
Alka berlari ke arah perbatasan Desa, Ganding terus mengejarnya, dia tidak ingin Alka berbuat nekat karena Aditia hilang.
Alka menerobos perkebunan jagung, pohonnya rapat-rapats sehingga dia tidak bisa melihat apapun walau melayang.
Alka akhirnya berhenti di tengah perkebunan itu.
“Kak, kenapa?” Ganding bertanya, dia bingung Alka seperti kesetanan.
“Aku merasakan Aditia di sini, tapi seperti ada tabir yang menutupinya, aku tidak bisa menemukan batasnya.” Alka berkata setelah membaut Ganding mengejarnya dengan nafas yang berat karena kelelahan.
“Kak, apa yang kau pikirkan sampai seperti ini?” Ini adalah inti yang Aditia ingin dengar.
“Aku merasa bahwa dia tidak mengincar bayi itu lagi, tapi dia mengincar hal lain, bagaimana jika Tinung sudah siap bangkit. Maka selain tubuh perempuan dia juga butuh tubuh laki-laki untuk membuat bayi-bayi itu sendiri, sehingga dia tak butuh tumbal dari orang lain, dia hanya perlu melahirkan bayi dengan hari lahir yang bisa membuatnya mengambil energi yang cukup.” Alka panik lagi.
“Jadi, maksudmu, Tinung bermaksud membuat Aditia menjadi ayah dari bayi-bayi itu?” Ganding tercekat.
“Ya, aku memikirkan kemungkinan itu karena merasa ada yang aneh, kenapa Tinung diam saja saat bayi itu dilahirkan paksa, kenapa dia tidak marah. Ternyata targetnya memang bukan bayi itu lagi, tapi justru Aditia.”
“Tapi Aditia bukan orang lemah Kak, dia bisa melawan pasti.”
“Aditia bisa melawan kalau musuhnya adalah orang yang kuat, tapi kalau musuhnya orang yang lemah, orang yang justru berpura-pura untuk meminta pertolongan? Aditia takkan bisa menolak lalu akhirnya dia pasti terkelabui, kau tahu dia kan? dia terlalu baik pada orang lemah, penyakitnya sama dengan bapak, mereka mudah dikelabui oleh orang yang terlihat lemah.”
“Kak, tapi bisa aja ....”
“Sstt.” Alka meminta Ganding untuk diam.
“Kenapa?” Ganding bertanya.
“Kau dengar itu?” Alka bertanya.
“Apa?” tanyanya.
“Suara meminta tolong.” Alka melayang lagi dan menuju suara tersebut.
Mereka terus mendekati arah suara, lalu tiba di titik di mana suara itu berasal.
“Mbah Nur!” Alka berteriak, karena dia melihat Mbah Nur sedang minta tolong, Alka melayang dengan kecepatan yang maksimal, saat sudah dekat, dia berusaha meraih tubuh Mbah Nur yang terlihat ketakutan, tapi saat dia mendekat ... tubuhnya terpental, seperti ada dinding transparan yang memisahkan Mbah Nur dengan Alka, dinding itu tidak terlihat sama sekali.
“Mbah!” Ganding berteriak, Mbah Nur melihat mereka, tapi tak berdaya, dia tidak bisa melewati dinding tranparan itu.
“Tolong anakku, dia di sekap, tubuhnya akan dijadikan tempat baru bagi jiwa Tinung, tolong anakku!” Mbah Nur memohon pada Alka dan Ganding.
“Siapa yang melakukannya Mbah?” Tanya Alka, dia masih dalam wujud jinnya.
“Dia adalah ... dukun itu! ayahnya Tinung, dukun itu ternyata masih hidup di sini, di desa ini.” Mbah Nur menjelaskan.
“Bagaiaman kau bisa masuk ke sana?” Alka bertanya.
“Anakku menunutunku ke sini, aku mengikutinya dan sempat tersadar kalau ini bukan tempat yang biasa kami lewati saat ke sini. Ada gubuk yang aneh, aku teruse mengikutinya, lalu aku melihat dukun itu bersiap untuk memasukan jiwa Tinung ke dalam tubuh anakku.
Sehingga jiwa anakku akhirnya lepas dari raganya dan hendak ditawan. Aku pikir aku bisa menyelamatkan tubuhnya dengan datang ke sini, tapi aku salah, mereka sengaja memancingku pergi dari rumah itu karena dia ingin menjebak salah satu dari kalian untuk dijadikan pengantin Tinung!”
“Benar dugaanku, aku sudah tahu karena di rumah itu begitu tenang, tidak ada serangan sama sekali.” Alka geram, lalu melanjutkan pertanyaannya, “kau melihat Aditia ada di gubuk itu?” Alka bertanya lagi.
“Ya, ada, dia pingsan, dia datang setelah aku datang, dukun itu dan Aditia sempat berkelahi karena Aditia menemukan jejak kami, aku menggunakan kesempatan itu untuk lari, jadi aku tidak tahu lagi bagaiaman Aditia di sana.”
__ADS_1
Mendengar itu Alka langsung melayang lagi dan menubrukkan dirinya pada dinding tak terlihat itu, gagal, dia terpelanting cukup jauh. Ganding juga mencoba menubrukan tubuhnya pada pagar ghaib yang cukup tebal itu. Sama, Ganding juga terpental.
“Kak, tidak bisa, bagaimana ini?” Ganding khawatir, karena mereka takut Aditia akan celaka.
“Kau panggil semua ke sini, anak bayi itu takkan celaka karena target sudah berganti, aku butuh bantuan mereka.” Alka meminta Ganding memanggil kawanan.
Butuh waktu dua puluh menit kawanan sampai di perkebunan itu.
“Kak, kenapa? Hartino bingung karena mereka tiba-tiba harus berkumpul di tempat yang tidak biasa. Ganding memang tidak menjelaskan karena dia ingin kawanan bergegas datang.
“Aditia ditawan oleh ayahnya Tinung, dia ternyata masih hidup. Aditia kemungkinan akan dijadikan pengantin Tinung, untuk menghasilkan bayi-bayi yang bisa diserap energinya agar Tinung bisa bertahan hidup di tubuh barunya.” Alka menjelaskan dengan singkat.
“Kalau begitu, kalian tunggu apa? ayo kita serang dukun brengsek itu!” Hartino hendak melewati dinding, karena dia tidak tahu ada dinding itu, tubuhnya terpelanting, dengan sigal Alisha menangkap tubuh Hartino, hingga Hartino terbebaskan dari rasa sakit karena terpelanting.
“Makasih ya Lais.” Hartino tersenyum tulus.
“Ini masalahnya, dinding ini pagar ghaib yang cukup tebal! Kami berdua tidak bisa menembusnya.” Ganding akhirnya menjelaskan.
“Aku meminta Ganding membawa kalian semua agar mengeluarkan senjata kalian, kita cabik-cabik dindingnya dengan senjata yang kita miliki, lakukan apapun untuk menghancurkan dinding ini.” Alka bersiap, semua orang mengeluarkan senjata, hanya Alisha yang memakai tangan kosong, dia tidak menggunakan senjata ataupun tangannya, dia malah menggunakan kakinya, sekali tendang, dinding itu bergetar. Tapi tidak cukup kuat untuk membuat hancur.
Semua terus menyerang dinding itu, tapi sayang, mereka tidak berhasil menghancurkannya. Kawanan terlihat sangat kelelahan karena hampir satu jam terus mencoba menghancurkan dinding tak terlihat itu.
“Kak, gimana ini?” tanya Hartino.
“Kita tidak bisa menembusnya, tidak ada cara lain.” Alka lalu mendekati dinding itu lagi, sementara Mbah Nur terlihat sedang berdiri di sana, Alka memanggilnya agar mendekat.
“Mbah, kami tidak punya cara lain lagi agar bisa masuk ke sana. Tapi aku punya satu jalan keluar.” Alka memulai percakapan, semua orang mendekat karena ingin mendengar.
“Baiklah, apa itu?” tanya Mbah Nur.
“Buat perjanjian denganku, kau itu manusia, aku setengah jin, ketika kau membuat perjanjian denganku, maka aku bisa ada di sisimu jika kau panggil, buat perjanjian itu sebagai perjanjian perlindungan. Mintalah padaku untuk selalu berada di sisimu, dengan begitu, aku pasti bisa melewati dinding ini.” Alka memohon, Mbah Nur terlihat ragu.
“Aku tidak akan menyuruhmu untuk melakukan pesugihan karena aku bukan jin yang suka makan jiwa manusia, ada setengah manusia di dalamku, jadi aman. Aku mohon Mbah, setelah kau minta perjanjian perlindungan, aku bisa menyelamatkan kau dan anakmu. Kita bisa melepas perjanjian setelah mereka selamat.”
“Baiklah, untuk menyelamatkan mereka berdua, mari kita melakukan perjanjian.” Mbah Nur akhirnya setuju, karena mereka tidak bisa melakukan perjanjian dengan darah, maka mereka melakukan perjanjian dengan lisan saja.
Setelah perjanjian itu disebutkan, tubuh Alka langsung terserap ke dalam dinding transparan itu, dia sudah berada di sisi Mbah Nur, Alka tersenyum karena dia berhasil masuk ke dalam bersama Mbah Nur.
“Ayo Mbah.” Alka meminta Mbah Nur untuk menunjukan jalan. Sementara yang lain melihat semakin lama, Alka dan Mbah Nur semakin menjauh.
“Perasaanku tidak enak. Apakah baik-baik saja membiarkan Alka ke sana sendirian?” Alisha tiba-tiba berkata.
“Kakakku bukan orang yang lemah, dia itu hebat, kau jangan menyepelekannya.” Ganding kesal dengan cara Alisha menyepelakan kakaknya.
“Orang hebat juga bisa jadi lemah kalau itu menyangkut perasaannya. Apakah tidak terlalu gegabah membiarkan dia ke sana sendirian?” Alisha masih merasa agak khawatir.
“Trus kita bisa apa?” Hartino bertanya.
“Hmm, kita coba kelilingi perkebunan ini, siapa tahu kita bisa menemukan kelemahan dindingnya, mata kita bukan mata orang awam, siapa tahu ada celah sedikit saja, kalau ada, pasti kita bisa menghancurkan dinding ini melalui celah itu.”
“Oh, maksudmu semacam pertemuan saat dinding ini dibuat?” tanya Hartino.
“Benar, pasti ada pertemuan antara bukaan dan tutupan pada pagar ghaib ini, biasanya ada celah yang mungkin bisa kita korek pelan-pelan.”
“Baiklah Lais, kalau begitu, ayo kita berdua cari, kalau sudah dapat, kita akan memberitahu kalian, biar kita tidak meninggalkan tempat ini, siapa tahu kalau kakak butuh kita dan kembali ke tempat ini.” Hartino mengusulkan.
__ADS_1
Alisha tanpa meminta persetujuan langsung berlari mencari celah itu.
Mereka berdua akhirnya terus, sesekali Alisha menendang dinding itu, dindingnya bergetar, tapi tidak ada yang runtuh, walau dinding transparan, seharusnya kalau ditendang dengan kekuatan sebesar itu oleh Alisha, dinding itu pasti menciptakan runtuhan seperti debu. Tapi ini tidak.
“Bukan di titik ini, perhatikan Har, kalau sampai ada runtuhan debu, pasti di sana titik awal dan akhir pintu ini.” Alisha mengingatkan.
“Ya, ayo kita cari lagi.” Hartino dan Alisha berlari sembari sesekali menyerang dinding itu.
Sementara di dalam dinding itu, Alka dan Mbah Nur sudah menemukan gubuknya. Alka berlari melewati Mbah Nur dan langsung mendobrak pintu gubuk itu, begitu masuk, Alka tercengang, dia menemukan dukun itu dan juga dua ... satu tubuh yang sudah terbujur kaku!
Alka berbalik melihat Mbah Nur, saat ini Mbah Nur telah berubah menjadi sosok wanita dengan wajah yang mengerikan. Wajah gosong dengan pakaian yang koyak, dia bukan Mbah Nur lagi.
Alka melihat tubuh yang terbujur kaku itu adalah Mbah Nur! Mbah Nur telah tiada, Alka bisa merasakan itu, karena tidak ada hawa hangat dari tubuhnya, tidak ada energi sama sekali.
Rupanya dia telah dibodohi, dia membuat perjanjian bukan dengan Mbah Nur, tapi dengan Tinung! Tinung membodohi Alka sama seperti dia membodohi Mbah Nur untuk masuk ke gubuk menjadi pancingan bagi Alka. Alka bingung, karena tidak ada Aditia di gubuk ini.
Alka mundur, karena dia tidak bisa melawan makhluk yang telah melakukan perjanjian dengannya.
Dukun itu melihat Alka, membuka sarung berwarna hitam yang terletak di samping Mbah Nur, ternyata ada anaknya Mbah Nur di sana, dia sedang tertidur, Alka tahu, karena dia merasakan energi anak itu.
“Aku hanya ingin hidup bahagia. Aku adalah seorang dukun yang menginginkan keabadian. Aku mencari banyak cara agar bisa menjadi abadi, tidak mudah mati. Tapi sayang, ternyata itu semua tidak pernah ada. Kemanapun aku mencari ilmu hitam yang bisa memenuhi keinginanku untuk idup abadi, pada akhirnya aku tahu, ilmuku belumlah setinggi itu dan tidak ada ilmu setinggi itu.
Aku menemukan seorang perempuan yang sangat cantik, auranya sangatlah jernih, di dalam hati dan pikirannya tidak pernah ada niat buruk. Dia adalah istriku, kami menikah, memiliki anak yang cantik walau ada tanda lahir di wajahnya karena ilmu hitam yang aku pelajari dulu maka ada banyak musuh yang aku miliki, mereka tidak terima saat aku kerjai atau merasa iri karena kemampuanku. Anakku terkena santet sehingga wajahnya menghitam saat aku itu tidak ada di rumah karena mengobati warga yang sakit. Mereka menyerang istriku dengan mengirim santet yang masuk ke dalam rahimnya.
Aku menghabisi mereka, walau anakku lahir cacat, aku sangat menyayanginya, dia hidupku, dia adalah separuh nafasku, istri dan anakku adalah tujuan hidupku selanjutnya. Aku benar-benar bertekad akan hidup dengan baik agar anak istriku dapat hidup layak.
Tapi sayang, karena wajah anakku, dia sering sekali diolok-olok. Awalnya, olokan, lalu selanjutnya anakku mulai diperlakukan tidak senonoh oleh para pemuda biadab itu! anakku diam saja, dia tidak mengadu satu patah katapun ketika dia bahkan diperkosa oleh para pemuda biadab itu. Dia taku ayahnya akan kalap dan akhirnya menghabisi desa ini.
Tapi akhirnya aku tahu, anakku keguguran, dia sakit dan sangat ketakutan. Aku mencoba bertanya dengan lembut padanya.” Dukun itu menjelaskan, dia mendekati Tinung yang berwajah buruk itu, dia mengelus pipi anaknya, persis seperti seorang ayah yang sedang mengusap pipi anak perempuannya. Dia lalu melanjutkan perkataannya, “akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya, dia telah direnggut kehormatannya oleh beberapa pemuda di desa ini, aku mengamuk, aku menghabisi satu persatu pemuda itu, tapi ... apa yang mereka lakukan, apa karena anakku cacat! Atau karena aku seorang dukun! Mereka tidak percaya padaku dan malah balik menyerang kami, mereka lebih percaya keluarga pemuda-pemuda biadab itu.
Istriku diseret, bajunya dilucuti, akupun sama, walau ilmuku tinggi, tapi aku tidak bisa melawan betapa banyaknya mereka. Sedang anakku ... anakku dibakar hidup-hidup, mereka bilang, Tinung adalah pembawa sial yang membuat desa itu menjadi penuh musibah! Setelahnya istriku juga dipukuli, pria dan wanita itu benarbenar seperti setan!
Aku mencoba menyelamtkan mereka, tapi tidak mampu! Setelah puas menghajar kami dan membakar anakku, mereka pergi satu persatu. Anakku telah menjadi abu, istriku telah meninggal dunia dengan tidak layak.
Sementara aku, aku sekarat.
Mereka lupa, aku adalah dukun dengan kemampuan tinggi. Sisa-sisa kekuatanku, aku hanya mampu membawa istriku pergi dari desa itu dan tinggal di sini. Aku tinggal bersama mayat istriku yang telah busuk dan mulai bu selama bertahun-tahun. sementara Tinungku, anak gadis kecilku yang cantik, aku tidak bisa menyelamtkan tubuhnya.
Hingga suatu saat, aku mendengar bahwa ada bayi yang cacat, wajahnya memiliki tanda lahir, dia lahir saat gerhana matahari pada hari yang sangat membawa keberuntungan.
Saat itu aku memanggil jiwa anakku, aku memanggilnya dengan ritual Bangun Sukma. Ritual ini bisa dilakukan hanya oleh orang yang memiliki hubungan sedarah. Aku memanggilnya untuk bangkit dengan mengambil energi bayi-bayi itu.
Kami berhasil sejauh ini, kami mengambil bayi-bayi mereka yang dulu, nenek kakeknya membuat kami menderita, menghabisi kami dan membakar Tinung. Aku puas karena mereka bersedih atas kehilangan anak mereka. Anak yang sama persis seperti anakku, bukankah walau cacat, mereka tetap anak-anak kita?” Dukun itu sekarang mendekati Alka, Alka masih belum bisa melawan.
“Apa maumu?” tanya Alka.
“Bayi-bayi itu, sulit sekali dibuat menjadi bayi yang memiliki energi yang baik untuk Tinung, kami mempersiapkan setiap bayi yang lahir di desa itu agar memiliki wajah seperti Tinung dan hari kelahiran yang membawa energi baik, kami melewati begitu banyak ritual hanya untuk satu korban bayi.
Tapi sekarang, setelah perjanjian itu, kami tidak perlu lagi menjadikan bayi itu korban, bukankah itu tujuanmu Saba Alkamah, anak dari jin dengan ilmu tinggi?” Dukun itu rupanya tahu asal usul Alka.
“Kau tahu, antara jin dan arwah, kami tidak bisa melakukan perjanjian, jadi perjanjian batal!” Alka berkata.
“Kau salah, Tinung bukanlah arwah, setelah jiwanya masuk ke dalam tubuh perempuan ini, anak dari Nuraeni, maka dia adalah manusia, maka kau harus melakukan perlindungan kepadanya dengan memberikan daramu pada seluruh tubuhnya, energi dari darahmu akan kekal karena kau memiliki energi baik itu dalam jumlah yang sangat banyak!”
Alka mundur, dia jadi tahu sekarang bahwa dia terjebak, dia telah dijebak oleh bapak dan anak perempuan setan ini.
__ADS_1
Alka hendak lari, tapi tubuhnya seperti terhisap ketika dia menjauh dari Tinung.
Benar saja, perjanjian itu tidak batal karena Tinung akan masuk ke tubuh manusia. Alka mulai khawatir, apakah benar, bahwa dia akan menjadi budak dari Tinung!