
“Eh itu bus lu, naik gih.” Mulyana menunjuk busnya Dirga.
Dirga berdiri hendak naik, tiba-tiba Mulyana mengikuti dari belakang, padalah itu bukan busnya.
“Kok ikut?”
“Itu perempuan yang di bangku semen tadi, duduk di samping lu ....”
“Yan!” Dirga langsung berdiri dan merapat lagi pada Mulyana.
“Pindah bangkunya, gue yang duduk di situ.” Mulyana meminta Dirga bangkit dan pindah bangku, kebetulan bus sepi, tidak terlalu banyak yang naik karena ini sudah sangat malam.
“Yan, lu jangan aneh-aneh ya, inget biar sepi tapi di sini masih ada beberapa orang.” Dirga memperingatkan, Mulyana hanya mengangguk.
“Kau mau ke mana?” Mulyana bertanya pada perempuan yang hanya bisa dilihat oleh Mulyana saja.
Wanita itu diam saja.
“Apa kekasihmu juga yang membuatmu naik bus ini?” Mulyana bertanya lagi, tapi masih tidak dijawab.
Tak lama kemudian, perempuan itu bangun dan keluar begitu saja tanpa menunggu bus berhenti, tentu saja, tubuhnya menembus badan bus, itu membuat Mulyana buru-buru mengetuk bus dan berteriak, “Kiri, Bang!” supir yang mendengar teriakan Mulyana langsung menghentikan bus, Dirga melihat itu juga buru-buru untuk bersiap turun.
Mulyana berlari turun, diikuti Dirga yang juga penasaran, dia tak banyak tanya, hanya mengikuti, nanti juga kalau sudah bisa, Mulyana pasti jelaskan, seperti sebelumnya.
Mulyana membayar kepada supir, karena biasanya kalau sudah malam tidak ada lagi kenek yang biasanya menjadi petugas penagih biaya bus. Makanya penumpang yang hendak turun akan memberikan uangnya pada supir saat turun.
“Kita ke mana?” Dirga bertanya.
“Entah, dia turun dan Sekarang kita ikuti.”
“Kenapa harus diikuti?” Dirga bertanya lagi.
“Aku merasakan hal berbeda dari wanita ini, makanya kita harus ikuti.”
“Kau suka pada setan?” Dirga bertanya hati-hati.
“Tidak! Kau gila, memang bisa?” Mulyana tak tahu, kelak dia akan bertemu anak dari hasil perkawinan antara manusia yang seorang anak dukun dan jin ternama, lalu akan ada Pak Hanif dan kekasih jinnya.
“Lalu kenapa kau sangat penasaran? Bukankah penasaran itu hanya berlaku bagi orang yang sedang jatuh cinta.”
“Aku memang jatuh cinta, tapi bukan pada hantu perempuan itu, tapi jatuh cinta pada tanggung jawabku.”
“Oh ya, hal yang kau anggap takdir itu kan?”
“Ya, makanya aku tak bisa abai.”
“Baiklah, terserah kau saja, karena kau menemani pelatihanku, maka aku akan menemanimu untuk mengikuti set … maksudku apapun itulah, aku merinding kalau menyebutnya begitu.”
Mulyana terus mengikuti wanita itu, dia tak tahu hendak ke mana wanita itu.
Hingga akhirnya saat mereka terus mengikutinya, wanita itu berhenti pada persimpangan jalan, dia tak jalan lagi, hanya menatap ke depan.
“Ada apa? Kok berhenti?” Dirga bertanya.
“Dia berhenti, di persimpangan itu.”
“Ini kan persimpangan yang katanya sering ada kecelakaan.” Dirga ingat itu karena dia sering lewat jalan ini dulu.
“Apa dia korban kecelakaan? Lalu kenapa dia duduk di sana, di tempat pelatihanmu?”
Dini hari tiba, terdengar suara-suara yang membuat bulu kuduk merinding, tentu hal ini tidaklah membuat takut, bagi Mulyana malam dan segala kengeriannya adalah hal yang biasa saja.
Tapi berbeda bagi Dirga, ini sangat menakutkan.
__ADS_1
“Kau masih lama? Apa wanita itu masih diam saja di persimpangan ini?” Dirga bertanya.
“Ya, dia masih di sana, tapi aneh, dia duduk seperti bersujud, kepalanya menyentuh aspal, benar-benar posisi bersujud.”
“Dia sedang apa? Kita nggak pergia aja, Yan?”
Dirga bertaya lagi dengan wajah yang ketakutan.
“Sebentar lagi ya.” Mulyana meminta Dirga bersabar.
“Tapi kok gue ngerasa merinding ya?”
“Ya, mereka makin banyak, makanya elu merinding. Yaudah pergi sekarang, akan bahaya kalau kita masih di sini. Tapi aku benar-benar penasaran dengan perempuan itu.”
Mulyana buru-buru menarik Dirga yang masih bingung dan ketakutan.
Mereka sudah di tempat yang jauh dari persimpangan itu, mereka pulang naik taksi, DIrga meminta Mulyana untuk menginap saja di rumahnya, Mulyana setuju, ini juga sudah terlalu larut untuk pulang, bukan karena takut, tapi dia kelelahan, mengikuti wanita itu terasa sangat melelahakan, itu yang Mulyana rasakan.
Taksi sudah sampa di rumah Dirga, Mulyana membayar, dia menolak untuk patungan, tentu saja, dia kan dari keluarga kaya, sedang Dirga juga bukan dari keluarga miskin, tapi tidak lebih kaya dari Mulyana.
Orang tua Dirga sudah terlelap semau, Dirga dan Mulyana langsung ke kamar setelah cuci kaki, tangan dan wajah, ritual yang siapapun seharusnya lakukan jika dari luar, karena untuk mandi ini sudah terlalu larut.
“Tadi kenapa kau bilang ‘mereka makin banyak’? apakah perempuan itu membawa pasukan untuk mencelakai kita?”
“Tidak tahu, mereka melihatku, tapi tidak menyerangku, mereka hanya sedang melihat ke arah perempuan itu, mendekati perlahan, aku tidak yakin dengan maksud dan tujuan para makhluk itu untuk mendekat, makanya aku minta kau untuk pergi bersamaku.”
“Pantas saja aku merinding, tapi kenapa ya, Yan, kita akan merinding kalau di dekat mereka yang tak terlihat?” Dirga bertanya, mereka sudah di tempat tidur Dirga, tidak ada niat untuk tidur, hanya ingin istirahat saja.
“Karena pada dasarnya, tubuh kita juga dihuni oleh ruh yang menghidupkan apa yang mati, ruh ditiupkan sejak kita berumur 4 bulan dalam kandungan, ruh dan jin memiliki kedekatan sifat walau beda jenis, yaitu ghaib. Makanya saat ada makhluk yang tak kasar didekatmu, kau akan merinding, karean ruh di dalam tubuhnya bia mendeteksi itu, hanya saja … ruh di dalam tubuhmu dan dirimu sendiri, memang Tuhan beri pembatas agar tidak bisa interaksi secara terpisah.” Mulyana mencoba menjelaskan dengan sederhana.
“Oh gitu, tapi Yan, kau kan bisa lihat setan? Lalu apakah kau juga bisa melihat ruh di dalam tubuhmu?” Dirga bertanya lagi, dia memberikan camilan kacang goreng pada Mulyana, makanan ringan yang selalu ada di rumahnya.
“Tentu saja, bukan hanya melihat, aku juga bisa keluar dari ragaku untuk beberapa urusan ghaib.”
“Ya beda dong, kalau mat ikan ruh dipanggil Tuhan, kalau lepas raga, ya hanya membiarkan ruh keluar dari tubuh, setelahnya ruh itu bisa berkelana sesuai kebutuhan.
Banyak orang juga yang mencoba mempelajari ilmu ini, tapi sayang, tidak banyak yang berhasil, karena ini bukan ilmu yang dipelajari, tapi ilmu yang diberikan oleh Tuhan.”
“Wah, kau ternyata orang yang hebat ya, Yan. Aku pikir kau hanya anak muda kaya yang pintar dan egois.”
“Kok kau bilang begitu?” Mulyana terkejut karena pada perkenalan pertama, Dirga langsung menganganggap Mulyana bukan orang yang baik.
“Lu diantar orang tua pakai mobil, baju-baju lu juga bermerk, cara bicara dan sikap lu sangat percaya diri, khas orang yang datang dari keluarga harmonis dan kaya raya. Aku paling malas berhubungan dengan orang seperti itu, karena rata-rata menyusahkan, suka seenaknya karean merasa paling kaya.”
“Tapi aku tidak kan? Aku tidak sok kaya, tapi aku memang kaya.”
Dirga mendengar itu tertawa, karena tahu teman barunya ini sedang bercanda.
“Gue tidur duluan ya.” Dirga pamit untuk tidur duluan, dalam waktu sekejap Dirga sudah pulas, rupanya dia sangat mengantuk, Mulyana tertawa, karena dia terbiasa tetap bangun pada malam hari, tidak tidur berhari-hari pun dia pernah dan itu tidak masalah.
Setelah membiarkan Dirga terlelap, Mulyana beranjak dari tempat tidur Dirga dan keluar dari kamar itu, menuju dapur.
Dia berjalan terus melewati perabort rumah tangga hingga hampir sampai pintu belakang, Mulyana berhenti dan menyapa.
“Assalamualaikum?”
“Waalaukum salam.”
“Apa yang kau lakukan di sini?” Mulyana bertanya.
Seorang lelaki tua bungkuk, dengan pakaian penuh lumpur, rambut putih Panjang yang diikat asal dia bagian atas kepala, ternyata sedang berdiri di sana.
“Kamu siapa?” Kakek tua yang tak terlihat oleh mata awam itu akhirnya bertanya setelah Mulyana begitu lama membiarkannya berkeliaran sejak dia datang.
__ADS_1
“Aku kakeknya, aku memang tinggal di sini.”
“Jangan berbohong, kau siapa?” Mulyana bertanya lagi.
“Aku kakeknya!” Makhluk itu mendekat, dia ternyata memakai tongkat dan berjelan terseok untuk bisa menjangkau Mulyana. Saat mendekat, Mulyana mencium bau yang cukup menyengat, bau yang sangat terasa panas dari mulutnya.
“Menjauhlah, atau aku akan membautmu kapok.”
Kakek itu menghilang, karena Mulyana memang terlihat berbeda, dari dia mampu melihat dan mencoba melawan saja, jelas dia bukan orang biasa.
Mulyana kembali lagi ke kamar Dirga, lalu terlelap di samping Dirga.
Pagi tiba, Dirga mengajak Mulyana untuk makan bersama. Orang tuanya sarapan bersama dengan mereka, ayah dan ibunya Dirga terlihat sangat hangat.
“Enak nasi goreng mama?” Ibunya Dirga bertanya.
“Enak Ma, tumben masak.” Dirga bertanya.
“Iya nih Ma, tumbena masak?”
Mulyana hanya memakan nasi gorengnya, sudah biasa, karena ibunya memang selalu masak di rumah.
“Hanua ingin saja, enak kan?”
“Masakan mama kan emang enak, tapi mama jarang masak aja.” Suaminya memegang tangan istrinya, Dirga terlihat senang melihat itu.
Mulyana dan Dirga akhirnya pergi ke kampus dengan bus.
“Kenapa sih senyum-senyum gitu, Ga?” Mulyana bingung karena temannya itu sumringah sekali.
“Aku jarang sekali melihat mereka seperti tadi, ibuku memasak dan ayahku mesra sekali menanggapinya. Mereka itu sudah saling dingin sejak lama. Ibuku hampir tidak pernah masak, dia selalu beli dan tidak duduk di meja makan. Biasanya kami hanya makan sendiri-sendiri saja. Makasih ya, Yan.” Dirga berterima kasih.
“Kok, makasih sama aku?” Mulyana bingung.
“Mungkin mereka begitu karena ingin menghormati kamu, temanku yang datang. Sering-sering ya.” Dirga terlihat bahagia.
“Memang segitu dinginnya keluargamu?” Mulyana bertanya.
“Ya, aku lebih suka mereka bertengkar atau saling marah, mungkin karena cemburu, mungkin karena egois, pokoknya bertengkar, bukti bahwa cinta itu ada. Tapi mereka tidak pernah bertengkar, hanya saling diam, bicara seperlunya dan bahkan aku pernah lihat mereka mulai pisah ranjang.”
“Sedih sekali.”
“Orang tuamu tidak begitu?”
“Tidak, ibu dan ayahku sangat romantis, kadang aku takut kalau memilih pasangan, takut tidak sehangat mereka.” Mulyana menjawab.
“Aku pikir mungkin orang tuaku begitu karena umur pernikahan mereka yang sudah sangat lama. Tapi entahlah, aku hanya merasa ini tak adil saja untukku, sedih melihat mereka selama ini bertahan hanya untukku. Pada kenyataannya mereka tidak bahagia.”
“Ga, sejak kapan mereka begitu?” Mulyana bertanya lagi.
“Entahlah, sudah sejak lama mungkin.”
“Tapi adakah ingatanmu mereka pernah romantic?”
“Ya, tentu saja, ada.”
“Artinya mereka pernah saling cinta lalu tidak lagi?” Mulyana memastikan.
“Iya, kenapa memang?”
“Sekarang aku tahu siapa kakek itu,” Mulyana bergumam.
“Hah?” Dirga tak mendengar.
__ADS_1
“Malam ini aku menginap di rumahmu lagi ya?” Mulyana harus melakukan sesuatu.