
Ada sebuah jembatan yang terkenal karena kutukannya, katanya, siapa saja yang melewati jembatan itu, maka kau akan dipisahkan dengan orang yang kau cintai.
Tapi tidak hanya soal kau berjalan melewatinya lalu mendapat kutukan, ini yang kebanyakan orang tidak tahu, jika saja hitunganmu untuk sampai di sisi sebrang jembatan itu mencapai hitungan 66 langkah, maka keinginanmu akan tercapai.
Tapi jarang sekali orang yang bisa mencapai hitungan tersebut.
Karena angka 66 bukanlah angka yang mudah untuk dicapai dengan tepat.
Lalu kenapa hanya soal putus cinta saja yang menonjol pada kisah tentang jembatan tersebut? Karena berita tentang kutukan tentu saja akan mudah tersebar dibanding cerita tentang sisi lain jembatan itu.
Lalu pertanyaannya, apakah Kemala ke sana karena sudah tahu bahwa jembatan itu punya sisi lain untuk didapatkan?
…
“Pagi Dit, udah bangun?” Kemala menyapa teman barunya, dia sedang membantu ibunya Aditia Membuat kue basah, sedang Dita baru saja selesai mandi.
“Iya baru bangun, kau bisa membuat kue basah?”
“Ih Dit, dia jago loh buat kue basahnya, ini udah mau selesai, kamu pinter deh geulis, sering-sering main ke sini.” Ibunya Aditia terlihat sangat terkesan dengan wanita ini.
“Bu, udah ah, jangan gitu, takut membebani Kemala, udah Adit mandi dulu, abis itu Adit anter Kemala pulang.”
“Eh, sarapan dulu, Kemala belum sarapan loh, dia nungguin kamu katanya.”
“Loh, bukan sarapan aja kamu, yaudah aku mandi dulu ya, nanti kita sarapan bareng.” Aditia bergegas untuk mandi agar bisa bergegas untuk sarapan, dalam pemikirannya, dia tidak boleh membuat Kemala untuk menunggu lagi, wanita ini sudah menahan lapar untuknya. Aditia tersenyum mendengat itu.
Segera setelah mandi, sarapannya sudah disiapkan oleh Kemala, lalu mereka makan berdua.
“Aneh,” Aditia berkata.
“Kenapa” Kemala bertanya.
“Tidak seperti masakan ibuku, nasi gorengnya.”
“Aku yang memasak, ibumu sibuk menyiapkan kue basahnya, lalu kutawarkan diri untuk memasak sarapan, katanya tak masalah kalau aku tak keberatan, makanya aku melakukannya. Apa ini tidak sesuai dengan mulutmu?” Kemala bertanya.
“Aku bukan orang yang memilih-milih soal makanan, jadi tidak masalah juga.”
“Baiklah.”
Mereka lalu makan dalam keheningan lagi, setelah selesai sarapan, Kemala pamit pada ibunya Aditia dan mereka pun pergi untuk mengantar Kemala pulang.
“Dit, kenapa kau baik sekali, keluargamu pun baik. Kau punya ibu yang sangat tenang dan baik, tidak banyak menduga setelah melihatmu membawaku pulang, sedang adikmu juga sangat manis, tidak bertanya siapa aku, kenapa aku menginap, benar-benar keluarga yang tenang.”
“Memang keluargamu tak begitu?”
“Keluargaku? Aku tidak tahu, karena aku anak yatim piatu.”
“Kau sekarang tinggal dengan siapa?” Aditia masih menyangka suaminya bunuh diri di jembatan itu.
“Sendirian, di rumah peninggalan suami-suamiku.”
Aditia batuk, terkejut mendengar itu.
“Suami-suami?”
“Terkejut? Tak heran, aku pun masih terkejut jika itu sudah terjadi selama tiga kali sejak yang terakhir.”
“Kau sudah menikah tiga kali?”
“Ya, aku sudah menikah tiga kali.”
“Lalu?”
“Mereka semuanya meninggal, sebelum … sebelum sempat mencicipi pengabdianku. Ironis, setelah tiga kali menikah dan menjadi janda, aku masih seorang yang tidak tahu apa itu rasanya malam pertama.”
“Maksudmu, suamimu meninggal bahkan sebelum kalian melakukan malam pertama? Maaf aku ….”
__ADS_1
“Orang-orang menyebutku, bahu laweyan, orang yang memiliki kesialan, karena memiliki tahi lalat di pundak kiri, kutukan pernikahan, siapapun yang menikahi pasti mati, tapi nyatanya, aku tak punya tahi lalat pada bahu kiriku. Walau begitu, tetap saja, aku diharuskan untuk menerima predikat nama kutukan itu.”
“Aku pernah mendengarnya, tapi itu hanya legenda bukan? maksudku mungkin saja takdirmu buruk, tapi tidak menuntup kemungkinan memang ada yang salah.”
“Kau percaya hal ghaib Dit?”
Andai Kemala tahu, Aditia bukan hanya percaya, dia bahkan satu-satunya dalam kawanan yang mampu membuka pintu ghaib, tentu Kemala akan terkejut.
“Percaya, kita memang berdampingan.”
“Kalau aku, terbiasa.”
“Kenapa begitu” Aditia bingung.
“Kalau aku tidak, untukku itu hanya omong kosong, dongeng orang-orang pengecut yang menghindari jawaban eksak, karena jawaban yang tak pasti lebih banyak disukai.”
“Maksudmu ghaib itu tak pasti? Sedang logika itu eksak?”
“Tentu saja, mereka bilang aku Bahu Laweyan, tapi mereka tak melihat dengan jelas, bahwa semua ada alasannya.
Untuk suami pertamku, dia seseorang yang sangat tua, 65 tahun dia menikahiku, karena aku anak yatim piatu, mudah menawarku pada kepala panti asuhan, aku yang masih berumur lima belas tahun, tidak mampu berbuat banyak, maka aku menerima pinangan itu dengan tenang.
Hingga malam pertam tiba, kakek tua itu terkena serangan jantung, bahkan hanya ketika aku baru melepas bajuku, dia sesak nafas lalu berhenti bernafas. Aku mendapatkan tanah yang cukup luas sebagai warisan, beberapa keluarga menuntutku, dianggap pembunuh, tapi pengadilan memenangkanku dan menjadikan tanah itu sebagai hak, karena terbukti, aku satu-satunya ahli waris, aku bisa apa? bahkan pengadilan memihakku.
Suami keduaku, dia seseorang yang sudah mapan, umurku sudah 20 tahun saat itu, kami bertemu di kantor, dia seorang duda beranak tiga, anak-anaknya tidak setuju pernikahan kami, tapi kami tetap menikah, katanya dia tidak peduli dengan ucapan anak-anaknya, karena mereka semua sudah dewasa, maka aku bisa apa selain menerima pinangan itu, lelaki baik yang mencintaiku.
Sayang, dia meninggal dunia bahkan sebelum aku masuk kamarnya untuk malam pertama.
Penyebab kematian adalah … diracun.
Persidangan kembali digelar, aku dinyatakan tidak bersalah setelah pernah ditangkap sebagai tersangka karena satu-satunya yang mungkin melakukan itu.
Tapi setelah banyak waktu terbuaang, akhirnya terbukti, bahwa anak pertamanyalah yang meracun ayahnya sendiri, alasannya karena uang, apalagi?
Ternyata ayahnya memberikan seluruh aset atas namaku, termasuk perusahaan yang masih dipimpin anak-anaknya.
Pengadilan menyatakan aku tidak bersalah dan lagi-lagi seluruh aset atas namaku berhak aku miliki, tapi aku membaginya pada tiga orang anaknya, secara rata, aku tidak haus harta, aku hanya ingin bahagia.
Lali tiga tahun lalu, beberapa bulan lalu, saat umurku 25 tahun, aku kembali dipertemukan oleh seorang lelaki yang sangat tampan, umurnya 30 tahun, sungguh lelaki yang aku impikan, tampan, baik dan mapan, uang bukan lagi kendalaku, aku hanya ingin bahagia, Dit.
Tapi lagi-lagi aku ditinggalkan, beberapa bulan setelah pernikahan, dia bunuh diri di jembatan itu, di mana kita pertama kali bertemu.
Alasannya? Aku tidak tahu, Dit, yang aku tahu, dia bahagia bersamaku, walau dia menolak melakukan hubungan intim, katanya, menunggu kami melaksanakan resepsi, padahal aku tidak ingin resepsi itu, aku hanya ingin suamiku. Akad dan resepsi kami jadwalkan berbeda, karena menunggu keluarganya yang dari luar negeri datang, tapi belum juga resepsi itu dilaksanakan, dia malah menyerah para hidup, tanpa aku tahu alasannya.”
“Kalian tidak bertengkar sebelum dia meninggal dunia?”
“Tidak, sama sekali tidak. Bahkan aku menyajikan makan siangnya seperti biasa, tertawa bercanda bersama sebelum akhirnya dia pamit padaku untuk bertemu temannya, lalu keesokan paginya, mayatnya ditemukan mengambang, kemungkinan bunuh diri, karena bahu jembatan itu begitu tinggi untuk sekedar tergelincir, yang aku heran, kenapa dia di sana malam-malam, kemungkinan apakah yang membuatnya harus ke sana, karena sebrang jembatan itu hanya desa yang tidak banyak penduduk, sedang dia tak punya kenalan di desa itu. Aneh.”
“Kau mau aku bantu cari tahu penyebab kematian suami terakhirmu?” Aditia menawarkan diri.
“Memang bisa?”
“Aku punya kenalan mantan komandan Polisi, dia bisa saja bantu kita mengumpulkan data. Bagaimana?”
“Aku sangat berterima kasih jika kau bisa bantu.”
“Apa kau tidak melaporkan ini ke Polisi?” Aditia bertanya.
“Sudah, tapi Polisi tidak punya jawaban, katanya, hanya orang yang bunuh diri itu saja yang tahu alasan dia melakukan itu.”
“Ya itu benar, tapi kan biasanya ada penyelidikan Mal, bisa ditarik kemungkinan juga, misal mempelajari latar belakang keluarganya, temannya, mantan pacarnya.”
“Itu yang menjadi kelemahanku, aku tidak terlalu banyak bertanya soal keluarga suamiku, aku hanya selalu menerima pinangan dengan tergesa, aku merasa menikah adalah jalan bahagia, tapi malah jadi begini.”
“Sudah sampai, itu rumahmu?” Aditia bertanya.
“Iya, itu rumahku.”
__ADS_1
Rumah yang sangat besar, dengan pagar yang kokoh dan besar berwarna emas, bangunan tinggi yang menjulang berlantai 3. Aditia takjub, dia bukan perempuan sembarangan, dia perempuan kaya raya.
“Kau tinggal sendirian?”
“Tidak, aku tinggal bersama 5 orang pembantu dan juga 3 orang anak panti asuhan yang kujadikan asisten mengurus semua kebutuhanku dan perusahan yang aku bangun sendiri. Turun dulu, kita makan siang.”
“Baru jam segini, masa makan siang.”
“Kalau begitu, kau suka kopi?” Kemala bertanya.
“Suka.”
“Kalau begitu, aku buatkan.”
“Sulit dipercaya, kau membuatkanku kopi dan memasak tadi di rumahku.”
“Maksudnya? Oh, pasti gara-gara rumahku ya? Aku tidak kaya, ini peninggalan suamiku, suami pertama yang memberikanku tanah di sini, lalu aku bangun rumah dari uang suami keduaku aku dan anak-anaknya menjual perusahaan dan uang dibagi rata, sedang suami terakhirku mewariskan begitu banyak deposito dan saham, karena usianya muda, peninggalannya pun lebih modern, aku tidak terlalu peduli.”
“Kau wanita kaya raya, hati-hati.”
“Dari siapa? Darimu?” Mereka berdua tertawa mendengar perkataan Kemala.
“Dariku pun harus tetap hati-hati, niat hati orang siapa yang tahu?”
“Ya, ayo turun.” Kemala meminta Aditia turun, mereka sudah diparkiran rumah Kemala. Begitu Kemala keluar dari angkot, tiga orang asistennya langsung berlarian menyambut Kemala.
“Ibu, kemana aja dari semalem, kami khawatir, ibu nggak bawa HP juga.” Salah satunya berkata dengan panik.
“Kenalkan ini Aditia temanku, dia akan membantuku untuk mengetahui alasan suamiku bunuh diri.” Tanpa basa-basi Kemala memberitahu itu pada asistennya, Aditia kikuk, perempuan ini benar-benar terlalu terbuka atas apa yang terjadi ke hidupnya.
“Apa kau yakin Bu, kau sudah kenal lama dengan orang ini?”
Kemala ternyata punya orang-orang yang jauh lebih cerdas di sampingnya, pantas dia begitu percaya.
“Masuk dulu, aku buatkan kopi.”
Tiga orang itu menatap Aditia dengan wajah kesal tapi ikut perintah bosnya.
Aditia duduk di ruang tamu, sungguh rumah yang mewah dan sangat luas.
Tak lama Kemala datang membawa kopi dengan nampan emas, sedang beberapa orang mengikutinya dari belakang, mungkin pembantunya, tuan rumah menyediakan kopi untuk tamu padahal pembantunya ada banyak, itu cukup membuat heran. Sementara tiga orang asistennya duduk di hadapan Aditia.
Kemala duduk di samping Aditia denga kursi terpisah, kursi single yang hanya bisa diduduki satu orang. Kemala duduk menghadap Aditia dan juga tiga orang asistennya.
“Aku percaya Aditia bisa membantu kita memecahkan kasus suamiku, aku tidak ingin orang-orang menambah rumor tetang Bahu Laweyan padaku, kalian harus bantu dia menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh Aditia.”
“Baik Bu.” Jawan salah satu asistennya.
“Aku hanya butuh data suamimu dengan lengkap termasuk seluruh harta kekayaannya.”
“Untuk apa data kekayaannya?” Tanya salah satu asistennya, dia terlihat curiga.
“Untuk menelusuri nilai kekayaannya dari mana, apakah halal atau haram, seringkali percobaan bunuh diri dilakukan karena alasan keuangan, orang yang terlihat kaya raya, bisa jadi adalah orang yang terlilit hutang. Maka aku butuh daftar kekayaannya.” Aditia dianggap remeh karena datang dengan angkot, mereka tidak tahu kalau Aditia adalah putra mahkota sebuah perusahaan besar juga.
“Berikan tanpa bertanya, tanpa curiga, aku percaya.” Kemala berkata dengan tegas, para asisten mengangguk dengan kesal.
“Wow, kopimu sangat enak, kau pakai kopi dari aman?” Aditia bingung.
“Dari pabrikku sendiri, aku memproduksi kopi, kalau kau suka, aku bisa kasih kopinya, sekalian untuk ibu dan adikmu juga, mereka suka kopi?”
“Tentu saja, kami semua pecinta kopi, tapi janganlah, terlalu merepotkan.”
“Tidak mengapa, hanya kopi saja.”
Lalu Kemala memanggil pembantunya untuk menyiapkan kopi, tak lama kopi datang, tak tanggung-tanggung. Dia memberikan kopinya sampai 5 kilogram, Aditia ingin menolak, tapi Kemala memaksa. Akhirnya Aditia menerima dengan berat hati.
Sedang kasus ini, ingin dia pelajari sendiri, karena dia yakin, ada yang salah dengan suaminya Kemala, pun mungkin dengan diri Kemala sendiri.
__ADS_1