Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 539 : Mulyana 45


__ADS_3

“Aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu ceritanya lengkapnya, maka aku akan bantu, seperti janji ibu, bahwa akan lakukan apapun, maka aku ingin ceritanya, ingin seluruh ceritanya secara lengkap, jangan ditutupi, karena kalau ada yang ditutupi, langkahku akan salah, apa bisa?” Mulyana berbicara pada Bu Badrun dan istrinya Yoga.


Ibu Badrun mengangguk, sementara istrinya Yoga terdiam, ada sorot aneh dalam matanya.


Semua orang sudah duduk di ruang tamu, satu set sofa yang begitu mewah jadi tempat duduk mereka, kaki panas dari kedua pemuda yang menyamar sebagai musafir itu terasa sejuk dengan menginjak lantai marmer, pantas saja orang kaya suka sekali menggunakan batu pualam itu untuk dijadikan lantai dalam rumahnya. Selain mewah, marmer juga memiliki daya hantar panas yang baik, sehingga memiliki efek sejuk pada ruangan.


“Jadi, apa yang kalian ingin tahu?” Ibu Badrun bertanya, sementar Ibu Yoga hanya duduk mendampingi dan menyuruh pembantunya untuk membuatkan minuman dingin.


Mulyana mulai bertanya.


“Sejak kapan Yoga mulai berlaku aneh seperti ini?” Mulyana bertanya hanya pembukaan saja.


“Hmm, sejak, ayahnya meninggal dunia, dia jadi ikut linglung begitu.”


“Bapak meninggal apakah dengan wajar?” Mulyana bertanya lagi.


“Wajar, serangan jantung.” Bu Badrun mencoba menutupi.


“Hmm, tapi kenapa saya merasa energi gelap bapak tertinggal, energi gelap itu juga saya rasakan pada ibu.” Mulyana tidak sedang bicara omong kosong, karena sebenarnya dia melihat energi gelap entah milik siapa ada di rumah Badrun dan rumah Yoga. Mulyaan hanya menggiring arahnya agar cerita soal Badrun bisa keluar, jadi dia menebak itu adalah energi gelap mirip Badrun.


“Apa iya? Apa saya juga bakal kayak bapak dan Yoga, nantinya?”


“Jadi bapak juga seperti Yoga?”


“Ya, bapak juga linglung, suka lari-lari bugil, tidak pakai baju apapun di tempat itu.” Ibu Yoga ikut bicara, ibu Badrun melotot, karena dia tak suka menantunya ikut campur.


“Ok, berarti benar kalau ini bisa jadi bala keturunan, dimulai dari ayahnya lalu anaknya, apakah Pak Yoga punya anak lelaki?” Mulyana bertanya, tapi percayalah, dia hanya asal bicara, karean dia belum tahu ilmu apa ini sebenarnya.


“Punya!” Mertua dan menantu itu terlihat terkejut, karena kemungkinan itu ada. Kemungkinan bahwa cucu Badrun yang lelaki dari Yoga, akan ikut kena bala.


“Maka kalian harus bersiap, begitu Yoga mangkat, mungkin anaknya yang akan kena.”


Istri Yoga mulai menangis dan ketakutan, mertuanya menjadi gusar dan tidak dapat menutupi ikut khawatir.


“Kami harus apa?” Bu Badrun bertanya.


“Cari tahu, siapa yang mengirim bala ini, karena bala ini adalah kiriman, bala keturunan sengaja dikirim untuk membalas dendam.” Mulyana ingin arah pembicaraan ini kepada wanita itu, makanya dia menggiring pembicaraan yang pasti membuat mereka katakutan.


“Apa kalian sudah curiga dengan seseseorang?” Dirga ikut menaruh garam pada daging yang terluka, refleksi dari masalah mereka.

__ADS_1


“Ada … seseorang.” Istri Yoga yang buka suara.


“Siapa?”


“Suamiku dulu sekali pernah selingkuh dengan perempuan bernama Wulan, dia adalah perempuan yang bekerja sebagai orang catering saat pembangunan lapangan itu.” Ibu Badrun sengaja membiarkan menantunya yang bercerita, karena ini masalahnya.


“Baik, lalu?”


“Mereka berselingkuh, tapi papa mertuaku marah sekali pada Yoga, dia meminta Yoga untuk memperbaiki isu ini, karena isu ini bisa membaut posisi papa dan juga Yoga jadi bahan olokan, sedang papa sudah kerja keras untuk membangun tempat pelatihan itu.


Tak lama kemudian, wanita itu diketemukan meninggal dunia, dikubur di lapangan itu, makanya aku kaget, aku tahu perselingkuhan itu pertama kalinya, lalu aku beritahu mama dan papaku, mereka yang marah pada papa mertuaku. Yoga dipanggil dan akhirnya dia berjanji akan mengatasi perempuan itu, lalu setelah Yoga bicara seperti itu, Wulan diketemukan dua minggu kemudian, di lapangan itu. Mayatnya masih utuh.”


“Bukan anakku pembunuhnya, kau bicara jangan sampai buat orang salah paham, wanita itu wanita murahan, pasti banyak yang dia goda di lokasi yang masih di bangun itu, makanya dia bunuh dengan sangat tragis, anakku terhormat, mana mungkin dia membunuh wanita itu dengan sengaja, padahal dia bisa saja tidak lagi berhubungan dan akhirnya bisa menyelamatkan nama baik.”


“Ma! Mungkin kita bisa bohongi semua dukun lain, tapi mama tak dengar kalau ada seorang perempuan menugngu Yoga di sana, tidak ada satu pun dukun yang bisa menebak setepat mereka, mereka juga bilang kita harus jujur, jadi kita harus jujur, Ma!” Istrinya Yoga sepertinya sudah sangat muak dengan keluarga ini.


“Ya, tapi tidak ada bukti dan saksi Yoga melakukannya, apakah dia pernah mengakuinya di depanmu, bahwa dia membunuh Wulan?!” Bu Badrun tidak terima anaknya dituduh oleh istirnya sendiri.


“Maka kita harus membawa masalah ini ke Polisi, mama mau cucu mama jadi ikut gila seperti kakek dan papanya?!” Ibu Yoga terlihat sangat berani.


“Diam kau! Kau jangan tuduh anakku!”


“Baiklah, memang benar kami curiga bahwa anakku melakukan pembunuhan itu, tapi Yoga tak pernah mengakui itu, dia bahkan bersumpah tidak membunuhnya, suamiku juga sudah memastikan ini dengan memeriksa TKP, dia kan Polisi saat itu, dia juga sudah menyelidiki sendiri dan dia bilang bukan Yoga pelakunya.” Ibu Badrun mencoba meyakini.


“Lalu kenapa sekarang suamiku sakit? Ini pasti kerjaannya orang tua Wulan yang kita tahu kalau mereka itu adalah dari suku pedalaman yang mahir untuk melakukan hal tersebut, mereka sengaja menghukum papa dan Yoga untuk membalas dendam. Aku pernah lihat malam sebelum wanita itu diketemukan, suamiku pergi malam-malam entah kemana, lalu tak lama dari itu, mayat perempuan itu diketemukan!”


“Kau yang aneh, seharusnya kau percaya pada suamimu, bukan malah menuduh begini.”


“Bagaimana caranya aku percaya, sedang dia mengkhianatiku!” Ibu Yoga berteriak dan akhirnya pergi dari ruang tamu itu dengan menangis.


“Jangan dengarkan dia, dia itu termakan kecemburuan, dia dikhianati oleh seorang wanita rendahan, makanya dia gampang tersulut emosi, anakku tidak bersalah sama sekali, bukan dia yang menghabisi Wulan, anakku mungkin salah karena berkhianat, tapi bukan dia pelakunya, dia hanya sedang apes saja, berhubungan dengan wanita murahan yang mau dipakai oleh semua orang dan akhirnya anakku yang menanggung getahnya.”


“Baik, jadi memang belum diketahui dengan pasti ya, siapa yang melakukan pembunuhan itu, tapi kalian tetap curiga pada keluarganya? Mungkin karena keluarganya Wulan juga percaya, Yoga yang membunuh dan ayahnya yang menutupi pembunuhan itu, bukankah ini yang kalian ingin katakan tadi?” Dirga mengambil kesimpulan, dia memang pandai jika soal kriminal begini.


“Ya, seperti itu, makanya kami curiga pada orang tuanya Wulan yang merupakan orang suku pedalaman yang terkenal kleniknya.


“Aku sudah merasakan energi gelap sejak minta makanan padamu, aku benar-benar penasaran kenapa ada energi segelap itu di rumahmu, lalu saat kau keluar, energi gelap itu juga menempel padamu, makanya aku ingin menolongmu, Bu. Tapi … ada syaratnya.” Mulyana masuk pada kesimpulan, dia memang melihat energi itu, tapi tidak tahu itu energi apa.


“Baik, saya harus sediakan dana berapa?” Ibu Badrun seperti sudah mengerti.

__ADS_1


“Tidak, kan saya sudah bilang, tak ada bayaran, ini hanya kebaikan hati anda yang memberikan beras pada kami, aku akan balas dengan pertolongan, tapi aku butuh bahan untuk dapat melakukan sebuah ritual.”


“Oh, baiknya kalian berdua, jadi, kau butuh apa?” Ibu Badrun bertanya.


“Aku butuh baju yang paling sering dipakai oleh Pak Yoga dan juga oleh Pak Badrun, aku ingin mengkonfirmasi sesuatu, baju itu haruslah yang paling sering mereka pakai dan paling sering terkena sentuhan kulit mereka bedua. Apakah ada?” Mulyana bertanya.


“Ada, aku akan siapkan.”


“Lalu?”


“Aku butuh parfume yang sering digunakan oleh mereka berdua, parfum yang paling sering mereka pakai tanpa jeda.”


“Iya, ada, aku juga bisa siapkan itu, lalu?”


“Sepatu mereka berdua juga. Sepatu yang paling sering digunakan.”


“Baiklah, aku akan sediakan. Untuk apa kau membutuhkan itu semua? Karena apa yang kalian minta, berbeda dari dukun-dukun itu minta dariku.” Ibu Badrun agak bingung.


“Ya, aku butuh untuk bertemu dengan Wulan, aku ingin memakai semua yang aku minta itu dan bertanya padanya soal kejadian yang sebenarnya, karena ruh itu akan cenderung gusar saat melihat pembunuhnya sendiri.”


“Apa!” Ibu Badrun terlihat terkejut, dia antara percaya dan tidak, kalau Mulyana bsia saja bertemu dengan wanita itu.


“Ya, kami akan menemuinya, jadi tolong siapkan ini dengan baik dan satu hal lagi, perihal kejahatan anak anda, jika memang dia pelakunya, saya takkan ikut campur untuk meminta lapor Polisi, karena saya tak tertarik dengan kehidupan manusia normal, jadi jangan takut, apapun jawaban wanita itu, kau bisa tetap melindungi anakmu.” Mulyana menegarkan agar wanita itu benar-benar memberikan semua bahan ayng dibutuhhkan sesuai permintaa, bukan asal karena takut pelakunya ketahuan.


“Baiklah, aku percaya kalian dan aku akan pastikan bahan yang kalian minta sesuai pesanan.”


“Ya, kau harus benar-benar percaya pada kami, tak peduli apapun, kami akan bantu tutupi.” Dirga menambahkan lagi, lalu mereka berdua pamit, meninggalkan mertua di rumah menantunya itu, Mulyana dan Dirga pergi, lalu Ibu Badrun masuk lagi ke kamar menantunya, kamar terpisah dari suaminya, karena semenjak linglung, ibu Yoga tak berani tidur dengan suaminya lagi.


“Kau harus berhati-hati bicara lain kali, kalau sama dua orang tadi, aku maafkan karena mereka memang akan menolong kita, tapi kalau sama yang lain, sekali kau keceplosan, maka hidupmu dan anakmu akan terancam, kau mau anakmu dicap anak pembunuh!” Mertuanya bicara dengan kesal, sementar menantunya tiduran saja, masih ada sisa air mata di pipinya.


“Mama tidak boleh tutup mata terus, Yogadan papa bisa kena penyakit aneh, karena mereka berdua harus membayar apa yang mereka lakukan!”


“Kau salah, mereka tak pernah membunuh Wulan, bukan anakku yang membunuh dan ayahnya yang membersihkan masalah itu, mereka bersih!”


“Aku tidak percaya kau berkata begitu, kau sungguh sama jahat dengan papa dan Yoga.” Menantunya marah, dia berani begitu karena tahu, posisinya orang kaya yang tidak bisa diinjak begitu saja.


Menantunya akhirnya terdiam, lalu mulai sibuk lagi ke dapur untuk memasak, mertuanya juga pergi ke rumahnya yang tak seberapa jauh itu dengan tenang.


Mereka berharap akan mendapatkan jawaban dari semua ini.

__ADS_1


__ADS_2