
“Aku benar kan? Memang ada agent yang membuat para korban masuk ke terowongan itu?” Hartino jumawa, karena baru kali ini asumsinya benar.
“Ya kau benar, omongan tak masuk akalmu memang terkadang jadi masuk akal dalam bisnis kita,” Ganding menanggapi. Hartino menyombongkan dirinya dengan berpose seolah dia adalah orang yang sangat tampan dan pintar, tampan mungkin iya, tapi kalau pintar jauh di bawah Ganding.
“Lalu kira-kira apakah wujud dari agent ini, Dit?” Ganding bertanya.
“Tidak ada yang bisa memastikan, karena salah satu pria paruh baya yang melihatnya ….”
“Sebentar, apa maksudmu pria paruh baya?”
“Gini Nding, ternyata teman dari Dino, si tukang ojek online itu dikenal indigo, setelah aku pastikan lagi, ternyata memang benar, dia bisa lihat, tapi semakin lama penglihatannya semakin berkurang.”
“Kenapa?” Ganding bertanya lagi.
“Karena dia menyakini bahwa dia mampu melihat karena mendapatkan karma atas kejahatannya dan ketika dia berhasil melunasi rasa bersalah, akhirnya dia yakin tidak dapat melihat lagi, ya kau tahulah.”
“Dia tidak sedang membayar karma, karena penglihatan bisa saja datang sejak lama, tapi diabaikan, tapi sejak dia merasakan rasa bersalah, dia akhirnay menyadari kemampuannya dan ketakutan.
Lalu sekarang setelah dia sadar, dia merasa kemampuannya berkurang, maka berkuranglah kemampuan, ini namanya permainan psikologi. Ini hanya tentang bagaimana pikiranmu mempengaruhi keyakinan, sepertinya otaknya sendiri yang memainkan peran dan memblok penglihatannya.” Ganding menjelaskan apa yang sebenarnya kawanan sudah ketahui, terdapat begitu banyak orang dengan khodam yang sedang terapi terkait hal ini, Ayi pernah membagi masalah ini dalam kitab penyembuhan bagi penyakit ghaib.
Ayi mengatakan bahwa banyak orang dengan khodam hanya mampu melihat khodam atau Karuhunnya seperti bayangan, tapi ketika diterapi, perlahan otak mereka membuka kembali penglihatannya.
Ayi menciptakan metode terapi ini khusus untuk orang-orang yang terkelabui oleh otaknya sendiri.
“Kalau kita bisa membuat pria paruh baya itu melihat dengan sempurna, mungkin akhirnya dia bisa mendeskripsikan bayangan itu sebagai sosok apa, bukan?” Alisha mengemukakan sesuatu yang gila, Ganding senang mendengarnya.
“Maksudmu, mungkin begini, karena saat itu sebenarnya pria paruh baya itu bisa melihat dengan jelas, tapi otaknya mengunci mata itu dengan keyakinan yang palsu, yaitu keyakinan bahwa dia tak bisa melihat dengan jelas setelah bertobat.
Tapi sebenarnya otak itu juga menyimpan ingatan tentang sosok asli bayangan itu di bagian ingatannya, karena aslinya memang pria itu dapat melihat dengan jelas.
Maka yang perlu kita lakukan saat ini adalah, membuka kunci otaknya, mengarahkan pria paruh baya itu untuk mengambil ingatan yang disimpan otak, penglihatan yang sebenarnya tentang makhluk itu, bukan penglihatan yang dikaburkan karena keyakinannya di kunci oleh otaknya sendiri.” Ganding menjelaskan dengan panjang lebar.
“Memang bisa begitu?” Aditia bertanya, Hartino setuju dengan pertanyaan Aditia.
“Makanya baca kitab, kebiasaan nih kalian berdua, sulit sekali membaca kitab, padahal sudah tersedia di markas ini, gratis lagi bacanya!” Alisha kesal karena suaminya juga seperti Aditia, tidak suka membaca, Alka hanya tertawa mendengarnya, dia tak bisa membantah karena Aditia memang tidak terlalu suka membaca, walau Aditia sebenarnya cerdas secara akademik.
“Lain kali mungkin aku akan baca kitab, tapi terkadang isi kitab kurang aku mengerti.” Hartino menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“Aku tidak punya waktu untuk membaca kitab, kalian punya waktu libur saat tak menangani kasus, sedang aku? saat sedang tak menangani kasus aku harus ke AKJ untuk membantu Ayi. Ingat kan, Kharisma Jagat harus selalu melapor soal keadaannya pada Ayi.” Aditia memberi alasan.
“Ah, alasan kau Dit,” Jarni mengejek.
“Dia memang banyak alasan.” Alka setuju dengan Jarni, semua orang tertawa, maka agenda selanjutnya adalah, mereka harus menemui pria paruh baya itu untuk membuatnya dapat membuka kunci otaknya yang memberi batasan dan mengaburkan penglihatannya.
Sementara di tempat lain, ‘agent’ itu sedang mencari mangsa baru.
...
“Mau kemana Neng?” Tukang becak itu bertanya, dia mangkal di pasar seperti biasa, tadi hendak pulang karena mau magrib, tapi tidak jadi karena wanita dengan kerudung hitam yang digunakan asal saja dan pakaian serba hitam mendekatinya, lalu mengangguk yang mengartikan bahwa dia mitna diantar.
“Jalan Kamboja.” Jawabnya dingin.
“Oh iya, deket itu mah.” Tukang becak yang mungkin berusia hampir 50 tahun itu mengayuh becaknya dengan semangat karena di rumah, istrinya sudah menunggu, menunggu untuk dibelikan makan.
Becak bukan transportasi umum yang sering digunakan lagi, biasanya tukang becak digunakan jasanya atas dasar rasa iba, karena di beberapa daerah, bahkan becak sudah dilarang, kebetulan di daerah sini, becak masih diizinkan untuk narik.
“Wah dingin sekali malam ini ya Neng.” Ucap tukang becak itu basa-basi.
Wanita itu diam saja menatap kedepan, cara duduknya anggun sekali, satu hal yang agak janggal sebenarnya, hal ini membuat tukang becak takut, tapi karena bayarannya lumayan, dia akhirnaya mau narik.
Tapi terserah saja, tukang becak hanya bisa berharap kalau dia bisa segera mengantar, lalu pulang dan bisa membelikan nasi rames untuk istrinya, mungkin sekedar lauk telur dadar atau tahu semur saja, istrinya pasti senang.
Sejak anak mereka merantau ke Kalimantan, menikah dan tinggal di sana, suami istri paruh baya itu hanya tinggal berdua, anaknya tidak pernah datang dengan alasan tiket pesawat itu mahal dan anaknya pun tidak pernah mengirim uang sama sekali.
Jangankan uang, kabar saja tidak pernah ditanyakan, orang tuanya memang tak punya telepon pintar, tapi punya telepon lawas yang hanya sekedar di telepon saja masih bisa.
Tukang becak itu terus mengayuh hingga terlihatlah terowongan itu, terowongan yang cukup terang, kakek ini sering melewati terowongan ini, jadi tidak asing lagi, tapi harus hati-hati, karena terowongan ini katanya suka menelan jiwa.
Tukan becak sudah memasuk terowongan, dia terus mengayuh, hingga terasa sudah ada di tengah terowongan, tiba-tiba lampu terowongan mati! Tukang becak berhenti mengayuh.
“Neng, sebentar ya, saya takut nabrak trotoar, kita jalan pelan aja ya.” Tukang becak itu mendorong becaknya perlahan, memastikan arah jalannya benar.
Tapi aneh, semakin lama, kenapa becaknya semakin berat? Tapi tukang becak itu terus mendorongnya, tidak berani mengayuh takut terguling. Dia takut penumpangnya celaka.
Tapi makin dipaksa, akhirnya dia tak lagi mampu mendorong karena saking beratnya becak itu, apa mungkin becaknya terjegal sesuatu hingga sulit jalan lagi, tukang becak itu lalu mengambil sesuatu dari tas pinggangnya. Dia mengambil senter kecil, senter yang dia selalu bawa untuk cadangan, karena biarpun telepon genggam lawasnya memiliki fitur senter, tapi sudah tak bsia digunakan lagi karena sudah rusak, telepon itu murni hanya bisa untuk telepon dan berkirim pesan singat.
__ADS_1
Tukang becak itu mengarahkan senternya ke depan, tapi belum juga membantu penglihatan dengan cahaya remangnya karena ukuran yang mini, senter itu mati.
“Duh, gelap banget Neng.” Tukang becak itu berkata sembari terus mencoba menyalakan senter mininya.
“Yakin mau lihat?” Wanita yang sepanjang jalan itu terdiam saja, tiba-tiba berkata.”
Walau agak takut, tukang becak itu mencoba mencairkan suasana, “Iyalah Neng, susah jalannya kalau gelap gini, ntar eneng juga sampe rumahnya lama, dicariin suami nggak?”
“Yakin mau lihat saya?” Wanita itu berkata dengan suara yang sangat parau, suaranya tak sama lagi seperti sebelumnya.
Karena itu tukang becak akhirnya melepaskan becaknya dengan spontan karena takut, dia sudah tak mampu lagi mengambil kesimpulan yang positif atas suara menakutkan yang dia beru dengar barusan.
“Aku mohon Neng, jangan ganggu, saya nggak salah apa-apa, saya nggak salah!” Lelaki itu berkata sambil merapatkan tangannya di dada seperti orang meminta ampun.
Becak itu jalan sendiri seolah didorong oleh seseorang, bukan seseorang, tapi sesuatu, lajunya tak kencang, benar-benar seperti di dorong.
Tukan becak itu mundur, hendak keluar dari terowongan.
“Saya tidak salah! saya tidak salah!” teriak tukang becak itu.
Dia berlari mundur, karena di detik berikutnya, becak itu tiba-tiba putar arah, yang tadinya pergi meninggalkannya, sekarang malah mengejarnya dengan kecepatan yang cukup kencang.
Samar dia melihat penumpang wanita itu masih di sana, duduk dengan wajah yang menyeringai.
Saat ini wanit itu sudah berhadapan dengan tukang becak, tukang becak berlari mundur dan becaknya mengejar dia dengan saling berhadapan.
Tukang becak berteriak sambil menangis dan berkata, saya tidak salah, saya tidak salah! tapi becak itu terus mengejarnya bahkan tanpa siapapun mendorong ataupun mengayuh, wanita itu masih duduk di sana.
Tepat saat becaknya hampir menabrak pria tua itu, tiba-tiba lampu terowongan nyala.
Terlihatlah apa yang ada di dalam terowongan, begitu banyak manusia dengan rupa yang mengerikan, semua jenis manusia ada di sana, bukan, pasti bukan manusia, ini pasti setan.
Itu yang ada di benak pria itu, lalu dia menatap becaknya, wanita itu masih duduk di sana dengan anggun.
Melihat ke arah tukang becak dengan tatapan sangat mengerikan, dia lalu berdiri, perlahan tubuhnya melayang, tukang becak terus melihatnya, was-was, takut wanita itu menyerang.
Saat sudah cukup tinggi, wanita itu menatap ke bawah, ke arah pria itu sambil tertawa, tertawa cekikikan dan ... kepalanya jatuh, tiba-tiba kepala itu miring ke samping kiri dan putus, lalu jatuh tepat menimpa tubuh pria paruh baya itu.
__ADS_1
Pria itu jatuh dan tak bisa bangun lagi.
Nasi bungkus istrinya tak bisa dia belikan.