
“Ok sekarang mami dan papi udah tentuin supaya kalian berdua disiplin ya, supaya terjadi hal yang seperti kemarin, kami akan membuatkan kamar baru untuk cici, kamar itu ada di sebelah kami, lalu kamar lama cici untuk adek. Kalau Adek butuh apa-apa, mami akan usahain dibeli dan tidak ambil barang cici, kalau cici butuh apa-apa juga sama, tidak boleh ambil barang adek, semua harus dalam izin masing-masing.
Tidak ada yang boleh ambil barang tanpa izin, tapi ... akan ada satu hari di mana kita semua berekreasi bersama, adek dan cici harus bahu membahu untuk berekreasi dan bersenang-senang, tidak boleh ada yang keberatan saat hari rekreasi ya.
Kalau sampai ada yang keberatan maka mami akan menghukum dengan tidak memberi uang jajan selama seminggu, gimana?”
“Apa sih!” Cici yang tidak terima, kalau adek terlihat biasa saja, karena ada atau tidak ada cicinya sudah biasa.
“Kalau cici nolak, kita akan terus dalam keadaan ribut, kamu lebih dewasa, harusnya kamu lebih tahu caranya untuk berdamai.” Papinya bicara, itu membuat cicinya merasa jengkel dan lagi-lagi tidak dibela.
“Baiklah, terserah kalian!” Cicinya lalu kembali ke kamar yang kelak akan menjadi kamar adek dan kamar baru cici akan menjadi kamar tamu.
“Anak cantik ibu harus lebih sabar ya sama cici, kan kamu tahu kalau cici itu dulu ga tinggal di sini bareng kita, mami ama papi kan sibuk ngurus adek, jadi adek sekarang gantian, harus bantu kami ngertiin cici ya.”
“Iya Mi, tuan putri itu harus baik, harus mau bantu orang tua dan harus sabar. Gitu kan kata mami kalau adek mau jadi tuan putri.”
“Betul, tuan putriku yang paling cantik jelita, sekarang bantu ibu di dapur ya, kita buat kue kesukaan kamu dan kakak. gimana? mau?
“Iya mau!” Adek sangat senang dan mau bantu ibunya.
Hari ini adalah hari di mana hari rekreasi akan dilakukan.
CIci dan kakak ditugaskan untuk mempersiapkan makanan untuk dibawa ke tempat rekreasi, mereka kan ke taman di pusat kota, hanya makan siang dan menikmati udara pagi di sana.
“Itu masukin ke kotak makan dulu, jangan dihias diluar, nanti kalau kamu hias di luar, susah masukin makanannya.”
“Ih mami selalu hias nasinya di luar, biar ga sempit.” Adeknya melawan.
“Itu mami, kalau kerja sama cici beda, masukin dulu ke kota.”
“Nggak mau! kita kerjasama, jadi cici sama adek nggak boleh berantem.”
“Makanya kamu dengerin kata-kata cici!”
“Nggak mau!” Adeknya berteriak dan melempar makanannya, bahan makanan untuk rekreasi rusak, kakaknya melihat itu marah dan dia ikut melempar kotak makan yang dari tadi sudah dia persiapkan.
Kotak makan itu mengenai pelipis adiknya yang membuat pelipis itu baret.
“Mami!!!” Adiknya berteriak ke kamar maminya dan mengadu.
“Dasar tuan putri bodoh!” Kakaknya kesal dan menghina.
Lalu kakaknya kembali ke kamar dan melupakan acara rekreasi bersama itu.
“Jadi ada apa?” Maminya bertanya pada kakak beradik yang didudukkan di meja makan, dpaur berantakan karena pertengkaran sebelumnya.
“Kakak maksa adek buar hias nasinya di dalam kotak, ade bilang mami biasanya nggak hias di dalam kotak, tapi di luar, kakak maksa adek hias di dalam kotak makan.”
“Ya aku lagi ajarin dia kerjanya biar cepet, guruku ngajarin gitu, saudara kita tempat aku tinggal dulu juga ngajarinnya gitu. Tapi adek malah lempar makanan ke arahku, karena kesal aku lempar balik kotak makan yang aku pegang.”
“Jadi bareti di pelipis adek karena kotak makan yang dilempar?” mami bertanya.
“Ya, karena itu.” Cicinya baru sadar kalau dia sudah menyakiti adiknya, tapi kan dia juga disakiti sebelumnya.
“Karena kalian berdua nggak mau ngalah, kalian berdua mami hukum, kalian berdua tidak akan dapat uang jajan selama satu minggu!” Maminya mencoba bersikap adil.
“Tapi, Mi!” mereka berdua terlihat kesal dan akhirnya kembali ke kamar.
Hari berganti, pertengkaran kerap terjadi, kakak dan adik itu bahkan tidak bisa satu haripun untuk saling berdamai satu sama lain.
Kehidupan keluarga itu menjadi kehidupan yang sangat berisik dan membuat satu sama lain menjadi stres karena pertengkaran yang kerap terjadi.
Tak terasa umur adek sudah 12 tahun, hari ini hari pertamanya masuk SMP, dia sangat bahagia. Karena masuk SMP favorit di tempat mereka, sedang kakaknya sudah berumur 22 tahun sedang kuliah semester akhir, pertengkaran sudah tidak terjadi lagi, tapi ... perang dingin menghasi rumah itu, mereka jarang bertegur sapa dan memilih untuk makan di kamar masing-masing, kakak di kamar baru dan adik di kamar bekas kakak.
Mereka dua saudara kandung tapi seperti orang asing. Bisnis emas ibunya makin kacau karena tidak terlalu laku, katanya karena posisi toko emas itu dipojok, makanya fengshuinya kurang bagus. Itu menurut kepercayaan mereka.
__ADS_1
Itu membuat keadaan rumah semakin dingin. Papinya sibuk di tempat kerjanya, mami sibuk membuat toko emasnya bisa laku.
Makan malam bahkan bukan kebiasaan yang dipertahankan lagi.
“Ci, ayolah tolong, aku perlu baju putih itu, hanya hari ini saja, aku lupa siapin karena aku kira punya baju putih, tahunya udah jelek, aku mohon pinjam Ci.”Adiknya yang akan masuk SMP itu berkata, dia lupa persiapkan baju putih untuk masa orientasi siswa atau kita biasa menyebutnya MOS. Semua sudah siap, tapi pagi ini dia baru lihat baju putihnya sudah sangat jelek. Dia tidak tahu kalau bajunya yang jarang dia pakai itu malah sudah jelek.
“Salahmu tidak memperhatikan pakaianmu sendiri dan keperluan, aku tidak akan berikan kaosku, aku tidak mau bajuku diambil olehmu, tuan putri!” Kakaknya malah bersikap sarkas.
“Aku mohon Ci.”
“Minta sama mami saja sana, aku tidak mau!” Cicinya menutup pintu kamar dengan kencang tidak heran dia melakukan itu, karena dia masih merasa apapun yang dia punya pasti diambil oleh adiknya.
“Mi, aku butuh bajunya, tapi cici nggak mau kasih pinjam.”
“Mami nggak bisa bantu, bukankah sudah peraturan kita, kalau mau pinjam harus saling izin, kalau nggak diizinin itu hak cici.”
“Trus adek gimana pergi ke sekolahnya?”
“Pakai baju yang ada.”
“Masa pakai baju jelek gitu, nanti adek diejek temen-temen.”
“Ya salah adek, kenapa baru sekarang cek keperluannya, udah cepet, MOS kamu kan jam 8 di mulai, masuk sekolah jam kurang 15, sekarang sudah jam 6, kita harus berangkat sebentar lagi.” Maminya lalu pergi menyiapkan makanan untuk adek.
Adek yang galau pergi ke kamarnya, mengeluarkan baju putih itu, ternyata selain warna yang kusam, terdapat bolong-bolong kecil di beberapa bagian, sepertinya karena tidak saking jarangnya dipakai, baju itu menjadi lapuk.
Ketika diakai, bagian tangannya malah robek karena lapuk itu, pasti baju ini dulu dibeli murah. Itu yang ada dalam pikiran adek.
Dengan tekad yang kuat adek akhirnya menggedor kamar kakaknya dengan lantang, kakaknya hendak mengabaikan saja, tidak menggubris, tapi gebrakan pada pintu itu semakin kencang, itu menyulut amarah kakaknya, dia membuka pintu hendak memukul adiknya, tapi adiknya berhasil menghindar dan malah berlari ke kamar kakaknya.
Mungkin jika hal ini terjadi di keluarga normal, adalah hal yang lucu, tapi ini terjadi di keluarga yang sudah sakit sejak awal, maka tidak akan menjadi kejadian yang lucu.
Adik berlari ke lemari kakaknya, menyambar kaos putih yang kakaknya miliki, sementara itu kakaknya sudah ada di belakang adik dan menyambar kembali kaos yang sudah diambil adiknya.
Adiknya menangis dan berteriak, “KAU CICI JAHAT, KAU CICI JAHAT!” dia menangis mengatakan itu, karena seharusnya seorang kakak tidak begitu, seorang kakak seharusnya mencintai dia seperti kakak teman-temannya yang bahkan kadang menjemput mereka.
Melihat itu, kakaknya terkejut, adiknya berlari secepat kilat, dia berlari keluar karena sudah siap, tas dan yang lain dia sambar dari ruang tamu, sepatu juga tidak dia gunakan, yang penting kabur dulu semua bisa dipakai nanti di sekolah, ibunya juga pasti nanti mengejar dia sekarang yang penting pergi ke sekolah dengan baju putih yang bagus.
“DASAR TUAN PUTRI PENCURI!” Kakaknya geram dan mengejarnya, adiknya berlari sangat cepat, tapi kakaknya tidak mau kalah, dia takkan pernah kehilangan apapun lagi, apa yang menjadi miliknya takkan pernah dia berikan pada adiknya lagi, sekali punya dia tidak boleh diambil, terlebih oleh adiknya!
Kakaknya berlari dengan lebih kencang, sang adik yang merasa kakaknya tidak akan mengejar memperlambat larinya dan memakai baju putih itu dengan tersenyum karena akhirnya tidak malu pergi ke sekolah dengan baju yang jelek. Adik hendak memakai sepatu karena saat ini dia tidak memakai alas, akibat terburu-buru tadi. Tapi belum juga sepatu itu dipakai, kakaknya menarik baju yang masih dipegang adiknya karena belum dimasukkan ke tas, melihat kakaknya masih berusaha untuk mengambil bajunya, adik tetap kekeh memegang baju itu dengan kencang.
Saling tarik-tarikan terjadi lagi, banyak orang yang melihat tapi enggan melerai, padahal ini sudah di tengah jalan dan mobil besar lalu lalang, ini sangat berbahaya tapi tidak ada yang menolong.
Hingga akhirnya tiba pada satu titik tarik-tarikan itu segera berakhir, karena sang kakak melepas baju putih itu, karena dia melepas bajunya dengan tiba-tiba, adik yang sedang memegang baju itu dengan kencang, menjadi terpelanting dan tubuhnya terpental ke tengah jalan, kebetulan yang tragis, truk melintas dan tubuh adik masuk ke dalam truk itu, kakak mendengar bunyi, krak! Seperti suara tulang yang hancur ....
Kakak terdiam, dia membeku, baju putih itu masih terlihat dari jarak kakak berdiri, baju putih itu sudah terciprat dengan darah.
Kaki kakak gemetar, tubuhnya ambruk melihat itu, yang lain berusaha untuk mengeluarkan kakak dari bawah truk, truk diam karena bingung, kejadiannya hanya beberapa detik saja.
Kakak pingsan.
...
Kakak tidur di kamarnya, dia tidak mau makan ataupun minum, dia diam saja di kamar, dibanding takut dengan orang tuanya, dia lebih takut dengan dirinya sendiri, dia membunuh adiknya sendiri.
Adik dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sudah menjadi jenazah, kepalanya terbelah pada bagian tengah, apakah kalian ingat soal itu?
Darah dari belahan kepala itu tidak berhenti mengucur, mami dan papi yang baru dapat kabar setelah kakak diantar pulang orang sekitar yang mengenalnya dengan cara digendong buru-buru ke rumah sakit untuk melihat keadaan adik, orang yang mengantar kakak tidak ingin memberitahu kondisi adik yang sebenarnya, biar mereka lihat di rumah sakit saja.
Mami dan papi sampai ke rumah sakit dan ... mereka histeris karena langsung diarahkan ke kamar mayat, papi dan mami melihat mayat yang sudah tak karuan bentuknya itu, hanya terdiam pasrah, berserah? Tidak! mereka mau tidak percaya, tapi sulit. Itu memang anaknya, dari baju dan juga juga ciri-ciri tubuh, karena wajahnya sulit dikenali.
Maminya histeris, papinya hanya dia membeku, tidak mengerti dengan kejadian ini, apa ini, kenapa ini bisa terjadi padahal pagi ini adik mempersiapkan semua kebutuhannya untu MOS.
Nasi sudah menjadi bubur, mami dan papi segera meminta Dokter untuk menutup luka adik dan mendandani adik sebaik mungkin untuk pemakaman di rumah duka.
__ADS_1
Mami dan papi pulang untuk mempersiapkan semuanya, rumah duka dipilih sama dengan rumah duka yang kelak akan digunakan oleh mami juga.
Saat sampai rumah, papi berlari ke kamar kakak dan menendang pintu kamar itu, kamar dikunci tapi karena ditendang dengan begitu kuat, pintu itu menjadi terbuka dan rusak, lepas dari engselnya.
Kakak menatap papi dengan tatapan kosong, tak ada ekspresi apapun di sana, tidak menangis, takut ataupun menyesal, ekspresi yang sangat datar.
“Kau bunuh adikmu!” Papi berteriak dengan sangat kencang, mami masuk kamar dan hanya menangis histeris melihat kakak yang masih bisa tidur dengan tenang.
“Kau senang sekaran? Kau semua barangmu tidak akan disentuh lagi oleh adikmu!” Papi melanjutkan amarahnya. Kakak masih diam saja, tidak bergeming sama sekali.
“Aku tidak tahu bahwa aku telah membesarkan iblis di rumah ini! dia hanya meminjam kaos putih yang aku belikan untukmu, itu bahkan bukan dibeli pakai uang jerih payahmu sendiri, bahkan sampai akhir dia tetap memegang kaos itu, karena dia sangat senang akan masuk sekolah unggulan. Kau kakak paling bejat yang pernah aku lihat!” Kali ini mami yang berkata, sementara kakak masih diam saja, tatapannya datar.
“Adikmu sudah mati, kau senang sekarang?!” Papinya berteriak dengan sangat kesal karena rasanya dia sangat ingin membunuh anak ini, tapi ini anaknya juga, maka dia hanya bisa melampiaskan dengan menonjok lemari kakak dan membuang semua pakaian kakak ke lantai.
Setelahnya mami dan papi pergi ke lagi untuk mempersiapkan rumah duka.
Kakak yang pintu kamarnya terbuka karena rusak akhirnya menangis dan berkata ....
“Bajuku mana? Bajuku mana?” dengan suara yang serak.
Rumah duka penuh haru, semua yang datang mengucapkan bela sungkawa, kakak tidak muncul satu kalipun di rumah duka, bahkan di pemakaman, semua tetangga tidak ada yang mencemooh kakak, karena tahu ini adalah kecelakaan, kakak tidak mendorong adik, mereka hanya sedang bertengkar di tempat yang salah.
Kakak tidak keluar dari kamar sudah tiga hari, pintu sudah dibetulkan oleh tukang, papi dan mami semakin gila kerja, sedang kakak tidak dibujuk bahkan untuk sekedar makan, semua orang sedang menyembuhkan dirinya sendiri.
Pembantu senior yang membujuk kakak untuk makan, sudah tiga hari kakak tidak makan, hanya minum itu juga dipaksa. Mami dan papi juga tidak makan dengan benar, semua orang tidak saling bicara, mereka perlu waktu untuk mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi.
Waktu berjalan, tidak terasa tiga bulan sudah terlewati,apakah semua orang membaik? Tentu saja tidak sama sekali.
Tidak ada satupun yang bertegur sapa sama sekali, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga akhirnya ....
“Mami masuk rumah sakit, kau harus ke sana menjenguknya, dia ingin bertemu denganmu.”
Kali pertama papi bicara pada kakak,
“Lakukan ini demi mami, kau mungkin akan menyesal kalau sampai umur mami tidak panjang.” Papi hendak pergi, kakak lalu bangkit dari tempat tidurnya, tanpa mengganti baju, dia ikut papi ke rumah sakit, mami rupanya dirawat sudah tiga hari ini, kakak tidak tahu dan tidak peduli, karena dia sendiri tidak peduli lagi pada hidupnya.
Begitu sampai rumah sakit, dia lalu masuk ke kamat perawatan maminya, dia melihat maminya sedang menatap kosong ke depan.
Kakak duduk di samping tempat tidur perawatan, dia menatap maminya dan tidak berniat berkata apapun, dia hanya duduk saja.
“Dia adalah anak yang aku sayang, kelahirannya mengingatkaku padamu saat kulahirkan, suara tangisnya memang jauh nyaring darimu, tapi pemikirannya jauh lebih dewasa darimu.
Hanya karena kaos putih dia meninggal dunia, aku tahu bahwa ini sudah Tuhan aturkan, tapi rasanya terlalu berat bahkan untukku yang taat akan agamaku.”
“Aku ... aku ....”
“Dia bukan pencuri seperti yang kau katakan, justru dia yang paling banyak rugi atas semua ini, dulu saat kau kami ungsikan ke tempat saudara, dia kehilangan haknya atas kasih sayang kakak, lalu saat kau kembali, dia masih saja tidak mendapatkan haknya untuk dikasihi kakaknya, lalu sekarang ... dia bahkan kehilangan nyawa hanya karena kaos putih brengsek yang tidak seberapa itu.
Maka kalau kau sebut dia pencuri, kau salah besar, kau lah pencurinya, kau mengambil kakaknya dari dirinya.” Mami terdiam dan terisak.
“Maaf Mi, maaf ....” Akhirnya kata itu terlontar dari mulut kakak yang angkuh ini, dia menangis sejadinya, dia histeris dan meminta maaf dengan sangat tulus, tapi tentu saja, itu sudah terlambat.
...
“Kalian kan tahu, kalau tidak bisa membuat anak itu menjadi seperti yang kalian mau, karena umurnya sudah terlalu besar untuk menjadi apa yang kalian minta.” Babah berkata pada mami dan papi yang sebelumnya tidak pernah datang ke sini.
“Tapi dia belum menstruasi, bukankah patokannya adalah menstruasi atau balig?” Mami mengingatkan.
“Tapi, ini beresiko.”
“Saya tidak ingin kebaikannya, saya hanya ingin anak saya, itu saja.” Mami memaksa.
“Tapi ini juga butuh pengorbanan dari kalian.”
“Akan aku lakukan apapun itu Babah.” Mami berkata dengan mantab, papi hanya setuju saja, karena dia hanya ingin keluarganya selamat dari kesedihan yang tidak bisa mereka lewati lagi.
__ADS_1
“Kalau begitu, mari kita lakukan, tapi aku tak bisa janji akan berhasil.”
Babah lalu meminta semua persyaratan disiapkan.