Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 390 : Toko Emas 20


__ADS_3

Di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa terdapat ritual atau adat istiadat memanggil anak yang sudah meninggal sebelum dewasa atau akil baligh, juga anak yang meninggal ketika masih di dalam kandungan atau keguguran dan anak yang meninggal pada saat dilahirkan.


Ritual ini adalah untuk memelihara atau menjaga roh anak kecil yang sudah meninggal dan sewaktu-waktu dapat menjelma. Roh anak yang dipelihara tersebut disebut sebagai ANAK AMBAR.


Kata ambar berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya "menghilang", masyarakat Tionghoa peranakan juga merawat anak ambar dengan memberinya sepatu dan busana mini. Kemudian pada malam-malam tertentu, terutama hari atau malam kematiannya akan disediakan sesajen berupa pisang raja, telur ayam, dan air putih atau bisa juga makanan kesukaan anak ambar ketika masih hidup jika meninggal setelah dilahirkan.


Ada juga beberapa kalangan masyarakat yang percaya anak ambar bisa memberikan kekayaan orang tuanya, sehingga anak ambar biasanya diperlakukan seperti manusia hidup meskipun tidak dapat dilihat dengan mata oleh orang lain, tapi biasanya bisa dilihat oleh orang tua yang memanggilnya.


Beberapa kalangan juga percaya memelihara anak ambar bisa membantu mewujudkan apapun permintaan, baik dalam hal ekonomi atau masalah lainnya. Juga bisa sebagai perlindungan atas serangan ghaib.


Tapi kebanyakan anak ambar yang dipanggil adalah anak-anak yang belum lahir, meninggal saat dilahirkan atau baru berusia tidak sampai 5 tahun.


Anak-anak ambar dipercaya bahwa, setelah mereka dipanggil anak-anak itu akan bertumbuh selayaknya anak yang masih hidup, tapi syaratnya harus diberi sesaji, baju dan semua keperluan lainnya, mirip seperti anak yang masih hidup.


“Aku belum pernah memanggil anak yang berumur 12 tahun untuk dijadikan anak ambar, aku pikir kalian satu-satunya keturunan keluarga itu yang takkan melakukan ritual ini, karena anak kalian sudah berusia belasan tahun, tapi ternyata aku salah, sepertinya kutukan anak ambar sudah melekat pada kalian, hingga pasti ada saja saatnya keluarga kalian akan memelihat anak ambar.” Babah berkata setelah seminggu setelah mami dan papi menyiapkan segalanya untuk melakukan ritual.


“Aku memohon pertolongan karena mungkin keluarga kami takkan selamat jika saja kami tidak memanggilnya, Babah.” Mami berkata dengan sedih.


“Aku tidak janji ini akan berhasil, karena anak yang akan kalian panggil sudah cukup besar, tapi karena keluarga kalian punya keistimewaan dalam ritual ini, mungkin saja kita akan berhasi, tapi kalau tidak berhasil, kalian harus ikhlas.” Babah memperingatkan lagi, dia bukan dukun hitam, tapi memang banyak hal dia lakukan untuk menyembuhkan orang dengan ritual sesuai budaya yang mereka anut, bukan berdasarkan agama, karena ilmu yang dia pelajari memang dari budaya yang dia anut.


Mami dan papi sudah memakai pakaian yang dikenali oleh adik, baju terakhir yang adik gunakan sesaat sebelum meninggal sudah di taruh di dalam baskom air, yang diambil dari 13 mata air, baju itu terendam sempurna, darah dari baju itu juga sudah dibersihkan walau tidak mampu bersih sempurna, wewangian yang adik suka sudah dituang ke dalam baskom itu juga, baskom itu ada di hadapan orang tuanya.


Di sekeliling orang tua yang duduk dengan bersila itu ada lilin berwarna merah yang menjadi batas antara dunia ghaib dan dunia nyata, Babah mulai membacakan mantra.


Mantra memanggil jiwa yang telah tiada.


Baju baru yang kelak akan dipakai adik si anak ambar itu juga sudah disiapkan, mulai dari pakaian dalam hingga rok tak lupa sepatu, sudah disiapkan, seolah akan menyambut kedatangan seorang anak.


Semuanya baru, untuk menyenangkan anak ambar itu dan akhirnya setuju tinggal lagi bersama orang tuanya sebagai anak ambar.


Babah duduk di luar lingkaran lilin yang di dalam lingkaran itu terdapat mami, papi dan baskomnya.


Khuv khuukhed garchir, bidnii omno garchir


Bid chamaig duudna


Bid tand shine khuvtsas irlee


Bas shine gutal avsan


Etseg ekh chini end baina


Etsrgg ekh khoyoryg  sanaj baina


Kutkus … kutkus … kutkus ….


Semua orang memanggil anak ambar itu, dengan kata-kata terakhir, semua berteriak dan Babah membunyikan kerincing yang memiliki  batang besi berwarna emas untuk pegangan.


Lampu mati, lilin juga mati, Babah terdiam, tubuhnya telah berada di alam lain, tubuhnya berada di alam ghaib.


Kutkus! Kutkus! Babah membisik nama anak itu agar tidak terdengar oleh ‘penghuni’ lain yang ada di dunia ghaib itu, karena bisa jadi, siapa saja datang menyamar jika tahu nama anak itu. Makanya dia memanggil nama anak itu dengan berbisik.


Dibelakang Babah ada mami dan papi, mereka masuk ke alam ghaib bertiga, Babah untuk menunjukkan jalan dan orang tuanya untuk membujuk.


Mereka jalan terus walau banyak ‘mereka’ ruh-ruh yang sedang berada di dunia ghaib. Terus memanggil dengan mebisikkan nama adik.


Dari kejauhan terdapat sinar yang aneh, mantra itu didengar oleh ruh yang hendak dipanggil, ruh itu mengenali suara orang tuanya, maka dia menunggu di ujung sana.


Begitu melihat anak itu, Babah berlari diikuti oleh mami dan papi, setelah mendekat, papi dan mami terdiam, karena anak itu kepalanya terbelah, walau dalam sujud ruh, kepala anak itu terbelah persis wujudnya ketika dia kecelakaan.


“Adik mau ikut mami dan papi?” Babah bertanya dengan hati-hati, karena ini adalah waktunya persetujuan.


“Tapi sakit ini.” Adik menunjuk kepalanya, rupanya sebelum ini dia di alam ruh anak yang membuatnya tidak merasakan sakit sama sekali, tapi begitu mendengar panggilan dari orang tuanya, dia menyebrang kea lam ghaib, di sini dia mulai merasakan sakit lagi kepalanya.

__ADS_1


“Nanti kalau sudah ikut kami, adik kepalanya nggak akan sakit lagi, adik nanti pakai baju baru, bukan baju ini yang kotor. Ini papi mami rindu loh, emang adik nggak mau ikut papi mami?” Babah membujuk, ini yang dimaksud Babah kalau anak sudah terlalu besar, maka akan sulit membujuknya, karena anak itu jauh lebih bisa berpikir walau dalam bentuk ruh.


Tapi kalau anaknya masih berupa janin atau belum lewat dari umur 5 tahun, anak itu hanya tinggal ditarik keluar, kalau sekarang, tergantung keinginan anak itu, tetap di dunia fana dan merasakan sakit walau akan selalu bersama ibunya, atau kembali ke dunia ruh anak.


“Adik pulang sama mami yuk, kita makan bareng dan  nanti main bersama lagi, main bersama papi juga.”


Mami mengulurkan tangan, dia tak ingin melewatkan kesempatan ini, walau wujudnya sangat mengerikan itu lebih baik daripada anak itu sudah tidak ada lagi.


“Sakit mami.” Anak itu sepertinya akan menolak, Babah buru-buru membaca mantra agar anak itu tidak lepas ataupun kabur.


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


BI TOGLOMOOR BAINA


(ayo kita main)


NADTAI TOGLOOCH


(bermain denganku)


NAMAIG DAGARAI


(main denganku)


Kata ini kelak akan terus diulang oleh adik ketika mendatangi Amanda yang energinya sedang diserap melalui kalungnya.


Adik mengulurkan tangannya pada mami, begitu tangan itu tergenggam, dingin sekali, mami menahan air mata agat tidak menangis, tangan hangat itu telah tiada berganti menjadi tangan dingin.


Mereka kembali ke tubuh mereka, sedang adik masih dengan wujud ruhnya, begitu sampai dia dipakaikan gaun putih yang telah disiapkan, gaun yang menjuntai sampai kakinya, baju itu sengaja dibuat dangan panjang, adik melayang, hingga tubuhnya terlihat seperti wanita dewasa dengan gaun itu, kelak Sum mengira bahwa adik adalah kuntilanak dengan rambut panjang dan kepala terbelah, padahal dia hanya ruh anak remaja yang melayang sehingga tubuhnya terlihat sangat tinggi setinggi wanita dewasa.


“Anak mami sangat cantik, anak mami ikut pulang ya, sekarang sudah nggak sakit lagi kan?” Mami memegang dupa, karena Babah menyuruhnya agar adik tidak kesakitan dan selalu membaca mantra mengajak bermain agar adik senang.


Setelah ritual selesai, mereka pulang dengan membawa sebuah tabung, yang berisi patung berwarna hijau, patung manusia kerdil, ruh adik sementara ditaruh di sana dulu, agar adik tidak pergi ke mana-mana.


Begitu sampai rumah, kamar adik dibersihkan, kamar itu di cat ulang, dibuatlah kasur berkelambu dan juga altar pendek pemujaan disiapkan di sana, makanan adik harus diganti tiga kali sehari, walau makanan itu tidak dimakan seperti layaknya manusia, tapi saripatinya sudah dihisap, maka ketika kau memakan makanan bekas sesaji, makanan itu akan terasa hambar, karena saripatinya telah dihidup oleh ‘mereka’ target dari sesaji itu.


Setelah kamar siap, meja altar siap, mami mengeluarkan adik agar tinggal di kamar itu.


Adik keluar dan terlihat senang karena dia kembali ke kamarnya.


“Adik senang?”


Adik hanya mengangguk, papi dan mami melihat adik kembali walau dalam wujud ruh merasa sangat senang.


Kakak yang sedang lewat kamar itu mendengar suara obrolan dari kamar, dia kira kamar itu akan ditutup selamanya, tapi dia akhirnya maklum, mungkin papi dan mami sedang rindu pada adik yang  makanya mereka membuka kamar adik untuk sekedar mengingat adik.


Makanya akhirnya dia hanya meninggalkan saja ruangan itu untuk dan kembali ke kamarnya untuk istirahat, akhir-akhir ini kakak sedang sibuk lagi dengan kuliahnya setelah sebelumnya sempat cuti.


Walau sebenarnya dia tidak ingin lagi menginga-ingat kejadian itu karena sangat menyesakkan hatinya, rasa bersalah sangat menyiksanya.


Tapi dia tak ingin mati, karena mari bukan jawaban, dia juga tak merasa lega sedikitpun, kehilangan adik tak dia ketahui sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan, walau dia merasa adiknya pencuri, tapi tidak ada dalam wacana hidupnya untuk membuat adiknya meninggal dunia.


Entah sejak kapan keadaan keluarga membaik, mereka jadi sering makan malam bersama lagi, walau kakak tidak pernah mendengar mami dan papinya memanggil dia dengan panggilan cici lagi dan panggilan itu menjadi seperti haram digunakan di rumah ini, mereka cenderung memanggil nama atau aku kamu saja, tidak pernah ada lagi panggilan cici di rumah itu, sedang kakak tidak masalah karena toh, sekarang dia tak punya adik juga, jadi untuk apa dia dipanggil cici juga.

__ADS_1


“Mi, aku pinjam kunci kamar adik, mau ambil buku kosong di lemari adik, kayaknya masih ada ya Mi?”


“Biar mami yang ambil.” Maminya menolak kakak yang ambil ke kamar itu.


Kakak mengikuti mami dari belakang, tak ada tujuan lain, hanya ingin ikut ambil saja.


Mami berhenti sebelum mereka sampai pintu dan meminta kakak untuk ke kamarnya saja, biar dia yang ambil ke kamar adik.


Kakak akhirnya kembali ke kamar dan bingung dengan sikap ibunya.


Tak lama ibunya ke kamar kakak dan memberikan buku kosong itu dari kamar adiknya.


“Ini bukunya.”


“Mi … kenapa aku nggak boleh masuk kamar adek?” Kakak bertanya.


“Karena kamar adek nggak boleh kotor.”


“Apa! tapi aku cuma masuk, masa kamar adek jadi kotor. Mi, ada apa sih?”


“Nggak ada apa-apa, yaudah kamu lanjutin tugas kamu, sekarang Mami mau siapin makan malam.”


Jawaban mami membuat kakak menjadi sangat penasaran, kenapa dia tidak boleh masuk kamar itu, kalau dipikir-pikir juga, kamar itu terkunci setiap saat, bukankah itu aneh, seharusnya kamar itu dibuka, kalau memang takut kamar adik kotor, lalu kenapa kakak nggak pernah lihat kamar itu dibersihkan? Karena kakak tidak pernah lihat pembantu masuk ke kamar itu untuk dibersihkan. Jadi kalau kamar itu harus bersih, siapa yang membersihkannya? Masa iya mami? Kakak semakin tenggelam dalam pikirannya, tapi akhirnay dia menunda pemikiran itu karena ada yang harus dia kerjakan dulu.


Malam tiba, mereka makan malam bersama, setelah makan malam selesai mereka saling kembali ke kamar, hingga akhirnya malam semakin larut. Kakak sudah tertidur, tapi bangun karena haus sekali, dia lupa membawa air putih ke kamarnya, akhirnya dia ke luar kamar hendak mengambil air minum, dia berjalan dengan mata masih sedikit tertutup karena masih mengantuk, tapi saat dia melewati berjalan, dia seperti mendengar suara ibunya yang mengobrol, tertawa-tawa, di mana itu, karena kamar ibunya di dekat kamarnya, sedang suara yang dia dengar itu dari kamar … adiknya!


Kakak perlahan mendekati kamar adiknya, benar, itu suara ibunya dia menguping dan mendengar sesuatu yang aneh.


“Adek cantik banget, adek cepet banget gedenya.” Kakak mendengar itu menjadi merinding, kenapa ibunya bicara sendiri tapi saat dia ketakutan ibunya menjadi gila, dia mendengar suara yang aneh, suara … tertawa yang samar, suara itu mirip sekali dengan suara tawa … adiknya.


Kakak lalu mengetuk pintu kamar itu dengan keras, hanya ingin memastikan saja bahwa apa yang dia dengar salah.


Pintu itu tidak lama dibuka oleh mami, mami menahan tubuh kakak agar tidak memaksa masuk, dia lalu langsung menutup pintunya.


“Mami aku mau lihat ke dalam.”


“Untuk apa!” Mami mendorong kakak agar menjauh.


“Mami sama siapa di dalam!” Kakak bertanya.


“Sendirian.”


“Tadi kok, aku dengar suara ….”


“Kamu ngapain masih bangun jam segini, mau apa?”


“Mau ambil minum.”


“Yaudah sana ambil minum!” Mami lalu pergi ke kamarnya setelah sekali lagi memastikan bahwa kamar itu terkunci dengan baik.


Kakak semakin penasaran, apakah dia juga mulai gila karen mendengar suara adiknya?


Tapi dia akhirnya ketiduran setelah minum air putih.


Dalam tidur, kakak bermimpi.


“Pembunuh! Pembunuh!”


“Adek, maafin cici ya, maaf.”


“Kamu mau bajumu? Ini ambil! Ini baju kesukaan cici kan!” Adik berteriak dalam wujud yang masih sangat cantik seperti terakhir bertemu dengan kakakknya.


“Adik, Cici udah lepas bajunya mau ngalah, tapi Cici nggak tau kalau baju itu buat kamu malah celaka, maafin Cici, Cici benci baju itu, Cici cari baju itu mau bakar bajunya, maafin Cici ya Dik.”

__ADS_1


“Nggak! nggak! nggak!” Saat adik berteriak dan menolak permintaan maaf, wajahnya berubah menjadi mengerikan, kepalanya terbelah dan wajahnya penuh darah dari kepala yang terbelah itu.


Kakak berteriak ketakutan karena ngeri tubuh adiknya yang seperti habis terlindas truk itu.


__ADS_2