Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 517 : Mulyana 22


__ADS_3

Nando lemas melihat pemandangan di hadapannya, seorang wanita yang telah melahirkannya, menjaga dia dan ayahnya dengan sangat baik, menggunakan tangan dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan dia dan ayahnya, wanita yang paling sabar yang pernah Nando lihat di dunia ini ... tubuh itu, tubuh yang tidak pernah mengeluh lelah, TERGANTUNG DENGAN SEBUAH TALI TAMBANG YANG TEBAL, TALI ITU MENGGANTUNG PADA KIPAS ANGIN YANG TERGANTUNG DI ATAP.


Nando sangat terkejut, tidak bisa mencerna situasi ini, dia berharap ini mimpi sebelum akhirnya dia pingsan, tapi sebelum semua menjadi gelap, kakeknya membisiki sesuatu ... GRAKSA BAJANG ... dengan bisikan yang lirih.


...


Nando terbangun, saat dia bangun, hanya ada seseorang di sampingnya. Orang itu sudah dapat dipastikan ... kakeknya.


“Mana ibu dan ayahku!” Nando bertanya pada kakek yang membaringkannya dia bangku ruang tamu.


“Ayahmu masih terbaring di kamar, ibumu sudah dikubur, tidak ada satupun orang yang membantuku untuk mengubur ibumu, para tetangga menutup pintu, mereka tak ingin menolong ibumu yang sudah tak bernyawa lagi.” Kakeknya berkata dengan kasar, memperlihatkan betapa keluarga mereka sudah tak dipandang lagi.


“Kau membunuh ibuku kan! dia menantumu!” Nando tak memiliki rasa hormat lagi pada kakeknya, dia tahu, kakek itu adalah penyebab dirinya tertimpa sial selama ini.


“Tidak, kau yang membunuhnya, karena kau tidak ingin memenuhi takdir yang telah digariskan.”


“Takdir apa? takdir itu dari Tuhan, tapi kenapa kakek yang mengatur hidupku?!” Nando menangis, karena sebagian dirinya, memang setuju, kalau ibunya mungkin saja kecewa dengan Nando dan keadaan ini, lalu akhirnya bunuh diri, siapa yang bisa menanggung semua rasa malu dan dikucilkan tetangga!


“Takdirmu adalah menjadi tumbalku, sekarang kau harus memenuhi takdirmu, karena semakin lama kau menundanya, semakin buruklah keadaan ayahmu. Tapi jika kau memenuhi takdirmu, bisa saja, ayahmu selamat dan kembali sehat lagi.”


“Ayahku adalah anak kakek kan? kenapa kakek begitu tega!” Nando menangis sejadinya.


“Bagi kami, tidak ada yang lebih berharga dibanding uang, dia anak, sedang nenekmu saja, sudah lama sekali kutukar nyawanya dengan semua kekayaan dan umur yang lebih itu, mengambil sisa umur kalian sebagai keturunanku, hingga umur itu membuat umurku semakin panjang!”


“Aku tidak mau, aku ingin menjaga ayahku!”


Nando menolak dengan keras.


“Datang padaku, jika kau memang sudah siap, tidak akan sakit, kau hanya akan merasa mengantuk lalu setelahnya kukubur seperti ibumu, tidak akan sakit.” Kakek itu lalu tiba-tiba menghilang setelah mengatakannya.


Nando masuk kamar ayahnya, dia melihat ayahnya sudah sedikit membaik, walau kakinya terlihat masih lemas, ayahnya sedang melihat ke arah jendela.


“Ayah, apakah ayah tahu kalau ....”


“Aku semalam melihatnya tiba-tiba terbangun lalu dia mengambil tali dan menggantung lehernya.” Tanpa menoleh, ayahnya berkata dengan suara yang sangat berat, menahan tangis yang sudah sulit dibendung lagi.


“Apa benar, ibu tidak kuat menahan semua aib ini, Ayah?” Nando bertanya.


“Tidak, ibumu wanita kuat yang selalu mendampingiku, walau dia hanya manusia biasa, salahku, menikahinya walau tahu, akhir dari keturunan kami akan seperti itu.” Air mata ayah akhirnya luruh, dia mengusap air mata itu.


“Aku tidak bisa melihat ibu dikubur, aku bahkan tak tahu siapa yang memandikannya, apakah ibu dikubur dengan layak?” Nando bertanya.


“Ayah, lalu apa yang membuat ibu tergantung seperti itu?” Nando bertanya lagi.


“Graksa Bajang, itu ulah kakekmu.” Ayah Nando tertunduk malu, karena keluarganyalah yang membuat ibu Nando meninggal dunia.


“Graksa Bajang? Apakah dia iblis?” Nando bertanya lagi.


“Bukan Nak, Graksa Bajang adalah mantra pemanggil bala, mantra ini hanya bisa disebutkan oleh dukun-dukun tertentu, untuk memberikan bala bagi yang dia kehendaki.


Graksa dan Bajang adalah dua kata yang berasal dari bahasa Sunda Kuno, Graksa artinya petir, sedang Bajang artinya adalah baru lahir. Maka Graksa Bajang adalah, petir yang baru lahir karena panggilan dari dukun yang dimintai tolong.


Seperti yang kau tahu, petir adalah kilatan cahaya yang muncul sesaat karena hujan, muatan petir adalah listrik, hingga ketika kau akhirnya terkena petir, tidak akan selamat, kau pasti mati.


Maka seperti itulah Graksa Bajang, kakekmu meminta dirimu sebagai tumbal, saat kau baru saja lahir, aku dan ibumu menolak, karena kami tidak mau lagi kau diambil seperti kakakmu.  Tapi dia sudah melakukan perjanjian itu dengan iblis yang dia sembah, maka kau dikejar, tenggat waktunya adalah, setelah kau akil baligh, maka kau harus diserahkan untuk dijadikan tumbal.”


“Ibu jadi korban mantra Graksa Bajang? Pemanggil bala?”

__ADS_1


“Ya, karena ciri-ciri orang yang terkena Graksa Bajang adalah, dia takkan akan sadarkan diri lalu mencelakai dirinya sendiri hingga mati. Seperti ibumu dan aku.”


“Ayah juga kena mantra itu?!” Nando menangis karena melihat kedua orang tuanya terkena mantra itu.


“Ya, tapi aku beruntung karena masih bisa selamat, ibumu mencegah mantra itu menjadi sempurna, hampir setiap malam ibumu menjagaku, hingga setiap mantra itu menguasaiku, aku akan menghantam diriku pada apapun hingga babak belur, ibumu sigap dan membawaku ke rumah sakit, dia juga mengarang cerita tentangku yang stroke, karena itu semua bohong. Dia mendapatkan ide itu setelah tahu, pembuluh darah dikepalaku pecah akibat hantaman keras yang aku lakukan, dia langsung meminta diagnosa seperti itu, karena apa yang aku alami mirip stroke.


Setelah mendapatkan diagnosa itu, ibumu lalu secara ilegal membeli obat, tidur untukku dengan dosis yang tinggi, dia mengulur waktu Nak, dia membuat aku lemas agar tidak mampu berdiri dan menghantam lagi kepalaku ketika mantra Graksa Bajang dibacakan lagi untukku.


Sayang ... sungguh sayang sekali karena semalam aku sudah tertidur pulas, seperti biasa, ibumu memberikanku obat tidur dosis tinggi.


Kakekmu akhirnya berhasil membaca mantra Graksa Bajang untuk ibumu, kemungkinan itu karena ilmunya semakin tinggi hingga objek bala pada mantra Graksa Bajang bisa siapa saja.


Ibumu kena mantra itu, lalu bunuh diri, dia tidak membenturkan kepalanya, dia langsung mengambil tali dan gantung diri, aku sempat terbangun tapi tidak bisa bergerak karena obat tidur yang ibumu berikan, aku melihatnya menggantung diri, aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa bangun dan mencegahnya menggantung diri, tapi gagal, dosis yang ibumu berikan terlalu tinggi, hingga membuatku tidak mampu bergerak sama sekali.


Sisanya kau tahu apa yang terjadi, karena aku tertidur lagi setelah melihat ibumu meninggal dunia.”


“Ya, aku melihat bayangan saat mengintip di jendela, saat itu aku tak sadar, bahwa itu adalah bayangan ibu yang menggelantung karena bunuh diri akibat mantra Graksa Bajang. Aku kira ada sesosok yang hendak membunuh kalian, karena bayangan itu seperti melayang, tapi ternyata bayangan itu adalah bayangan ibu yang menggantung dirinya.”


“Nando, ibumu sudah berusaha keras untuk melindungi kita berdua, kau tidak boleh menyerah ya, karena kalau kau menyerah, maka semua usaha ibumu sia-sia.”


“Aku tidak melihat ibu untuk terakhir kalinya, aku tidak ada saat dia dimakamkan, apakah ibu dikubur dengan layak?” Nando teringat lagi bagaimana penderitaan ibunya.


“Kakekmu sudah membayar orang untuk melakukan itu, orang dari desanya, yang masih mau membantu kita, dia dimakamkan dengan layak, Ndo. Kamu tenang saja ya.” Ayahnya kali ini melihat ke arah Nando.


“Ada apa ayah?” Nando bertanya.


“Tumbal takkan akan pernah bisa dilakukan jika kau tidak mau, jika kau melakukan penolakan, maka proses penumbalan akan batal, karena umur sisamu harus diberikan secara perjanjian dengan mulutmu sendiri. Makanya, kakekmu akan melongkap satu generasi agar punya tawanan sebagai ancaman.


Seperti dia mengincar cucunya, karena dia tak bisa mengincar anaknya yang tidak bisa diancam karena dia tak punya tawanan untuk dijadikan pertaruhan.


Sedang kau, kau punya aku dan ibumu yang dijadikan pertaruhan, dia tahu, kau akan lakukan apapun agar bisa menyelamatkan kami, maka satu-satunya jalan agar kau selamat adalah ... kematianku.”


“Kau harus kuat Nando, harus kuat untuk menghadapi kakekmu!”


“Tidak! tidak, aku takkan membiarkan ayah pergi seperti ibu!”


...


“Kau masih berani sekolah anak sial! ibumu sudah mati bunuh diri, kau masih menampakkan diri di sekolah!” Seseorang kembali merundung Nando saat dia hendak masuk kelas, dari kejauhan Rahman dan Adi melihat itu, mereka hanya diam saja.


“Minggir kau, atau kau ingin sial juga seperti ibuku? Kau mau besok ditemukan jatuh dari lantai paling atas sekolah ini!” Nando sudah muak dengan perundungan ini, dia membalas perkataan orang itu dan membuatnya jadi takut lalu membiarkan Nando masuk.


Pelajaran dimulai, bahkan guru saja takut pada Nando, hingga tidak berani berdekatan dengannya, lengkaplah sudah penderitaannya.


Istirahat datang, Nando tak ke kantin, dia hanya berkutat pada pelajaran, walau hidupnya berat, tapi hidup harus berlanjut bukan? dia harus tetap sekolah dan melanjutkan hidup seperti biasa. Seperti kata ayahnya, yang penting adalah, dia tidak menyetujui penumbalan itu, apapun yang terjadi, maka hidup  akan baik-baik saja.


Tapi saat Nando sedang beristirahat di kelasnya saja, dia melihat Adi datang, sendirian. Ada rasa senang melihat sahabatnya itu.


“Di.” Nando menyapanya, Adi sudah ada di hadapannya.


“Ini maaf aku baru kembalikan sekarang.” Adi memberikan sesuatu padanya.


“Ini kan ....”


“Ya, kemarin terjatuh, aku mengambilnya dan belum sempat kembalikan. Aku turut berduka ya, Ndo.” Adi berkata dengan ketakutan, dia sepertinya berbohong dari Rahman, dia ke sini tanpa sepengetahuan Rahman.


“Kunci ini terakhir aku pegang saat ... kesurupan itu terjadi. Jadi kalian yang menyebarkan fitnah itu! jadi kalian yang melihatku kesurupan dan mengantarku ke rumah? Karena kunci ini hilang saat aku kesurupan!” Nando berdiri, dia sangat amat murka.

__ADS_1


“Kami memang mengantarmu pulang saat itu, tapi bukan kami yang menyebar fitnahnya!” Adi marah dituduh, padahal tujuannya baik, dia takut Nando butuh kunci warungnya, itu adalah kunci warung sembako orang tua Nando yang jatuh saat Nando kesurupan ketika itu, Adi menyimpan kunci itu dan lupa mengembalikan. Saat tahu ibunya Nando meninggal, Adi takut Nando butuh kunci itu. Tapi niat baik dia mengembalikan kunci malah disambut tuduhan tak berdasar begini.


“Kalau bukan kalian, siapa lagi! cuma kalian yang lihat, pasti kalian yang menyebarkan!” Seluruh tubuh Nando bergetar, dia marah, sungguh sangat marah, karena orang yang ternyata telah memfitnahnya adalah dua orang yang paling dia sayangi dan pedulikan.


“Terserah kau saja, niatku baik, tapi sekarang aku menyesal karena sudah berniat baik!” Adi lalu pergi meninggalkan Nando sendirian.


Nando membereskan tasnya lalu bersiap pulang, dia tak ingin lagi berada di sekolah ini, dia sudah muak dengan semua hal yang berhubungan dengan teman dan juga sekolah ini, dia hanya ingin pergi membawa ayahnya jauh dari semua ini.


Nando diizinkan pulang setelah beralasan ayahnya sakit jadi dia tak bisa lama-lama disekolah, dia lalu pulang.


Saat sampai rumah, dia menemukan kakeknya sedang berada di kamar dengan ayahnya, Nando mengendap hendak menguping, karena tadi pintu rumah terbuka, kedatangannya tak disadari oleh siapapun.


“Gunakan aku saja sebagai tumbalnya, jangan anakku, masa depannya masih panjang.”


“Justru karena itu kau ingin dia, karena umurnya masih panjang, sisa umurmu tak sebanding dengan cucuku itu, energinya jauh lebih besar, pertukaranmu terlalu minim.” Kakeknya menolak tawaran ayah Nando.


Mendengar itu Nando marah dan semakin benci dunia ini.


“Kakek! Sudah cukup, ayo kita bicara.” Nando masuk dengan tiba-tiba dan mengajak kakeknya untuk bicara, ayahnya berteriak tapi tak didengar dan ayah Nando pun tak mampu mencegah karena tubunya yang lemah.


Nando dan kakeknya lalu keluar rumah menuju padepokan dukun milik kakeknya.


“Jadi kau mau menerima penumbalan ini dengan sukarela dan menyebutkan perjanjiannya?” Kakeknya bertanya lagi, Nando sudah mengutarakan maksudnya.


“Ya, aku akan mengucapkan perjanjian itu, tapi aku punya syarat.”


“Baiklah, apa syaratnya?” Kakek terlihat senang padahal cucunya akan dia jadikan makanan iblis.


“Pertama, ayahku harus sembuh.”


“Itu mudah Lalu?”


“Kedua, aku ingin kau mengucapkan mantra Graksa Bajang untuk orang yang memfitnahku, siapapun itu, orang yang memfitnahku, dia harus terkena mantra pemanggul bala itu, mantra petir yang mematikan.”


“Itu juga mudah, mantra itu akan tepat pada sasaran, terakhir, apa yang kau inginkan?”


“Aku ingin kematianku dilihat oleh seluruh teman sekolahku, aku ingin para perundung itu melihatku mati, aku ingin mereka menyesal melakukan itu padaku!”


“Baiklah, kalau begitu, aku akan membuat ritualnya di sekolahmu.”


Apakah kakek terlihat baik karena memuhi semua keinginan cucunya? Ya, dia memang kakek yang ‘baik’.


...


Waktu penumbalan tiba, di atap sebuah sekolah diadakan ritual, dengan uang kakek itu bisa membayar penjaga yang membuat mereka bisa mengakses sekolah saat dini hari.


“Aku ingin saat semua siswa berkumpul untuk upacara, mereka melihatku jatuh dari sini, pastikan kepalaku tepat menghantam tanah, aku ingin mati seketika dan tidak mengingat apapun.” Nando mengingatkan kakeknya untuk memenuhi janji.


“Kita mulai ritualnya.” Kakek lalu memerintah beberapa muridnya untuk memulai ritual, mantra Graksa Bajang dibacakan untuk mereka yang memfitnah Nando, begitu mantra itu selesai diucapkapkan, Nando membacakan kalimat perjanjian sebagai tumbal yang menerima takdirnya, lalu tubuhnya ditarik oleh sesosok tak terlihat, tubuh itu seolah jatuh dari atap sekolah dan jatuh tepat di bagian kepala menghantam aspal sekolah dengan sangat keras, membuat darahnya terus bercucuran.


Semua siswa yang sedang upacara berteriak melihat pemandangan mengerikan itu, begitu juga guru-guru, mereka berteriak dan muntah-muntah karena melihat darah dari kepala yang sudah robek itu.


Saat kejadian itu terjadi, ada dua orang siswi perempuan yang merasa pandangan mereka kabur, tubuh mereka terasa dingin dan tak lama kemudian, dari kuping mereka terdengar dua kata yang membuat bulu kuduk merinding ... GRAKSA ... BAJAAAANGGGGG.


____________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Udah mulai nemu ya benang merahnya, walau aku masih banyak utang, yaitu penjelasan kenapa Nando ga inget dia udah meningsoy :)), lalu siapakah si satpam itu, yang kalian bilang setan? ah pasti udah ada yang bisa nebak, lalu kenapa dua perempuan itu yang kena mantranya? Pasti udah bisa jawab dong? jangan lupa komentar dan like ya, yang belum ikuti akunku, ikuti dulu dong.


Terima kasih.


__ADS_2