
Semua orang berkumpul di rumah Paman Aep, sudah dibersihkan bersama, tidak terlalu kotor seperti prasangka mereka sebelumnya, ternyata Mang Eman selalu membersihkannya secara berkala.
“Maap ya ganggu, ini masakan istri Mamang, dimakan ya, kalian belum makan sejak datang loh, seadanya aja ya.”
Mang emang membawa satu bakul nasi, lauk ikan asin, sambal terasi, timun dan daun lalapan, khas orang Sunda.
“Wah! Ikan asin!” Ganding dan Jarni terlihat berbinar.
Mereka langsung mempersilahkan Wak Eman untuk masuk ke ruang tamu, sudah tidak ada bangku di sana, rupanya telah disumbangkan, karena itu amanah dari Paman Aep yang sebelum meninggal dunia meminta Wak Eman menyumbangkan semua yang ada di sini, termasuk perabotan dapur dan isi rumah lainnya, ada tersisa tikar saja, tikar itu disisakan hanya agar jika Wak Eman membersihkan rumahnya, bisa duduk di ruang tamu sekedar istirahat saja.
Sekarang berguna untuk kawanan duduk dan tidur sementara waktu.
“Wak, ayo ikut makan dong.” Yang lain bersiap makan, sangat cukup untuk mereka semua, padahal Alisha sudah memesan makanan cepat saji untuk diantar ke rumah itu, tapi sepertinya makanan itu akan menjadi makanan balasan yang diberikan ke Wak Eman kalau sudah sampai, semua orang lebih suka makan ikan asin dibanding dengan makanan cepat saja yang dipesan Alisha, si seksi konsumsi, di selalu menjadi orang yang menjaga makan, pakaian dan semua kebutuhan yang jarang dipikirkan kawanan, Alisha seperti induk semang dengan umur yang masih sangat muda dan enerjik.
“Kalian suka ikan asin?”
“Tentu saja Mang, ini sih makanan sempurna di malam yang dingin ini.” Ganding menjawab sambil lahap memakan, yang lain terlihat sangat menikmati nasi panas dan juga ikan asin, ekspresi mereka tak dapat tertutupi, semua berbinar melihat makanan langka di kota yang mereka tinggali.
“Kalian nih sama aja kayak si Aep, Aep juga suka banget loh makan ikan asin, kadang, saya tidak makan malam sama keluarga, sesekali menemani Aep untuk makan bersama di rumah ini, makan alakadarnya, tapi Aep memang tidak pernah mengeluh, dia itu menggarap sawahnya sendiri, sawah yang tadi kita kunjungi, sebagian milik Aep, tapi sudah dihibahkan ke pemerintah daerah, untuk kebutuhan orang-orang yang tidak mampu, maka kami bersama-sama menggarap sawahnya. Untuk kebaikan bersama.”
“Orang-orang tidak takut dengan sawah Paman Aep Mang? Mengingat mitos itu, soal jalanan di persawahan itu?” Aditia bertanya, piringnya sudah bersih dari nasi dan ikan asin yang menjadi primadona malam ini.
“Tidak, lucu ya, orangnya dimusuhi saat hidup, tapi ketika meninggal, hartanya tetap masih laku, diinginkan, bahkan diperebutkan.”
“Manusia Man, emang begitu kelakuannya, kalau soal uang tak pedulilah, selama masih bisa jadi milik.”
“Ya, saya juga sesalkan, saat itu ....”
KEMBALI KE SAAT ITU
__ADS_1
“Air ini untuk apa Ep?” Eman bertanya, Aep terlihat sedang menyiram air ke pekarangan rumah Eman, dia putar siraman itu, hingga sampai ke belakang rumah, rumah di kampung itu tidak beredempetan, tidak bertemu satu tembok dengan tembok antar tetangga, ada pekarangan yang mengelilingi rumah, hingga mudah bagi Aep untuk memagari rumah itu.
“Pagar, yang aku janjikan semalam.”
“Ep, memang masih ada yang bakal nyerang?” Eman bertanya.
“Ya, pasti, karena aku sudah mengumandangkan peperangan, mereka akan semakin banyak datang.” Aep terlihat tenang dari sebelumnya.
“Ep, kamu nggak takut?”
“Takut? tidak, aku tidak melawan bukan karena takut, aku tidak melawan karena aku tidak ingin cari ribut, tapi Mulyana telah membuka kuncinya, hanya dia dan ayah kami yang mampu membuka kuncinya, aku tahu Mulyana membukanya selagi melepas jin di kakiku kemarin.
Aku tahu dia melakukannya dan membiarkanku memilih, menggunakannya, atau membiarkannya tetap di sana. Di dalam tubuhku.
Maka dari itu, Eman ... jangan datang lagi ke rumahku, jangan sapa aku, jangan ramah padaku, jangan pernah sekalipun kau berteman denganku lagi.”
“Ep! Kenapa begitu?”
Aku pernah kehilangan anakku, bahkan sebelum dilahirkan, dia sudah dijadikan target, istriku gila dan sekarang ayahku telah tiada, mereka tahu kalau aku dan Mulyana tidak sehebat ayah kami, makanya mereka selalu memburu kami, sedang Mulyana menyembunyikan keluarganya, dia cerdas, kukira dia akan mengikuti jejak ayah, dengan menjadi Kharisma Jagatyang hebat, rumah tangga bukanlah hal utama, tapi aku salah, dia malah membina rumah tangga dengan orang biasa, melanggar jodoh adat dan bahkan ikut pergerakan anti jodoh adat, menunggu Ayi Mahogra, seorang Ratu mereka, yang katanya akan datang untuk membantu pergerakan mereka, tapi sekarang saja Ratu itu belum datang sama sekali, tak kelihatan batang hidungnya.
Aku lelah Man, selalu lari dan akhirnya jadi bulan-bulanan mereka.
Aku ingin melawan walau sekali saja, aku ingin mereka tahu, berurusan dengan siapa.”
“Kau hebat mau melawan, tapi jangan pernah kau minta aku untuk menjauhimu, aku sudah terlanjur menganggapmu keluarga, aku baik karena kau duluan yang baik pada keluarga kami, memang aku tidak tahu, kau itu banyak menolong kami, termasuk memberikan rekomendari pada bosku kan? kau yang membuatku bisa keterima kerja di perusahaan itu, kau itu orang baik Man, jangan sampai kau jadi seperti mereka ya, aku akan tetap mendampingimu, keluargaku akan tetap mendukungmu, aku akan pastikan, kami tetap menganggapmu sebagai keluarga.”
“Tapi Man ....”
“Sudah, aku tak mau lagi mendengar, aku akan makan malam bersamamu malam ini, seperti biasa.”
__ADS_1
“Tidak bisa, jangan, aku akan melakukan ritual.”
“Ritual apa?” Eman bingung.
“Aku akan menyerang mereka duluan, kalau kau tetap keras kepala ingin bersamaku, kau harus siap, dengan semua masalah yang mungkin akan membuat kita jadi saling curiga. Percayalah, saat aku melawan, mereka akan mengerjar orang-orang yang dekat denganku.” Aep mengulang, dia ingin pastikan Eman mengerti dan siap.
“Aku dan keluargaku akan persiapkan diri untuk itu, Ep.”
“Terserah kau saja.” Aep pamit karena dia akan ke sawahnya, bersiap.
Dia pergi ke sawahnya, dia akan mulai menyemai benih padi, karena panen terakhir kemarin cukup bagus.
Sebelum penaburan benih padi, Aep harus mempersiapkan lahannya, pertama dia harus meratakan lahannya, Aep harus memastikan bahwa lahannya tidak tergenang air agar bibit tidak tenggelam.
Dia membawa kayu yang cukup panjang, mungkin sekitar satu setengah meter, dengan lebar sekitar 10 sampai 15 sentimeter, kayu itu berfungsi untuk meratakan tanah, tanah yang hendak diratakan, ditarik ke mundur dengan kayu tersebut.
Pada tanah yang diratakan tersebut, akan ada aliran air yang nantinya tidak tertanami padi, hingga padi aman saat tumbuh perlahan dari genangan air yang berlebihan.
Benih padi yang disudah dipersiapkan Aep, rencananya akan ditabur di lahan yang akan dia siapkan ini, saat sampai ke sawah, betapa terkejutnya dia, tanah yang hendak dia siapkan itu, ternyata sudah dirusak.
Tanah itu kemarin setelah dipanen, biasanya tergenang air, dibiarkan 2 sampai 3 minggu sebelum disemai lagi, hanya agar tanah siap untuk dijadikan lahan menyemai padi. Itu yang Aep pikirkan, karena sudah lama sekali dia tak ke sini setelah panen terakhir.
Itu karena Aep sedang sangat sulit mengambil waktu untuk menyemai benih padi, karena masalah perdukunan ini, dia membiarkan tanahnya tak terawat hampir sebulan, tentu tanah mengalami penurunan kualitas, tapi tidak akan menjadi seperti ini.
Seperti ada yang sengaja menuang semen pada tanah itu, menuang dengan sangat niat. Karena hampir seluruh tanah milik Aep itu tertutup semen.
Semen dapat membuat kualitas tanah yang sebelumnya dijadikan lahan untuk menanam padi, menjadi menurun.
Perlu waktu untuk menghancurkan semen yang sudah mengeras itu di tanahnya, setelah itu membersihkan tanahnya, mengairinya dengan tepat, setelah itu harus menunggu lagi selama minggu baru bisa mulai ditanami.
__ADS_1
Sungguh keterlaluan orang yang melakukan ini, Aep terlihat sedih dan sangat marah, main-main dengan ladang nafkah seseorang, itu sungguh perbuatan keji.
Aep bahkan menitikkan air mata, bagaimana caranya dia akan menghancurkan semen ini? jika dikerjakan sendirian, tentu akan sangat sulit, meminta tolong siapa?