Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 268 : Janur Kuning 2


__ADS_3

Alisha hari ini akan dipulangkan, mereka akan langsung menempati salah satu apartemen milik Hartino, ibunya meminta Hartino untuk memiliki rumah tangganya sendiri, jadi tidak diperkenankan untuk tinggal bersama.


Walau Hartino berat untuk meninggalkan ibunya sendirian, tapi dia juga harus memikirkan Alisha, saat ini  Alisha jauh lebih membutuhkan ruang pribadi.


“Aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi Har, kenapa kau menikahiku?” Mereka berdua sedang duduk di balkon apartemen, menikmati udara sore, Hartino sudah memasakkan makanan kesukaan Alisha. Mereka makan bersama, lalu setelahnya menikmati kopi dan udara senja.


“Kan sudah kukatakan alasanku menikahimu.” Hartino ingin mengulur waktu selama mungkin.


“Har, katakan yang sebenarnya, kemana Rania, dia takkan pernah meninggalkanku sedetikpun jika aku terluka, dia adalah orang yang paling loyal, dia adalah bayanganku. Kenapa sekarang dia tidak muncul satu kalipun?” Alisha bertanya dengan sangat bertubi-tubi.


“Alisha, bisakah bertanya nanti saja, kita harus fokus pada kesehatanmu dulu, sayang.”


Alisha sebenarnya sangat ingin tahu apa yang terjadi pada Rania, dia takut Rania terluka, tapi dia percaya, kalaupun Rania terluka, kawanan tidak akan diam saja, maka kali ini dia ingin mempercayai Hartino.


Terlebih dia sekarang suaminya, ada rasa tergelitik di perutnya saat mengatakan itu, sesuatu yang membuatnya terasa geli, dia sekarang istri dari orang yang paling dia cintai dan dia kejar selama ini.


Saat mengingat ini, dia jadi teringat sesuatu ....


“Har, kau tidak marah padaku?”


‘’Untuk?”


“Karena menipumu dan kawanan dengan wajah palsu dan juga mendekatimu dengan identitas palsu, apa kau tidak merasa marah dan tertipu?” Alisha menjelaskan maksudnya.


“Ya, aku marah sekali ....”


Alisha menunduk, dia takut kalau Hartino akan mengamuk dan memakinya.


“Aku marah pada diriku sendiri, kalau aku tahu efek dari menjauhimu malah mencelakaimu, seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu.” Hartino berjongkok di hadapan Alisha dan memegang tangannya.


“Tapi ini bukan salahmu Har, aku yang keras kepala.” Alisha melihat ketulusan yang dalam dari Hartino.


“Bagaimana ini salahmu, jika aku penyebab kau melakukannya?” Hartino mencium kening Alisha.


“Har, kau melakukan ini karena rasa bersalah?”


“Melakukan apa?”


“Menikahiku?” Alisha kembali tak percaya.


“Tidak mungkin aku menikahi seseorang hanya karena merasa bersalah, itu konyol.”


“Atau karena kasihan?”


“Icha!”


“Har, kau suruh aku pergi, tapi sekarang tiba-tiba kita menikah, aku merasa ....”


“Satu hal yang tidak kau tahu Icha, kalau aku selama ini mencoba menjauhimu karena terlalu takut, takut kalau kau akhirnya akan celaka karena semua kasus yang harus aku selesaikan bersama kawanan.


Aku ingin menjagamu, dengan jauh darimu. Dulu ... aku pikir itu cara terbaik, tapi ternyata aku salah, aku malah mendorongmu ke tempat yang jauh di negara lain, melakukan hal yang salah dan akhirnya harus menderita.


Aku salah, aku yang seharusnya sedari awal memberitahumu apa yang aku rasakan padamu, betapa  cintanya aku padamu, hingga tak mampu merasai lagi pada yang lain selain dirimu, aku menyesal telah menjauhkan dirimu dariku, maafkan aku.”


Hartino memeluk Alisha dengan erat, tetesan air mata jatuh di bahu Alisha, hal yang tidak pernah Alisha tahu, bahwa dirinyalah yang dulu dibicarakan Jarni, tentang wanita yang sangat dicintai Hartino, itu adalah dirinya. Dia mengejar hal yang sebenarnya sudah dia dapatkan.


“Aku ....”


“Sekarang jangan pikirikan apapun, aku akan selalu di sisimu, apapun yang terjadi, tidak akan ada apapun yang mampu memisahkan kita lagi, kecuali Tuhan. Sekarang, Icha cuma perlu selalu dengerin apapun yang Har omongin, jangan bantah dan jangan pernah tanya, ngerti kan, cara bergaulnya kawnan sekarang?” Hartino tersenyum dan Alisha tertawa, dia sudah tahu, bahwa apapun yang kawanan lakukan selalu tentang kebaikan bersama.


...


“Bang, kok gelap sih? trus sepi, aku takut.” Sasa memegang tangan suaminya.


“Nggak tau Sa, masa mati lampu, ini kan hajatan!” Beni suaminya juga bingung.

__ADS_1


“Bang, kita cari jalan keluar yuk?”


Beni tanpa aba-aba langsung menarik istrinya, dia meraba, karena benar-benar gelap sekali, tak ada penerangan sama sekali.


Tapi aneh, karena sepanjang jalan, Beni merasa kakinya tidak menginjak lantai yang sebelumnya dia dan istrinya pijak. Lantai yang Beni pijak terasa empuk dan membuat sepatunya semakin lama semakin terasa berat.


“Sa, kamu ngerasain nggak? ini kok kayak nginjek tanah liat?” Beni akhirnya bertanya, istirnya menjawab dengan kekhawatiran yang sama.


“Bang, udah jalan terus deh.” Istrinya keberatan suaminya berhenti berjalan.


Saat mereka berdua berjalan terus, tiba-tiba mereka tertubruk seseorang, Beni meminta maaf.


“Maaf Mas, Mbak, ini mati lampu kenapa ya?” Beni lega karena akhirnya ada orang yang dia tubruk, sepanjang dia mencari jalan keluar, tidak ada halangan apapun, seharusnya ada meja atau orang-orang, mengingat betapa penuhnya tempat ini sebelumnya.


Tidak ada jawaban dari orang yang dia tubruk tadi. Tapi ada yang terasa janggal, ketika tubuh Beni menubruk, terasa sangat dingin baju yang dikenakan oleh orang itu, bahkan terasa ada pasir yang ikut jatuh karena serbuk pasir itu masuk ke hidung Beni.


“Mas, Mbak.” Beni mencoba menegur kembali, apakah orang ini sangat marah hingga tidak menjawab? Seharusnya dia maklum, ini kan kita sedang dalam kegelapan bersama-sama.


“Bang, ini coba sorot pake senter di hp, aku nyalain dulu ya.” Dalam kegelapan dia dia mencoba menyalakan telepon genggamnya, lalu menyalakan flashlight yang ada di bagian belakang telepon genggamnya, seketika dia menyalakan flashlightnya dan menyorot bagian depan, tepat di depan seseorang yang di tubruk suaminya, maka terlihatlah ... wajah yang sangat buruk! Wajah yang tidak utuh, tersenyum menyeringai, bahkan bibirnya tidak sempurna dan gigi-giginya tidak lengkap, seluruh wajah itu menghitam, sedang tubuhnya tertutupi kain kafan.


“Pocong!!!” Beni berteriak dan menutup wajahnya, istrinya lemas, dia menjatuhkan telepon genggamnya, sehingga tersorotlah tempat yang sebelumnya adalah tempat resepsi menurut keyakinan mereka.


Tapi sekarang berubah menjadi perkuburan yang dipenuhi makhluk berkain kafan, penuh sekali, hingga kuburan itu terasa ramai, tapi oleh ... pocong!


Gelap, Beni dan Sasa akhirnya pingsan, mereka tidak lagi bisa mempertahankan kesadaran karena melihat betapa mengerikannya setan-setan itu dan menemukan kenyataan bahwa ini adalah kuburan.


Pagi tiba, seseorang berlari ke arah dua tubuh yang terbaring saling bertumpuk, penjaga makam itu terlihat sangat khawatir, takut kalau ada korban lagi, karena semalam adalah waktu sangat menengangkan, waktu di mana kuburan ini di tutup, bahkan dia yang selalu terbiasa dengan hal ghaib di kuburan itu, setiap malam hitungan tertentu, dia akan mengunci pintu rumahnya dan tidak membiarkan apapun yang mengetuk rumah itu masuk atau terjawab.


Pak Budiman namanya, dia mencoba menggoyangkan sepasang tubuh yang sedang bertumpuk tidak sadarkan diri itu.


“Pak! Bu!” Budiman terus mencoba mengguncang.


Bergerak! Ternyata tidak sampai seperti kejadian sebelumnya, meninggal dunia, mereka bergerak dan seperti tidak sadar, Budiman memanggil rekan kerjanya yang juga penjaga makam, tapi tidak tinggal di dekat makam dan juga beberapa pemuda-pemudi yang sering berada di kuburan mencari nafkah.


Mereka membawa dua tubuh itu masuk ke rumah Budiman dan juga di mana istri dan anaknay tinggal.


“Kalian ini siapa? kenapa bisa ada di kuburan itu?” Tanya Budiman, agak hati-hati karena takut mereka berdua tidak ingat. Sedang Pak RT dan juga Pak RW ikut nimbrung, memastikan bahwa dua korban itu baik-baik saja.


“Kuburan?” Beni bingung dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebenarnya, karena dia tidak sadar dan bangun dalam keadaan dipapah beserta istirnya.


“Bang!” Sasa tiba-tiba menangis, suaminya memegang tangannya dan bertanya, wanita memang biasanya punya ingatan yang jauh lebih luas.


“Sasa ingat?” Beni bertanya.


“Semalam kita itu tujuannya mau kondangan ke pernikahan sahabatku, tapi kita sudah berputar tiga kali masih belum ketemu juga tempatnya, akhirnya kita memutuskan untuk sekali lagi muter sesuai denah di undangan, kalau masih belum ketemu, kita bakal pulang nggak jadi kondangan.


Lalu saat muter terakhir itu, aku melihat ada gang kecil, padahal saat tiga kali kami muter, nggak keliatan gangnya,  akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke gang itu, siapa tahu memang di sana tempatnya, jujur saat itu, kami nggak ngeliat denah di undangan lagi, hanya ikutin yang kami pikir mungkin jalanan yang benar. Bisa saja denah salah, namanya juga cetakan. Itu yang kami pikirkan saat itu.


Lalu kami susuri gang sempir itu, mungkin cuma muat dua motor itu. Tapi aneh, gang itu ternyata sangat panjang dan gelap, kami lumayan khawatir kalau salah jalan dan takut begal di gang itu, kan mungkin aja tiba-tiba muncul.


Tapi tiba-tiba saat ujung gang mulai terlihat, ternyata terang sekali, kami mulai lega, ternyata kami hanya takut saja.


Saat sudah sampai ujung gang, kami melihat sebuah gerbang yang cukup besar, di gerbang itu ada janur kuning. Tentu saja kami senang, kan memang tujuan kami ke tempat pernikahan, kami benar-benar lega karena akhirnya ketemu tempat nikahan sahabat saya.”


“Janur kuninga? Ada namanya di janur kuning itu?” Budiman bertanya.


“Hmm ... tidak ada.”


“Trus kenapa masuk aja kalau nggak ada namanya?” Budiman dan yang lain sedikit kesal karena tindakan ceroboh Beni dan Sasa.


“Kami nggak asal masuk, kami ketemu security di dekat gerbang masuk, saya tanya apakah ini tempat nikah kawan saya, security itu mengangguk, kami jadi yakin.” Sasa membela diri, sementara yang lain hanya tersenyum aneh.


“Trus Bu?” Budiman bertanya lagi.


“Lalu kami masuk ke gedung itu, gedung resepsi, seperti biasa ramai, saking ramainya kami nggak bisa lihat pengantin, karena antri untuk salaman. Karena takut terlalu lama mengantri, akhirnya kami memutuskan untuk makan saja dulu.

__ADS_1


Kami antri untuk makan sate, makanannya enak banget ya Bang?” Sasa bertanya, suaminya mulai ingat dan mengangguk.


“Ya, enak sekali memang, nah saat itu, tiba-tiba lampu mati dan kami berdua kaget, mencoba keluar tapi aku tertubruk seseorang, kami pikir dia orang awalnya, tapi saat Sasa menyalakan senter pakai HP, terlihatlah wajah-wajah yang kami sangka orang itu, ternyata mereka bukanlah manusia, melainkan po-pocong!” Beni melengkapi cerita istrinya.


“Jadi benar kalian melihat pocong dan akhirnya pingsan di kuburan itu?” Beni bertanya lagi.


“Ya benar, kami baru sadar bahwa kami bukan berada di gedung resepsi, tapi ternyata di perkuburan, saat mati lampu itu, ternyata kami sudah tidak berada di gedung resepsi, karena saat jalan mencari jalan keluar, aku merasa menginjak tanah basah, bukan lantai keramik seperti sebelum yang kami lihat.”


“Ya, kalau begitu, itu alasannya kalian aku temukan pagi ini di sana, dikuburan itu.” Beni akhirnya mengerti.


“Memang ada apa Pak di sana, kok kami bisa merasa ada di tempat pernikahan tapi ternyata kami ada di kuburan?”


“Tidak ada apa-apa Pak, kalian hanya apes saja, tertarik ke tempat perayaan ‘mereka’, wajar, kalian tidak tahu semalam hari apa, jadinya seenaknya masuk ke gang menuju kuburan ini.”


“Memang semalam hari apa pak?” Beni bertanya dan penasaran.


“Bukan hari apa-apa, pokoknya kalian berdua lain kali kalau sudah jelas disasarkan, mening pulang biar aman, udah tiga kali kesasar, itu sudah tanda.”


“Iya Pak, terima kasih sudah menolong kami, semoga tidak ada lagi orang yang akan kesasar ke dunia mereka seperti kami.” Beni berkata dengan tulus.


Lalu mereka diantar ke depan gerbang kuburan karena rumah Budiman ada di dalam areal kuburan.


Motor Beni dan Sasa masih terparkir dengan baik di depan gerbang, gerbang yang mereka lihat dengan baik malam sebelumnya, tapi tidak ada janur kuning dan juga meja security di sana.


“Pak, memang nggak ada meja security di sini?” Beni bertanya.


“Dulu ada, sekarang udah nggak ada, yaudah saya anter yuk Pak, sampai ke ujung gang.” Budiman mengeluarkan motornya juga yang diparkir tak jauh dari gerbang.


“Pak, di sana buntu?” Beni bertanya, karena memang tak ada jalan lagi, semalam tidak begitu terlihat padahal terang benderang semalam, mungkin memang penglihatan mereka yang dibuat kabur.


“Iya ini jalan buntu.” Mereka akhirnya mulai menyusuri gang.


“Loh kok, cuma sebentar, pendek banget gangnya.” Beni bingung, Sasa juga.


“Semalem berasanya panjang ya?” Beni bertanya lagi.


“Iya, kita sekitar lima belas menitan lah menyusuri gangnya.” Beni terlihat sangat bingung, mereka sudah di ujung gang, pinggir jalan.


“Lima menit saja sudah cukup panjang, apalagi lima belas menit, untung kalian nggak puter balik.” Budiman berkata lagi.


“Sempet mikir mau puter balik, tapi ternyata tiba-tiba udah keliatan aja ujung gangnya Pak.” Sasa menimpali.


“Memang kenapa kalau kami puter balik Pak?” Beni penasaran.


“Karena ‘mereka’ akan anggap kalian tidak sopan, padahal sudah diundang, dengan melihat gang ini, karena pada malam tertentu, gang ini tidak terlihat sama sekali, tapi kalau kalian lihat, berarti kalian memang diundang. ‘Mereka’ paling marah kalau undangannya tidak dihiraukan, bisa jadi kalian tidak selamat, tapi Gusti Allah masih tolong kalian walau akhirnya ketakutan.”


“Wah seram sekali ya Pak, nggak mau lagi-lagi deh, semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah ya Pak.”


“Amiiinnn.” Budiman mengaminkan dengan sungguh-sungguh.


“Pak, tapi saya penasaran, apa bapak nggak takut? tinggal di sana sama keluarganya? Maksudnya, itu jalan buntu, jadi bener-bener nggak ada tetangga.” Beni usil bertanya.


“Kalau takut, ya pasti takut, tapi kami sudha lima tahun tinggal jadi sudah biasa, yang penting jaga pantangan. Kami jadi dianggap keluarga, trus satu lagi, kami ini orang susah, dapat rejeki dari Allah buat jaga makam, dapat uang buat makan dan sekolah anak, saya anggap kerja juga amal, masalah ‘mereka’, yang penting saya nggak niat ganggu, mereka mau ganggu, ya saya minta tolong Allah yang udah kasih saya rejeki di sini. ‘Mereka’ juga takut kok sama Allah, makanya kalian juga hati-hati ya, lain kali kalau udah di hati ngerasa nggak enak, mening batalin.” Sekali lagi Pak Budiman menasehati, Sasa dan Beni belajar banyak hari ini.


Lalu setelahnya Sasa dan Beni pamit, setelah memberikan uang sekedarnya untuk jajan anak Pak Budiman, setelah Sasa dan Beni pergi, Pak RT ternyata sudah di belakang Budiman, dia dan beberapa warga juga hendak pulang.


“Budiman, lain kali kamu jagain yang bener, jangan sampai ‘dia’ mengganggu lagi.”


“I-iya Pak, maaf, semalam kami terlalu takut untuk keluar, karena malam tadi adalah waktu terlarang bagi kami untu keluar.”


“Yasudah, nanti saya buatkan gerbang di gang ini supaya nggak siapa aja bisa masuk seenaknya, jangan sampai ada korban lagi ya. Tapi saya cari dananya dulu,”


“Iya Pak, semoga nggak ada korban lagi, nggak ada yang diundang lagi untuk hadir di ‘pernikahan’ itu.”


“Kalau begitu, saya pulang dulu, jangan lupa pagar rumahmu di perbaharui setiap malam jumat, minta airnya ke Mang Sajib.” Maksud Pak RT adalah pagar ghaib.

__ADS_1


“Iya Pak RT, makasih ya.”


Lalu seperti biasa, penjaga makam itu pulang dan bekerja lagi seperti biasa.


__ADS_2