Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 85 : Borok 2


__ADS_3

Ganding membuka percakapan, “Dia tidak kerasukan, artinya kemungkinan dia terkena mantra, kalau aku fikir ini mantra, bisa jadi mantra dari orang yang tidak suka padanya.”


“Mantra apa?” Alka bertanya, sedang Ami sudah tertidur, Alka kasihan, jadi dia menidurkannya.


“Ka, tubuhmu gimana?” Aditia memotong.”


“Dit!” Semua orang kesal karena dia tidak fokus.


“Serius, udah berapa jam ini.” Aditia tidak mau kalah.


“Sudah dibawa oleh teman jinku, sebentar lagi dia sampai mengantar tubuhku.” Alka menjawab.


“Baiklah.”


“Lanjut Nding, mantra apa?” Alka bertanya.


“Mantra sakit, mungkin orang ini tidak suka padanya lalu mengirim mantra ini.”


“Santet Nding?” Aditia menyelak lagi.


“Mantra Dit! Kalau santet orang biasa minta tolong dukun, ini dia kemungkinan punya ilmu sendiri.”


“Oh gitu.”


“Dit elu motong omongan orang lagi, gue lempar ular gue ke mulut lu.” Jarni kesal karena Aditia mengganggu jalannya diskusi.


“Berarti kita harus tanya dia ketika sadar, apakah dia curiga pada orang, kalau dia tidak bisa jawab, kita bisa tanya pada orang terdekatnya, sahabat dan pacarnya.”


“Ok Nding, masuk akal. Sekarang siapa lagi?”


“Aku Kak, menurutku bukan mantra, tapi pelet, dia minta tolong dukun, untuk membuat badannya menjadi buruk seperti itu, agar hanya dia yang bisa memilikinya.”


“Itu juga masuk akal sih, kalau bukan aku, orang lain juga tidak boleh, hih ….” Ganding merinding memikirkan itu.


“Ok, Aditia menurutmu apa?” Alka bertanya lagi.


“Hmm, aku fikir mantra masuk akal, tapi jujur aku tidak melihat adanya kiriman, tidak ada pemantau, kalian tahukan, kalau ada kiriman mantra pasti ada pemantau, baik manusia atau jin, karena si pengirim yang punya ilmu ini harus memastikan yang dia kirim itu sampai.


Kedua santet, jika kita terobsesi pada suatu objek, katakanlah orang ini sangat menginginkan Ami, apakah dia ingin merusaknya? Ada satu jenis pelet pengrusak, tapi hanya merusak mata orang-orang yang melihatnya, tidak secara langsung merusak tubuhnya, ini sudah keterlaluan, tubuhnya menjadi berbau busuk, dibanding pelet, aku melihat ini seperti santet.”


“Jadi kamu merasa ini santet.”


“Nggak juga Ka.”


“Yaelah!” semua orang kesal karena Aditia bertele-tele.


“Jadi apa?” Alka bertanya lagi.


“Benda keramat.”


“Ok, lanjutkan.”


“Benda keramat yang dia langgar, hingga penunggu benda itu marah dan mengutuknya.”


“Kutukan?” Alka lumayan tertegun, dia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu.


“Iya kutukan dari Si Penunggu benda itu, aku pernah membaca kasus ayah dulu, jadi waktu itu ada sekumpulan anak muda yang main ke suatu museum, lalu dia melihat tanda jangan dilewati, tapi dia melewati tanda itu dan bermain-main dengan benda peninggalan jaman dulu, setelahnya dia sakit beberapa hari, lalu meninggal.


Kata Ayah yang datang di pemakamannya, terdapat bau busuk dan sekujur tubuhnya luka-luka, ayah tidak bilang itu borok seperti ini di bukunya, dia hanya bilang itu luka-luka saja.”


“Kutukan ya, aku belum pernah dengar hal semacam ini, mungkin saat bapak menangani kasus ini, aku sedang sibuk bersama ayahku dulu.” Alka mengingat itu kembali, hal yang dia sesali.


“Jadi kita harus apa Kak?” Ganding bertanya.


“Kita bagi dua tim, Ganding, Jarni dan Hartino kalian cari orang yang suka, yang benci atau yang pura-pura baik, gunakan intuisi kalian untuk menilai orang itu, kita akan menggunakan dua kemungkinan tersebut untuk tahu, Ami terkena apa.”

__ADS_1


“Jadi Kakak sama Aditia?” Hartino meledek.”


“Ya, kau mau dengannya?”


“Tidak, dia bodoh dan lamban.” Hartino lalu membuka pintu, Aditia kesal sekali mendengar di dikatai oleh Hartino, tapi tidak bisa membalas karena orang tua Ami sudah masuk kamar.


“Bagaimana ini Ami?” Ayahnya bertanya.


“Dia tidak kerasukan, ini teman-teman indigo saya tidak melihat dia kemasukan, kami akan menanyakan beberpa pertanyaan ya, kita biarkan Ami isitrahat dulu, dia sedang tidur.” Aditia lalu menggiring semua orang ke ruang tamu, tempat mereka pertama kali masuk ketika datang ke rumah ini.


Alka keluar rumah untuk masuk kembali ke tubuhnya, tubuh itu diantar oleh jin temannya yang terbiasa membantu Alka, ketika sudah masuk, Hartino izin membuka pintu dan bilang ada teman mereka yang satu lagi dan mau membantu.


Saat semua sudah berkumpul, lalu Alka memulai pertanyaan.


“Pak, apakah Ami baru saja menolak menikah dengan seseorang?” asumsi ini  untuk pelet.


“Tidak, dia masih kuliah, pacaran saja tidak.” Ayahnya berkata dengan tegas, tentu kadang orang tua tidak tahu anaknya mungkin saja menjalin kasih, nanti pernyataan ini akan dikoreksi kelak oleh Hartino dan timnya.


“Kalau musuh ada?” Alka bertanya lagi.


“Musuh? Teman saja tidak punya, bagaimana dia punya musuh?”


“Tidak punya teman?” Alka bingung, Ami bukan seperti Alka, setengah jin dan manusia, apa yang membuatnya tidak punya teman?


Sementara ynag lain menjadi mengerti kenapa tadi ayahnya Ami seperti kaget ketika Aditia mengaku teman Ami dan mau menjenguk, dia seperti senang sekali.


“Ami itu pendiam, dia sukanya menyendiri dan tidak mau berteman, dia bilang tidak suka kalau akhirnya harus berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi, jadinya dia memilih tidak berteman.”


“Kenapa harus berpisah?” Aditia bertanya.


“Karena pekerjaan saya, saya bekerja di perusahaan tambang, kami harus berpindah sesuai dengan wilayah dinas, kami baru pindah ke sini sekitar dua tahun. Ini yang membuat Ami enggan berteman, dulu sekali dia pernah punya sahabat, tapi akhirnya harus berpisah karena kepindahan kami ke Padang, perpisahan itu membuat Ami menangis berhari-hari, waktu itu kami fikir karena dia masih kecil, jadi wajar kalau dia ketakutan kehilangan lagi, tapi ternyata pemahaman itu sampai saat ini masih dia pegang, tidak punya teman.”


“Kasihan sekali.” Jarni berempati, karena sebelum ini dia juga seperti Ami, sebelum bapak menemukannya dan tergabung dalam tim.


“Baik, musuh tidak punya, teman tidak punya dan kekasih kemungkinan juga tidak menelisik dari pemahamannya tentang hubungan, terakhir, apakah kalian punya benda pusaka?” Alka bertanya kembali.


“Buntu,” Alka berkata.


“Tapi sebentar, kami dua minggu lalu dari rumah ibuku, kami berkunjung karena beliau sakit, kalau difikir-fikir, mungkin saja ibuku punya benda pusaka, karena dia orang jama ndulu yang percaya hal seperti itu.”


“Pak, kami bukan orang jaman dulu, tapi percaya tuh hal seperti itu, bukan karena usia, tapi karena pemikiran.” Hartino kesal mendengar itu.


“Har!” Alka menegur, karena Hartino tidak sopan.


“Maaf Pak.” Hartino meminta maaf.


“Bisa kami ke sana?” Alka bertanya.


“Bisa, saya akan kasih alamatnya, tapi … anak saya bagaimana?”


“Jangan hubungi dukun atau orang pintar lain, percaya kamu.” Alka menjawab.


“Maaf De, mau tanya, tarifnya berapa ya?”


“Astaga!!” semua orang berteriak mendengar itu, karena mereka kesal, selalu saja pertanyaan itu.


“Kami tidak ada tarif Pak, kami tidak memungut biaya apapun, kami hanya membantu, apalagi ini teman kampusnya Aditia, jadi tidak perlu menyiapkan uang untuk kami, cuma minta tolong kooperatif saja setiap kami butuh informasi.” Alka menjelaskan.


“Baiklah, kalian baik sekali, terima kasih, semoga Tuhan selalu melindungi kalian.”


“Aminnnn.” Semua orang menjawab.


...


Lokasi neneknya Ami ada di Bandung, suatu desa bernama Lilaireun, desa yang cukup asri dengan banyaknya pematang sawah.

__ADS_1


Alka dan Aditai menggunakan angkot untuk sampai ke sana, sementara yang lain ke kampus Aditia, memastikan kembali bahwa Ami tidak punya kekasih atau musu.


Begitu sampai mereka mencari alamat yang sudah diberikan oleh ayahnya Ami, tidak terlalu sulit mencari karena rumahnya rapih dan nomornya sesuai urutan, ukuran rumah pun besar-besar dengan halaman yang luas ditumbuhi berbagai pohon yang ranum-ranum, ada pohon mangga, jambu dan yang lainnya.


Saat sudah menemukan rumahnya, Aditia mengetuk pintu rumah itu, lalu seseorang membukanya dari dalam.


“Siapa ya?’ seorang wanita paruh baya bertanya.


“Saya Aditia Bu, apakah benar ini rumah Nenek Ninta?” Aditia bertanya, karena dia yakin, ibu yang membukakan pintu untuknya bukanlah neneknya Ami karena umurnya terlihat masih sekitar empat puluh tahun.


“Oh Nenek Enin, iya bener, kalian siapa ya?” dia bertanya dan belum menyuruh mereka masuk karena takut mungkin, tentu saja untuk ibu ini, Aditia dan kawan-kawan adalah orang asing.


“Kami temannya Ami, mau membawa kabar tentang Ami, kami perlu bertanya beberapa hal, mungkin supaya Ibu tenang, silahkan telepon ayahnya Ami anak dari Nek Enin, dia akan menjelaskan kedatangan kami.”


“Baik, tunggu di sini ya.” Ibu itu masuk dan menutup pintunya, tidak lama kemudian dia membuka pintu lagi.


“Maaf ya, menunggu lama, silahkan masuk, tadi Bapak bilang kalian memang mau ketemu sama Nek Enin. Silahkan duduk di sini.” Ibu itu menyuruh mereka  berdua duduk di ruang tamu, rumahnya besar, tidak terkesan mewah tapi sangat sejuk sekali, tidak terasa aura panas dari penunggunya.


“Terima kasih ya Bu.”


“Iya sama-sama, mau pada minum apa? Kopi? Teh? Atau mau coklat?”


“Kopi.” Alka dan Aditia serempak menjawab, karena dari tadi mereka belum minum kopi sebab mencari rumah dan tidak ingin membuang waktu, sekarang ditawari minum tentu kopi sebagai pilihannya, ditambah kopi di desa pasti lebih wangi.


“Baik kalau begitu, Ibu buatin dulu nyak, sambil manggil Nek Enin supaya bisa ngobrol.” Lalu ibu itu pergi ke kamar dan keluar dengan seorang Nek Enin, Nenek itu sudah terlihat sangat tua tapi cara jalannya masih sangat ajeg dan sikap tubuhnya juga masih terlihat tegap, tidak membungkuk, hanya keriput saja yang membuat dia teridentifikasi sebagai seorang nenek.


“Halo semuanya, teman-temannya cucu saya ya? Ami? Ada apa ini ke sini? Lagi liburan?” Nek Enin bertanya, dia duduk di hadapan mereka semua dengan kursi goyang yang baru saja diambilkan oleh ibu itu, ibu yang ternyata adalah Asisten Rumah Tangganya Nek Enin.


“Tidak Nek, kami ke sini sebenarnya membawa kabar tidak enak, mungkin ayahnya Ami belum kasih tahu karena takut Nenek menjadi khawatir.”


“Oh ya, ada apa ya?” Nenek ini begitu ramah dan sangat santun.


“Ami ... Ami sakit Nek, sakit yang tidak biasa.” Lanjut Aditia.


“Sakit tidak biasa? Sakit apa?” raut wajah khawatir sangat terlihat di wajah Nek Enin.


“Ami sepertinya terkena kutukan barang pusaka, makanya dia sakit, dia sering lepas kontrol tujuan kami ke sini sebenarnya untuk membantu Ami melepas kutukan itu.” Aditia menjelaskan.


“Astagfirullah, cucuku yang cantik kasihan sekali.”


“Maka dari itu Nek, bisa bantu kami, apakah Nek Enin punya benda pusaka yang tidak sengaja di pegang Ami? Karena Ami sakit setelah berkunjung ke desa ini.”


“Kalau benda pusaka tidak punya, saya dilarang suami mempunyai benda seperti itu, maklum, suamiku itu ustad di kampung ini, jadi kami tidak diperkenankan memiliki benda pusaka, lihat, foto nikah saja kami tidak ada, karena memang tidak boleh oleh suamiku.”


“Jadi tidak ada benda pusaka itu ya Nek?” Aditia dan Alka terlihat lemas.


“Tapi sebentar, kalau waktu dua hari sebelum pulang, Ami pernah cerita ke saya kalau dia mau bermain ke belakang, rumah temannya dulu, Ami kan pernah sekolah di sini sekitar empat tahun, makanya dia mau mengunjungi teman lamanya, rumahnya di belakang rumah ini, coba ke sana tanya, jangan-jangan temannya itu yang punya benda pusaka, kalau di sini tidak ada yang seperti itu.” Nenek Enin terlihat tenang sekali menjelaskannya, Alka juga tidak menemukan kecurigaan dari gerak-gerik Nek Enin, dia percaya bahwa di sini memang tidak ada benda itu, karena begitu kau masuk, rumah ini terasa sejuk sekali.


“Baik kalau begitu saya dan Alka akan kerumah temannya Ami itu.”


“Eh sebentar, perginya sama Bibi aja ya, Bi ....” Nek Enin memanggil Asisten Rumah Tangganya dan meminta dia mengantar Alka dan Aditia ke rumah temannya Ami.


Setelah mereka meminum kopi buatan bibi, akhirnya mereka bergegas ke rumah temannya  Ami yang tinggal di belakang.


_________________________________________


Catatan Penuils :


Terima kasih buat yang suka Visual 3 serangkai ya, kalau ada yang merasa kurang pas, nggak apa-apa kok, karena sebenarnya visual itu hanya untuk merefleksikan tampilan mereka sesuai imajinasi kita, jadi kalau imajinasi kalian berbeda denganku, aku tidak masalah, silahkan lanjutkan dan tetap membaca karyaku ya.


Oh ya, kalau yang belum Follow aku, ayo dong Follow, biar besok kalau aku update part kalian akan bisa dapat notif plus kalau aku keluarin buku baru.


Btw kalau mau kenal deket sama aku, kalian add FBku ya, aku suka update daily kehidupanku di sana, tentang anakku dan kehidupan keluargaku, termasuk release fotoku.


Jadi kalau mau kenal aku lebih dekat, add FBku ya.

__ADS_1


Terima kasih, jangan lupa Vote dan kasih kami hadiah ya.


__ADS_2