Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 541 : Mulyana 47


__ADS_3

Mulyana melihat beberpa orang masuk, mungkin regu siskamling yang mendengar suara ledakan dari senjata api yang begitu kencang, melihat Mulyana berlumuran darah, beberapa orang lelaki itu segera memapahnya untuk keluar, sementara dari arah garasi keluar lelaki paruh baya yang tadi membuka gerbang saat dua pemuda itu datang.


“Ada ap aini?!” Lelaki itu marah karena beberapa orang bermaksud untuk masuk, dia menghalangi mereka, Mulyana yang dipapah keluar, lalu berteriak ….


“TEMAN SAYA DI DALAM, IBU BADRUN PEGANG PISTOL!” Semua orang terkejut, karena mereka jadi semakin yakin, kalau dua suara ledakan tadi memang berasal dari senjata api di rumah ini.


“Hati-hati, jangan asal masuk, karena mungkin saja yang tertembak adalah teman saya dan dia masih memegang pistolnya.” Mulyana berteriak lagi.


Semua orang lalu hati-hati masuk ke dalam, dengan mengintip dulu, sementara lelaki paruh baya itu tak lagi bisa menahan siapapun yang ingin masuk, karena takut jadi korban penghakiman masal.


Seseorang masuk, bisa dibilang premannya perumahan itu, regu siskamling ini memang orang-orang belakang komplek yang perumahannya adalah perumahan dengan kelas menengah ke atas.


Lelaki yang berani masuk itu melihat ibu Badrun tengah jatuh, senjata api tak jauh dari keberadaannya, sementara Dirga duduk di sampingnya, dia seolah sedang menenangkan diri.


“Panggil Polisi dan ambulans pak, teman saya tertembak,” Dirga berteriak.


Karena saat itu belum ada telepon genggam yang bisa digunakan untuk memanggil Polisi segera, maka beberapa orang berlari ke kantor Polisi terdekat dan di sanalah mereka memanggil ambulans dengan menggunakan telepon kantor Polisi agar segera datang ke rumah ibu Badrun.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Polisi dan ambulans untuk sampai di lokasi, sementara Dirga dan Mulyana sudah ada di luar rumah, mereka ditemani banyak warga, sedang ibu Badrun diikat, karena kalau sampai dia bangung, mungkin dia akan mengamuk.


“Apa yang terjadi tadi, Ga?” Mulyana bertanya, dia masih menahan bahunya yang sudah diikat agar darah tak keluar lagi, sementara Dirga tidak terluka sama sekali.


“Saat aku memintamu berlari, aku menubruk tubuh ibu Badrun, aku menubruknya pada bagian pinggang, dan posisiku membungkuk, sedang kedua tangannya yang memegang pistol ada di atas punggungku, itu adalah tekhnik yang aku pelajari di tempat pelatihan, Yan. Kalau kita memegang pinggangnya lalu mendorong tubuhnya sembari menyundul tangannya yang memegang pistol, kemungkinan ketika dia menarik pelatuk, maka arah tembakannya akan ke atas karena sundulan kepala dan bahuku.”


“Jadi saat aku dengar suara tembakan itu, tembakannya mengarah ke atas?”


“Iya.”


“Kau tahu, rasanya lemas sekali, aku takut kalau kau akan kenapa-kenapa, aku benar-benar tidak akan memaafkan diriku jika saja kau terluka.”


“Berarti kau sangat sayang padaku ya?” Dirga mengejek sahabatnya.


“Sayang itu relative, aku hanya sedang kasihan padamu, anak ini keluarganya baru saja bercerai karena aku, sekarang kau harus terluka karena aku, itu yang aku pikirkan.”

__ADS_1


“Brengsek kau!” Dirga kesal, karena malah dia yang diejek sekarang, di umur yang sudah tua, mengalami broken home itu tidak menyenangkan.


Butuh waktu 20 menit akhirnya polisi dan ambulans datang, luka tembak memang berbahaya, Jika sebuah peluru mengenai atau bahkan merobek pembuluh darah utama, korban bisa mati kehabisan darah dalam hitungan menit. tapi Jika dapat menahan pendarahan untuk sementara, mungkin dapat bertahan selama berjam-jam atau bahkan  berhari-hari tanpa menerima perawatan medis yang memadai. Karena Dirga tahu cara menahan pendarahan, maka Mulyana masih bisa dikatakan baik-baik saja.


Mulyana langsung dibawa petugas medis untuk ke rumah sakit, sementara Bu Badrun harus dibawa Polisi, walau dia adalah seorang kerabat mantan Polisi, mereka berharap, saat ini dia bisa dihukum sesuai dengan perbuatannya, tidak bisa seenaknya lari lagi.


Walau lega karen tidak jadi korban tembak brutal nenek tua, tapi Mulyana dan Dirga belum menemukan jawaban atas pembunuhan itu.


Dirga ikut bersama Mulyana di ambulans itu, Mulyana harus dirawat selama beberapa hari, dia bisa pulih dengan cepat, katanya para Kharisma Jagat memang bisa curang kalau menghadapi penyakit.


Kehadiran Karuhun dalam hidup mereka, membantu luka fisik cepat sembuh. Tapi kelak Mulyana akan tidak bisa selamat pada kasus Aditia, apakah kalian ingat, ketika Mulyana harus terluka karena Aditia dan luka itu yang perlahan menggerogoti kesehatannya?



“Ga, kita harus segera keluar dari rumah sakit ini, sudah dua hari kita membiarkan kasus ini berlarut, entah bagaimana keadaan Yoga.” Mulyana mengingatkan, keluarganya Mulyana hanya datang pada hari pertama, Drabya melihat Mulyana yang baik-baik saja, pulang lagi dan tahu, dia akan lekas sembuh dan hanya membari wejangan agar lebih hati-hati, Drabya memang akhir-akhir ini sibuk sekali, dia selalu saja keluar rumah, bahkan pernah berhari-hari tidak pulang.


Sedang ibunya Mulyana lebih histeris hingga Aep akhirnya membawa pulang saja, karena takut membuat keributan.


“Iya aku tahu, tapi gimana caranya kau bisa keluar, kau belum dibolehkan untuk keluar.”


“Ah, aku tidak mau, aku tidak ikut dong?”


“Ya, bantulah aku, kau menyamar jadi aku ya, aku mohon.” Ada maksud lain kenapa Mulyana minta Dirga agar menyamar, karena dia ingin Dirga aman, Mulyana agak trauma karena kejadian kemarin.


“Baiklah, tapi upahku apa?”


“Kok minta upah? Kemarin bantu aku nggak minta upah? Ini pekerjaan mudah malah minta upah?”


“Ini tidak mudah, aku akan bosan, itu tidak menyenangkan.” Dirga membantah, dia berkata seperti seseorang yang berzodiak Gemini saja, zodiak yang terkenal bosanan. Kalau kalian, percaya zodiak nggak?


“Kau mau apa?” Mulyana bertanya.


“Jadikan aku partner kerjamu ya? Apapun yang kau lakukan akan selalu melibatkanku, janji?” Dirga memberikan jari kelingkingnya agar mereka saling berjanji.

__ADS_1


“Wah, itu sulit, aku tidak mau kau celaka.”


“Tapi aku ini calon Polisi, malah aku lebih mahir menghadapi penjahat manusia dibanding kau, kau itu mahirnya menghadapi ruh jahat.” Dirga membujuk, dia tahu, Mulyana mulai takut membawanya pada kasus karena kejadian penembakan itu.


“Ya, baiklah, tapi jangan pernah kau membahayakan diri sendiri ya, aku tak mau kau celaka karena aku.”


“Ya, kita berdua harus jaga diri, aku janji.”


Mereka lalu saling mengaitkan jari kelingking dan tertawa karena menjijikan sekali melakukan itu.


“Kenapa kau suka sekali ikut aku sih, Ga?” Mulyana bertanya.


“Karena seru, apalagi?”


“Tapi bahaya.”


“Ya itu, seru dan bahaya, seperti pekerjaan Polisi.”


“Kau akan jadi Polisi yang baik kelak Ga, aku yakin itu.”


“Ya dong, aku akan teguh pada pekerjaanku dan berdedikasi tinggi untuk bermanfaat bagi masyarakat.” Dirga bertekad.


Tentu saja, kelak hanya satu kesalahan bahkan Dirga mengundurkan diri saking merasa bersalahnya, satu kesalahan yang bahkan dia tak sengaja sama sekali, dia sudah melakukan banyak hal untuk menegakkan keadilan, tapi dia salah ambil keputusan, apakah kalian inga tapa kasusnya?



Kunjungan terakhir Dokter sudah dilakukan beberapa saat tadi, Mulyana langsung mengganti baju, dari baju pasien, ke baju yang sudah dibawa keluarganya, sementara Dirga memakai baju pasien, Dirga juga memastikan agar tangan Mulyana aman, Dirga tadi mengusahakan mendapatkan penyangga tangan agar Mulyana bisa menahan sakit di bahunya saat berjalan ke rumah istri Yoga.


Mulyana keluar dari kamarnya, mengendap dengan perlahan, berjalan dengan santai melewati banyak orang, dia memakai masker dan juga topi, agar tidak dikenali, tidak ada yang curiga walau saat itu tidak sedang covid, namanya rumah sakit, orang pakai masker itu biasa.


Mulyana terus berjalan, lalu dia berhasil keluar dari rumah sakit, tapi saat keluar gerbang, ada yang aneh, tiba-tiba suasana menjadi sepi, tak ada kendaraan satu pun, tak ada orang yang lewat, maka Mulyana sadar, sudah ada yang menariknya ke dunia lain, tepat setelah dia keluar dari gerbang rumah sakit.


“SIAPA ITU!” Mulyana berteriak, dia tahu kalau dia sedang dikerjai, tapi kenapa harus sekarang sih? Mana tangannya lagi terluka, mana bisa dia melawan orang saat ini.

__ADS_1


Tapi apa boleh buat, Kharisma Jagat bukan manusia biasa yang menghadapi hari dengan normal bukan?


__ADS_2