Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 77 : Tersesat 2


__ADS_3

9 HARI YANG LALU


“Semua sudah siap?” Nanto sang ketua bertanya pada rombongannya, mereka adalah sanak keluarga yang diajak naik gunung, Nanto cukup sering naik gunung karena hobinya memang naik gunung sejak sebelum menikah, setelah menikah dia tetap sering naik gunung bersama istrinya.


Pekerjaannya adalah seorang pengusaha telur ayam, cukup sukses di kampungnya, jadi punya hobi yang dilakukan sering tidak membuat pekerjaannya terganggu, karena bos bisa mengatur pekerjaannya sesuai kebutuhan.


Tujuan naik gunung bersama-sama ini adalah untuk merayakan ualng tahun pernikahan ke tiga belas dia dan istrinya, bersamanya, ikut kedua anaknya yang masih kecil, keponakan-keponakan yang umurnya sudah dua puluh tahun ke atas, rata-rata masih kuliah dan kerja, mereka diajak untuk meramaikan suasana.


Nanto termasuk paman yang baik, dia sering membagi sembako, membayari keponakan-keponakannya untuk kuliah dan banyak lagi kegiatan amal yang sering dia lakukan.


Tidak heran bisnisnya berjalan lancer karena dia memang seorang yang sangat perduli pada lingkungan dan juga kaum duafa.


“SIMAKSI udah kelar Om?” tanya salah satu keponakannya yang bernama Ardin, dia kuliah di Universitas Indonesia, uang pangkalnya dulu dibayari oleh Nanto, dia tidak terlalu hobi naik gunung, tapi saat diajak dia mau saja, karena tidak perlu keluar uang sama sekali, katanya untuk pengalaman, gratis pula.


“Udah Din, kita naik paralel ya, semua harus dalam barisan, sesekali berhitung, Om sweaper trus Anto Leader ya, kalau ada yang sakit atau nggak kuat, kita semua berhenti, nggak boleh  ada yang duluan atau tertinggal, ngerti semua?” Nanto bertanya, semua rombongan mengangguk.


Daftar perserta adalah, Nanto dan istrinya Yanti, dua anak Nanto yang masing-masing berumur tujuh tahun seorang perempuan dan sepuluh tahun seorang lelaki, lalu para keponakan sisanya termasuk Ardin dan adiknya yang berumur tiga belas tahun.


Mereka memulai perjalanan jam sepuluh pagi, karena pos pendaftaran buka jam sembilan pagi, setelah packing ulang, menjelaskan peraturan naik gunung yang standard seperti tidak boleh buang sampah sembarangan, bawa kembali sampahmu, tidak boleh berbicara sembarang dan buang air sembarangan, setelah itu mereka berdoa dipimpin oleh Nanto selaku yang tertua dan membiayai naik gunung ini.


Sudah selesai persiapan semua, lalu mereka mulai naik, berbaris paralel, menghitung jumlah dari nomor satu sampai dua puluh satu dan berjalan menikmat pegunungan.


“Om, kita kan berdua pulih satu, nggak apa-apa om?” tanya seorang keponakan yang ada di depannya.


“Loh emang kenapa?”


“Katanya kalau ganjil nggak boleh naik gunung ini.” Keponakan itu berkata dengan pelan hamper berbisik.


“Mitos itu, jangan percaya, semua tergantung niat, kita kan mau menikmati alam, ciptaan Tuhan, jadi yaudah, datang dengan niat baik, itu aja cukup.”


“Iya Om.


“Makanya, jangan bicara sembarangan dan selalu dalam barisan ya.” Nanto mengingatkan keponakannya.


“Iya Om.” Jawab keponakan itu.


Mereka terus berjalan, tak terasa sudah dua jam, mereka sampai di pos satu, tidak melanjutkan perjalanan, mereka memilih makan cemilan dulu sekalian istirahat.


“Din, tanyain yang lain deh, mereka gimana, capek nggak? Kalau ada yang mulai udah nggak kuat, kita pelan-pelan aja jalannya, To, kamu juga bantu Ardin ya, cek semua orang.” Nanto menyuruh dua keponakan yang cukup dia percaya.


Anto dan Ardin bertanya satu-satu ke saudara-saudara mereka.


“Om, aman, semua bilang seneng, belum berasa capek.”


“Wah hebat ya kalian, mau lanjut jalan sekarang?” Nanto bertanya kepada semua orang dan mereka kompak menjawab mau.


Barisan paralel dibuat lagi, tetap Anto sebagai Leader dan Nanto sebagai sweaper, menuju pos dua, semua orang terlihat sangat bahagia karena waktu masih jam dua belas siang, tadi mereka hanya ngemil, tapi cukup untuk memberi energi untuk melanjutkan perjalanan.


Rencananya di pos tiga mereka baru akan makan, butuh waktu dua jam untuk sampai pos tiga, kurang lebih jaraknya tidak jauh beda dari pos dua.


Ternyata mereka sampai setelah tiga jam berjalan, semua orang terlihat kelaparan, tidak heran, sudah jam tiga sore, belum makan siang, akhirnya mereka sepakat untuk menggelar tikar dan membangun flysheet saja dulu, bukan tenda, karena mereka akan memasang tenda di pos tepat sebelum puncak.


Lima orang perempuan menyiapkan makanan, termasuk Yanti istrinya Nanto. Mereka masak mie rebus dan goreng, yang mudah dan cepat saja.


“Kenapa Tante?” seorang keponakan perempuan yang bernama Hana bertanya pada Yanti, karena Yanti terlihat bingung.


“Ini, kok kompornya nggak mau nyala, semua udah bener kok, aneh, padahal kompor ini nggak pernah begini.


“Coba sini Hana coba.” Hana lalu mencoba menyalakan kompor gas mini portable yang dibawa.


“Ini bisa Tante, tadi kurang masuk deh kayaknya botol gasnya.”


“Oh ya, makasih Hana.” Yanti segera masak untuk semua orang, dibantu lima keponakannya yang masing-masing juga membawa kompor gas mini yang sama, jadi masaknya bisa lebih cepet,


Setelah makanan jadi, mereka makan, istirahat sebentar, lalu bersia melanjutkan perjalanan.


“Di sini perasaan nggak dingin ya Om? Kok mi-ku terasa cepat sekali dingin ya?” seorang keponakan mengeluh.


“Namanya juga gunung, wajar kalau dingin mah.”


“Bukan gitu, To. Ini kok mi gue terasa cepet dingin banget, padahal tadi dikasihnya masih panas.”


“Yaudah, nggak usah dipikirin deh, wajar itu mah, di tempat terbuka gini.” Anto mencoba menenangkan, walau tadi dia merasa kalau mi gorengnya tidak cepat dingin, tapi dia mencoba menepis hal-hal yang tidak masuk akal agar semua bisa tenang dan tetap mau melanjutkan perjalanan naik ke puncak ini.


Perjalanan di teruskan, trek ke arah pos empat lebih terjal, kemiringan mencapai sekitar lima puluh sampai enam puluh derajat, tidak sampai harus memanjat tapi tetap naik dengan hati-hati karena jalanan sehabis hujan licin, kalau jatuh satu, orang di bawahnya akan kena ikut jatuh karena tertimpa badan orang yang di jatuh dari atas itu.

__ADS_1


“Masih kuat?” Nanto bertanya berteriak.


“Masih Om.” Semua menjawab.


“Berhitung!” Anto memerintahkan berhitung setelah mereka sudah sampai di tempat yang lebih datar sembil berjalan perlahan lagi.


“Satu.” Anto memulai hitung.


“Dua.”


“Tiga.”


“Empat.”


“Lima.”


“Enam.”


“Tujuh.”


“Delapan.”


“Sembilan.”


“Sepuluh.”


“Sebelas.”


Mereka terus menghitung sampai akhirnya tiba di barisan Nanto.


“Dua puluh ... dua.” Nanto berteriak.


Semua mendadak berhenti, karena hitungannya lebih, seharusnya dua puluh satu, tapi Nanto tidak salah karena memang keponakan di depannya dia berteriak dua puluh satu, dia jadi melanjutkna hitung.


Dia dan keponakan di depannya saling lihat-lihatan, mereka tahu, ada yang salah.


“Ulang ya itung, Om?” Anto bertanya sembari berteriak.


“Nggak usah! Lanjut jalan aja, hitungnya nanti saja.” Nanto memilih untuk hitung nanti saja, dia mulai agak merinding, karena hitungan lebih, bagaimana bisa? Padahal mereka sudah hitung lebih dari lima kali selama perjalanan dan selalu lengkap, tidak kurang dan lebih dua puluh satu orang.


Untuk sampai pos empat mereka perlu berjalan selama kurang lebih tiga sampai empat jam, karena perjalanan terjal tadi, perkiraan waktu mereka sampai adalah tepat saat magrib di pos empat, rencananya mereka akan bangun kemah, solat magrib dan istirahat tidur, lalu besok paginya jam tiga atau jam empat pagi, mereka akan muncak atau anak-anak gunung suka bilang summit untuk mengejar Matahari terbit.


Mereka terus berjalan, semua diam, tidak ada canda tawa yang riang seperti di jalan-jalan sebelumnya, mungkin karena lelah dan juga ketakutan, perjalanan tepat waktu, jam enam tepat mereka sampai di pos empat.


Semua sepakat solat magrib dulu, baru bangun tenda, total ada lima tenda, tenda keluarga Nanto satu yang besar, lalu tenda keponakan perempuan satu yang terisi empat orang dan sisanya tiga tenda untuk para lelaki, satu tenda diisi empat orang.


Setelah tenda di bangun, masakan sudah jadi juga, jadi yang para perempuan tadi masak agar setelah selesai pasang tenda semua orang bisa makan.


Mereka menggelar terpal yang cukup besar di tengah, karena mereka memasang tenda dengan cara melingkar, untuk mereka rombongan, karena di pos empat ini tidak ada satupun tenda yang orang lain, walau terasa sepi, tapi dua puluh satu orang itu cukup membuat pos empat menjadi ramai.


Makan sudah, waktunya istirahat, jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, beberapa orang mulai tidur di tenda, beberapa orang masih duduk di terpal yang berada di tengah tenda itu.


Mereka asik berbincang dan menikmati kopi panas, malam hari, pos empat terasa indah, pemandangan dan udara gunung sungguh terasa nikmat sekali.


“Om, tadi kok hitungan bisa genap gitu ya?” seorang keponakan bertanya, Nanto dan lima orang lainlah yang masih berkumpul ngobrol.


“Yah paling ada yang nggak fokus trus salah sebut deh, harusnya berapa, jadi lebih. Udah jangan terlalu difikirin ya, kita yang penting niatnya baik, untuk menikmati alam dan ciptaan Tuhan, jadi semuanya akan lancer dan baik-baik saja”


“Iya Om, semoga kita besok bisa muncak dan lihat Matahari terbit ya.”


“Iya, kamu kalau udah capek, tidur aja gih.”


“Iya Om.”


Tidak terasa waktu menunjukan pukul sebelas malam, dari arah naik terlihat beberapa pemuda hendak turun, Nanto berjalan menghampiri mereka dengan Anto.


“Mas mampir sini, istirahat dulu.” Nanto menawari mereka untuk istirahat.


“Iya makasih Mas, tapi kita turun aja, ngejar waktu.” Tolak lelaki itu.


“Yakin Mas, udah malem loh, headlamp sama bekal aman?” Nanto memang orang yang sangat baik dan selalu ingin menolong orang.


“Aman Mas, makasih ya, berapa orang yang naik? Banyak?” pemuda itu melihat ke arah belakang Nanto, masih ada beberapa pemuda yang terlihat ngobrol, semua terlihat baik-baik saja.


“Dua puluh satu orang, kami keluarga, lagi pengen naik bareng.”

__ADS_1


“Wah asik banget, summit jam berapa besok?”


“Summit jam tiga atau jam empat Mas.”


“Oh gitu, yasudah, hati-hati ya, terima kasih, saya turun dulu.” Lalu beberapa pemuda itu pergi, melanjutkan perjalanan untuk turun.


“Nggak mau mampir dulu mereka Om?” tanya salah satu keponakannya.


“Nggak mau, mau langsung turun aja katanya, mereka keliatan sudah sering naik, makanya berani turun malam begini.”


“Ya sih, yaudah aku tidur dulu ya Om.” Lalu semua orang akhirnya memutuskan untuk istirahat.


Tepat jam dua pagi mereka bangun, membereskan beberapa barang bawaan untuk muncak, tenda tetap dibiarkan saja, jadi begitu mereka selesai muncak bisa istirahat di sini dan masak makanan.


Nanto mengira akan ada keponkannya yang tidak ikut naik, tapi ternyata semua orang senang dan ingin ikut, tenda tidak ada yang jaga.


“Om, tenda nggak ada yang jaga gimana ini?”


“Tenang aja, nggak bakal ilang kok.” Nanti berkata sembari bersiap memasukan semua kebutuhan ke tas ranselnya yang lebih kecil.


“Yakin, Om?”


“Yakin kok, udah tenang aja.”


Nanto menyuruh semua orang untuk berbaris seperti sebelumnya saat mereka mendaki, saat sudah rapih, dia meminta semua orang mulai menghitung.


“Satu.”


“Dua.”


“Tiga.”


Tiba giliran keponkan di depan Nanto.


“Dua puluh sat ... satu.” Keponakan itu melihat Nanto sambil ketakutan.


Nanto tersenyum dan tidak melanjutkan hitungan.


“Udah lengkap, Anto mulai jalan aja ya!” Nanto berteriak, dia tidak ingin menlanjutkan hitungan karena tidak ingin membuat semua orang menjadi ketakutan dan urung muncak.


Waktu menunjukan jam setengah empat pagi, hanya tinggal satu jam lagi mereka akan sampai, butuh waktu sekitar dua sampai satu setengah jam untuk naik tergantung kecepatan jalan, medan  masih sama kemiringan jalan membuat mereka kesulitan naik.


Saat sekitar jam setengah lima pagi, mereka sampai di puncak, semua orang tertawa gembira karena berhasil naik, setelah itu mereka solat subuh bersama.


Lalu setelahnya menikmati matahari terbit, sambil minum kopi, mereka memang membawa botol minum tahan panas, sengaja bikin kopi untuk diminum bersama di puncak.


Waktu menunjukan pukul setengah enam, sudah satu jam mereka ada di puncak.


“Om enak banget ya di puncak gini, udaranya, pemandangannya.” Kata salah satu keponakannya.


“Kamu mau punya rumah di sini?” Nanto bertanya pada keponakannya itu.


“Mau sih, tapi susah dong, kalau mau kemana-mana.”


“Ya enggak lah, nanti nggak akan susah.” Nanto tersenyum aneh kepada keponakannya.


_____________________________


Catatan Penulis :


Bagian ini membuatku cukup lancer mengetik, tapi ada kejadian aneh, jujur kalau membuat cerita di gunung aku agak takut, karena aku percaya, gunung itu indah dan juga kampong ‘mereka’, makanya nggak bisa seenaknya menyebut nama gunung, karena aku takut, takut kalau nanti salah ditegur langsung oleh sang empunya tempat.


Semalam saja, saat mengetik, baterai laptopku aman, semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba laptopku mati saat sedang nulis bagian mereka berhitung dan hitungannya lebih.


Setelah itu laptopku tidak mau menyala sampai pagi, makanya update part ini telat, seharusnya semalam, tapi karena laptopku nggak mau nyala, bagaimana uploadnya, sempat kesal, tapi aku tahu, pasti ini untuk kebaikanku, makanya tidak bisa melanjutkan ngetik sampai selesai dan upload.


Lumayan merinding karena laptopnya tiba-tiba mati aja gitu, nggak ada tanda baterai habis, saat di chargerpun, indicator baterai nggak merah, artinya baterai nggak abis, tapi laptop sama sekali nggak mau dinyalain, mati total, padahal lampu power nyala, tapi layar blank.


Maunya sih anggap ini karena kesalahan device, tapi terlalu tepat sekali mati dibagian itu dan tidak mau menyala lagi.


Kalau kalian baca part ini gimana? Merinding nggak? Kasih tau aku ya, kali aja kalian ada pengalaman naik gunung yang menyeramkan juga.


Oh ya, jangan lupa vote kami ya, kasih bucket hadiah juga ok.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2