Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 138 : Saba Alkamah 23


__ADS_3

Dia menatap semua orang dengan tatapan dendam yang sangat membara, seperti ada api di matanya, api itu siap melahap semua orang dengan tatapan panasnya.


Semua orang berlarian, Pak Kades sudah menghilang duluan, dua orang yang sudah terbakar merasakan apa yang disarakan oleh ayahnya dan juga utusan Pak Kades yang sudah percaya pada tuannya, malah ditumbalkan atas nama kekuasaan.


Semua rumah tertutup, warga gemetar mengintip dari balik jendela, berharap Alka hanya akan pergi saja, tidak melakukan hal yang mengerikan seperti barusan yang dia lakukan pada dua orang suruhan Pak Kades.


Dua orang itu masih saja kejang-kejang dengan tubuh gosong, Alka melewati mereka, tak satu orang pun yang berusaha menolong, termasuk tuannya.


Alka mendekati satu rumah, di dalam rumah ada seorang lelaki dan istrinya, mereka menahan pintu dengan terburu-buru berharap itu bisa menahan Alka masuk ke rumahnya.


Alka telah membawa jerigen minyak tanah dan juga obor di kedua tangannya, sisik di tubuhnya semakin banyak, perubahan tubuhnya perlahan terjadi, wujud jin yang tersembunyi selama ini akan keluar.


Alka mendorong pintu itu dengan kakinya, hanya satu kaki, meja yang menahan pintu terlempar, tuan rumah yang merupakan suami istri sedang anaknya sekolah di desa lain, terpental kena benturan meja yang terpental itu, karena mereka posisinya sedang menahan meja agar pintu tidak bisa dibuka.


“Alka dengar Nak, maafkan kami Nak, kami tidak bermaksud untuk membunuhmu, kami hanya terhasut omongan Pak Kades yang mengatakan bahwa kau anak sial, kami tidak ada niat membunuh ibumu, kami hanya terprovokasi dan tidak benar-benar percaya.”


Suaminya memohon keselamatan mereka berdua.


Alka menatap mereka dengan tatapan kosong, dia menyebar minya tanah itu di sekeliling rumah, tapi sudah memastikan pintu rumah tertutup, sehingga calon korban tidak bisa kabur.


Obor yang dia pegang diacungkan kepada dua orang suami istri itu.


“Jangan Alka, jangan! atau kau boleh membakar dia, kau bakar dia, tapi izinkan aku pergi, aku mohon.” Seperti dugaan Alka, mereka memang pantas mati, suaminya mendorong wanita yang merupakan istrinya untuk dibakar agar nyawanya selamat.


“Bang! kau gila. Alka, dia ini berbohong, dia ikut merencanakan pembantaian ini, kau harus membunuhnya, kau bunuh dia dan izinkan aku pergi.” Istrinya sama dengan suami, dia menyodorkan pasangan yang sudah hidup belasan tahun untuk dibunuh agar nyawanya selamat.


“Kalian ini sampah!” Suara Alka sangat berat dan bergema, “ibuku bahkah jauh lebih mulia dari kalian, dia mengorbankan nyawanya agar anak yang kalian teriakan sebagai anak iblis ini bisa selamat, kalian diam saat ibuku kejang karena panas di sekujur tubuhnya, kalian diam dan menatap saja, aku memperhatikan kalian satu-persatu. Kau bahkan tersenyum tipis saat ibuku tebakar.” Alka menunjuk istrinya.


“Sudah kubilang, dia memang bukan wanita baik, aku akan membantumu membakarnya, bagaimana?” Suaminya mendorong istrinya lagi dengan kaki, sehingga istrinya jadi tersungkur.


“Alka membakar tubuh istrinya dan melempar obor ke arah suaminya, mereka berdua tidak bisa lari, tubuh itu perlahan terbakar, sama seperti ayah dan ibunya, terbakar karena keserakahan, kebodohan dan kemunafikan.


Kau aku bakar karena tersenyum saat ibuku dibakar, Alka berkata di depan tubuh wanita yang masih kejang itu karena kepanasan dan kau aku bakar karena pengecut. Sampah seperti kalian, harus dibakar, kalian pantas bersatu di neraka.” Alka tertawa, suaranya melengking berbeda dengan suara sebelumnya yang berat, dia tidak kerasukan, karena dia tidak punya khodam, dia memang bukan manusia bisa.

__ADS_1


Setelah memastikan mereka berdua mati, Alka melanjutkan perjalanan balas dendamnya ke rumah kedua, ketiga, keempat dan kelima.


Alka tidak menyesal telah membunuh mereka satu persatu, tidak ada satupun dari mereka sesetia ayahnya pada ibu dan anak angkatnya, tidak ada setulus ibunya dalam merawat Alka, semua terlihat sangat pengecut dan egois saat dihadapkan pada bahaya yang mengancam jiwa.


Alka semakin merasa terpuruk karena tidak mampu menjaga ibunya, andai dari awal dia tahu bahwa dia memiliki kemampuan untuk melawan, tentu ayah dan ibu angkatnya masih bersama dia saat ini.


Sudah lima rumah yang dia bakar, masih tersisa begitu banyak rumah lagi, Alka memutuskan untuk terus membakar rumah yang lain tanpa masuk, dia membakar, rumah keenam, ketujuh, kedelapan hingga seterusnya, sudah dua puluh rumah yang dia bakar, ini adalah pembunuhan besar-besaran, orang-orang yang tidak Alka lihat hadir, tidak dia bunuh, dia hanya membakar semua orang yang dia lihat datang membawa obor dan menuntut agar dirinya dibakar.


Orang yang tidak bersalah, tidak hadir dalam niat membantai keluarganya tidak dia datangi, tidak dia bantai.


Suasana desa mencekam, semua orang yang tersisa karena sikap tidak percayanya pada berita tentang Alka anak sial itu, menyelamatkan mereka dari perburuan. Mereka menutup pintu rapat, mematikan lampu.  Anak iblis telah menjadi momok menakutkan di desa mereka. Tidak ada yang berani keluar, mereka bersembunyi seperti pengecut.


Rumah disekitar rumah Alka telah habis dilalap api, menjadikan wilayah itu desa mati kelak.


Alka tidak menghentikan perburuannya, seingat dia, hanya ada satu keluarga lagi yang belum dia balas, keluarga Pak Kades.


Sementara bagi warga yang letak rumahnya jauh dari rumah Alka mereka tidak tahu menahu tentang trageri yang terjadi, Alka berjalan melewati rumah warga yang mungkin tidak tahu apa yang telah terjadi, karena desa ini terdiri dari beberapa ruku tetangga, jadi rumah yang letaknya jauh dari rumah Alka tentu tidak tahu menahu bahwa ada anak iblis yang sedang membalas dendam.


Dini hari Alka masih terus berjalan menuju rumah Pak Kades. Dia tidak akan berhenti sampai akar itu tercabut, dia tidak perduli, bagi anak lima tahun yang sedang dendam kesumat, yang dia tahu hanya satu, mati atau membunuh mereka, tidak ada pilihan lain.


“Keluar kau! keluar!” Alka berteriak, kali ini suaranya menjadi berat dan menggema kembali, Pak Kades dan istrinya melindungi anaknya yang masih remaja dan balita, mereka meminta pelayannya untuk membawa kabur anak-anak mereka lewat pintu belakang.


Sementara Alka telah berhasil masuk, dengan mudah dia mendobrak pintu rumah Pak Kades itu.


Alka sudah tidak membawa obor, tapi dia membawa kapak, dia kehabisan minyak tanah dan obor telah lama mati saat dia berjalan.


Pak Kades terpaksa keluar, karena dia tidak ingin Alka mengejar mereka sampai ke pintu belakang di mana istri dan anaknya sedang berusaha kabur.


“Alka, apakah kau lupa, akku adalah orang yang menolongmu agar kau bisa hidup enak di desa ini?” Pak Kades mencoba mengulur waktu, dia sudah memanggil Polisi untuk datang, tapi tidak akan mudah bagi Polisi untuk datang ke desa mereka, apalagi desa mereka dan kantor Polisi terdekat letaknya sangat jauh, satu jam perjalanan. Kantor Polisi itu dekat pasar.


“Kau yang lupa? Bahwa aku yang membuat desa miskinmu menjadi makmur.” Alka tidak lagi bicara sebagai anak lima tahun, dia bicara sebagai perwakilan ibu dan ayahnya yang telah tiada dibunuh oleh orang dihadapannya.


“Kau hanya terlalu percaya diri, itu semua karena diriku, desa ini bangkit karena diriku, bukan karenamu.”

__ADS_1


“Kau pikir tanah di desa ini akan subur tanpa air liurku? Kau pikir aku lupa, bagaimana kau membawa mainan, makanan dan baju-baju itu untuk menyenangkanku. Jadi, kau yang terlalu percay diri, kau yang merasa dirimulah yang membangun desa ini, padahal seorang ludah anak kecil lah yang membuat desa ini makmur!” Alka berteriak.


“Bukan! kau anak setan! Jangan mengarang kau! desa ini menjadi makmur karena diriku, desa ini makmur karena aku yang cerdas, aku yang memanfaatkan peluang, aku yang membangun desa ini dengan seluruh kemampuanku!” Pak Kades masih saja membanggakan diri.


“Lalu, apa yang kau bisa lakukan sekarang? Apakah kau bisa menyelamtkan puluhan orang yang telah kubunuh di belakang barusan? Apakah kau bahkan bisa menyelamatkan dua orang yang kubakar duluan tadi? Kau itu hanya pengecut sialan!” Alka berteriak, lalu melanjutkan perkataannya, “ayahku begitu percaya padamu, orang kau kau utus untuk memberitahu ayahku bahwa juragan akan membuat kami dibantai pun, pasti hanya kebohonganmu pada utusan tersebut, kau tahu bahwa utusan itu akan selalu memihak ayahku, makanya kau habisi juga bukan?!”


“Oh, lelaki bodoh itu?” Pak Kades berkata sambil tertawa, sungguh tak ada hati nurani sama sekali.


“Apakah aku benar, bahkan juragan pun hanya akal-akalanmu bukan?” tanya Alka.


“Tentu saja, juragan datang ke rumah ini terkait dokumen yang dia perlukan untuk pindah. Tapi lelaki yang sangat percaya pada ayahmu itu langsung menuduh juragan hendak membuat huru-hara dengan memfitnah ayamu, maka dari itu, aku langsung mendapatkan ide. Untuk membunuh ayahmu, bersama dengannya, alih-alih melindungi mereka, karena kalau mereka masih ada, akan sulit menghabisimu. Salahnya, terlalu curiga pada juragan, padahal juragan sudah tidak perduli lagi dengan desa ini.”


“Kau takut padaku bukan?” Alka tersenyum sinis mendengar penjelasan itu dari Pak Kades.


“Aku? kau hanya anak lima tahun.”


“Apakah pujian dari orang kota membuatmu lupa diri dan merasa bahwa desa ini memang benar kau yang membangunnya hingga makmur!”


“Tentu saja aku yang membuat desa ini menjadi makmur, perdagangan terlaksana dengan partai besar, penyediaan barang tepat waktu, pembangunan di desa ini hanya tinggal menunggu waktu, bagaimana aku tidak bangga?”


“Tapi bukan kau yang membuat desa ini menjadi makmur, kau takut, takut kalau orang kota dan pemerintah pusat tahu, bahwa ada aku. Aku yang membuat desa ini mendapatkan keajaiban!”


“Ya, kau hanya pembuka jalan, tapi aku yang membuat desa ini berkembang.”


“Jadi benar dugaanku. Sejak ayah pulang dari menemanimu bertemu pemerintah pusat sebagai perwakilan desa dia bercerita padaku, bagaimana kau dipuji karena telah membangun desa ini, ayahku bercerita sembari tertawa, karena dia tahu, kau tidak berperan besar.


Ayahku yang seorang baik dan jujur bertahan dengan diam agar nama baikmu terjaga, tapi apa yang dia dapat? Kau bakar dia hidup-hidup dengan sangat kejam!”


“Salahnya bermulut besar, setiap kali semua orang kota memujiku, aku tahu, ayahmu menyimpan senyum licik itu, senyum bahwa dia tahu yang sebenarnya, aku benci senyum licik dari ayahmu itu, andai bisa, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, tapi aku terlalu takut kalau sampai ada yang lihat.”


“Kau ingin kuhabisi dengan cepat atau perlahan? Apa aku sekalian bawa anak istrimu untuk melihatmu habis terpanggang perlahan?” Alka tertawa dengan puas.


“Kau memang anak iblis!” Pak Kades berteriak dan hendak lari, tapi tiba-tiba kakinya tertahan, tertahan oleh sesuatu, ternyata Alka telah melempar kapaknya yang tepat mengenai kaki Pak Kades, kapak itu menancap tepat di kakinya dan juga lantai, hingga dia tidak bisa bergerak dan berteriak histeris karena kesakitan.

__ADS_1


“Apa ini sakit? apa aku perlu membakarmu dengan percikan dulu? Aku ingin anakmu ada di sini dan melihatmu terbakar kesakitan, aku ingin dia tahu, bahwa begitu sakit melihat orang tuanya dibunuh di depan matanya, ibuku bahkan tidak menangis saat wajahnya terbakar, karena dia tidak ingin melihatku sedih.


Tatapan terakhirnya sungguh sangat menyedihkan, dia yang menyayangiku dan percaya aku bukan anak iblis sampai akhir hidupnya. Padahal, semua yang kalian katakan benar, aku adalah anak iblis!!!”


__ADS_2