
“Kak! Kak!” Ganding berusaha mengejar Alka, bukan mengejar jin itu, arah lari mereka sungguh tak beraturan, bahkan loncat dari satu lantai ke lantai lain, berputar larena indekosnya memang tidak terlalu bersar.
Alka sangat marah, tapi jin itu juga sangat cepat. Alka mengeluarkan cambuknya, lalu menyabet cambuk itu pada kaki jin yang sedang berlari, jin itu jatuh, saat jatuh, Alka langsung menangkap kakinya, menarik kaki itu, dia hendak menghajar jin itu habis-habisan, tapi tepat saat kritis itu, Ganding menarik Alka, karena bisa saja, ini bukan cuma sekedar serang menyerang.
“Lepas!” Mata Alka memerah, sisik di tubuhnya bahkan ikut berwarna merah, Alka balik memegang tangan Ganding dengan sangat kencang, hingga membuat Ganding merintih, Aditia melihatnya merasa ada yang aneh, dia lalu menarik tangan Alka yang memegang Ganding, karena tangan satunya masih memegang jin itu.
Ganding lepas, Aditia menatap mata Alka, dia berusaha mencari tahu apa yang terjadi, ini pertama kalinya Alka terlihat tanpa kendali seperti ini.
“Lihat aku!” Aditia berteriak, membuat Alka tersentak, ingat bahwa itu adalah perintah tuannya, seketika mata Alka perlahan berubah, pegangannya pada jin itu juga melemah, jin itu menggunakna moment ini untuk kabur, seketika dia menghilang, Aditia dan Ganding tidak sadar karena fokus menenangkan Alka.
Alka jatuh, tubuhnya sudah berubah kembali ke wujud manusia, dia terlihat sangat lemas.
“Ka, kamu kenapa?”Aditia tidak menunggu waktu lama, dia langsung bertanya, karena Alka bertingkah aneh.
“Aku nggak apa-apa.” Alka tahu kalau jawaban ini takkan membuat Aditia tenang. Tapi dia tak akan memberitahu yang sebenarnya.
Alka berusaha bangun tapi dia terjatuh. Aditia menangkapnya dan memapah Alka dengan menumpukan tangan kanan Alka pada bahunya.
“Dit, kakak gimana?” Ganding yang tadi sempat kesakitan tapi tetap mengkhawatirkan kakaknya.
“Nggak apa-apa tadi lemas saja, tidak heran dia mengejar jin itu dengan membabi buta.”
“Oh, ini pasti karena kakak belum stabil, dia kan baru keluar rumah sakit, lalu sebelumnya tubuh manusia kakak hampir hilang, pasti efek dari pengalihan tubuh itu, ya kan, Kak?” Alka tersenyum dan mengangguk, Ganding selalu bisa diandalkan.
“Oh pantas, tadi kamu nggak stabil, apa yang bisa kita lakukan agar kau kembali nyaman, Ka?” Aditia bertanya.
“Tak ada, hanya soal waktu aja, Dit.” Alka masih dipapah oleh tuannya.
“Kak!” Ada suara teriakan dari bagian depan, di mana kamar Ramdan berada, Aditia, Alka dan Ganding buru-buru berlari, karena mendengar suara teriakan itu adalah suara Jarni.
Saat sudah kembali ke kamar Ramdan, Alka bertanya pada Jarni yang terlihat kaget.
“Ada apa?”
“Kak, lihat!” Jarni menunjuk tempat tidur Ramdan.
“Lah kok! Kosong!” Aditia yang menjawab, sementara Alka terlihat sangat gusar.
“Kok bisa ilang?” Tia bertanya, dia juga menyeka air matanya.
“Kami dari tadi di sini, di depan sini dalam pagar pelindung, tak kami lihat Ramdan keluar, ataupun ada orang yang membawa Ramdan, ini aneh!” Deny kali ini yang berbicara.
“Ya, kau tahu, kejadian ganjil tidak pernah bisa dijelaskan, bukan?” Ganding kembali mencari solusi untuk ketakutan penghuni indekos ini.
“Jujur, aku jadi takut Den, takut tinggal di sini.” Tia mendekati Deny karena takut, takut hilang.
“Tak usah takut, jinnya tidak berasal dari ini, tidak juga bersarang di sini, dia mengikuti Ramdan karena keris ini.” Ganding mengingatkan bahwa ada keris itu di sini tadi, tapi sekarang hilang, tentu saja. Jin itu membawa sarangnya atau keris itu, serta korbannya. Entah kemana.
“Jar, tadi nggak lihat pas dia bawa Ramdan?” Alka bertanya pada Jarni.
Jarni menggeleng. Berarti dia menipu mata semua orang termasuk orang yang punya khodam.
__ADS_1
Alka semakin kesal, dia merasa jin itu brengsek sekali, berani-beraninya dia menyakiti tuannya, lalu ada satu hal yang mengganggunya, ketika dia mengejar jin itu, dia berkata bahwa, Alka tidak seharusnya mengejar jin yang harusnya dia sekutukan, karena mereka sama. Alka bingung pa persamaan dia dan jin itu hingga seharusnya Alka tidak mengejarnya.
“Ka, kita balik ke gua.” Aditia bertanya, Alka mengangguk.
Tia dan Deny bingung, kenapa mereka bilang gua.
Alka dan Aditia pergi duluan, Jarni dan Ganding akan pamitan dengan Deny dan Tia.
“Maksudnya mereka gua itu adalah rumah, tapi karena bentuknya eksotik, kami menyebutnya gua.” Ganding mulai pandai mencari alasan. Jarni tertawa mendengarnya.
“Oh begitu, saya pikir mereka berdua benar-benar tinggal di gua, padahal masih muda tapi sudah berumah tangga, hebat sekali.” Deny asal bicara.
“Siapa yang sudah berumah tangga?” Ganding bingung.
“Itu, Mas dan mbak yang dipapah itu.”
Ganding dan Jarni tertawa, mereka tidak mau memberitahu yang sebenarnya, karena jangankan menikah, pacaran saja sulit sekali untuk mereka.
“Kami pamit ya, kami janji akan menemukan Ramdan, tenang saja, Ramdan tidak akan dibunuh dengan cepat, karena kalau tujuan jin itu mencelakai Ramdan hingga tewas, sudah dia lakukan sejak tiga hari yang lalu.” Ganding menenangkan dua orang itu.
“Baiklah, saya percayakan pada kalian karena kalian terlihat hebat, lalu soal kostan ini gimana? apakah kami perlu mengadakan ritual?”
“Untuk apa?” Ganding bingung.
“Agar tidak mengganggu.”
“Kau malah mengundang ‘yang lain’ jika kau melakukan ritual, terserah saja, tapi aku katakan padamu, indekos ini bersih, hanya hantu yang tidak tertarik mengganggu yang tinggal di sini, mereka punya dunia mereka sendiri, tidak akan mengganggu, Jarni juga sudah menutup pintu penghubung antara dunia mereka dan kita, jadi takkan ada gangguan, kalau ada, pasti itu dari luar, datang karena tertarik dengan ritual dukun.
“Kalau begitu kami sudah bisa tenang?” Deny bertanya untuk memastikan.
“Ya, sudah aman.” Ganding dan Jarni pamit.
Saat sudah di mobil Alka terlihat tertidur, dia kelelahan, Lanjo yang kambuh membuat energi tubuhnya terkuras, dia juga belum minta maaf pada Ganding yang tadi dia sakiti.
Mobil melaju kembali ke gua, Aditia dan Ganding ada di depan dengan posisi Aditia sebagai supir mobil angkot itu.
“Nding, kau yakin ini hanya karena kasus terakhir yang merenggut darah Alka? Kok aku ngerasa Alka tadi berbeda saat melihat jin itu menyerangku?” Aditia memastikan lagi, Alka masih tertidur dan Jarni ada di sebelahnya, bagian belakang mobil angkot ini.
“Ya, memang apa lagi? kalau soal melihat kau terluka, dia juga begitu kalau melihat Jarni terluka, kau lupa dia selalu begitu jika salah satu dari kita terluka, dia sayang sama kita semua. Merasa bertanggung jawab.” Ganding benar-benar tidak ingin Aditia semakin curiga.
“Tapi tadi dia memegangmu keras sekali, aku harus mengejutkannya untuk membuat dia melepaskanmu.” Aditia membantah perkataan Ganding.
Sialnya, Ganding lupa soal ini.
“Dit, nggak ada hal lain kok, kakak baik-baik aja, dia cuma harus recovery aja, tenang ya Dit, kita nggak akan sepelein kalau itu membahayakan kakak, ingat, gue sama yang lain itu sama kakak dari kecil, jadi kami juga perduli sama kakak, jadi jangan mikir yang aneh-aneh dulu.” Ganding berusaha menutup pembicaraan ini, mobil melaju sampai di gua.
Lalu lima sekawan dan Lais sudah ada di gua, semua berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya.
“Kami sudah atur jadwal, besok kita ke rumah bosnya Ramdan, kita akan melihat rumah itu lebih dekat, aku yakin Ramdan ada di sana.” Hartino membuka diskusi.
“Apa yang kau dapat tentang mereka?” Alka bertanya.
__ADS_1
“Keluarga Suteja bukan orang biasa, mereka keluarga ningrat, kakeknya Suteja adalah seorang pangeran, bukan putra mahkota, tapi masuk jajaran keraton, mereka tinggal di jakarta sudah sejak lama dan meninggalkan keraton karena konflik berkepanjangan. Kau taulah, polemik kerajaan sama saja di belahan dunia manapun.”
“Masuk akal, jin yang kita kejar itu berpakaian selayaknya orang keraton, seperti abdi dalam. Mungkin dia dulu melayani keluarga Suteja, tapi Suteja sebagai orang yang lebih maju menolaknya, kita harus cari tahu kenapa dia menyandera Ramdan, apa yang dilakukan Ramdan hingga membuatnya disandera.
Lalu mencari jalan keluar, untuk melepaskannya. Asumsiku adalah, jin itu kemungkinan peliharaan, kau tahu orang-orang keraton selalu punya pegangan untuk saling menjaga atau saling menyerang.” Alka berkata.
“Ya, aku pikir kita juga harus mempersiapkan diri, karena jin ini licin dan cukup menipu.” Ganding mengingatkan.
...
Mereka semua sudah berkumpul di rumah Suteja, Suteja dan istrinya tidak ada di rumah, Ganding meminta mereka tidak datang, karena takut kalau ada hal buruk terjadi. Mereka ditemani oleh seseorang yang menjaga rumah itu, seseorang itu bernama Pak Tono, dia sudah cukup tua, katanya sudah bekerja pada keluarga ini sejak usianya masih remaja.
“Pak Tono bolehkah kami berkeliling?” Ganding bertanya pada Pak Tono.
“Ya, boleh akan saya temani. Ramai sekali kalian ke sini.” Pak Tono tersenyum, Alka menatapnya, karena yang dimaksud Pak Tono ramai bukanlah enam orang yang datang, tapi semua khodam yang ikut bersama mereka.
“Ini ruang tamu Pak.” Pak Tono memperlihatkan ruang tamu yang sudah kosong, karena rumah ini memang akan di renovasi, jadi semua barang sudah dipindahkan dulu. Tapi ada sebuah guci besar yang tingginya sama dengan tinggi manusia pada umumnya, masih berdiri tegak di ruang tamu ini.
Ganding mendekati gucinya, dia memegang guci dan merasakan energi gelap.
“Kenapa guci ini tidak dipindahkan?” Ganding bertanya.
“Oh, itu karena tidak ada siapapun yang bisa mengangkat guci itu, sudah banyak orang mencoba, guci itu bergeser saja tidak, makanya kemungkinan guci itu akan dibiarkan di sini dulu untuk sementara waktu.”
“Oh.” Ganding tersenyum dan menggeser guci itu dengan satu tangan, gucinya bergeser dengan mudah, seolah itu hanyalah sebuah benda yang terbuat dari plastik.
Pak Tono tertawa, “Aku tahu, kalau kalian bukan orang biasa, kalian membawa banyak sekali khodam.” Pak Tono akhirnya berkata apa yang dia lihat dan ketahui.
“Kami juga tahu, kalau Pak Tono menyimpan banyak jimat di tubuh Bapak.” Alka yang menjawab.
“Kalau begitu, kalian bisa jujur padaku, apa yang kalian cari di sini? apakah ini soal Ramdan?” Tono langsung pada fokus masalah mereka.
“Ya, kau benar. Apakah Ramdan ada di sini?” Ganding bertanya.
“Aku tidak tahu, karena aku tidak melihatnya, tapi aku tahu, kalau Margayu telah kembali setelah dibawa pulang Ramdan.”
“Margayu? Apakah jin yang bersarang di keris panjang itu?” Ganding bertnaya lagi.
“Betul, dia adalah ....”
____________________________________
Catatan Penulis :
Lanjut besok ya, udah 1600 kata nih, bacanya pelan-pelan dihayati sambil tebak-tebakann, kira-kira apa yang Ramdan lakukan, kira-kira apakah Suteja ada hubungannya? Atau ini cuma masalah jin nyasar.
Yuk tebak yuk.
Selamat malam
Terima Kasih.
__ADS_1