Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 331 : Bangga 9


__ADS_3

Enam sekawan sudah sampai di rumah Ani. Mereka melihat rumah itu semakin kotor dan tidak terawat.


“Ini rumahnya?” Yang lain bertanya.


“Ya, ini rumahnya.” Aditia menjawab dan dia langsung masuk ke halaman rumah itu, yang lain ikut.


“Assalamualaikum.” Aditia mengetuk pintu, pintu dibuka tidak lama setelahnya.


“Oh ini Mas yang waktu itu ya?” Rupanya ibunya Ani yang membuka pintu.


“Ka, langsung aja deh, biar nggak terlalu lama.” Aditia meminta Alka untuk menggendam semua orang yang ada di rumah ini agar tertidur, mereka tidak mau menunda lagi.


Alka lalu memegang wajah wanita itu dengan telapak tangannya, membaca mantra dan akhirnya perempuan itu tertidur, sementara Ganding mencari ayahnya Ani, ternyata dia ada di kamar, keadaannya agak aneh.


“Pak.” Ganding masuk tanpa perlu disuruh.


“Kamu siapa?” Ayahnya Ani bertanya.


“Tenang Pak, kami semua ke sini untuk menjemput Ani pulang.”


“Pulang ke mana? Rumahnya kan, di sini,” ayahnya bertanya lagi.


“Bapak kenapa?” Ganding bertanya.


“Saya tidak apa-apa,” ayahnya Ani menjawab.


“Kalau begitu, ayo kita berdiri,” Ganding meminta ayahnya Ani untuk berdiri, tapi dia diam saja, “kau tidak bisa berdiri kan?” Ganding menebak.


“Aku ingin bertemu anakku.” Ayahnya menerawang jauh, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Ganding lalu mengusap wajahnya, pria itu akhirnya tertidur karena digendam.


“Kenapa Nding?” Ganding keluar dari kamar orang tuanya Ani.


“Ayahnya sudah tidak bisa jalan.” Ganding terlihat khawatir.


“Berarti waktu kita memang tidak lama lagi.” Aditia juga khawatir. Sementara ibunya Ani sudah ditidurkan di kamar Ani.


Tiba-tiba petir bersahutan, cuaca yang tadinya sangat cerah tiba-tiba mendung dan muncul suara petir, tak lama hujan deras tanpa pertanda yang biasanya dimulai dengan gerimis.


“Ka, ini gawat, dia menciptakan dunia ghaib di rumah ini, dia sepertinya ingin menjadikan kita teman mainnya.” Aditia memperingatkan kawanan.


Lampu mati, gelap. Padahal tadi masih ada sedikit cahaya dari luar walau telah hujan deras, tapi sekarang tidak lagi, gelap gulita, dengan suara hujan dan petir yang bersahutan.


Ada suara anak kecil yang tertawa di tengah suara hujan itu. suara berlarian juga mengiringi suara tawa itu.

__ADS_1


Aditia dan yang lain waspada.


“Dit, kita harus gimana?” Ganding bertanya dengan berbisik.


“Ikutin yang dia mau, ingat, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mendekatinya.” Aditia mengingatkan.


“Ani mau main petak umpet?” Alisha berinisiatif untuk bertanya, sesuai perkataan Aditia, mereka harus mendekatinya.


Anak itu masih terus saja berlarian, sebelumnya dia berlari mengelilingi kawanan, tapi sekarang dia berlarian dengan menubruk kawanan hingga membuat kawanan jatuh karena tidak bisa melihat apapun.


“Ka, jangan berubah jadi jin, ingat! Kita harus mendekatinya, jangan sampai dia takut padamu.” Aditia kali ini mengingatkan Alka yang terlihat hendak berubah menjadi jin, karena tubuhnya seketika  mengeluarkan percikan, khas ketika dia akan berubah wujud menjadi jin.


Alka urung merubah wujudnya.


“Duh sakit Ani, jadi kita main apa nih?” Hartino kembali membujuk, tidak ada perlawanan sama sekali, mereka masih dalam posisi terduduk karena jatuh tadi.


Tangan dingin mulai menyentuh pipi Aditia dan Ganding, mereka sedikit terkejut, tapi membiarkan Ani melakukannya, mengingat mereka harus melakukan pendekatan pada anak ruh ini.


Aditia dan Ganding diam saja seperti patung. Tangan dingin itu perlahan menyentuh seluruh wajah Ganding dan Aditia.


Lalu terdengar bisikan, “Yang dipegang ... jadi patung!” Ani berbisik pada kuping Ganding, hawa yang keluar dari bisikan itu sangat dingin, membuat Ganding menggigil.


Ganding mengerti, maksudnya Ani ingin bermain jadi patung.


Aditia juga mengerti, sementara yang lain tidak tahu maksudnya. Karena tidak mendengar bisikan Ani.


Maka Aditia dengan cepat berlari ke arah kiri dan berteriak, “YANG DIPEGANG, JADI PATUNG!” Aditia memperingatkan semua orang, Ani tertawa cekikikan, khas tawanya anak kecil, dia senang semua orang ketakutan.


Ani kemudian berbisik lagi pada Ganding, “YANG BERGERAK, JADI MATI!” Persis seperti yang Aditia takuti, jika saja dia tadi tidak cepat bertindak dan memperingatkan kawanan, mereka pasti masuk jebakan anak ruh ini.


Tujuan Ani membuat kawanan merasa terancam karena tidak mengikuti maunya, yaitu yang dipegang jadi patung, karena tadi dia hanya berbisik pada Ganding sementara Aditia menguping, makanya dia tahu maksud Ani selanjutnya.


Untuk mencegah keadaan memburuk, Aditia bertindak cepat, walau itu juga membahayakan dirinya.


Sekarang kawanan tahu, kalau sampai Ani memegang mereka, maka harus jadi patung, kalau tidak, Ani akan menyerang mereka secara brutal. Maka pilihannya, akan jadi buah simalakama, dilawan mereka kena Biksa Karma, yaitu hukuman karena mencelakai anak ruh, tapi kalau tidak melawan, mereka juga dalam bahaya, walau sementara ini mereka selamat karena tindakan cepat Aditia tadi. Memberitahu kawanan kalau Ani ingin mereka jadi patung begitu disentuh.


Jarni merasa pipinya dingin, dia bisa merasakan bahwa Ani ada di dekatnya dan memegang pipinya. Jarni diam, pura-pura menjadi patung, tapi ularnya tetap mengawasi Ani, tidak bisa melawan, hanya memperhatikan, Jarni juga tidak memerintah mereka untuk melawan.


Kembali Ani mencari mangsa, kali ini dia mendekati Alisha, celaka! Alisha sudah dibuka mata batinnya oleh Alka, sehingga dia bisa merasakan kehadiran Ani, hingga akhirnya seperti yang lain, pura-pura menjadi patung.


Hingga genap semua orang menjadi patung, Ani tertawa karena punya banyak teman untuk diajak main.


Satu jam, Ani tetap waspada, dia tidak biarkan semua orang untuk bergerak, posisinya siap menyerang, dia bersiap dengan posisi seperti binatang, kaki dan tangannya menjadi tumpuan tubuhnya.


Kawanan tidak punya cara untuk bergerak, jangankan melawan, bergerak saja mereka tidak mampu.

__ADS_1


Alka membaca mantra dalam hati, ini terpaksa dia lakukan, karena sudah tiga jam berlalu mereka jadi patung, Ani tidak juga melepaskan mereka.


Saat selesai membaca mantra, Alisha tiba-tiba terjatuh, dia kembali ke dunia nyata, tidak berada di dunia yang Ani ciptakan lagi.


Keadaan terang benderang, tidak hujan dan sahut-sahutan petir, Alisha tahu maksud Alka melepas mantranya hingga Alisha menjadi manusia biasa lagi yang tidak terbuka indera keenamnya, agar Alisha tidak bisa melihat alam ghaib, dengan begitu, Ani tidak bisa menyentuh Alisha lagi. Alisha melihat kawanan masih tidak bergerak.


Alisha berlari ke luar, dia pergi ke angkot bapak dan mengambil sesuatu, setelah mendapatkannya, dia kembali ke ruang tamu rumah Ani itu, mendekati Alka dan berbisik ....


“Di mana dia?” Alisha berbisik tepat di telinga Alka, karena mereka sebenarnya terpisah dunia walau kawanan menjadi patung, tapi sukma mereka berada di dunia yang diciptakan oleh Ani.


Alka melirik ke kanan, gerakan yang sangat lembut hingga Ani tidak sadar, maksudnya Alka memberitahu Alisha bahwa Ani ada di sebelah kanan, Alka bisa merasakannya.


Alka mendengar bisikan Alisha makanya dia memberi kode walau dia tidak bisa melihat Alisha yang ada di dunia nyata.


Alisha yang tahu di mana Ani, langsung melempar ramuan yang Alka buat, ramuan itu dilempar ke sekeliling kawanan kecuali sebelah kanan yang Alka katakan, karena Ani tidak boleh sampai terluka, ramuan itu Alka yang buat, kalau sampai ramuan itu mencelakai Ani, maka celakalah Alka.


Setelah ramuan itu mengelilingi kawanan, Alisha kembali membisiki Alka, dia siap untuk menarik kawanan satu persatu dari dunia ghaib yang Ani ciptakan itu. Tapi terlebih dahulu Alka harus membaca mantra, ini adalah mantra yang mengaburkan penglihatan Ani, sehingga dalam penglihatan Ani, kawanan masih menjadi patung, padahal itu adalah efek dari ramuan yang Alka ciptakan, semacam gendam yang dilakukan pada anak ruh itu, seolah dia terhipnotis melihat wujud kawanan tapi sebenarnya kawanan akan dilepaskan ke dunia nyata melalui mantra dan juga ramuan yang sudah Alisha sebar sebelumnya.


Alka membaca mantra, setelah mendengar Alisha berbisik bahwa dia siap, orang yang pertama Alisha tarik tubuhnya adalah Jarni, lalu Ganding, Hartino, Aditia dan terakhir Alka.


Mereka jatuh terduduk karena lelah, tiga jam berdiri mematung.


“Alisha, untung kau berhasil!” Ganding dan yang lain bernafas lega.


“Kita tidak bisa mengelabuinya terus menerus, dia akan sadar cepat atau lambat.”


“Nding, istirahat dulu, nanti balik lagi, biar dia ketipu sama gendam, mantra dan ramuan Alka, bentar aja Nding, capek tahu jadi patung!” Aditia belum punya cara, tapi sementara dia butuh istirahat dari lelah menjadi patung.


“Anak itu saat ini pasti masih dalam posisi siap menyerang, dia ingin bermain kasar dengan kita.” Alka mengingatkan semua orang untuk hati-hati, “dia masih tertipu saat ini karena kena gendam mantra dan ramuan yang tadi ditebar Alisha, sekarang kita cari orang tuanya, aku akan mengendalikan ibunya dulu, aku akan bawa dia bermain dengan anaknya.” Alka kesal, sehingga dia memiliki cara gila untuk membuat Ani menurut.


“Ka, mau ngapain?” Aditia mengejar, padahal dia butuh istirahat.


Setelah mendapatkan tubuh Ibunya Ani yang masih terkulai karena gendam, Alka membaca mantra, memegang punggung ibunya Ani. Tangannya berubah menjadi wujud jin, tangan itu perlahan masuk ke tubuh ibunya Ani melalui punggungnya dan menarik sesuatu.


“Kau mengeluarkan sukmanya!” Aditia berteriak.


“Aku akan ajak ibunya masuk ke dunia yang Ani buat, anggap saja ini sandera.” Alka menarik sukma ibunya Ani yang terlihat menatap kosong ke depan, tidak heran, karena Alka mengikat tubuh ibunya Ani dengan ikatan ghaib, itu membuat sukmanya patuh.


“Ka, kamu yakin Ani akan luluh? Bukannya dia bakal marah?” Alisha mengingatkan.


“Kau berjaga di luar, jika kami butuh kau mengeluarkan kami lagi dari dunia Ani, kau harus siap. Soal ibunya, ini hanya tebakanku, jika tebakanku benar, maka mungkin kita bisa berhasil membuat kesepakatan dengan Ani.”


“Sekarang banget nih?” Aditia mengeluh, dia kelelahan.


“Sekarang!” Semua berteriak bersamaan.

__ADS_1


Aditia kesal karena masih lelah.


__ADS_2