
“Dit, sering-sering ikut ayah ‘jemput’ ya.” Mulyana dan Aditia sedang duduk di halaman rumah, sementara ibu dan Dita sedang nonton televisi di dalam rumah.
Saat ini usia Aditia sudah delapan belas tahun, sibuk sekolah dan kegiatan lain membuatnya enggan ikut tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
“Adit kan lagi sibuk, banyak PR, belum lagi ekskul pecinta alamnya Adit, jadi nggak bisa selalu ikut Ayah pulang malam.”
“Dit, malam ini ikut ya, Ayah perlu bantuan.”
“Harus Yah?”
“Iya harus.” Ayahnya memaksa, Aditia sebenarnya enggan, kehidupannya nyatanya jauh lebih menggairahkan. Itu karena dia belum tahu, bahwa kehidupan yang Pak Mulyana sembunyikan jauh lebih menarik.
Mereka berdua akhirnya berangkat untuk ‘narik’ setelah habis magrib.
“Kita kemana Yah?”
“Menyusuri sungai, tapi agak sulit sepertinya, karena dia minta tubuhnya diketemukan dulu.”
“Hah ribet banget sih, kenapa mesti diketemuin dulu, tinggal ikut aja banyak syarat, kalau dia masih begitu, udah Yah, biarin jadi setan penasaran aja selamanya.” Aditia kesal, karena malam-malam melakukan yang bukan hobinya adalah hal yang tidak menyenangkan. Berkumpul dengan teman-temannya jauh lebih dia sukai.
Aditia memang dikenal oleh para sahabatnya ‘bisa melihat’ itu saja, tidak lebih, hal itu pun tidak terlalu Aditia geluti setelah kejadian desa yang menyandera jiwa yang tertumbal dulu itu, Aditia tidak terlalu memperdulikan lagi dunia lain, dia suka sekolah, dia suka pergaulannya. Walau dia tetap menjadi anak yang sederhana dan penuh tanggung jawab, tapi fokusnya dan gairahnya pada dunia ‘mereka’ telah hilang, tidak ada keinginan untuk kembali menekuninya.
Mulyana mulai sakit-sakitan, sepertinya efek serangan Mudha Praya mulai menyebar dan perlahan menggeroti tubuhnya. Mulyana mulai sesak nafas, mulai sering pingsan dan tidak jarang jatuh sakit tanpa sebab.
Mulyana tahu, ini sudah saatnya mulai membicarakan dengan serius, siapa jati diri Aditia dan tugas yang harus dia estafetkan pada anaknya.
“Yah! ini licin!” Aditia kesal, mereka turun ke bantaran kali, tidak ada lampu penerangan, pantas saja sering dijadikan tempat buang mayat.
“Jangan banyak ngeluh!” Mulyana mengarahkan senternya pada wajah Aditia yang cemberut, mereka berdua pegang senter masing-masing.
Dari jauh Aditia melihat seseorang sedang duduk di tepi sungai seluruh dengan arah mereka jalan, tapi begitu ditegaskan lagi, ternyata bukan seseorang, tapi ….
“Aku sudah mencari sepanjang kali ini, semua warga disekitar sini juga tidak pernah menemukan satupun mayat, kau yakin kau di buang di sini?”
Mulyana mendekati sosok yang sedang duduk di pinggi kali dengan wajah sendu
Aditia mendekati ayahnya, dia memang berjalan lebih lambat karena takut jatuh. Saat semakin dekat dan dia melihat dengan jelas wajah sesosok itu, Aditia mundur sedikit.
Wajahnya terlihat basah dan … rusak, di dahinya ada bolong yang mungkin karena saat tenggelam tersangkut kayu hingga membuat dahinya bolong. Dibagian pipi kiri terkoyak, sedang di bagian pipi kanan kulit terlihat bengkak. Matanya sudah hilang entah kemana.
Kondisi tubuhnya juga basah dan mirip seperti wajahnya, bolong di beberapa bagian.
“Aku dibuang di sini.”
“Dia hanya bisa bilang satu kalimat itu Dit.”
“Astaga! Trus gimana cara carinya kita udah susurin sungai, Ayah juga sudah tanya warga, nggak ada mayat yang diketemukan, jadi sekarang kita mesti gimana lagi?”
“Kita harus cari jawabannya.” Mulyana mulai melatih kesabaran dan mental anaknya.
“Caranya?”
“Menyelidiki, latar belakang keluarganya.”
“Lah, dia aja cuma bisa ngomong, ‘aku dibuang di sini’.” Aditia menirukan perkataan pria itu dengan mimik meledek.
“Coba bantu Ayah bicara dengannya.”
“Ayah aja nggak bisa, gimana Aditia!” Aditia kesal karena orang ini hanya bicara satu kalimat, tidak memberi petunjuk. Kelak bahkan Aditia mampu menangani Nona yang tidak mau bicara dan hanya minta bayinya diajak, tapi di umur ini ternyata dia sangat rewel dan tukang mengeluh.
“Coba dulu, kau ikut ayah bukan hanya untuk menjadi kenek saja!”
Ayahnya terlihat marah, Aditia lebih akut ayahnya marah ketimbang dengan wujud pria ini.
“Pak, mau tanya, kenapa nggak mau dijemput sama kita?” Aditia bertanya dan duduk di sampingnya, bau menyengat yang cukup aneh terasa saat Aditia duduk di samping pria ini sehingga Aditia spontan mengatakan, “bau amis apa nih, tajem banget!”
Pria itu menghadap Aditia dengan wajah mengerikannya, dia lalu menunjuk ke kali sembari berkata, “Aku di buang di sini.”
“Ya kami tahu, makanya kami susurin, tapi nggak ada mayat!” Aditia kesal.
Jiwa itu menatap Aditia dengan wajah marah, mungkin karena Aditia membentaknya.
__ADS_1
“Dit!” Mulyana mengingatkan.
“Adit harus apa Yah?”
“Kembali ke angkot, ayah sudah menemukan jawaban.” Mereka berdua bergegas kembali ke angkot, lalu Mulyana berkendara lagi.
“Ayah udah dapat jawaban apa?”
“Kita ke pelelangan ikan, jam segini seharusnya masih ada yang buka, karena biasanya nelayan selesai menjaring ikan malam hari dan mulai mengumpulkan ikan segar untuk dijual besok.”
“Kenapa ke pelelangan ikan, apa hubungannya dengan pria ….”
“Ya, kau sudah tahu?”
“Bisa jadi Yah, tapi apa itu tidak terlalu dini? Maksudnya kenapa pelelangan ikan?”
“Karena sudah jelas.”
Mereka telah sampai di tempat pelelangan ikan, benar dugaan Mulyana banyak orang yang sedang sibuk memilah ikan yang baru saja diantar oleh para nelayan untuk didagangkan esok harinya.
“Pak boleh tahu, apakah ada salah seorang pedagang yang hilang akhir-akhir ini?”
“Pedagang hilang? Tidak tahu Pak, saya hanya nelayan, tanya sama yang itu saja tuh, dia penjaga pasar, pasti lebih tahu.”
Mulyana mengikuti arahan orang itu untuk bertanya pada penjaga pasar.
“Pak, mau tanya, apakah ada pedagang yang hilang akhir-akhir ini?”
“Pedagang yang hilang? Kamu siapa? Polisi?” Karena Mulyana tinggi dan tegap, dia terlihat seperti Polisi.
“Bukan Pak, saya sedang mencari kerabat saya, tapi dia belum punya identitas saat pergi dari rumah kami, kami terakhir dapat kabar kalau dia itu dagang di sini, tapi nggak ada yang kenal, siapa tahu kalau Bapak bisa kasih tahu wajah orang yang hilang itu saya jadi tahu juga, itu saudara saya atau bukan.”
“Oh begitu, jadi bukan Polisi kan?”
“Bukan kok.”
Mulyana berbohong karena dia tahu, kalau penjaga pasar atau preman pasar paling benci dengan Polisi, mereka bisa saja ditangkap kerena melakukan praktek pungutan liar.
“Wah ini betul keluarga kami, ya kan Dit?”
Aditia melihat selebaran itu dan dia tahu betul, walau wajahnya telah rusak tapi memang ini adalah pria yang jiwanya duduk di pinggir kali itu.
“Betul ini orangnya.” Aditia yakin.
“Tapi setahu kami dia belum menikah, tapi kok ternyata sudah punya istri?”
“Sudah menikah, nih alamat istrinya, kau tanya saja sama dia.” Kena! Setiap orang suka sekali bergunjing, Mulyana terpaksa berbohong mengenai Koswara yang belum menikah untuk mendapatkan alamat istrinya secara cepat, lihat penjaga pasar ini jadi memberitahu alamat tanpa diminta bukan? memang manusia, hidup orang lain selalu menarik jika ke arah negative.
Setelah berterima kasih Mulyana dan Aditia bergegas ke rumah istri Koswara, sudah jam sebelas malam, tapi karena rumahnya dekat, mereka akan nekat bertamu.
“Assalamualaikum.” Mulyana mengetuk pintu rumah itu.
“Waalaikum salam.” Terdengar jawaban dari dalam. Seorang pria.
“Pak saya Mulyana, bisa bicara dengan istrinya Pak Koswara?” Mulyana heran, kenapa ada pria dewasa di rumah ini? Bukankah kata penjaga pasar tadi istri Koswara hanya tinggal berdua dengan Koswara, tapi kenapa sekarang ada lelaki ini, membuka pintu dengan pakaian rumahan, artinya bukan tamu.
“Ya, saya istrinya Koswara, kalian siapa ya?”
Seorang gadis belia yang sangat cantik, memiliki wajah tirus dan kulit putih bersih, sungguh tidak terlihat seorang istri dari penjual ikan di pasar dengan umur yang mungkin sudah kepala empat. Itu tebakan Mulyana.
“Begini Bu, kami adalah petugas koperasi di dekat pasar, Pak Koswara sudah dua bulan ini tidak membayar kewajiban atas pinjaman anggota, makanya maaf saya malam-malam ke sini.” Lagi-lagi Mulyana berbohong, dia berpikir cepat untuk mendapatkan informasi dia tidak boleh mengungkap kenapa dia menyelidiki jati diri Koswara, makanya dia akhirnya mengarang cerita setelah dia melihat koperasi dekat pasar saat akan di rumah Koswara.
Sudah terkenal bukan, siapapun warga yang dekat lokasi koperasi, pasti menjadi anggota dan melakukan simpan pinjam, pinjam dan menabung. Mulyana menebak, Koswara juga pasti menabung sekaligus meminjam uang di koperasi itu.
“Hah? si Koswara itu pinjam duit ke koperasi juga?” Istrinya terlihat emosi.
“ibu yang membuat selebaran ini?” Mulyana bertanya lagi, sementara pria yang membuka pintu tadi tidak keluar lagi.
“Iya saya yang buat, waktu dua minggu Koswara hilang, tapi nihil, dia tidak ketemu juga.”
“Bu, apakah Pak Koswara punya warisan?”
__ADS_1
“Kok nanya begitu?” Istrinya mulai marah.
“Karena kewajiban ini harus dibayar, kalau Pak Koswara tidak pulang juga, maka kami akan menyita harta warisannya.” Mulyana memang pintar.
“Tidak ada! Koswara hanya pedadang pasar, mana punya dia warisan, sudah kita tunggu saja sampai dia pulang baru tagih lagi.”
“Tapi Bu, bisa tolong ceritakan, kapan ya Pak Koswara hilang, buat kronologi kantor Bu, siapa tahu hutang bisa dihapuskan.” Mulyana membuat wanita itu tergiur dengan penghapusan hutang.
“Bapak serius? Hutang Koswara bisa dihapuskan?” Istrinya bertanya lagi.
“Ya, asal ibu jujur cerita saat sebelum hilang apa saja yang Koswara lakukan, supaya kantor tahu, kalau Koswara benar-benar hilang, bukan akal-akalan saja untuk menghilangkan tanggung jawab.”
“Baiklah kalau begitu. Jadi satu minggu sebelum hilang, dia terlihat aneh, dia selalu saja mondar-mandir tidak jelas, dia juga jadi lebih kasar dan pelit. Entah kenapa, dia itu aslinya baik, lembut dan royal. Tapi seminggu sebelum hilang itu dia terlihat sangat berbeda.”
“Baik, lalu?” Mulyana mencatat detail itu di buku tulisnya.
“Lalu kami bertengkar hebat malam itu, Koswara memotong uang belanjaku, katanya aku tidak perlu banyak uang karena belum punya anak. Tapi aku menolak, seharusnya uang bulanan harus seperti biasa, harusnya malah naik karena kebutuhan sudah pada naik.
Kami ribut sangat besar, Koswara bahkan menamparku. Lalu dia pergi, setelah itu dia tidak pernah terlihat lagi.”
“Apa Pak Koswara punya wanita lain Bu?” Istrinya tersedak, bagaimana mungkin Mulyana melontarkan pertanyaan itu dengan mudah sekali.
“Tidak ada! Koswara itu adalah orang yang paling jujur dan setia. Hanya satu kurangnya dia, terlalu baik hingga sering dibodohi orang.” Istrinya mencemooh suaminya dengan kontradiksi yang sangat tajam.
“Pak Koswara ada musuh?” tanya Mulyana lagi.
“Tidak kalau di sini, kalau di pasar mungkin ada. Namanya berdagang, wajar saingan, tapi ya mana mungkin mereka mau repot menculiknya, dia hilang, masih ada ratusan pedagang ikan lain kan?”
“Kalau begitu, apakah ada uang ibu curigakan?”
“Tidak, mungkin saja dia tersesat atau entahlah. Aku tidak curiga apapun.”
“Lalu siapa lelaki yang ada di rumah ini?” Mulyana kembali melewati batas.
“Bukan urusanmu lelaki itu, lagipula kalian ini Polisi? Kenapa bertanya begitu dalam?” Istrinya mulai marah, dia berdiri hendak mengusir Mulyana dengan Aditia.
“Kami hanya ingin membantu, kalau ibu merasa kami mengganggu kalau begitu penghapusan hutang mungkin akan kami batalkan.”
“Baiklah, apa hubungannya kau bertanya tentang orang di rumah kami?”
“Karena bisa jadi kalian menyembunyikan sesuatu, bisa jadi Koswara ada di rumah ini, buktinya mana mungkin istri yang kehilangan suaminya bisa tinggal berdua dengan lelaki lain? Kalau bukan karena suaminya ada juga di dalam, atau memang ….”
“Pertama! Suamiku tidak ada di rumah ini, kedua, lelaki itu adalah anak kami! Puas kalian, kurasa sudah cukup, kalau mau membantu silahkan, kalau tidak, ya tidak masalah!”
Perempuan itu akhirnya masuk dan membanting pintu rumahnya.
“Yah, apakah Ayah tidak keterlaluan bertanya begitu?” Aditia protes, mereka sudah menuju angkot lagi dan hendak pulang.
“Tentu tidak, kalau kita sungkan bertanya, akan lebih lama lagi menemukan jawaban Dit. Tapi ayah benar kan? Pasar ikan itu jawabannya.”
“Ya, ayah benar. Tapi karena Adit kan, makanya Ayah bisa menemukan pasar ikan itu sebagai petunjuk?”
“Ya, karena itu tidak aku sadari.”
“Apakah penciuman ayah masih hilang?”
“Iya.”
Mulyana kehilangan kemampuan mencium bau selama satu tahun belakangan, Mulyana bilang pada keluarganya ini karena sakit, tapi sebenarnya, itu adalah akibat santet Mudha Praya yang membuat perlahan panca inderanya melemah.
“Karena itu Ayah tidak mencium bau amis itu, karena di kali tidak mungkin bau amis, tidak ada ikan yang hidup di kali itu, karena limbah kimia yang pekat, ikan tidak bisa bertahan hidup. Lalu kenapa, jiwa itu berbau amis, bukan berbau busuk, itu berarti jiwa itu berasal dari tempat yang membuatnya bau amis, ayah langsung menebak pelelangan ikan yang hanya ada satu di wilayah ini. Padahal, bisa saja di pasar-pasa tradisional lain kan?” Aditia memberikan analisanya.
“Tidak mungkin sampai kau mengeluh jika bau amisnya masih bisa kau maklumi. Tapi jika kau sudah mengeluh seperti itu, artinya dia sangat bau dan hanya penjual di pelelangan ikan yang bisa membuat tubuh seseorang menjadi sebau itu. Termasuk jiwanya.
Mulyana mulai mengajarkan Aditia menyelidiki secara urut jika jiwa itu bermasalah hingga menolak diajak pulang.
___________________________________
Catatan Author,
Maaf ya, aku telat update, asam lambungku naik, jadi nggak bisa nulis. Semoga nanti malam nggak kambuh lagi, jadi bisa double update. Tapi kalau ntr malem nggak update maapkeun ya.
__ADS_1
Terima Kasih.