
"A-A-Ayi bisa melihatku?" Aditia bertanya, karena selama ini tidak ada yang bisa melihat dia.
"Bukankah kau tahu, aku bisa melihat masa lalu dan dan masa depan, serta semua makhluk yang datang dari sana. Hanya aku yang bisa." Ayi berkata.
"Berarti selama ini Ayi melihatku?" Aditia tetap merasa bingung.
"Tidak selalu, kadang kau terlihat samar, kadang tidak terlihat sama sekali, tapi aku tahu, kau adalah cicit dari cicit dari cicit dari cicitku."
"Kau yang memanggilku ke sini?" Aditia bertanya lagi.
"Bukan, kau datang karena memang sudah waktunya melihat kami, ayahmu juga berkunjung ketika pertama kalinya Wangsa menjalani hukuman pada kedudukannya sebagai tuan dari Wangsa."
"Ayahku juga?" Aditia takjub.
"Tentu saja, dia datang, kadang di waktu kau datang, kadang di waktu kau pergi. Kalian datang bergantian.”
Dia datang dia saat aku pergi? Maksud Ayi, di saat sekarang? Apakah aku bisa bertemu dengannya?”
Aditia terlihat sangat senang, karena di saat ini waktu masuk dalam dunia paralel, dimana Ayah Aditia pada waktu masih muda, dipertemukan dengan Ayi Mahogra pertama, di waktu di mana Aditia juga datang ke sini. Berarti ada kemungkinan mereka bertemu, karena sama-sama ke masa lalu, di waktu yang sama. Walau keduanya berasal dari masa depan yang berbeda.
Tapi tentu saja, mereka tidak diperkenankan bertemu, karena waktu akan menjadi kacau, masa depan mungkin berubah, karena Aditia tahu kapan kematian ayahnya dan bisa saja memberitahu waktu tersebut dan membuat Mulyana akhirnya bisa menghindari kematian.
Maka dari itu Ayi tidak pernah melihat Mulyana maupun Aditia datang di waktu bersamaan kepadanya, walau tujuan mereka tetap padanya, yaitu waktu di mana Ayi Mahogra pertama lahir, tetap saja, mereka tidak dipertemukan oleh takdir.
“Aku tidak tahu, wahai cucu dari cucuku, cicit dari cicitku. Karena takdir yang membawa kalian berdua ke waktu ini, ayahmu dari waktu dia ketika muda dan kau dari waktu masa depanmu, bukan hanya ayahmu dan juga dirimu, tapi ….”
“Anakku? Cucuku? Cicitku?” Aditia merinding membayangkannya, karena mereka semua berasal dari masa depan jauh setelah dia meninggal kelak. Karena anak, cucu dan cicitnya bisa datang ke sini, dibawa takdir seperti dirinya, untuk menjelaskan hilangnya Wangsa.
“Kau tidak menghitung, kakekmu? Buyutmu dan … semua keluarga yang Wangsa pilih sebagai Kharisma Jagatnya, setelah kematian suamiku, anakku dan ….”
“Ayi cukup, aku pusing, akan sangat menatkutkan kalau aku bertemu mereka semua, maksudku, kami dari jaman yang berbeda berkumpul semua di sini, mungkin itu alasannya kami tidak dipertemukan bersama, apakah kau bisa berhubungan dengan mereka semua? Melihat mereka juga?” Aditia bertanya lagi.
“Tentu saja, sama sepertimu, melihatmu samar, lalu kadang jelas. Kalian semua berwajah sama, seperti … suamiku, mirip, tapi memiliki karakter masing-masing.”
“Ayi, jadi aku harus menunggu Abah pulang? Tidak perlu menjemputnya?”
“Ya, kau tidak punya wewenang melakukan itu, karena leluhurmu yang merupakan suamiku, sudah memberikan keputusan itu di zaman ini. Kau bersabar, tidak akan lama dia akan kembali.” Ayi menenangkan.
“Oh ya Ayi, terima kasih karena menyelamatkan Abah. Kau kan, yang membuat semua Karuhun tadi membangkang dan mengancam suamimu? Karena kau tahu Raja Abiyasa takkan goyah, kecuali jika itu menyangkut nyawamu, makanya kau meminta para Karuhun yang sebenarnya takkan bisa melawanmu, untuk berpura-pura memberontak agar meluluhkan hati Raja?” Aditia tersenyum licik, sama liciknya dengan nenek moyangnya.
Ayi tertawa tertahan, dengan menutup mulutnya.
“Lelaki itu memang mudah sekali ditebak, kalau aku tidak melakukannya, dia akan membuat Abah Wangsa berhenti menjadi Karuhun kami, aku membutuhkan Wangsa untuk keturunanku, walau kelak, Wangsa yang akan memilih, karena Karuhun itu tidak diturunkan, tapi dia memilih Kharisma Jagatnya, Wangsa tidak pernah keluar dari keluarga kita, dia selalu berada di garis kita, makanya aku ingin dia tetap bersama kita.”
“Ayi, kau benar-benar bijaksana, apakah setiap Ayi Mahogra seperti ini? Karena pada zamanku, Ayi sama bijaksana dan kuatnya sepertimu.”
“Entahlah, aku tidak suka memuji diriku sendiri, tapi sampaikan salamku pada cicitku itu ya, dia jauh lebih kuat dari yang dia bayangkan dan semua Ayi Mahogra akan mendapat pasangan yang sangat mencintai dia, itu adalah imbalan dari Tuhan, karena kita dibebankan tugas untuk menjaga Negeri ini agar aman dari masalah ghaib.”
“Ya, akan aku sampaikan pada Ayi Seira, Ayi jamanku sudah mendapatkan pasangan yang sama berkharismanya dengan Raja Abiyasa. Beruntungnya orang-orang yang dikaruniai takdir sehebat Ayi Mahogra.”
“Ya, setelah aku tiada, akan lahir Ayi Tirung, karena kelahiranku hanya setiap 300 tahun sekali, bisa lebih, bisa kurang, sedang sebelum aku yang berikutnya lahir, Ayi Tirung akan menggantikan kami sementara, tapi dia tidak punya Karuhun, kalau Ayi Mahogra sudah ada pada zamanmu, maka kemungkinan dia adalah Ayi Mahogra ketiga dan kemungkinan dia lahir lebih awal, tidak genap 300 sampai 350 tahun sekali, apakah zaman kalian sangat mengerikan, hingga kelahiran Ayi Mahogra lebih awal datangnya?” Ayi Sarika benar-benar terlihat gusar.
“Ya, terjadi peperangan antara Ayi Mahogra Seira dan ….”
__ADS_1
Boom!
Tiba-tiba Aditia seperti dihisap hingga tubuhnya melayang dengan kecepatan tinggi, kupingnya terasa sangat pengang, matanya juga gelap, dia merasa tubuhnya diputar-putar persis seperti ketika dia pertama kali di bawa ke dunia Raja dan Ratu beberapa waktu lalu.
Lalu Aditia merasa tubuh tak kasat matanya, jatuh, ambruk ke dalam tubuhnya sendiri.
“Dit!” Alka buru-buru membangunkan Aditia dari tidurnya, Aditia bingung karena semua orang berkumpul, dimana dia?
“Ka, aku di mana?” Aditia bertanya, tangannya terasa sakit.
“Duduk dulu, sebentar aku buat nyaman tempat tidurmu.” Alka lalu membuat tempat tidur Aditia lebih tegak, agar Adit bisa sedikit duduk.
Setelah penglihatannya pulih, dia melihat sekeliling, ternyata rumah sakit, tangannya diinfus, lima sekawan ada di sini, Hartino hadir dan semua orang terlihat kacau, semua memakai pakaian rumahan, seperti kamar rumah sakit ini adalah rumahnya.
“Jadi, ada apa?” Aditia bertanya lagi.
“Kami yang seharusnya tanya, ada apa Dit?” Ganding dan yang lain menghampiri Aditia, duduk mengelilinginya di ranjang rumah sakit kelas VIP.
“Memang aku kenapa?” Aditia bingung, karena dia malah di rumah sakit.
“Kau itu koma selama satu bulan Dit, kami seperti orang gila mencari cara agar kau bangun, kami bahkan memindahkan perpustakaan markas, kitab di gua kakak dan juga ramuannya ke sini, kami berjibaku dengan semua cara pengobatan, mencari cara kau bangun, karena Alka tidak bisa merasakan sukmamu, kalau kau mati, tentu tubuhmu sudah kaku dan membiru, tapi kau masih hidup, hanya sukmamulah yang dibawa entah oleh siapa dan kemana, sedang ruh yang membuat tubuhmu hidup masih ada, ruh yang mengubah zat mati menjadi hidup masih ada, artinya kau belum mati.
Kami tidak menyerah selama sebulan ini untuk membuatmu bangun, kami bahkan bergantian menghampiri musuh-musuh kita untuk memastikan, tidak ada yang main-main dengan sumkmamu, tapi nihil, taka da satu pun yang tahu keberadaan sukmamu.”
“Nding, ibu dan adikku bagaimana?” Aditia sangat khawatir pada dua orang yang paling dia sayang itu.
“Tentu saja kami jaga Dit, tapi ibumu dan kami berjaga bergantian.”
“Tidak, seperti biasa, bohong lagi.” Ganding sedih harus membohongi keluarganya Aditia, tapi mereka semua membohongi keluarganya bukan? kecuali Alka, karena dia tidak punya keluarga.
“Kalian bilang apa pada ibuku?”
“Kami bilang rekan kerjamu, kecuali Alka, dia tetap bersembunyi, kan ibumu tahunya, kau kerja di perusahaan kami lalu sorenya narik angkot.”
“Baiklah, lalu?”
“Kau yang cerita, dibawa kemana selama ini?” Hartino tiba-tiba bicara.
“Har, apa kabar? Kami rindu.” Bukannya menjelaskan dia malah sibuk menyapa Hartino.
“Diam kau, cerita dulu kau dari mana?” Hartino malah menampik tangan Aditia.
“Pulang kampung.”
“Hah? ke rumah nenek, Dit?” Ganding bertanya, sementara Alka sibuk mengambilkan air untuk Aditia.
“Lebih tepatnya ke rumah nenek moyang.” Aditia tertawa, tangannya sakit, dipasang infus selama ini.
“Hah? nenek moyang? Maksudnya?” Ganding bertanya balik.
“Ya, aku bertemu dengan Ayi Mahogra.”
“Ayi Mahogra? kau di AKJ, tapi kami sudah bertanya padanya, dia bilang kau tidak di sana.”
__ADS_1
“Bukan Ayi Mahogra generasi selanjutnya, tapi Ayi generasi pertama, namanya Ayi Sarika. Dia persis seperti Ayi Mahogra Seira.”
“Maksudnya, kau masuk ke dunia paralel?” Alka terlihat bersemangat.
“Iya, itu namanya dunia paralel? Aku baru tahu.”
“Kalau kau masuk ke dunia lain dengan waktu yang berbeda, bisa masa lalu atau masa depan, artinya kau masuk ke dunia paralel.” Ganding si jenius menjelaskan.
“Ya, betul, itu waktu masa lalu, ketika masih tahun 1400an, aku tidak tahu tepatnya tahun berapa.”
“Wah jauh sekali, saat itu adalah waktu-waktu setelah Kerajaan Majapahit runtuh, Dit."
"Betul! saat itu adalah waktu di mana kerajaan Sunda bangkit. Waktu di mana leluhurku hidup Nding."
"Maksudmu, kau itu adalah keturunan dari tahta kerajaan Sunda Dit?" Ganding terkejut.
"Iya, keren kan gue Nding?"
"Nggak sih, biasa aja, kan di kalangan kita, udah biasa kalau keturunan kerajaan."
"Ah, menyebalkan!"
"Lanjut Dit." Alka meminta Aditia untuk melanjutkan ceritanya.
"Jadi ini semua adalah serangkaian jawaban, hilangnya Abah Wangsa, penyebab Abah tidak bisa aku deteksi sama sekali keberadaannya."
"Nah ini yang aku tunggu, masa kau ke sana hanya tur antar waktu, pasti ada alasannya."
"Jadi Abah saat ini sedang menjalani hukuman seumur hidupnya, yaitu 30 tahun sekali, dia harus dihukum atas pengkhianatannya terhada Ratu Dahlia, Kharisma Jagat pada jaman itu, tuan dari Abah Wangsa saat itu."
"Abah berkhianat? bukankah Abah Karuhun paling loyal?" Hartino heran.
"Abah punya alasan yang tepat untuk melakukan pengkhianatan itu, jadi memang lagi-lagi dia lakukan untuk melindungi semua orang, salahnya adalah mengorbankan banyak orang untuk menyelamatkan tuannya, aku dibawa ke masa-masa itu, jujur, rasanya sedih melihat Abah harus menanggung siksa sendirian, tapi memang, setiap perbuatan selalu ada konsekkuensinya bukan?"
"Jadi sekarang Abah bagaimana?" Alka bertanya.
"Kita hanya perlu menunggu dia untuk pulang setelah menjalani hukumannya, mungkin keadaannya akan buruk begitu kembali, kita harus menyiapkan tempat pemulihan untuknya."
"Kau juga harus pulih Dit, karena kita akan kembali menangani kasus." Ganding mengingatkan semua orang.
"Kasus? ada kasus lagi?" Aditia bertanya.
"Iya, kasus klasik lagi."
"Termasuk Hartino?" Aditia bertanya.
"Ya, termasuk aku."
"Lalu bagaimana dengan Alisha?" Aditia bertanya lagi.
"Dia ... tidak bersamaku lagi."
"Kok?!"
__ADS_1