
“Ini fotomu.” Lais memberikan foto jiwa itu, namanya Syahrul, dia sudah menikah tidak punya anak. Istrinya bilang kalau Syahrul ini adalah pemabuk berat, makanya ketika berita bunuh diri datang, mereka lebih percaya bahwa itu adalah karena Syahrul pemabuk dan tidak sengaja jatuh di jembatan itu.
“Ini memang wajahku?” Syahrul memang tidak bisa mengingat wajahnya sendiri, dia juga tidak bisa berkaca, karena selama ini dia hanya di jembatan itu.
“Ya, ini wajahmu, kau hanya lebih pucat.”
‘’Lalu kenapa aku di sini? bukankah katanya kalau telah mati akan kembali kepada Tuhan?”
“Itu yang menjadi tugas kami, mencari tahu.” Hartino menjawab dengan rasa kasihan.
“Kalau begitu, apakah kalian sudah tahu apa yang terjadi denganku?”
“Kemungkinannya banyak, jadi aku dan Lais sudah mendapatkan kesimpulan. Jadi begini ceritanya ....”
HARI PERTAMA PENYELIDIKAN
“Jadi anda yakin bahwa suami anda mabuk lalu dia secara tidak sengaja jatuh dari jembatan?” Hartino bertanya lagi pada istrinay Syahrul, untuk memastikan.
“Ya.” Istrinya yang sekarang telah tinggal di indekos, bukan di kontrakan petakan lagi, berkata.
“Kalau begitu apakah hasil otopsi menunjukan ada kadar alkohol dalam tubuhnya?” Hartino melanjutkan pertanyaannya.
“Otopsi? Aku dan keluarganya memutuskan untuk tidak melakukan otopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah.”
“Tapi, bagaimana dengan saksi yang melihat bahwa dia didorong dari atas?” Lais tiba-tiba menyelak.
“Kabar dari mana itu? saksi siapa? saya tidak pernah tahu soal itu.”
Hartino menyepak kaki Lais karena kelepasan berbicara seperti itu, bukankah itu informasi dari dark website, informasi sensitif yang masih bisa mereka lihat. Tapi pad portal berita online sudah tidak ada sama sekali.
“Hmm, kami pernah dengar rumor itu di sekitar jembatan.” Lais mencoba untuk menyelamatkan muka mereka.
“Oh begitu, tidak ada, itu berita yang tidak benar.”
“Tapi Bu, apakah ini tidak aneh, kalau dia memang pemabuk, bukankah pemabuk itu tidak bisa berjalan lurus? Bukankah lebih masuk akal jika dia jatuh di tangga penyebrangan karena kakinya terselandung, akibat ketidakmampuan jalan lurus saat naik tangga, dibanding memanjat pegangan tangga penyebrangan lalu loncat? Jalan lurus saja tidak mampu, lalu apakah benar dia masih mampu untuk memanjat dan menjatuhkan diri?” Lais menyentuh areal yang cukup pribadi.
Ibu itu diam, mungkin baru kali ini dia mendengar teori semacam ini.
“Kami tidak pernah memikirkan hal itu, karena ... dia bukan seseorang yang bisa kami andalkan atau banggakan, jadi kematiannya ....”
“Sesuatu yang kalian syukuri?” Lais menatapnya dengan tajam. Ibu itu diam saja, lalu Lais melanjutkan perkataannya, “bukankah itu tidak adil, walau dia mungkin tidak bisa kalian andalkan atau banggakan, tapi apakah dia tidak berhak mendapatkan keadilan?” Lais kesal, karena dia juga merasa berada di posisi Syahrul, seseorang yang tidak baik, tapi bukan berarti mereka tidak diizinkan mendapatkan ketidakadilan.
“Maaf, tapi saya hanya ingin melanjutkan hidup, memiliki suami seperti dia itu berat, saya hidup dengan kerja keras saya sendiri, sementara dia menumpang seperti benalu pada saya. Saya pikir pernikahan mampu membuat saya lebih bahagia, tapi saya salah, pernikahan membuat saya tambah gila!” Perempuan itu lalu berdiri, dia terlihat bermaksud menyudahi obrolan mereka. Alka dan Hartino mengaku sebagai reporter dan menawarkan bayaran pada istri Syahrul, tentu dia mau memberikan waktu untuk uang.
__ADS_1
Lais dan Hartino akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen itu.
“Jadi kita harus apa lagi sekarang?” Lais bertanya, dia sebenarnya selalu menjadi penentu keputusan, tapi kali ini dia ingin Hartino yang mengarahkannya.
“Apa benar bahwa pernikahan bisa membuat seseorang tambah gila?” tanya Hartino. Terlalu tiba-tiba hingga Lais menjadi tersedak mendengarnya.
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya?”
“Ya maksudku, sekelilingku menjadi begitu jelas tentang pernikahan.”
“Maksudnya?”
“Ibuku, dia mengurusku sendirian, sampai saat ini aku tidak pernah bertemu ayahku sejak aku berumur enam atau tujuh tahun. Lalu Alka, dia ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, bahkan bapak membohongi istrinya agar tetap aman dan selamat dari semua serangan musuhnya. Alu Syahrul, bukankah seburuk-buruknya seorang suami, dia adalah seseorang yang pernah ada di dalam hidupmu? Seharusnya paling tidak kau memberikan penghormatan terakhir, bukan buru-buru menyelesaikan hubungan dan pergi.”
“Aku tidak tahu pernikahan seberat apa, tapi yang aku tahu, jika kau menikah karena saling mencintai, maka semua bisa kau lewati.”
“Kata siapa? aku tahu dari berkas-berkas kasus ibuku, bahwa orang-orang yang menyewa jasa ibuku untuk perceraian dan mengurus harta gono-gini itu, dulunya adalah orang-orang yang saling mencintai. Lalu kenapa mereka sekarang seperti orang asing? Kenapa mereka saling menyerang? Lupakah mereka bahwa cinta itu pernah ada.”
“Berarti memang tidak pernah ada cinta Har.”
“Maksudmu?”
“Mereka berbohong, tingkatan cinta tertinggi itu, tidak pernah luntur, tidak pernah menghilang atau bahkan berkurang, maka jika orang bilang cinta, tapi masih meninggalkan, melukai dan bahkan membunuh, itu bukan cinta.”
“Butuh, jika tak butuh, maka selamat tinggal. Cinta itu tidak pernah memandang kondisi dan keadaan, cinta ya cinta. Selamat malam Har, aku lelah sekali, aku ingin istirahat.” Lais pamit.
“Ya, selamat tidur. Akan ideal sekali jika pemikiran semua orang sepertimu, jadi tidak akan pernah ada orang yang terjebak lagi.” Har akhirnya kembali berkutat dengan laptopnya, karena dia ingin menyelesaikan masalah ini segera.
Pagi datang, Hartini dan Lais sudah berada di suatu tempat, subuh tadi, Hartino membangunkan Lais karena ada yang ingin dia katakan, lalu setelahnya, satu jam kemudian mereka ada di tempat ini.
“Kau bersama Syahrul sebelum kematiannya kan?”
Hartino ternyata telah menemukan lelaki yang katanya mendorong Syahrul, dia adalah pegawai di tempat lama Syahrul pernah bekerja.
“Kau bicara apa, aku tidak mengerti.”
“Kau orangnya kan?” Hartino memaksa lagi.
“Bukan, aku tidak pernah bertemu Syahrul di jembatan penyebrangan itu.”
“Aku tidak pernah bilang bahwa kau bertemu dengannya di jembatan penyebrangan, aku hanya bilang saat kematiannya.”
“Ka ... kau berkata apa! kabar kematian dia itu jelas! Semua orang tahu, di jembatan itu dia meninggal, makanya aku bilang di jembatan itu.”
__ADS_1
“Kau mendorongnya kan Pak?” Hartino langsung menebak.
“Aku! untuk apa? kami berteman dan kami tidak pernah bertengkar atau berselisih paham sebelumnya, jadi mana mungin aku membunuhnya. Lalu, kalau memang aku membunuhnya, kenapa Polisi tidak menanyaiku?” Lelaki itu berkelit.
“Kau mau Polisi menanyaimu? Aku bisa mengaturnya, karena aku menemukan bukti ang sangat akuran membuktikan itu adalah dirimu.” Hartino mengancam.
“Aku tidak perduli, aku tidak membununya, dia bunuh diri.” Lelaki itu lalu berdiri, dia pergi meninggalkan jalanan di mana Hartino dan Lais meghadangnya ketika akan pergi ke kantornya.
“Kenapa kau begitu yakin dia pelakunya?” Lais bertanya, kali ini mereka sudah di tempat lain, di sebrang indekos istrinya Syahrul.
“Aku semalam menelusuri dark web, aku menemukan foto CCTV yang tidak sengaja merekam ketika Syahrul naik jembatan penyebrangan itu, dari mobil seseorang, dia komentar di dark web kalau dia mempunyai rekaman itu, secara tidak sengaja CCTV di mobilnya merekam Syahrul dan lelaki itu naik ke jembatan penyebrangan saat lelaki itu mengendarai mobilnya. Aku semalam menghubungi orang yang komentar itu dan membeli fotonya. Setelah dia kirim fotonya, benar itu Syahrul tapi sayang, wajah pelaku tidak terlihat.
Aku memperbaiki fotonya dengan meningkatkan pencitraan foto itu dengan teknik pencitraan ulang, di mana kemungkinan-kemungkinan dimasukan, lalu mencari yang paling cocok. Teknik pencitraan ini dilakukan oleh sebuah program yang belum dilaunching, aku orang pertama yang mencobanya sebagai Tester, perusahaan software di negeri kita ini, memang selalu percaya padaku untuk mencoba program baru mereka, ternyata program ini sangat bermanfaat.
Aku menemukan kemungkinan tinggi pria ini, warna baju yang dia gunakan dan jenis baju yang dia gunakan.
Dari sana aku mencari sosial media Syahrul, lalu mencari teman-temannya, dimulai dari teman sekolah, teman rumah dan terakhir teman kantor.
Ketemulah lelaki itu, yang tadi kita temui, aku yakin dialah pembunuhnya, karena aku menemukan satu foto di mana lelaki pembunuh itu memakai baju yang sama persis di hari pembunuhan itu. Ternyata itu adalah baju olahraganya.”
“Wah ... ini baru hebat!” Lais terpesona mendengarnya.
“Ya, aku memang cerdas.” Hartino tersenyum puas, karena kemarin Lais selalu merendahkannya.
“Lalu, dari semua bukti itu kau yakin dia membunuhnya?”
“Ya, tentu saja, seperti kau bilang, orang mabuk tidak bisa berjalan lurus, jadi sudah pasti dia dorong dari atas jembatan itu.”
“Tapi semua bukti itu tidak bisa dijadikan alat yang membuktikan dia mendorongnya bukan?”
“Ya, tapi kan bisa dijadikan landasan.”
“Har, caramu hebat, tapi kita masih belum menemukan alasannya, alasannya dia membunuh Syahrul apa?”
“Ya mungkin persaingan karyawan, percintaan, uang. Hal-hal klasik yang selalu menjadi alasan orang membunuh.”
“Aku rasa kita harus menemuinya, kita harus memprovokasinya agar dia bicara.” Lais bersemangat.
“Makanya kita di sini Lais, kita akan awasi istrinya Syahrul, aku yakin ini tentang cinta segitiga.”
“Har, kau itu posesif sekali dengan kehiduan percintaan orang, fokusmu jadi terlalu tebal pada bagian ini.”
“Aku yakin, kau lihat saja, aku pasti benar.” Hartino bersikeras.
__ADS_1