Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 540 : Mulyana 46)


__ADS_3

“Apa kita akan menyamar menjadi Badrun dan Yoga?” Dirga bertanya.


“Tidaklah, wajah kita berbeda, tapi biasanya ruh penasaran itu akan sangat sensitif dengan apa-apa yang sering digunakan oleh orang-orang yang … membuatnya mati.”


“Jadi kita takkan pakai pakaian mereka?” Dirga bertanya lagi.


Dirga dan Mulyana telah datang ke lapangan itu, mereka mendapatkan izin dari Ibu Badrun selaku salah satu pewaris dari lapangan, sehingga semua orang mengizinkan mereka, alasannya adalah mereka hendak memugar bengku tembok itu, tempat di mana wanita itu pernah dilihat Mulyana, pelatih yang sempat menceritakan soal wanita itu pada Mulyana sempat heran, kok mereka datang sebagai pekerja kasar, tapi Mulyana bilang bahwa, ini proyek kuliah mereka, tentu pelatih itu pasti tak terlalu dekat dengan ibu Badrun untuk mengkonfirmasinya, jadi kemungkinan Mulyana dan Dirga ketahuan, itu sangat kecil.


“Ruh itu hanya tidak punya tubuh, Ga. Tapi nggak bodoh, masa kita mau nyamar jadi dua orang itu, jelas beda, kita kan lebih tampan.” Mulyana memegang dagunya, seolah dia adalah lelaki tertampan di dunia.


“Iya juga sih, ruh itu kan nggak bodoh, masa ketipu sama kita yang mau nyamar, tapi gue bingung kenapa harus baju dan juga sepatunya?” mereka masih berjalan ke arah bangku dari semen itu, tempat biasa ruh wanita itu memulai sesi penasarannya. Yang ingin Mulyana ketahui hanya satu hal, siapa yang membunuhnya.


Mereka sudah sampai di lokasi, bangku itu letaknya tertutup oleh pohon yang rindang, pohon itu mengelilinginya.”


“Dia ada?” Dirga bertanya.


“Kau mau lihat?” Mulyana kembali bertanya.


“Tidak, aku takut.”


“Yasudah, tidak perlu tahu dia ada atau tidak, cukup dengarkan aku, nanti kau berpikir yang tidak-tidak lalu malah ketakutan sendiri.”


“Tapi, Yan, wajahnya buruk?”


“Tidak, cantik kok.”


“Parameter cantik kita tetap sama kan?” Dirga sangsi dengan pernyataan Mulyana, karena dia tahu, agak aneh seleranya Mulyana.


“Sama kok, dia berwajah tirus, dengan hidung yang mancung, mata yang besar dan dahi yang sedikit menonjol, dengan anak rambut yang cukup banyak, cantik standarnya negeri ini.”


“Wow.” Dirga terpana.


“Mau kubukakan matamu?”


“Kalau bisa, aku lihat dia saja, tidak mau melihat yang lain.”


“Kau pikir membuka mata batin itu seperti beli paket nasi di warteg? Bisa pakai ayam saja, sayurnya tidak, lalu bisa tambah gorengan tapi tak mau pakai sambal? Kau ini ada-ada saja.” Mulyana mulai naik pitam.


“Kalau tidak bisa, tidak usah sajalah, aku takut.” Dirga akhirnya jujur, Mulyana melihat perempuan itu membelakangi mereka, masih dengan tatapan yang sendu.


“Hai, kau masih di sini?” Mulyana mulai mendekatinya lagi, tidak ingin seperti sebelumnya, menemuinya di persimpangan itu dan dia mental, makanya Mulyana mengingat-ingat waktu dia menyapa wanita itu di sini, bahkan wanita itu menjawab sapaannya, maka tempat terbaik untuk bicara adalah di sini, itu yang Mulyana analisa, makanya dia memilih ke sini pada jam yang dia perkirakan perempuan itu ada, sedang duduk menunggu kekasihnya.


Wanita itu hanya menengok dan akhirnya tatapannya ke arah depan lagi dengan kosong dan sendu.

__ADS_1


“Aku bawa dua barang, mungkin salah satunya milik kekasihmu.” Mulyana meminta Dirga menyodorkan semua yang mereka bawa, Dirga dengan barang milik Badrun dan Mulyana dengan barang milik Yoga.


Wanita itu terdiam melihat barangnya dan mulai bangkit tentu kakinya melayang.


Saat bangkit, wanita itu mendekati Mulyana, pakaian Yoga dan semua barang sisanya, membuat perempuan itu akhirnya menyentuh pakaian itu dan marah.


Dia menatap Mulyana dengan mata merah, perlahan wajahnya berubah menjadi wajah yang lebih menyeramkan, sangat menyeramkan karena ruh itu seolah memiliki daging, lalu dagingnya terkelupas lapis demi lapis.


“Untung kau tak jadi aku buka mata batinnya.” Mulyana mulai mundur.


“Kenapa?” Dirga ikut mundur walau dia tak melihat, tapi Mulyana mundur artinya itu bahaya, sedang Mulyana mundur karena perempuan itu terlihat ingin menghajar mereka berdua.


“Marahnya, membuat wajah ruh itu terlihat seperti ketika jasadnya diketemukan terakhir kali.”


“Oh wow, mengerikan.” Dirga berlari menjauh, tapi masih bisa melihat Mulyana yang hanya mundur perlahan, tanpa berusaha lari.


“Apa orang dengan barang ini yang membuatmu ... mati?” Mulyana bertanya tanpa basa-basi, hanya langsung pada intinya dan ruh wanita itu terlihat sangat tidak senang dia semakin marah dan mulai ingin menyerang Mulyana, tapi gagal, Mulyana memegang pecut kuda lumping, hadiah dari ayahnya, karena salah satu kasus yang dia tangani berhasil kemarin itu.


Dia memecut ruh wanita itu, tapi saat kena, tak ada reaksi, Mulyana terkejut, karena semua jenis ruh akan menjadi patuh dan tunduk karena dalam pengaruh rasa sakit akibat pecutan, Mulyana bersiap dengan serangan berikutnya, tapi sayang, ruh wanita itu segera menghilang, Mulyana tak dapat membalik sesi pertarungan itu menjadi kemenangan, karena ruh itu segera menghilang, ini pasti sudah waktunya dia untuk ke persimpangan itu, hilangnya aneh, bukan seperti menghilang khas jin atau ruh, tapi seperti ditarik oleh sesuatu, untuk segera pergi dari sini, itu yang Mulyana pikirkan.


“Gimana? wanita itu bicara apa?” Dirga bertanya.


“Dia hanya memilih pakaian dan sepatu yang aku bawa, dia tak memilih yang kau bawa, tapi satu yang pasti, aku tahu sekarang siapa pembununya.” Mulyana bergegas, dia harus menemui ibu Badrun dan Ibu Yoga, Mulyana harus beritahu mereka tentang informasi yang sementara didapatkan.


“Sudah larut Yan.” Dirga mengingatkan.


Akhirnya mereka berdua memutuskan ke rumah Ibu Badrun.


Larut sekali mereka sampai dan mereka memencet bel rumah itu, tak lama, seorang pria paruh baya membuka gerbang rumah Ibu Badrun, mungkin tukang kebun yang juga diberdayakan sebagai orang yang menjaga keamanan seperti ini.


“Sudah malam, mau apa kalian?” Lelaki itu hendak menolak kedatangan Mulyana dan juga Dirga karena waktu datang bertamu yang aneh dan cara berpakaian yang seperti gembel, itu membuat lelaki itu sepertinya tidak nyaman menerima kedatangan mereka.


“Bilang pada majikanmu, Mulyana datang.”


“Hah?”


“Sudah sana, kami bukan orang biasa yang kau bisa usir seenaknya. Kau akan menyesal jika memperlambat kami, karena Ibu Badrun perlu informasi dari kami.


Menyadari bahwa dulu Pak Badrun juga sering kedatangan tamu dengan pakaian preman padahal mereka intel, maka dengan kedatangan Mulyana dan Dirga berpakaian seperti gembel, dia jadi paham dan salah kira kalau dua pemuda gembel ini adalah intel, seperti dulu tamunya Badrun.


“Kalian ... intel ya?” Lelaki itu menebak tanpa tahu duduk permasalahannya.


“Sudah cepat sana, bilang nyonyamu kami datang, kalau kau kelamaan, kami bisa saja pergi, karena kami tidak boleh berlama-lama di satu tempat."

__ADS_1


Orang itu berlari masuk, wajahnya mulai pucat, dalam pikirannya saat berlari masuk adalah, berani sekali dia, pegawai rendahan hendak menahan orang penting di markas sendiri. Dulu juga tamu Badrun sering datang larut, pakaian anak buah Badrun saja lebih parah, malah lebih dari ini. Makanya lelaki itu buru-buru memanggil ibu Badrun.


Tak lama kemudian mereka dipersilahkan masuk, sudah ada Ibu Badrun yang duduk di ruang tamu itu, dia seperti sedikit tegang pada kedatangan Mulyana yang larut ini.


“Ada apa?” Ibu Badrun tak sabar, Mulyana dan Dirga duduk di sofa yang berhadapan dengan ibu Badrun.


“Apakah kami aman bicara di sini?” Mulyana bertanya sebelum dijelaskan, karena bapak paruh baya itu masih ada di sini.


“Kau pergilah ke belakang, mereka tamuku, mereka itu intel, kau kembali ke rumah belakang.” Ibu Badrun pintar, paham maksud dari perkataan yang tersirat oleh Mulyana.


Rumah hanya tinggal mereka bertiga saja.


“Apakah ibu Yoga bisa dipanggil ke sini?” Mulyana bertanya.


“Hah? kenapa?” Ibu Badrun seperti tak rela gitu.


“Karena ini mungkin menyangkut suaminya.” Dirga membantu mulyana menjelaskan.


“Tidak perlu, dia itu terlalu curigaan dan melihat suaminya begini dia semakin merasa ada kesalahan suaminya yang harus segera diperbaiki, dia jadi sangat frustasi, mari kita membuat dia tenang dengan tidak melibatkannya lagi.” Ibu mertua khas sinetron Indonesia, ibu yang jahat karena tidak paham bahwa menantu juga anak dalam keluarga.


Walau Mulyana lebih suka ibu Yoga ikut, karena dengan begitu, dia bisa saja lebih terbuka membantu memberitahu informasi lainnya, dibanding ibu Badrun yang menjaga banyak hal agar tidak terlihat jahat, ibu Yoga lebih bebas dalam memberikan informasi. Tapi apa boleh buat, mungkin mereka bisa ke sana besok untuk bertanya, maksudnya rumah ibu Yoga.


“Kami sudah menemukan pembunuhnya, benar anak anda yang membunuh kekasihnya hingga mayatnya bisa dikubur di lapangan itu.


“Apa maksudmu?!” Ibu Badrun sulit mencerna hal ini.


“Anak ibu yang membunuh wanita itu, karena ruh wanita itu menunjuk pada barang milik Yoga dengan marah,  makanya, kita harus melaporkan ini ke Polisi, agar dia bisa terbebas dari belenggu kegilaan ini.”


“Tidak! anak saya bukan pembunuh, pergi kalian! Pergi!” Ibu Badrun histeris dan dia lalu pergi belari ke kamarnya, meninggalkan Mulyana dan Dirga kebingungan.


“Seorang ibu selalu paling sulit menerima kekurangan anaknya, padahal kekurangan itu apabila diperbaiki akan menolong kelak dengan bantuan dari mana saja.”


“Kita akan temui ibu Yoga besok, kita harus beberkan semuanya.” Mulyana sudah muak dengan keluarga ini, karena mereka menggunakan kekuasannya untuk mengendalikan hukum.


Mereka bersiap keluar dari rumah itu, belum juga mereka sampai di pintu keluar, tiba-tiba bunyi ledakan yang amat besar, ada terasa sesuatu yang hangat keluar dari dalam baju Mulyana, cairan hangat yang ... ternyata adalah darah.


Bahunya Mulyana tertembak, Dirga dengan cekatan, menarik Mulyana dan berlindung pada balik sofa, mereka tengkurap di balik sofa, sementara ibu Badrun mulai mendekat, wanita itu menjadi gila setelah tahu memang anaknya pembunuh atau dia memang sudah tahu dan hendak melenyapkan saksi!


“Keluar kalian, kalian harus mati! anakku tidak boleh berakhir di penjara.” Wanita itu masih mengacungkan senjata api ke arah balik sofa, sementara Dirga melihat Mulyana sudah mulai lemas, dia mengeluarkan banyak darah, pelurunya tembus di bahu kiri.


“Aku akan mencoba menahannya, kau berlarilah ke luar, cari bantuan, aku akan menahannya agar dia tak menembak lagi.” Dirga berbisik.


“Tidak, kau bisa celaka.” Mulyana tak ingin Dirga jadi celaka.

__ADS_1


“Kalau kita di sini terus, kita berdua akan mati konyol!” Dirga memaksa, Mulyana diam, tapi mereka tak punya waktu, Dirga melihat dari bayangan di lantai, beruntung karena tepat di atas mereka adalah lampu hias mewah, sehingga kalau ada orang jalan tidak jauh dari posisi mereka, bayangannya akan sampai duluan.


“Sekarang!” Dirga meminta Mulyana berlari, sementara Dirga langsung berdiri dan menangkap tubuh ibu Badrun dengan kedua tanganya, dia menubruk tubuh ibu Badrun hingga jatuh, lalu satu ledakan lagi terdengar dengan kencang, Mulyana berhenti dari larinya karena mendengar tembakan itu, dia belum mencapai gerbang, bahunya juga sudah cedera parah, dia ingin berlari masuk lagi ke dalam, karena dia tak ingin Dirga celaka. Kalau Dirga kena tembakan dari jarak sedekat itu, mustahil dia selamat.


__ADS_2