
Nola kaget, dia kembali ke bus itu, dia melihat keadaan sekitar, begitu dia menaikkan tubuhnya agar bisa melihat ke depan, dia benar-benar ada di bus itu lagi, semua orang yang dia lihat aneh, sekarang ada di depannya, tapi aneh, mereka tidak mencoba mencelakai Nola, mereka hanya di depan dan menatap Nola secara serentak begitu mereka melihat Nola menatap mereka semua.
Nola menunduk kembali, dia lalu melihat ke arah belakang, gelap. Dia memberanikan diri untuk berlari ke belakang, seperti yang sebelumnya ada Bobby dan kawan-kawan, mereka terlihat makin kelelahan.
“Bobby ... kita balik ke bus lagi?” Nola buru-buru bertanya pada Bobby yang terlihat syok juga.
“Ya, ini kita lalui hampir setiap malam. Kita salah belokan sepertinya, atau salah memilih jembatan.” Bobby berspekulasi.
“Bob, kenapa kita balik ke sini, ini nggak masuk akal loh, kita ada di jembatan, trus jatuh, tiba-tiba ada di sini?”
“Ya memang aneh, tapi kita harus terus lari untuk dapat jalan keluarnya.”
“Bob, bentar deh, kita pikirin dulu aja jalan keluarnya, jangan main lari.” Nola mencoba memberi ide, agar semua tidak gegabah lagi seperti sebelumnya.
“Nggak bisa, kita harus segera lari begitu bus berhenti.”
“Jadi kitab bakal lari lagi seperti semalam?” Nola bertanya.
“Ya, begitu.” Bobby memaksa.
Bus berhenti, Bobby kembali memegang tangan Nola mereka berlari persis seperti kemarin, hingga tiba di pertigaan.
“Sekarang kita pilih kanan, jalannya ke kanan, ini pasti jalan yang benar.” Bobby yakin dia mengajak semua orang berlari, Nola agak aneh, tapi dia ikut lari saja.
Lalu bertemu dengan nenek-nenek dan anak kecil tanpa mata itu, mereka berlari lagi setelah dia berlalu, tiba dijembatan ....
“Bob, ini jembatan yang kemarin, lagian ... kita kenapa belok kanan lagi sih?” Nola protes.
“Kok belok kanan lagi, kemarin kita itu belok kiri Nola.”
“Kemarin? Memang kita melalui pagi hingga malam lagi? sampai kamu bisa definisikan waktu sebelumnya itu kemarin?” Nola kesal karena dia ingat betul tadi itu mereka sudah belok kanan juga, bukan belok kiri.
“Terserah kamu, aku dan yang lain akan melewati jembatan untuk memastikan bahwa kita bakal keluar dari tempat mengerikan ini.”
Yang lain ikut Bobby untuk menyebrangi jembatan, Nola diam saja, di ujung jembatan, dia tidak ikut berjalan, dia memperhatikan Bobby dan yang lain, dia melihat Bobby dan rombongan sudah berjalan melebihi setengah jembatan, seharusnya mereka sudah jatuh, kalau memang ini adalah balik ke waktu sebelumnya, tapi mereka tidak jatuh, Nola akhirnya memberanikan diri untuk menyebrang, dia melangkahkan kakinya ke jembatan lalu berlari mengejar yang lain, begitu mereka hampir sampai, ctas! Bunyi tali penyangga jembatan putus, jembatan ambruk dan ....
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Jika sudah waktunya
Mari kita pulang ke rumah
Potong padi ramai-ramai di sawah
Ani-ani dikerjakan semua
Bila tiba waktunya
__ADS_1
Mari kita pulang ke rumah
“Brengsek, lagu ini lagi.” Nola berlari lagi ke bagian belakang bus.
“Nol, yuk, siap-siap turun lagi. Kemarin kita gagal, hari ini harus berhasil.” Bobby optimis, begitu juga dnegan Mita, Desi, Rendi dan Rosi. Sementara Nola sudah sangat lelah, mereka bahkan tidak makan dan minum sama sekali, lagian kenapa Bobby selalu pakai kata kemarin, padahal kejadian yang mereka alami kan, baru tadi, bukan kemarin! Kita bahkan tidak pernah melihat pagi! Kemarin adalah waktu di mana kita sudah melewati satu harian penuh.
“Ayo Nola.” Bobby mengulurkan tangan.
“Kali ini, aku yang pimpin jalan.” Nola akhirnya menggenggam tangan Bobby, dua kali sebelumnya, dia membiarkan Bobby untuk memimpin jalan, kali ini Nola yang akan memimpin jalan.
Seperti biasa, mereka kana istirahat di balik pohon yang sangat besar, lalu melanjutkan perjalanan dan akhirnya menemukan pertigaan.
“Kita ke kanan.” Bobby hendak langsung jalan.
“Kita ke kiri.” Nola membantah.
“Kemarin sudah.”
“Kemarin apa? barusan kita ke kanan Bob! Sekarang ke kiri!” Nola menarik tangan Bobby, tapi Bobby ragu, makanya Nola ketarik lagi badannya karena Bobby menahan langkahnya.
“Bob, ayolah, kita ke kiri, tadi tuh kita udah dua kali ke kanan.”
“Tadi apaan sih? kemarin Nola! Waktu aja kamu salah sebut, apalagi jalan, udah kita ke kanan ya.” Bobby hendak menarik tangan Nola, tapi Nola yang kali ini menahan tangannya.
“Bob, percaya padaku.” Nola sedih sekali, dia juga bingung, kenapa hanya dia yang sadar kalau mereka salah jalan.
“Kalian percaya Nola atau aku?” Bobby melepaskan genggamannya.
“Kalau jalan yang Bobby pilih benar, itu artinya, kita nggak akan kejebak lagi-kejebak lagi di bus.”
“Itu karena Bobby kemarin pilih kiri Nola, sekarang kita pilih kanan.”
“Masa kalian nggak ada yang inget sih kalau tadi kita pilih kanan, bukan kemarin, tadi loh, tadi.” Nola kesal sekali karena orang-orang ini ngeyel.
“Yaudah kalau lu yakinnya kiri, jalan aja sendiri ke sana, kita mah percaya Bobby.” Rendi tiba-tiba bicara, padahal tadi dia yang paling diam dan ikut saja.
“Gue takut kalau sendirian ....” Nola menyerah.
“Yaudah, ayo.” Bobby akhirnya mengulurkan tangannya lagi, sementara Nola tidak berani menolak, dia akhirnya ikut dan kembali menemukan jembatan, mereka kembali menyebrangi jembatan dan jatuh ... kembali ke bus dengan diiringi lagu potong pagi lagi. Nola berlari ke belakang, Bobby bersiap untuk kabur dari pintu belakang.
Begitu kabur, kejadian lagi, pertigaan, kanan, nenek dan cucu mata bolong, lalu jembatan.
Terus berulang hingga Nola benar-benar lelah, pada jatuh di bus kembali entah yang keberapa, Nola memilih untuk istirahat dan akhirnya tertidur, dia benar-benar kelelahan.
...
“Pak, gimana?” Winda bertanya, rombongan regu pencari sudah pulang semua, ini juga hampir magrib, ini adalah pencarian hari ke dua.
“Nihil, kami tidak menemukan apa-apa sama sekali. Besok kita akan kembali menelusuri secara silang, mengganti daerah pencarian, karena saya belum melihat sisi sebrangnya, jadi saya akan ke sana, kami berganti lokasi pencarian.”
__ADS_1
Winda lemas mendengarnya, dia tadi juga akhirnya sudah hubungi orang tua Nola dan Arif, mereka syok dan besok mungkin akan ke kampus menanyakan perihal putra dan putri mereka yang hilang.
“Pak, apakah Nola akan ketemu?” Winda bertanya lagi dan lagi.
“Win, udah ya, kita usahakan mereka berdua ketemu.” Parman lagi-lagi hanya berjanji.
“Pak, ini saya lihat ada selebaran orang hilang namanya Melat, dia hilang dari 2005, berarti sampai sekarang dia tidak pernah diketemukan dong?” Winda menangis.
“Sudah jangan mikir macam-macam.” Parman lalu pamit untuk solat magrib dan meminta Winda juga untuk solat mendoakan temannya.
Winda akhirnya pergi ke mushala fakultasnya, karena masjid kampus terlalu jauh.
Dia ambil wudhu dulu dan akhirnya solat.
Setelah selesai solat dia memakai sepatu untuk bersiap pulang, lalu ada seseorang yang tiba-tiba ingin bicara padanya, seorang lelaki.
“Winda ya?” Lelaki itu bertanya dan kemudian memperkenalkan diri sebagai Heru.
“Iya, ada apa ya?” Winda bertanya.
“Bisa ngomong sebentar nggak?” Heru meminta Winda untuk bicara di kantin, Winda setuju dan mereka berbicara di bagian kantin paling pojok agar mereka bisa bicara dengan santai dan tidak terganggu.
“Gini, saya denger cerita kalau temenmu, Nola, hilang ya? udah dua hari bukan?” Heru bertanya.
“Iya udah dua hari.” Tidak heran berita tersebar cepat, apa Heru ini wartawan kampus yang suka cari berita? Winda sudah mulai kesal kalau memang benar ini hanya soal ingin cari berita.
“Hilangnya bagaimana Win?” Heru bertanya lagi.
“Kamu nih siapa ya? wartawan kampus ya?” Winda tidak bisa menahan lagi rasa kesalnya karena dia itu sedang kalut.
“Bu-bukan kok. Saya ini ... kerabat dari orang yang hilang juga, namanya ... Melati.” Heru akhirnay jujur.
“Kau kerabatnya Melati, nama dan fotonya ada di pos petugas keamanan kampus, kau siapanya?”
“Aku keponakannya, mamaku adalah kakaknya Tante Melati.”
“Oh iya, karena itu kejadiannya tahun 2005, sudah lama sekali hilangnya, jadi tidak heran kau adalah keponakannya, kau jurusan apa?” Winda bertanya.
“Kesehatan Masyarakat.”
“Her, memang ketika tantemu hilang itu, seperti apa kejadiannya?” Winda tidak basa-basi lagi, dia bertanya langsung.
“Sebenarnya aku tidak bisa ceritakan detailnya, tapi mamaku selalu cerita dan ingat hanya dari sisinya saja, jadi bisa jadi tidak terlalu akurat, tapi akan aku ceritakan, setelah itu, kau ceritakan apa yang terjadi dengan Nola ya.” Heru meminta imbalan.
“Ya baiklah, aku akan ceritakan hilangnya Nola. Sekarang kamu mulai duluan ya.” Winda mempersilahkan Heru cerita.
“Jadi, begini ceritanya ....”
_________________________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Besok ya, merinding, ga kuat nulisnya. Ada beberapa kali barang jatuh di dapur, jadi berhenti dulu ya, besok lanjut lagi.