi dan berbisik, “Kau pergi saja ke warteg depan, pelayannya cantik, dia janda tanpa anak, dia pasti bisa melayanimu lebih baik, masakannya enak kan? mungkin kemampuan ranjangnya juga hebat, istrimu tak bisa apa-apa.” Kakek itu terus membisiki dan itu terus membuat ayahnya Dirga semakin marah dan hendak pergi ke warteg yang pelayannya janda cantik itu.
“Tuh kan, bukannya makan di rumah, malah dia pergi lagi, padahal aku sudah belikan makan, sengaja tak kutaruh di meja makan karena aku mau dia bangunkan aku dan menanyakan makan siangnya, lalu aku temani untuk makan.” Kakek tua itu sengaja tidak menutup kuping istrinya agar dia terbangun tepat setelah suaminya pergi, sungguh sebuah skema yang sempurna.
“Aku sendiri lagi deh, Dirga kan suka pulang malam.” Ibunya sedih, dia sehari-hari ditinggal sendirian oleh semua anggota keluarganya, itu membuat lubang di hatinya semakin dalam, saat itulah kakek Dasiman masuk ke dalam jiwanya, undangan dari rasa sepi dan kecewa selalu berhasil dikirimkan untuk jin pengganggu rumah tangga.
Maka dari hati ibulah rasa tenang harus dijaga, sehat mental ibu, maka sehatlah mental rumah tangga.
“Dasiman kakek busuk!” Rupanya Mulyana telah lepas raga, dia masuk ke dunia ghaib dari tubuhnya dan mencari zona ghaib di rumah Dirga agar dia bisa kunjungi, mengingat dia tak bisa lepas raga seenaknya tanpa melewati tubuhnya sendiri sebagai terowongan zona nyata dan ghaib. Berbeda dengan Aditia kelak, dia akan mampu untuk lepas raga di manapun, bahkan di waktu lampau.
“Lepaskan ayah dan ibuny Dirga, mereka masih saling mencintai, kau tidak boleh menipu mereka dengan prasangka dan kecemburuan.”
“Siapa kau berani memerintaku? Kau itu anak kemarin sor ....”
“Kau masih saja mengganggu rumah tangga orang lain, kau ini seperti duri dalam daging!” Abah Wangsa rupanya ikut bersama Mulyana, seperti yang ayahnya bilang, abah akan diikut sertakan pada dua kasus kali ini.
“Oh, kau bawa bala tentara? Dasar pengecut!” Dasiman kesal.
“Aku tidak bawa bala tentara, aku hanya bawa satu kakek yang umurnya mungkin sama sepertimu!”
“Enak saja! Aku lebih tua!” Dasiman tak terima dianggap sama umurnya dengan Wangsa.
“Kau memang lebih tua, tapi jelas! Tak lebih bijak!” Wangsa langsung menyerang, Dasiman berlari ke arah pintu keluar, mereka bertarung di rumah Dirga tapi pada dunia sebrang, tidak benar-benar di rumah itu, seperti kau tahu, kita hidup berdampingan dalam satu dunia yang berbeda zona.
“Tidak bisa kabur, Abah sudah memasang pagar!” Mulyana tertawa sambil berteriak.
“Kena kau sekarang!” Wangsa berlari dan langsung menangkapnya.
Dia langsung di masukkan ke dalam botol kaca, kelak botol ini juga akan dipakai kawanan untuk menyekap para jin dan ruh yang mereka akan tawan karena suatu kepentingan, tentu kepentingan yang baik.
__ADS_1
“Sudah tertangkap kan, Bah?” Aditia bertanya.
“Ya, dia memang takkan melawan karena bukan tipikal jin petarung kau tidak perlu capek-capek.”
“Maka sekarang ayah dan ibunya Dirga akan kembali harmonis kan, Bah?” Mulyana berharap.
“Tentu saja, mereka akan kembali merasakan cinta yang sempat dibuat hilang oleh Dasiman.
“Aku tak sabar memberitahu Dirga, dia pasti senang.”
Lalu Abah dan Mulyana pergi melalui tubuh Mulyana sebagai terowongannya.
...
“Aku akan pergi ke tempat pelatihan Polisi itu lagi, aku sengaja tak mengajak Dirga, aku ingin agar Dirga bisa menikmati waktu bersama orang tuanya, Yah. Bah, kita pergi untuk kasus lagi nggak apa-apa kan?”
“Kau minum kopi dulu Mulyana, sudah disiapkan oleh ibumu, itu untuk energi kalian berdua.” Ayahnya meminta Mulyana minum kopi dulu, sebagai tambahan energi atas mereka berdua, Drabya memang sudah melakukan perjanjian dengan Wangsa, isinya adalah, keterikatan batin antara Mulyana dan Wangsa, karena sebagai Karuhun Mulyana, tentu belum bisa, kan Drabya masih hidup.
Mulyana minum kopi, lalu pergi lagi, kali ini berjalan di dunia nyata, dia akan menggali informasi dulu, kata Dirga ada mitos tentang perempuan penunggu kekasih di sana, maka Mulyana perlu untuk tahu lebih jelas mitos itu.
Tak lama kemudian mereka sampai, setelah sampai, Abah dan Mulyana lalu mulai mencari cara agar bisa mendapatkan informasi, salah satu cara mendapatkan informasi dengan cepat adalah, HADIAH!
“Kok repot sih kamu.” Mulyana memberikan hadiah pada salah satu pelatih di sana, alasannya adalah Mulyana ingin ikut pelatihan, dia bersikap seperti pemuda kaya yang ingin dispesialkan, kau tahu kan, bahwa hadiah cara terbaik mengambil hati orang dan menguasai keadaan.
“Iya, abis bapak ngelatihnya bikin aku pengen jadi Polisi, ayahku itu pengusaha, dia bilang aku boleh jadi Polisi jika mau, makanya aku ke sini, minta dilatih secara pribadi, tidak dengan yang lain, bisa nggak ya Pak?” Mulyana mulai meluncurkan serangan merayu.
“Bisa dong, yuk kita mulai sekarang?” Mulyana mendapatkan tangkapannya hanya dari umpan hadiah sebuh kemeja safari bermerk pada jamannya.
Mulyana memulai latihan fisik, berlari bersama pelatihnya, mereka hanya latihan berdua.
“Pak, kemarin malam aku lihat ada perempuan yang duduk di sana, cantik sekali, tapi saat kusapa, dia malah diam dan pergi.”
“Hei! kenapa kau sapa! Kau akan celaka!” Pelatih itu langsung bereaksi.
“Memang kenapa? dia cantik dan ....”
“Tapi dia itu setan! Setan penunggu tempat lapangan ini!”
“Lapangan?”
“Karena kau sudah baik padaku, maka aku akan tolong kau supaya tak tertipu lagi sama perempuan setan itu.
Jadi begini, pernah ditemukan mayat di lapangan ini, mayat itu seorang perempuan yang cantik, semua orang yang melihat mayatnya mengatakan bahwa, mayat itu sangat cantik, perempuan itu ditemukan terkubur dengan dangkal.
Saat hujan, tanah akan turun, karena dataran yang tidak rata, saat itulah mayatnya muncul.”
__ADS_1
“Oh Tuhan! Lalu?”
“Lalu ....”