Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 36 : Mess 4


__ADS_3

“Saya heran bu.” Bi Iyem akhirnya mengutarakan yang membuatnya bingung. Hari ini dia memutuskan menginap, karena besok ada acara pengajian, makanya dia harus membantu majikannya untuk memasak, ada beberapa makanan yang dipesan ke katering, ada juga yang dimasak di rumah. Contohnya, nasi.


“Kenapa, Bi?” Istrinya Pak Ari bertanya.


“Kok nasinya lembek terus ya, padahal takarannya sudah sesuai loh.”


“Hah?” Istrinya Pak Ari mengecek ke bagian belakang rumah, karena ini masak untuk pengajian, mereka masak di bagian belakang rumah agar lebih leluasa, dua orang tetangga juga membantu, itu juga menjadi alasan Bi Iyem berani menginap, karena ramai.


“Liat deh, Bu, aneh ya, ini udah masakan ke dua, saya akhirnya naruh garam dimangkuk di dalam panci penanak nasi ini supaya airnya bisa diserap, Bu. Tapi ini masakan ke dua, airnya saya kurangin, biar nggak kayak yang pertama, tapi masih sama aja.” Bi Iyem mengeluh panjang lebar, Istrinya Pak Ari hanya tertegun menatap nasi itu, dalam hatinya, apakah ini pekerjaan ghaib?


“Saya juga nggak ngerti.”


“Bu, sebelum pindah ke sini emang nggak tanya-tanya dulu?” seorang tetangga yang tinggal di sebelah kanan rumah Pak Ari bertanya.


“Enggak Bu, cuma suami saya memang bilang kalau rumah ini lama kosong, tapi pas dicek rumahnya masih bagus, lalu isinya juga masih bisa dipakai, jadi saya merasa yasudah, cukup. Saya tidak memikirkan hal lain.” Istri Pak Ari menyesali itu, pengajian ini tidak membuatnya berat, tapi gangguan itu yang membuatnya khawatir.


“Sekarang, udah betah di sini?” Ibu tetangga itu bertanya lagi.


Agak ragu, tapi tidak ada salahnya sedikit mengnyinggung masalah itu.


“Saya merasa melihat seorang anak lelaki, si sini, mirip anak saya, tapi bukan.” Itu dulu yang istri Pak Ari katakan, untuk melihat reaksi tetangganya.


“Apakah anak itu, terlihat lusuh?” Ibu tetangga itu bertanya kembali.


“Betul dan kakinya … terlihat sangat kotor, saya sungguh berfikir itu adalah anak saya, karena mirip sekali. Cuma, anak saya biasanya tidak pernah sekotor itu jika bermain.”


“Bi Iyem nggak kasih tahu soal rumah ini?” tetangga itu masih bertanya-bertanya lagi.


“Tidak berani, Bu.”


“Ada apa, Bu? Bisa tolong kasih tahu saya?” Istrinya Pak Ari terlihat sangat frustasi.


“Yasudah sebentar, saya kecilin dulu apinya ya, supaya bisa mateng sempurna dan kita bisa ngobrol dulu, Bu, itu yang kentang balado juga dikecilin dulu apinya kayak rendang saya.” Ibu tetangga itu memanggil ibu tetangga lain yang rumahnya ada di sebelah kanan rumahnya.


setelah itu mereka berempat masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan yang memang bisa untuk enam orang itu, walau Pak Ari adalah keluarga kecil, tapi istrinya suka barang-barang yang yang berkapasitas besar.


Bu Ari menyediakan teh hangat dan juga brownies panggang agar ngobrolnya lebih santai.


"Jadi, ada apa sebenarnya dengan rumah ini, Bu?" Istrinya Pak Ari mengulang pertanyaan yang belum dijawab juga.


"Sejak saya pindah ke rumah itu, sekitar sepuluh tahun lalu, rumah ini sudah kosong bu." Tetangga itu membuka obrolannya.


"Saya pindahnya setelah itu Bu, jadi juga sama, rumah ini sudah kosong." Ibu tetangga satunya juga ikut bicara.

__ADS_1


"Tapi, apakah kalian tidak pernah merasa ada yang ... ganggu dari rumah ini?" Istri Pak Ari mengucapnya dengan berbisik, seolah takut ada 'yang lain' mendengar.


"Baiklah, saya akan beri tahu apa yang sudah kami alami selama tinggal bersebelahan dengan rumah ini.


Saya dan juga semua tetangga di sini semua hampir tahu, bahwa ... ini rumah terkutuk."


"Hah?!" Dia tadinya hanya mengira bahwa rumah ini berhantu, tapi dia tidak menyangka bahwa ini jauh lebih berat.


"Kami sering sekali melihat beberapa orang jahat datang ke sini." Tetangga itu melanjutkan.


"Saya makin tidak mengerti, Bu."


"Jadi, begini, kami sering lihat orang jahat datang, lalu menginap semalam di sini dan keesokannya dia pergi, tidak lama kemudian, orang jahat yang datang ke sini itu, pasti akan mendapat suatu keuntungan, seperti durian runtuh."


"Keuntungan seperti apa?" Istrinya Pak Ari bertanya dengan bingung.


"Karena entah secara kebetulan atau tidak, musuh atau pesaing dari orang jahat tersebut, meninggal dengan mengenaskan." Ibu tetangga itu berbicara dengan wajah ngeri.


"Astagfirullah!"


Di saat yang bersamaan, terdengar suara Akbar memanggil.


"Bu, Akbar lapar."


Istrinya Pak Ari akhirnya bangkit dan akan segera mengambil piring.


"Bar, udah pulang? Ilham juga udah pulang ya?" Ibu tetangga bertanya karena anaknya Ilham dan ayahnya Ilham itu tadi pergi ke lapangan di ujung desa bersama dengan Akbar.


Belum di jawab telepon genggam ibu tetangga berdering.


[Loh, kok nelepon Ham, udah di rumah?] Ibu tetangga ternyata di telepon anaknya.


[Belum bu, justru mau bilang pulangnya agak maleman, karena kata ayah mau nonton tanding bola antar desa dulu.]


[Oh, yaudah, kenapa Akbar nggak diajak? kasian kan, pulang sendiri. ]


[Akbar ada kok di sini sama kita.] Seketika tubuh ibu tetangga itu bergetar dan lemas, dia tidak berani lagi menatap 'Akbar'.


Lalu anak lelaki itu yang tadinya hanya berdiri di dekat ruang televisi menghadap ruang makan, berlari lagi ke arah kamar mandi.


"Bar!" Istrinya Pak Ari memanggil, karena Akbar tiba-tiba lari.


"Bu!!!" Ibu tetangga menarik lengan istri Pak Ari agar dia tidka mengejar anak lelaki ya g terlihat seperti Akbar itu.

__ADS_1


"Kenapa, Bu?" Ibu tetangga memberikan telepon genggamnya ke istri Pak Ari, yang langsung diambil olehnya dan didekatkan ke telinga.


[Mah, Akbar pulangnya maleman ya, Akbar nonton tanding bola dulu sama Ilham sama ayahnya.] Seketika itu membuat Istrinya Pak Ari munduf dan terduduk.


"Kalian semua lihat 'Akbar'yang tadi, kan?" Istrinya Pak Ari memastikan dan semua mengangguk.


"Bu, saya pulang dulu ya, itu kompor saya matiin dulu, abis itu saya langsung pulang." Ibu tetangga yang sebelah kanan berkata tanpa menunggu jawaban.


"Ibu? kamu, Bi?" Istrinya Pak Ari bertanya pada dua orang yang masih di sana, dalam situasi ini, siapa yang berani berada di rumah itu?


"Jujur saya nggak berani untuk menginap di sini, begini saja, kita matikan kompor, beberes semua masakan, lanjutkan besok saja masaknya, besok pagi sekali setelah solat subuh, kita lanjutkan, sementara itu Ibu menginap saja di runah saya, Bi Iyem pulang. Bagaimana!"


"Ya, saya setuju." Tanpa Ragu istrinya Pak Ari menjawab.


Lalu mereka membereskan semua masakan dan buru-buru pergi ke rumah tetangga.


...


sekitar jam 9 malam Ilham, ayah ya Ilham dan Akbar pulang, Pak Ari juga pulang pada jam yang mirip.


Akhir-akhir ini Pak Ari suka pulang telat.


"Bu, kenapa kok kamu malah di rumah tetangga, tadi katanya mau siapin makanan buat pengajian besok." Pak Ari bertanya pada istrinya yang terlihat kelelahan, Akbar sudah tidur, tapu istri Pak Ari memaksa agar Akbar mau tidur di kamarnya.


Jadi sekarang Mereka sekeluarga tidur di kamar yang sama.


"Kejadian lagi, Pah. Mereka semua lihat anak lelaki itu, yang suka menyamar menjadi Akbar."


"Lagi?"


"Iya, Mamah takut, Pah."


"Mah ...."


"Iya Mamah tahu, kita uang udah habis untuk pindahan kemarin, renov rumah dan menambah peralatan dapur, Mamah cuma lagi berkeluh kesah aja, Pah."


"Sabar ya, Mah. Besok, kan, pengajian, siapa tahu setelah itu rumah ini jadi lebih nyaman fan tenang."


"Tapi, Pah, Mamah denger dari mamanya Ilham, tetangga kita yang tadi Papag jemput Mamah, dia bilabg kalau rumah ini ... terkutuk!"


"Huss, jangan aneh-aneh ngomongnya."


"Bukan Mamah yang ngomong, Pah, tapi warga di sini, Mamah fikir juga ...."

__ADS_1


"Udah malem, Papah capek mau tidur, bisa nggak kita nggak ngomongin itu dulu?" Pak Ari lalu membereskan bantalnya dan bersiap tidur, meninggalkan istrinya yang masih dalam keadaan kalut.


__ADS_2