
Waktu sudah malam, Aditia dan kawan-kawan diajak makan malam bersama oleh Raja Bangsa Baha. Makan malam begitu ramai, ada para petinggi kerajaan, entah datang darimana, Raja secara singkat memperkenalkan kami.
Alka tidak suka makan malam perjamuan ini, karena dia tahu, dia selalu akan dihina, makan malam ini untuk Aditia seorang keturunan Kharisma Jagat dengan garis keturunan tinggi. Terlebih melihat Jarni, duduk di bawah kaki Raja itu, sembari menikmati kotoran, makanan yang biasa jin sukai.
“Jarni! Jangan makan itu.” Alka mencoba menariknya, Raja hanya melihat sebentar lalu melanjutkan menyantap kotoran.
“Ini enak Kak, Raja suka, jadi aku harus suka.”
“Tapi itu kotoran.” Jarni yang sangat pemili dalam urusan makanan, menjadi suka dengan kotoran.
“Bukan! ini makanan Raja, aku sangat beruntung bisa merasakan makanan Raja yang sangat aku cintai.”
“Ka … kita makan.” Aditia menarik Alka.
Ternyata bagi Aditia sudah disuguhkan makanan khas Sunda, tentu makanan yang enak untuk manusia, Raja tahu bahwa selera makan mereka berbeda jauh.
“Kamu makan dulu ya, kitakan belum makan, kita harus punya energi cukup agar bisa menyembuhkan Jarni.”
“Iya.” Alka mengambil ayam bakar dan sambal serta lalapan, dia sangat suka makanan itu.
“Kau suka makanan manusia yang menjijikan itu?” Mbah Kanjawani yang makan dekat mereka bertanya pada Alka.
“Iya.” Alka menjawab singkat.
“Sepertinya jiwa manusiamu lebih tinggi, padahal ayahmu Jin, seharusnya kau lebih memiliki jiwa seperti kami, atau kau hanya mengikuti jiwa ….”
“Mbah, aku mohon.” Alka mengatakannya, Aditia terlihat penasaran.
“Yasudah, makan yang banyak ya, Raja khusus membawa manusia yang jago masak seperti yang kalian suka itu.”
“Iya Mbah, terima kasih.” Alka sangat mencoba untuk tetap sopan, dia berusaha mengerti tempatnya, bukan saatnya kasar, lagian mereka tamu yang diterima dengan baik, Raja juga tidak menahan Jarni, Jarni yang menahan dirinya sendiri
“Apa yang harus kita lakukan?” Alka bertanya, makan malam sudah selesai, mereka duduk di luar, Jarni sudah ke kamar, ngantuk katanya,.
“Aku pernah baca beberapa literatur penyembuhan, ada media kelor, kelapa hijau dan sapu lidi. Gampang sih pakenya, kita coba besok ya, aku sudah minta bantuan Mbah Kanjawani untuk mencarikan bahan-bahan tersebut.”
“Iya, makasih ya Dit, sudah mau menolong adikku.”
“Kenapa harus terima kasih? Kalian itu keluargaku, aku pasti akan membantu jika salah satu dari kalian ada yang kesulitan.”
“Ya.” Alka meminum kopinya, tadi pelayan istana memberikan kopi dan singkong goreng untuk cemilan mereka di malam yang dingin ini.
“Ka, aku boleh tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Soal jiwa yang Mbah Kanjawani ungkit, jiwa apa ya?”
__ADS_1
“Jiwa? Maksudmu?”
“Ya, soal selera makanmu, katanya apakah kau mengikuti selera jiwa, jiwa siapa?”
“Oh, itu, bukan hal yang penting.” Alka tidak ingn menyinggungnya, itu bukan hal prioritas saat ini buat dia.
“Begitu, baiklah.”
“Kita kamar yuk, aku sudah lelah.” Alka mengajak Aditia tidur, Alka tidur bersama Jarni, di kamar busuk itu, sedang Aditia diberikan kamar dekat kamar Raja yang bersar. Terlihat sekali, dikalangan jin bahkan level dan kelas masih menentukan seseorang bagaimana diperlakukan.
Aditia mengantar Alka ke kamar Jarni dulu, mereka mulai berjalan.
“Yaudah, selamat malam ya.” Alka sudah akan sampai di pintu kamar Jarni, tapi saat sudah dekat, dia baru sadar, pintu kamar terbuka, Alka berlari, firasatnya tidak enak. Aditia mengikuti dari belakang.
“Jarni nggak ada!” Alka sudah memeriksa ke dalam kamar.
“Cari!” Aditia dan Alka terlebih dulu mencari Mbah Kanjawani, tadi Aditia sempat ditunjukan tempatnya.
“Mbah, Jarni hilang, kami tidak tahu dia pergi kemana.” Aditia berkata begitu pintu kamar dibuka.
“Waduh bahaya kalau dia sampai masuk ke kamar Raja, bisa-bisa di hukum mati.” Mbah Kanjawani segera menutup matanya dan mencari Alka, maklum ini adalah kerajaan jin, Mbah Kanjawani bisa mencari secara mata batin di sini, kalau kemarin di hutan dia tidak bisa, karena arealnya terlalu berdekatan dengan areal manusia, kekuatannya melemah. Tapi, di kerajaan ini, tentu dia punya kekuatan yang sangat tinggi.
“Benar, ada di dekat kamar Raja. Cepat kita ke sana, kalau sampai tertangkap para dayang, bisa habis dia, karena yang boleh mendekati kamar Raja hanya dayang pilihan dan yang mendekati tanpa dipanggil Raja, dianggap penghianat.
Mereka segera berlari, larinya Alka dan Mbah Kanjawani sungguh kencang, hampir tidak terlihat, Aditia kesulitan mengejar, hingga dia tertinggal jauh.
“Iya, untung saja, tadi ternyata para Dayang sedang menyiapkan seorang anak bangsawan jin untuk malam ini tidur dengan Raja, jadi tidak begitu banyak yang jaga.”
“Hei kau Kakek Tua! Raja tidak boleh tidur dengan lain diriku!” Jarni berteriak, Alka menutup mulut Jarni dan memukul lehernya, lalu sedetik kemudia Jarni pingsan. Alka Menggendong Jarni kembali ke kamar.
“Aku tidur di kamar kalian.” Aditia berkata. Mbah Kanjawani sudah kembali ke kamar, mereka sudah di depan kamar Jarni.
“Tidak jangan, aku bisa.”
“Kamu akan kelelahan, kita gantian berjaga, takutnya kalau kau sendirian, kau akan ketiduran karena lelah.”
Karena omongan Aditia masuk akal, akhirnya dia mengizinkan Aditia untuk menginap.
Mereka menidurkan Jarni di tempat tidur, Aditia tidur di sofa usang dan Alka tidur di samping Jarni.
Aditia berjaga duluan, dia melihat Alka tidur cepat sekali, pasti sebenarnya dia lelah, kasus yang mereka harus hadapi seperti tidak ada akhir, makan dan tidur seperti sebuah kemewahan, Aditia tidak keberatan dengan semua ini, tapi jujur, keluhan ibunya membuat Aditia agak berat, dia tidak rela menjual satu-satunya warisan ayahnya dan merupakan alat amal yang dia dan ayahnya dulu pergunakan untuk menolong mereka.
Tapi sejenak dulu Aditia harus lupakan itu, dia harus menolong Jarni dan membawa tubuh dari perempuan yang terkubur di hutan pinggrir tol ini, setelahnya dia akan bicara pada semua orang, sepertinya Aditia akan mulai bekerja sambil kuliah, Dita harus kuliah dan mengejar cita-citanya, dia adik satu-satunya, dia adalah permata keluarga, Aditia akan bertanggung jawab, apapun yang terjadi, dia adalah adik yang sangat disayang oleh keluarga. Jangan sampai dia yang berkorban.
Aditia terus membuka mata dan memperhatikan Alka, betapa cantiknya perempuan itu, Aditia heran kenapa dia dikatakan jelek di sini, padahal wajahnya sungguh sangat cantik, walau sedang bertarung dan terkadang penuh darah, kecantikan itu tidak pernah pudar, dulu Aditia fikir tidak ada yang lebih cantik dari Alya, wanita bejat itu, Aditia terpana dengan kecantikan, kecerdasan, kemampuan memanah serta prestasinya, semua terlihat sangat bersinar dengan kemewahan. Tapi begitu bertemu Alka, tanpa riasan dan makeup wajahnya tetap terlihat sangat cantik, seperti sinat matahari atau bintang selalu menyinari wajah itu, kadang Aditia jika kecewa atau sedih, langsung bisa kembali senang lagi, hanya dengan mengingat wajah Alka.
Tapi Aditia tahu, Alka tidak akan pernah ingin bersamanya, untuk Alka, Aditia hanya seorang tuan yang harus dilayani, dia begitu profesional, seperti seorang Intel negara yang mengabdi dan tidak pernah ada keinginan untuk melanggar profesionalitas itu.
__ADS_1
Perlahan matahari muncul di kerajaan jin ini, Aditia sudah bangun, menerima teh dan coklat panas, Alka bangun dan meminta maaf karena tidur hingga pagi, tidak bergantian dengan Aditia.
“Lagian kenapa nggak bangunin sih!” Alka kesal setelah meminta maaf.
“Bagaimana bisa aku membangunkan malaikat yang tidur dengan nyenyak sekali.”
“Kau ingin aku menjadi malaikat?” Alka bertanya.
“Itu hanya kiasan!” Aditia kesal.
“Kalau kau ingin aku jadi malaikat, itu tidak mungkin, anak haram kok jadi malaikat.” Alka tersenyum sinis pada takdir Tuhan yang harus dia hadapi.
“Aku tidak suka kau berkata begitu!”
“Tapi itu kenyatannya Dit.”
“Tidak ada anak haram, adanya orang tua yang salah. Sama sekali anak itu tidak salah! Aku marah, kau tidak boleh menghina gadis cantik dan anggun dalam kesederhanaan yang aku sukai.” Aditia kesal dan meninggalkan Alka untuk mandi, sementara Alka terdiam.
[Kalau kau terus seperti ini, bagaimana aku bisa bertahan.] kata Alka dalam hati.
Jarni bangun, dia terlihat masih saja linglung, Alka memandikannya dulu, karena tubuhnya sudah bau, terlebih mulutnya yang memakan kotoran itu, Alka menangis, seharusnya dia tidak membiarkan Alka dan Ganding ikut kemarin, seharusnya dia dan Aditia saja yang pergi, padahal Alka tahu, ada kemungkinan mereka ditangkap oleh pasukan kerajaan, tapi Alka masih saja sombong dengan timnya.
Waktu terasa sudah siang, semua kebutuhan untuk menyembuhkan Jarni sudah dibawa oleh Mbah Kanjawani, dia hanya menuruti semua permintaan Aditia, karena tidak punya solusi, dia percaya, tidak ada yang bisa mematahkan Ajian Wahita itu, sekali kena, maka seumur hidup kau akan mengabdi.
Pertama daun kelor, Aditia merebus daun itu, sampai suam-suam kuku, semua ini dilakukan di lapangan kerajaan yang tidak begitu luas, semua jin melihat mereka sudah terbiasa, seperti tamu yang sedang bertamasya saja.
Jarni hanya terdiam saja, matanya kosong, dia terkadang masih bergumam nama Raja.
Ssetelah daun kelor itu direbus hangat, diminumkan pada Jarni, sebelum diminumkan sudah dibacakan beberapa ayat yang Aditia percaya bisa menjadi pelengkap penyembuhan.
Jarni minum tanpa perlawanan, Aditia menunggu khasiatnya, satu jam, dua jam, tiga jam, hingga makan malam, masih sama, tidak ada perubahan, padahal sudah sejam sekali dia minum ramuan daun kelor itu, masih sama saja, tidak ada perubahan, masih begitu mencintai Raja Bangsa Baha ini.
Menjelang malam, Aditia meminumkan air kelapa hijau pada Jarni, tentu dengan membacakan ayat yang dia ketahui, diulang setiap sejam sekali, masih sama, Aditia dan Alka begadang berdua, Jarni dibangunkan setiap satu jam sekali untuk minum kelapa hijau dan juga daun kelor, hingga pagi Jarni masih sama, begitu bangun dia tetap menanyakan Raja itu, tubuhnya malah lebih bersemangat karena ramuan itu, Aditia dan Alka sudah kelelahan.
Terakhir sapu lidi, ini adalah satu-satunya cara yang tersisa.
Jarni diikat dulu, dia sudah makan dan mandi, begitu juga dengan Alka dan Aditia.
Setelah memastikan Jarni sudah terikat dengan aman, Aditia mulai memukul tubuh Jarni sambil menyanyikan tembang pematah sihir milik keluarganya, dia terus memukul-mukul sapu lidi itu keseluruh tubuh Jarni termasuk kepala.
Jarni tidak merasakan apapun, dia hanya terdiam, seharusnya dia merasakan sakit, berteriak atau menangis, tapi dia hanya terdiam saja, terus memanggil Raja, Aditia sampai kelelahan, dia harus menembang sekaligus memukul, dia akhirnya jatuh, kelelahan.
Alka juga lelah, mereka sudah tidak ada tenaga sama sekali.
Haruskah mereka menyerah?
Kalian punya solusi untuk mereka? tulis di komentar ya.
__ADS_1