Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 324 : Bangga 2


__ADS_3

Ibunya Ani akhirnya masuk ke dalam ruang inap ayahnya, Ani ternyata sudah siuman, dia duduk dan memandang ke jendela.


“Kenapa Ani?” Ibunya bertanya.


“Ayah kapan ke sini Bu?” Ani bertanya.


“Oh Ani nungguin ayah ya? Ayah sibuk Nak, dia cari uang untuk kita berdua, jadi mungkin nggak bisa pulang.”


“Ani kangen ayah.” Ani terlihat sedih.


“Ani tenang aja ya, nanti juga pulang begitu ayah bisa. Ani sama ibu aja dulu ya, Ani sekarang mau makan apa?” ibunya bertanya.


“Ani mau tidur aja Bu, boleh kan?”


“Boleh kok, kata Dokter juga kamu harus tidur yang cukup, akhir-akhir ini anak ibu belajar terus jadi tidurnya nggak kurang, sekarang Ani cuma perlu istirahat ya, nanti belajarnya lanjut lagi.” Ibunya tetap ingin Ani belajar dengan keras seperti sebelumnya, walau dia lihat akibatnya membuat Ani kecapean menurut Dokter, ibunya tidak tahu, kalau anaknya, sedang ... ketakutan.


Ani tertidur, lalu ibunya mengusap kepala anaknya.


Dalam hati dia berkata, [Ani kita buktikan ke ayah kalau Ani anak yang patut untuk dibanggakan, Ani anak yang pintar, kita buat ayah menyesal sudah tidak peduli pada kita lagi ya, Nak.] Ibunya tersenyum dengan wajah yang cukup menyeramkan bagi siapa saja yang lihat, karena seharusnya, tak ada wajah ibu yang tersenyum jika anaknya sakit, kecuali pura-pura senyum agar anaknya tidak terlalu takut saat dirawat.


Malam tiba, Ani terbangun, dia haus, tidak terasa tidurnya cukup lama. Saat dia bangun, Ani bingung, tidak ada ibunya di sana.


“Bu ....” Ani memanggil ibunya, tapi tidak ada jawaban, Ani melihat ke luar jendela kamar inapnya, gelap sekali apakah ini sudah malam? Ani bertanya dalam hatinya.


Ani lalu mencari kanan dan kiri, mencari ibunya, tidak ada orang di sana.


“Bu ... Ani haus.” Ani memanggil sekali lagi, dia saat ini memakai infus di tangannya.


Ani bangun dari tempat tidurnya, benar-benar tidak ada siapa-siapa.


Saat dia melihat ke luar jendela lagi, dia melihat kepala seseorang yang ada di luar, kepala itu sepertinya milik anak kecil.


“Siapa itu?” Ani bertanya. Tapi, tidak ada jawaban.


Ani mulai takut.


“Si-siapa itu!” Ani berteriak, berharap ada yang mendengar suaranya dan menghampiri kamarnya.


Tapi tidak ada yang mendengar juga.


Lalu tiba-tiba kepala yang terlihat itu, mulai naik, yang tadinya hanya terlihat bagian ramput atas saja, saat ini perlahan terlihat kening, hidung dan akhirnya seluruh wajahnya terlihat.

__ADS_1


Wajah itu lagi, anak perempuan yang sebelumnya Ani lihat begitu mengerikan.


Aneh, dia hanya anak kecil, tapi kenapa saat ini dia semakin tinggi, bukan, bukan badannya yang semakin tinggi, tapi ternyata dia ... melayang.


Ani terus memperhatikannya.


Anak itu melayang, tapi setelah seluruh tubuhnya terlihat hingga kaki, dia akhirnya mulai masuk ke ruagan inap itu, ya, menembus dinding.


Ani terbelalak, pertama melayang saja dia sudah takut, sekarang menembus dinding.


Ani menutup matanya, dia sangat ketakutan.


“Tolong! Tolong!” Ani berteriak, tapi tidak ada yang menolong, sepi dan kosong, Ani hanya bisa mendengar suara dirinya sendiri saja.


Ani terus meminta tolong, sementara anak dengan baju putih lusuh dan wajah hancur itu terus mendekat, seiring dia mendekat, ada wangi yang Ani tidak tahu, sangat wangi, semakin mendekat, semakin wangi.


Ani terus berteriak, hingga akhirnya anak itu sudah di hadapannya, anak itu menatap Ani dengna wajahnya yang mengerikan, Ani menutup matanya dengan kedua tangan.


“Ani ... main yuk ....” Anak itu berkata dengan sangat mendayu, tapi suara yang keluar, bukan suara anak kecil, suara itu berganti, ganti, dari suara seorang nenek, menjadi suara lelaki yang serak dan berat, lalu suara seorang wanita dewasa, ajakan bermain itu diulang-ulang dan Ani terus saja berteriak.


“Sudah kembali Dok, sudah!” Teriak seseorang, Ani terbangun, matanya kembali terbuka, ternyata sekarang dia ada di suatu ruangan, dia tidak tahu ruangan apa, dia hanya melihat ada beberapa Dokter di sana, Ani merasa dingin, ternyata dia memang tidak mengenakan pakaian sama sekali. Dokter itu memegang entah alat apa, Ani melihat alat itu seperti setrikaan ibunya, tapi dengan ukuran yang lebih kecil, alat itu dipegang oleh kedua tangan Dokter dan alat itu tersambung dengan kabel. Ani memperhatikan semua orang, di mana dia, di mana ibu dan ayahnya.


“Semua sudah stabil Dok.”Suara seseorang terdengar, Ani tidak tahu siapa lagi itu, karena ada begitu banyak Dokter di sini.


Tubuh Ani akhirnya sudah selesai di observasi, dia dikembalikan ke ruang inap, ayahnya sudah ada di sana. Ani senang, akhirnya bisa melihat ayahnya.


“Ayah ....” Ani tersenyum, dia ingin memanggil ayahnya dengan teriakan dan dipeluk seperti dulu Ani masih kecil selalu dipeluk. Tapi, tidak bisa. Karena tubuhnya lemah sekali.


“Sudah kubilang bukan, dia membutuhkanmu! Dia hampir saja mati dan kau tidak bisa melihat dia lagi untuk selamanya.


Ayahnya Ani hanya terdiam di samping tempat tidur Ani. Sepertinya tidak ada yang sadar kalau Ani sudah siuman. Tapi karena lemah, dia tidak bisa memanggil dengan suara keras pada ayahnya, orang yang dia rindukan.


“Ayah ....” Suara lemah Ani terdengar akhirnya, ayahnya kaget dan langsung memeluk anaknya.


“Ini Ayah Nak, Ani tenang aja ya, Ayah di sini, nggak akan pergi-pergi lagi.” Ayahnya memeluk dengan erat.


“Ani sekarang udah rajin belajar.” Anaknya berkata dengan terbata-bata, entah kenapa, Ani merasa sangat lemah dan sakit.


“Iya Nak, iya. Ayah bangga sama Ani, Ayah akan temenin Ani untuk belajar ya, Ani sembuh ya.”


Tidak ada jawaban ....

__ADS_1


“Nak ....” Ayahnya kembali memanggil Ani yang masih dalam pelukan, tapi tetap tak ada suara.


Ibunya menghampiri, dia tadinya ada di bangku sofa ruang inap itu, dia khawatir karena suaminya memanggil nama anaknya dengan suara bergetar.


“Ani!” Ibunya memanggil.


Dia merebut Ani dari pelukan ayahnya, dia melihat mata anaknya tetap terbuka, tapi ... tidak bergerak.


“Dokter! Dokter!!!” Ibunya berteriak, lupa kalau ada tombol darurat untuk memanggil Perawat di atas ranjang pasien. Ayahnya tidak mau menunggu lama, dia berlari ke luar dan berteriak memanggil Perawat dan juga Dokter, tidak lama beberapa perawat dan Dokter berlarian ke ruang inap Ani.


Ibunya masih mendekap Ani, Dokter mengambil Ani dari pelukan ibunya dan meminta Perawat untuk mengambil alat bantu pernapasan, Dokter tidak merasakan denyut nadi maupun nafas Ani.


Sebelumnya Ani sudah dibangunkan dengan alat pacu jantung, dia baru saja sekitar dua jam dibawa dari ruang ICU ke ruang rawat inapnya, dia sempat gagal jantung sebelumnya dan Dokter berhasil membangunkannya kembali dengan alat pacu jantung yang Ani kira mirip dengan setrikaan ibunya, alat yang Dokter pegang di tangan kiri dan kanannya.


Tapi sekarang, Ani kembali mengalami gagal jantung. Ibunya histeris, ayahnya lemas, dia tidak mengira bahwa ini adalah kali terakhir dia melihat anaknya, anak yang dulu sangat mengecewakannya, hingga membuat dia malu dan enggan pulang, karena anaknya dicap berandalan.


Dia menyesal karena tidak bisa menemani anaknya.


Dokter kembali membawa Ani ke ruang ICU, dia berusaha untuk mengembalikan detak jantung Ani dengan alat pacu jantung yang sebelumnya sudah diberikan dan berhasil mengembalikan Ani. Tapi sekarang, berbeda. Ani tidak kembali, Ani menjadi anak kebanggan orang tuanya saat ini, hal yang paling orang tuanya inginkan, tapi sekaligus menjadi ... hari terakhirnya hidup di dunia ini.


Dokter keluar dari ruang ICU, dia memberitahu bahwa Ani tidak tertolong, alat pacu jantung itu tidak membantu sama sekali, Ani dinyatakan meninggal dunia.


Ayahnya jatuh ke lantai, dia menangis meraung, persis seperti apa yang Ani lakukan ketika ayahnya bilang bahwa Ani adalah anak berandal, tidak tahu diri dan tidak patut dibanggakan, karena dia bodoh dan nakal.


Ibunya terdiam, dia terdiam dan menatap kosong pada Dokter. Dia tidak bisa mencerna apa yang terjad, anak yang dia sayang dalam kondisi apapun dan ketika anak itu telah menjadi anak yang dibanggakan, anak itu justru berpulang tanpa pesan.


“Ani ... pulang yuk, kita belajar, nanti ibu buatkan kopi susu lagi, kesukaan Ani.” Ibunya berkata dengan lemah, Dokter hanya menatap dengan kasihan musibah yang pasangan ini lakukan. Tidak ada yang menguatkan satu sama lain, yang terlihat hanya penyesalan. Dokter ini tahu, bahwa anak itu, tidak diperlakukan dengan adil.


“Jadi ini kasus batu kita Har?” Aditia bertanya.


“Iya, ini kasus baru kita.” Hartino menjawab, mereka sedang berada di markas ghaib, Hartino menjelaskan dengan layar kosong besar yang di tembak proyektor, dia menguraikan kasus dengan foto-foto keluarga Ani dan catatan Mulyana.


“Ini kisah pertama? Setelahnya ada berapa anak yang menjadi korban?” Aditia bertanya lagi, sementara Jarni, Alka dan Ganding menyimak.


Mereka semua duduk di bangku dan mejanya berbentuk oval, cukup besar, Hartino berada di ujung depan, sedang Aditia disebrangnya, Hartino memang selalu menjadi pencari data yang mengarahkan lima sekawan untuk mendapatkan informasi yang lumayan dipercaya.


“Total ... 30 puluh anak dengan kasus yang sama.”


“Hah! 30!” Semua kaget.


“Tapi di buku bapak hanya memuat satu Har?” Alka bertanya.

__ADS_1


“Iya Kak, hanya satu di buku bapak, tiga puluh anak terus bertambah setelah bapak gagal menangani kasusnya. Saat itu kasus ini tidak selesai karena bapak sakit.”


“Kalau begitu aku mau kita selesaikan kasus ini, tidak boleh ada yang jadi korban lagi!” Aditia geram. Apa yang membuat anak-anak itu jadi korban? Itu yang Aditia pikirkan dan kalian pasti juga memikirkan itu kan? Besok lagi ya, selamat malam.


__ADS_2