
“Kak, maafkan aku ya.” Mulyana berkata dengan mata berkaca-kaca, dia merasa sangat bersalah.
“Aku tidak ingat apa yang terjadi.”
“Kata ayah, kamu kesurupan, setan di kamar mandi, si setan yang jalannya diseret itu masuk ke dalam tubuhmu dan mau mencelakaimu, aku sudah berusaha menarikmu, tapi tidak bisa, kau kuat sekali kak.”
“Oh begitu, tak mengapa Dik, bukan kau yang salah, maaf kalau aku lemah dan akhirnya kesurupan.”
“Kak, aku berjanji akan belajar ilmu bela diri dan ilmu yang ayah ingin aku kuasai, agar aku bisa melindungimu, melindungi ibu dan ayah, aku takkan takut lagi masuk ke dalam ruangan itu, tapi … aku mohong, jangan tinggalkan aku ya Kak.”
“Dik, apa kau yakin?”
“Ya, aku ingin menjaga kakak dan keluarga kita, aku akan menjadi Kharisma Jagat yang Agung.”
“Kau itu anak yang baik, kau akan menjadi hebat, aku tahu itu, tapi jangan paksakan, kalau takut, kau ingat ini ya, aku akan selalu di sampingmu, Dik.”
“Yana kalau takut nggak usah maksain ya.” Ibunya berkata, dia sangat sedih anaknya sudah memaksakan diri, dia bahkan malam ini memaksa ayahnya untuk membawanya ke gudang ghaib itu. Kakaknya baru saja pulih setelah satu minggu Yana selalu temani kakaknya, sekolah mereka berdua berhenti, ayah setuju karena memang berbahaya bagi mereka berdua untuk berjauhan dari keluarga, mereka terlalu wangi bagi para jin dan ruh yang tersesat, untuk itu mereka harus di dalam rumah sampai siap.
“Kau mau masuk sendiri atau aku temani?” Ayahnya bertanya.
“Aku harus apa di dalam kalau sendirian?” Mulyana bertanya.
“Kau hanya harus mencari, siapa yang paling lemah di dalam sana.”
“Kenapa harus mencari yang lemah, Ayah?”
“Kau akan tahu begitu menemukannya.” Ayahnya tidak mau menjawab maksud dari perintah itu, Mulyana lalu hanya mengangguk saja.
“Apakah mereka akan mencelakaiku?”
“Tidak tahu, kau harus cari tahu sendiri.”
“Caranya?” Mulyana bertanya karena memang tidak paham.
“Dekati, lalu ajak bicara, cari tahu siapa dia, kenapa ada di gudang itu, setelah itu kau akan tahu, mereka akan mencelakaimu atau tidak.”
“Baiklah, tapi aku mohon, kalau aku sudah tak tahan, bolehkah aku keluar dan melanjutkan lagi besok?”
“Hanya dua kali kau boleh begitu, selanjutnya, kau harus tetap di sana sampai misimu selesai.”
Rupanya Drabyan sedang memberikan simulasi kasus pada Mulyana, dia sedang mendidik anaknya agar bisa menyelesaikan kasus sejak dini. Bahkan umurnya belum sampai 10 tahun, anak ini masih 7 tahun dan dia harus menjadi anak yang paling lelah dan mau tidak mau harus berhubungan dengan mereka yang tak terlihat.
Sebenarnya melihat mereka adalah hal yang biasa baginya, karena dia selalu mampu melihat hal ghaib, berbeda dengan kakaknya yang tak mampu melihat hal seperti itu, walau kadang dia merasa melihat, tapi tidak selalu benar karena dia mampu.
“Aku akan masuk ayah, aku akan masuk.”
“Gunakan 2 kesempatanmu untuk minta keluar dengan bijak, ingat ini, mereka di dalam bukan jin sembarangan, milikku, mana ada yang sepele, karena kau anak Kharisma Jagat dengan kelas yang tinggi. Tapi, kau pasti bisa belajar banyak, makin ke dalam, kau akan bertemu jin yang makin galak dan ganas, kau mungkin takut, tapi ingat ini baik-baik, mereka adalah makhluk yang disuruh bersujud pada Adam, makhluk yang tidak lebih hebat daripada kita, maka dari itu, tegakkan kepalamu, kalau dia menyerang, kau harus memenghindar karena belum bisa melawan, menghindar sebisa mungkin, kalau akhirnya kau terluka dan berdarah ....”
“Ya Tuhan!” Ibunya lemas mendengar ayah yang seolah santai saja mengatakan luka yang berdarah, mendidik macam apa ini, ibunya tak bisa berbuat apa-apa.
Ayahnya membuka pintu gudang ghaib, ada cahaya yang pekat dari dalam, Mulyana sebenarnya ciut mendengar suara genderang yang sangat kencang dari arah dalam gudang itu, pintu yang tadinya tak ada menjadi ada, lalu ruangan yang sebenarnya tak ada menjadi tercipta, otak kecilnya hanya mampu menangkap, takdir yang harus dia emban berbeda dengan anak-anak ada umumnya, dia harus terima atau orang yang dia sayang akan celaka.
Mulyana jadi ingat perkataan ayahnya saat dia masih berumur satu atau dua tahun di bawah sekarang.
“Kau tahu cerita tentang legenda tangkuban perahu, Nak?”
“Oh ya, guruku pernah cerita, katanya perahu itu ditendang oleh anak Dayang Sumbi yang tidak tahu kalau ibunya adalah wanita yang dia cintai.”
“Begitu memang mitosnya, tapi tahukah kau, siapa ayah dari Sangkuriang? Pemuda yang menendang perahu hingga terbalik itu, perahu itu bahkan sangat besar.”
“Ayahnya? ayahnya adalah Tumang, Tumang menikah sama ibunya Sangkuriang terus dia punya anak Sangkuriang, Ayah.”
“Dan apakah kau tahu, Tumang itu apa dan siapa?”
“Tumang itu anjing ayah, tapi dia berubah menjadi manusia, karena ternyata titisan dewa yang dikutuk turun ke bumi. Jadi Sangkuriang adalah anak seorang dewa.”
“Kenapa kau yakin dia dewa? Bagaimana kalau cerita itu sebenarnya tidak seperti itu, seperti yang kau bilang, dewa yang dikutuk, bagaimana kalau dia adalah jin yang berkelana, lalu menjadi buruk rupa karena kesalahan, serupa anjing, bertemu dayang sumbi, lalu menikah.
Kemampuan merubah diri menjadi binatang hanya dimiliki jin dengan ilmu yang tinggi.”
“Jin, maksudnya setan ayah?”
“Tidak semua jin adalah setan.”
“Kalau gitu dia dewa?”
“Kau mau tahu, jin dewa yang akan sangat baik padamu, dia akan melindungimu.”
“Mau ayah, siapa?”
“Assalamualaikum.” Seorang lelaki paruh baya menyapa, entah datangnya dari mana.
Mulyana terlihat sangat ketakutan, dia merasa lelaki ini bukan manusia.
“Apakah dia dewa?”
__ADS_1
“Dewa? Tentu saja bukan, aku ... KARUHUN.” Merinding bulu kuduk Mulyana mendengar nama itu disebut, rasanya, seperti mendengar nama yang sangat megah tapi juga magis.
Tentu Mulyana kecil tidak paham arti ini. Mulyana kecil hanya paham bahwa ada seorang kakek tua yang akan menjaganya kelak atau kakaknya, tapi ayahnya selalu bilang kalau lelaki tua ini adalah jin yang baik.
“Dia bukan temannya Tumang ayah?”
“Bukan, dia Karuhunmu atau kakakmu kelak, dia bilang ingin bersamamu, kau mau bersamanya?”
“Tidak, aku ingin bersama kakakku.”
“Kau akan bersamaku kelak, Nak, kita akan menjadi solid, mungkin juga dengannya.”
“Dengannya?”
“Ya, mereka.” Maksud dari perkataan Abah adalah kawanan dan Aditia, karena dia selalu mendapatkan penglihatan sekumpulan anak muda yang akan bersama Mulyana, anak muda tangguh yang berselendang hijau, Abah mendengar kabar tentang Ayi sejak lama, tapi baru dalam penglihatan saja dia melihat selendang hijaunya.
Maka dari itu, dia memilih Mulyana, karena yang dia incar sejak lama adalah ... Aditia. Pemuda dalam penglihatannya yang akan memimpin pasukan Kharisma Jagat untuk berperang.
“Abah, pamit.” Abah pamit dan masuk ke dalam tubuh Drabya, ayahnya Mulyana.
“Yan, tahukah kau, begitu banyak rahasia di bumi ini tentang mitos, mrereka selalu bilang, bahwa mitos adalah apa yang tidak benar, hanya cerita karangan untuk membuat kita, manusia, merasa lebih mampu, karena ada kekuatan magis yang mungkin membantu.
Kalau akhirnya memohon pada Tuhan, maka benarlah dia, tapi kalau akhirnya memohon pada jin dan iblis, maka salahlah jadinya.
Kau harus ingat ini baik-baik ya , Yan. Jangan pernah lepaskan Tuhanmu, apapun yang terjadi.”
“Ya ayah, lalu apakah cerita Roro Jonggrang, Jaka Tarub dan bawang merah bawang putih juga adalah cerita setan ayah? Kan, Bandung Bondowoso meminta bantuan jin membangun candi, lalu Jaka Tarub mencuri selendang para jin wanita yang cantik, lalu terakhir, bawang merah bawang putih, apakah nenek yang memberikan labu adalah jin juga?”
“Mungkin, Nak, kau mau tahu jawabannya?”
“Iya ingin, seru sekali ayah.” Bukankah percakapan ini, berpuluh tahun selanjutnya, akan dialami juga oleh Aditia dan juga Mulyana, rupanya Mulyana mendidik Aditia mirip seperti ayahnya, memberikan simulasi penyelesaian kasus.
“Kau harus cari tahu jawabannya, kau harus menjadi orang yang sangat ingin tahu hingga apapun yang membuatmu bertanya-tanya, akan membuatmu mencari jawabannya.
Di dunia ini, manusia selalu dibagi dua kelompok, pertama, manusia yang hanya mendapatkan jawaban dari orang lain, yang kedua, manusia yang selalu mendapatkan jawaban karena jeri payahnya sendiri, maka kau mau jadi yang mana?”
“Aku ingin tahu sendiri, aku kan pintar, Ayah.”
“Ya, kau memang pintar, tapi ... jangan pernah sendirian ya, kakakmu juga harus kau ajak, dia memang sedikit lemah, tapi ... dia anak yang baik dan hangat, dia sayang kita, tapi sayang, jin tak suka padanya karena dia lemah.”
“Lemah? Maksudnya ayah?”
“Nanti kau juga akan tahu.”
Percakapan yang membuat Mulyana teringat lagi itu membuat dia akhirnya memantapkan diri untuk masuk ke sana, dia tahu sekarang arti lemah, arti lemah adalah ... selalu kalah.
Begitu masuk, gelap! Tak ada apapun di sana.
“Haloooooo, ada orang ... eh ... setan ... eh bukan,bukan! jin ... ruh, ah apa aja deh.” Mulyana kecil tampak sangat polos dan bodoh, bocah ingusan itu merasa mampu, tapi yang dia hadapi adalah dunia ghaib yang tidak pernah memiliki batas, bahkan di sini.
Tidak ada suara, lalu dia berjalan, tidak mencari pintu keluar, dia hanya berjalan, kata ayah, dia hanya harus bertanya, hanya harus mencari tahu apa yang membuatku ingin tahu.
Saat berjalan, dia mendengar suara langkah kaki dari belakang punggungnya.
Mulyana berhenti, suara itu juga berhenti.
Mulyana mengulang lagi berjalan, masih ada suara langkah, lalu dia berhanti, lagi-lagi suara itu berhenti.
Mulyana teringat lagi, kalau dia adalah seorang Kharisma Jagat yang harusnya ingin tahu apa yang ada di belakang tubuhnya, bukan malah lari, walau kalau boleh jujur, sebenarnya dia sangat ingin lari.
Tapi dia seorang Kharisma Jagat, pelindung keluarga. Kau tahu, anak kecil itu mudah sekali dipengaruhi, puji mereka dan yakinkan kalau mereka itu sangat hebat, maka mungkin mereka akan melompat dari tempat tinggi jika kau suruh melompat, karena mereka cepat percaya dan mudah untuk terbujuk pujian.
Itu yang ayahnya Mulyana gunakan untuk membujuknya masuk, selama dia merawat kakaknya dengan rasa bersalah, perlahan, kata demi kata dan sikap yang luwes, Drabya memasukkan begitu banyak pemahaman tentang diri Mulyana yang hebat, membuat keyakinan Muluyana terbangun, karena karena melalui rasa bersalah, setiap orang akan belajar dari kesalahan tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Bedanya kalau anak kecil, dia akan cenderung untuk lupa impuls yang diberikan, tapi takkan lupa kalau itu menyangkut hal yang traumatis, maka ketika kau mendapatkan hal yang traumatis ketika masih sangat kecil, kenangan itu sulit untuk dihapus, timbullah penyakit mental yang membawamu pada ketidakyakinian diri.
Drabya memang lelaki handal yang ingin keyakinan anaknya tentang kehebatan terwujud, dia yakin anaknya memang orang yang luar biasa.
“Si-si-siapa di-di-di sana!” Mulyana berbalik, kosong tak ada orang satu pun, dia berteriak dan berjalan ke depan, karena dia berjalan itulah suara muncul, padahal arah jalannya sudah berbalik.
Masih tak ada jawaban, Mulyana kesal karena dia tak bisa menemukan siapa-siapa, padahal kalau bersama ayahnya begitu banyak jin yang menghampiri.
“Siapa kau!” Mulyana bertanya lagi, tapi tak ada jawaban.
Mulyana berbalik lagi dan berjalan ke depan, suara itu terus mengganggu, langkah kaki yang berat terdengar.
“Si-siapa itu?” Mulyana kecil mulai kesal.
“Aku ... aku ... AKUH!!! AKUH!!! AKUH!!!” Seorang wanita dengan rambut panjang, payudara menjuntai sampai kaki, bagian tubuh yang ditutupi hanya pada alat kelamin hingga lutut itu muncul.
Mulyana panik, dia berlari karena wanita itu semakin mendekat, mengatakan aku dengan suara lembut, lalu perlahan menjadi suara yang sangat kasar dan berat.
Mulyana memejamkan mata, tapi teringat, kata ayah, tak boleh sekalipun memejamkan mata tanpa ayah, akan sangat bahaya, mereka akan kuasai tubuhnya.
Mulyana membuka lagi matanya, kosong, tak ada siapapun, dia lalu lega dan mulai berjalan lagi, saat berjalan dia mendengar suara anak kecil sendang berlarian, seperti sedang main.
__ADS_1
Mulyana berlari, apakah ada anak yang seperti dirinya? Apakah ayah dari anak itu juga punya gudang ghaib lalu membuat anaknya masuk ke tempat itu, jikalau ada, maka Mulyana akan sangat senang, tak sendirian lagi.
Dia berlari mengejar suara dan ternyata benar, ada anak kecil yang sedang duduk di tempat itu, dia lalu tersenyum, benar dugaannya, ternyata ada anak kecil, Mulyana semakin mendekat dan ....
“Kau siapa? ayahmu punya gudang ....”
Mulyana yang tadinya hendak menepuk bahu anak itu kaget ketika anak itu memutar kepalanya, ya! kepalanya saja yang berputar, sedang badannya masih membelakangi Mulyana.
“Kakak ... kakak ... kakak.” Anak itu memanggil-manggil Mulyana dengan suara yang membuat ngeri, suara anak kecil tapi suara yang sedih, dia menangis tapi tersenyum dalam kepala yang berputar ke belakang.
Mulyana berlari lagi, dia sangat ketakutan, dia kaget hingga teriakannya bahkan tak bersuara, dia sempat jatuh, tapi melihat anak itu mengejar dengan tubuh khayang dan kepala masih tetap menghadapnya, membuat Mulyana histeris dan berlari, lupa apa yang harusnya dia lakukan.
Dia berlari dan berteriak, “Ayah!!! Buka pintunya Ayah!” Mulyana berteriak, tidak ada pintu yang dia lihat, tapi kata ayahnya dia punya dua kesempatan untuk keluar dari pintu itu.
Maka dia menggunakan kesempatan itu sekarang, karena setan anak kecil ini begitu mengerikan baginya.
Pintu terlihat dari kejauhan, pintu dengan corak yang sama ketika dia masuk, lalu dia bergegas lari menghindar dari anak kecil setan itu, menggapai pintu, membukanya lalu menarik pintu itu dan ... dia berhasil keluar, menutup pintu dengan kencang.
“Mulyana, akhirnya kau keluar juga!” Ibunya memeluk Mulyana dnegan eerat, dia takut anaknya terluka, karena ternyata dia di dalam sudah berjam-jam.
“Ayah maaf, aku takut.”
“Tak masalah, kau sudah lima jam di sana.”
“Hah? lima jam? Tapi kayaknya baru sebentar Ayah.”
“Tempat ghaib itu buatanku, tetap ada perbedaan waktu, tapi tak begitu lama, kalau buatan TUhan, kau akan terkejut, karena perbandingannya sangat tinggi.”
“Aku tidak mengerti.” Mulyana tidak paham kata-kata Drabya, saat ini. esok setelah dewasa dan melatih kawanan dia akan paham, bahkan dia menggunakan teknik ini untuk membuat zona gelap.
Ingat ketika Aditia bilang bahwa ada perbedaan waktu ketika mereka menyebrang dan dia yakin kalau zona gelap buatan manusia, lalu ternyata belakangan dia tahu, kalau itu adalah buatan ayahnya. Sayang Aditia belum paham soal itu, makanya dia tidak merasakan ilmu ayahnya di sana, Mulyana menggunakan mantra ayahnya, yaitu kakeknya Aditia untuk membuat zona gelap itu.
“Kau takut? kenapa kau takut, dia hanya anak kecil?”
“Ayah tahu?”
“Ya, ayah lihat, tapi tak bisa apa-apa, karena kau masuk ke sana dan seharusnya siap.”
“Aku takut ayah, dia kepalanay muter, aku takut ayah.”
Mulyana hendak memeluk ayahnya tapi ayahnnya mundur, dia tak mau memeluk Mulyana, dia Drabya merasa selama ini terlalu memanjakan kedua anaknya, sulit sekali kalau mereka harus selalu ketakutan melihat apa yang seharusnya mereka taklukan.
“Ayah aku takut.”
“Ingat lagi apa yang harusnya kau lakukan di dalam tadi?”
“Aku harusnya bertanya, aku tahu ayah, tapi ... tapi ... aku takut ayah.” Mulyaan mulai menangis lagi.
“Maka kau takkan pernah mendapatkan jawaban.” Drabya lalu pergi, dia tak ingin melihat anaknya menangis dan merengek, tapi sebelum itu dia bilang kalau Mulyana harus mempersiapkan dirinya besok, sesi simulasi akan berulang, sampai dia mampu.
“Ibu, apakah aku ... aku ini anak yang tidak berguna? Kenapa ayah malah pergi?”
“Tidak, kau itu anak hebat, sama seperti kakakmu, kalian hanya masih terlalu kecil saja.”
“Tidak seharusnya yah keras seperti itu pada adik, Bu, kasihan adik ke sana sendirian, haruskah aku temani besok, Bu?”
“Tidak, kau belum pulih, kalau kau jatuh di sana dan semakin terluka, aku bersumpah akan berpisah dari ayahmu, ingat itu, besok ulang lagi, tapi kalau takut, keluar saja.”
“Tapi Bu, aku cuma punya 2 kali kesempatan untuk minta keluar.”
“Andai aku tak pernah menikahinya, andai aku ....”
“Bu, maafkan ayahku ya.” Aep memeluk ibu tiri yang dia sayang, lalu mereka berdua berpelukan.
Sementara itu Drabya di kamarnya, dia mencuci keris mini miliknya, dia membaca mantra, lalu Abah keluar.
“Kita akan berburu malam ini, aku kesal dan ingin menyalurkannya.”
“Apa dia gagal lagi?” Abah bertanya.
“Ya, dia gagal lagi.”
“Itu karena dia masih kecil, kau ingin aku yang melatihnya?”
“Belum saatnya, nanti kalau dia sudah cukup dewasa, aku ingin dia benar-benar melihat mereka dengan mata terbelalak, terbiasa dengan bau busuk mereka dan kelakuan jahilnya, aku ingin Mulyana tidak takut lagi.”
“Apa itu tidak terlalu Kejam Drabya?”
“Kejam? Bukankah dunia ini juga kejam padaku? dunia milik siapa yang paling kuat, aku ingin anak-anakku kuat, sangat kuat hingga bisa menundukkan mereka, para khodam dan Karuhun. Kau tidak lupa kan, kalau musuh kita sangat amat banyak, kalau kita lemah, maka habislah kita.”
“Baiklah, kita berburu malam ini, tapi kau harus ingat kalau ... kau juga tidak baik-baik saja.”
“itu kutukan, para Kharisma Jagat yang tidak memilih jodoh adat, akan menjadi orang yang lemah karenanya.” Mitos tentang jodoh adat di waktu ini masih sangat kental, karena Ayi belum lahir dan belum menghabisi Mudha Praya dan para anteknya.
______________________________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Kalian seneng nggak aku crazy up? komentar ya, masih belum panas nih, masih cerita awal aja, mau panjang apa pendek? komentar ya, aku sih ikutin kalian.