
Saat kejadian itu terjadi, ada dua orang siswi perempuan yang merasa pandangan mereka kabur, tubuh mereka terasa dingin dan tak lama kemudian, dari kuping mereka terdengar dua kata yang membuat bulu kuduk merinding ... GRAKSA ... BAJAAAANGGGGG.
...
Mulyana lalu menjentikkan jari pada mata Rahman dan juga Adi, hingga mereka berdua akhirnya sadar setelah menceritakan semuanya.
“Yan! kau ketemu juga akhirnya!” Rahman bertanya dan tak ingat bahwa sebelumnya Mulyana sudah menegurnya tentang Nando.
“Ya, terima kasih kalian sudah membantu Aep menemukanku, sekarang kita harus pulang.” Mulyana mengajak mereka pulang.
“Sebentar, tapi ... ada satu hal yang membuatku sedikit bingung.” Aep bertanya.
“Soal apa?” Rahman ikut bingung, mereka sudah jalan untuk pulang.
“Darimana kalian tahu soal rumah kami?” Aep akhirnya bertanya, walau rasa mengganjal ini sudah ada sejak tadi, tapi Aep baru punya kesempatan bertanya sekarang.
“Oh, dari si penjaga sekolah, kami tadi ke sekolah untuk mengambil catatan yang ketinggalan, lalu penjaga sekolah itu bilang kalau Mulyana hilang, jadinya kami ke rumahmu, alamat rumahmu juga dari penjaga sekolah itu.”
“Dari mana dia tahu alamat rumah kita, Yan?” Aep bertanya.
“Lagian, aku juga aneh Ep, Yan. penjaga sekolah itu terkenal sangat pendiam dan tidak ramah, makanya kami agak aneh pas kau menyapa penjaga sekolah itu dengan ramah dan dia juga membalas sapaanmu dengan ramah.
Kau satu-satunya orang yang disapa balik oleh orang itu, ya kan Ep, kau juga belum pernah melihatnay ramah pada orang lain?” Rahman meminta dukungan.
“Iya, padaku juga dia sangat tidak ramah, tidak mau menyapa apalagi menyapa balik saat aku sapa. Aku beberapa kali kecewa karena itu dan akhirnya setelah Rahman dan Adi beritahu, aku paham dan tidak lagi repot menyapanya.”
“Selain tidak ramah, dia juga galak, kalau ada anak terlambat, dia benar-benar tak izinkan masuk, malah pernah ada anak yang hampir dilempar batu bata, tapi tidak kena, orang tuanya mengadu, tapi pihak sekolah tetap membela penjaga sekolah itu, karena katanya dia benar, anak itu memaksa masuk dengan arogan.” Adi menjelaskan lagi.
“Yasudah, kalau begitu kita berpisah di sini ya, kalian belok ke sana kan untuk pulang?” Mulyana meminta mereka pisah jalan, ada yang harus dia kerjakan.
“Jadi, yang mengajakmu berbicara selama ini Nando dan kau tidak sadar dia bukan manusia?”
“Kau tidak beritahu aku!” Mulyana kesal Aep bertanya, mereka sudah berpisah dengan Rahman dan Adi.
“Aku kan sudah sulit melihat mereka Yan, lagian kau itu terbiasa berbicara dengan mereka yang tak terlihat, jadinya aku pikir memang kau sedang bicara dengan para ruh itu. Seperti ketika kita di taman bermain waktu malam itu, kau bicara dengan anak kecil yang menjadi korban dari pembuatan jalan, aku bahkan tak bisa melihat anak itu sama sekali, tapi kalau Nando memang aku melihat bayangan, jadi kupikir kau memang berinteraksi dengan anak itu.”
“Aneh, aku tidak merasakan energi dingin dan gelap dari tubuh ruhnya saat berdekatan, aku benar-benar tak sadar dia adalah ruh, bukan manusia.”
“Kau sama sekali tak sadar dia ruh?” Aep merasa aneh juga.
“Kau harus tanya ayah, aku tidak paham.”
“Tapi sebelum itu, temani aku menemui penjaga sekolah, aku harus memastikan sesuatu, karena aku pikir, dia tahu sesuatu.”
__ADS_1
“Terserah kau saja, aku temani terus, aku taku kau hilang!” Aep jadi trauma adiknya hilang lagi. Tapi benar kata ayahnya, adiknya akan pulang pada akhirnya.
Tak lama kemudian mereka sampai di sekolah, pak penjaga sekolah tak ada, tentu saja, sekolah kan sedang libur karena kejadian itu.
Lalu mereka bertanya pada warung sekitar, biasanya warung disekitar sekolah yang letaknya di luar, tahu informasi-informasi tak terduga, misal alamat penjaga sekolah.
Karena bisa jadi, penjaga sekolah juga jajan di warung itu, sekedar kopi atau rokok.
Benar saja, ternyata penjaga sekolah itu sering sekali nongkrong di warung kopi dekat sekolah, letaknya tak jauh dari sekolah, tapi di luar arealnya.
Mereka mendapatkan alamat rumah penjaga itu, saat mereka sampai, Aep sangat terkejut.
“Rumahnya besar untuk ukuran penjaga sekolah.” Aep berkata dengan sinis.
“Ayo kita masuk.”
“Kau yakin dia mau menemuimu?”
“Kan Rahman dan Adi bilang, penjaga itu hanya ramah padaku, maka aku sudah menebak sesuatu.”
Mereka berdua mengetuk pintu rumah yang cukup besar itu, lalu tak lama pintu dibuka, keluarlah seorang lelaki yang sudah terlihat cukup berumur, dia terkejut melihat Mulyana, tapi ekspresinya berubah, dari tak ramah menjadi tersenyum, sayang itu tak lama karena ekspresi itu berubah menjadi sedih.
“Masuklah, kau sudah tahu soal anakku kan?” Lelaki itu meminta mereka berdua masuk.
“Saya tahu, kalian adalah anak-anak yang istimewa seperti anakku, Nando.”
Mulyana tersenyum, dugaannya benar dan aku pikir kalian juga sudah ada yang menduga siapa penjaga sekolah itu sebenarnya, ya, dia adalah ayahnya Nando yang keselamatannya dijamin oleh Nando dengan nyawanya, karena merupakan bagian dari syarat penumbalannya.
“Jadi bapak benar, ayahnya Nando?” Mulyana memastikan lagi.
“Ya, saya ayahnya Nando, saya merasakan energi Nando setiap kali kau pulang sekolah, saat kau melewatiku, aku merasa anakku juga melewatiku, aku rindu padanya.” Ayah itu bercucuran air mata. Dia sangat sedih karena teringat nasib anaknya.
“Jadi apa yang terjadi pada Nando? Karena Rahman dan Adi hanya bercerita kalau Nando bunuh diri dengan cara melompat dari atap sekolah.” Mulyana bertanya, karena bagian penumbalan tentu Rahman dan Adi tidak tahu, kalian semua dapat bocorannya dari aku, berterima kasihlah.
Lalu ayahnya Nando bercerita soal kejadian penumbalan itu, walau dia tak ada di tempat kejadian, tapi dia tahu jelas apa yang terjadi dengan Nando.
“Nando tidak bunuh diri, tapi dia menerima penumbalan untuk sisa umurnya, kakeknya yang menjadi pelaku penumbalan.”
“Astagfirullah! Kakek yang sangat kejam! Walau kami tidak pernah bertemu kakek kami sendiri, beliau sudah wafat saat kami lahir, tetap saja, kami mengenal beliau sebagai kakek yang baik dari cerita ayah kami.” Aep kesal mendengarnya, dia tak tahu bertahun-tahun kemudian, muncul seorang wanita bernama Alya yang ditumbalkan ayahnya hanya karena harta kekayaan, masih ingat kisahnya kan. Kalau lupa, itu namanya keterlaluan, kalian harus minum omega tiga agar ingatan kalian lebih tajam ... sama sepertiku.
“Memang keluarga dukun itu berbeda, kami harus menjadi korban atau malah terpaksa menjadi dukun juga, apakah keluarga kalian tidak begitu, karena aku merasakan energi ghaib pada kalian, walau kau terasa tipis sekali energinya, aku memang tidak punya kemampuan yang tinggi seperti anakku, tapi aku bisa merasakannya saat melihat kalian.”
“Kami bukan keluarga dukun Pak, kami hanya orang biasa yang kebetulan diamanahi untuk menjadi orang-orang yang bisa membantu masalah ghaib.”
__ADS_1
“Oh begitu, maaf saya tidak tahu definisi tentang hal itu selain dengan nama dukun, semoga niat kalian selalu baik ya, tidak seperti ayah saya.”
“Tapi Pak, kenapa Nando berbeda dari ruh-ruh yang lain? Kenapa aku tidak bisa mengenali dia sebagai ruh, mata batinku memiliki ilmu yang cukup untuk mengenali itu semua, tapi sekarang aneh, kenapa mata batinku tak mampu mengenali sosok Aldo sebagai makhluk yang tak kasat mata?” Mulyana bertanya.
“Nando itu anak yang baik, sampai akhirnya hayatnya, dia hanya mengingat bahwa, Rahman dan Adilah orang yang telah mengkhianatinya, padahal Nando sangat amat menyayangi mereka dan tidak pernah punya niat jahat sekalipun. Tapi sepertinya Nando salah, bukan dua sahabatnya yang telah mengkhianatinya, tapi dua orang siswi yang kemarin kesurupan.
Setelah kematian anakku, tubuhku kembali sehat, aku sulit menerima kematiannya, istriku juga baru saja dipanggil Tuhan, lalu tiba-tiba anakku menyerahkan dirinya, padahal istriku bahkan sudah berupaya agar kami selamat.
Takdir berkata lain, aku awalanya sulit menerima dan sempat masuk rumah sakit jiwa. Yang aku tak dapat terima adalah, sekolah tetap berjalan setelah kematian anakku, padahal sistem sekolah yang buruklah yang menjadi salah satu penyebab anakku meninggal dunia.
Belakangan aku batu tahu, kalau anakku adalah korban perundungan dari teman-temannya karena fitnah itu.
Aku mencoba bangkit dan menyembuhkan mentalku setelah merasakan kembali energinya, energi Nando. Setelah cukup stabil, aku lalu melamar kerja menjadi penjaga sekolah, karena katanya penjaga sekolah lama mau pensiun karena sudah sangat tua.
Bagai gayung bersambut, aku segera melamar dan diterima hari itu juga.
Di sanalah aku merasakan energi Nando semakin besar, sekolah SMPnya yang juga merupakan sekolah SMA di gedung yang sama.
Aku mulai menyelidiki, dimulai dari siapa saja yang merundung anakku, lalu dua perempuan itu. Maka ini yang aku dapatkan.”
“Apa pak?”
“Perempuan pertama yang kesurupan adalah anak seorang dukun, benar adanya, maka dari itu, mereka berdua selamat dari mantra Graksa Bajang kiriman ayahku, rupanya ayah mereka dan ayahku adalah dukun dengan ilmu yang cukup tinggi. Maka dari itu, mereka berdua, si anak dukun dan temannya, bisa menunda bala dari mantra itu berkat ayahnya yang dukun.”
“Lalu kenapa sekarang mereka kesurupan dan salah satunya bahkan menubruk-nubrukkan kepalanya di pintu kelas kalian bukan?”
“Ya Pak, itu betul, jadi sekarang mereka kena mantra Graksa Bajangnya?”
“Ya, bala yang tertunda.”
“Kenapa bisa begitu Pak? maksudku, apa yang membuat mantra itu akhirnya bisa menghukum dua perempuan yang memfitnah Nando?” Mulyana bertanya, dia dari tadi mencoba menyusun puzzlenya.
“Aku mencoba menyelidikinya, aku terus menyelidiki kemungkinan yang terjadi, banyak hal tidak masuk akal tetap aku urutkan, maka akhirnya aku masuk pada satu kesimpulan yang paling mungkin, karena waktunya sangatlah tepat.” Ayahnya berkata dengan yakin.
“Apakah itu Pak?” Mulyana semakin penasaran.
“Kau ... kaulah alasannya.” Ayahnya Nando menunjuk Mulyana.
“Aku! aku? kok bisa?” Mulyana bertanya, Aep juga jadi bingung dan tak sabar ingin mendengar penjelasannya.
“Kau datang ketika itu, kau datang ke sekolah, segera setelah kau melewatiku, aku tahu, bahwa kalian dua orang yang istimewa, tapi aku tak pernah menyangka bahwa ....”
Bersambung ....
__ADS_1