Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 319 : Bus 404 (22)


__ADS_3

“Kenapa kita tidak bertindak?” Parmin bertanya setelah mendengar penjelasan dari Ganding. Mereka sudah diangkot lagi.


“Karena kalau kita menarik Winda saat itu juga, kemungkinan mereka akan waspada pada kita Pak, lalu kemungkinan berikutnya, kita akan masuk penjara karena dianggap menculik seorang mahasiswi.” Ganding menjelaskan.


“Kita temukan dulu kelemahannya Pak, jangan gegabah, itu kenapa Ganding yang selalu jadi andalan strategi perang kita Pak.” Aditia memberitahu Pak Parmin.


“Kalau dalam regu saya, kami memang punya strategi perang, tapi bertindak dengan cepat juga harus dilakukan, memastikan musuh tidak punya kesempatan untuk berkutik lagi.” Parmin tidak setuju dengan langkah yang dilakukan dua anak muda ini, terlalu lamban sepertinya.


“Pak, santai pak, ini bukan perang antar negera apalagi melawan pemberontak, kita berhubungan dengan makhluk ghaib, yang maunya saja kita tidak tahu apa, pertama, temukan Winda dulu, maksudku jiwa Winda Pak, aku yakin dia ditinggalkan di hutan itu, sekarang kami sudah yakin bahwa memang yang Aditia rasakan , seperti sesuatu tertinggal adalah memang ada yang tertinggal.”


Karena mereka sudah tahu bahwa bukan Winda dalam tubuh Winda, makanya mereka sekarang akan mencari jiwa itu dulu, dia pasti ketakutan sekarang, sendirian entah di bagian mana hutan itu.


Mereka ke kampus itu lagi, tujuan mereka adalah hutannya, bukan kampusnya.


Saat sampai di pos Parmin untuk mengambil beberapa keperluan seperti senter dan lain-lain, karena ini hampir malam hari, Aditia melihat Alka dan juga Jarni.


“Kok kalian di sini?” Aditia bertanya dengan wajah yang sok polos.


Alka maju mendekati Aditia, dia menatap kesal, Aditia mundur karena meliha Alka yang terlihat marah, dia ditinggal, bukan karena ditinggal sendirian takut, tapi tidak diajak mengerjakan kasus.


“Santai, santai, kami hanya sedang menyelidiki dulu, bukan bertindak, jadi santai ya.” Aditia menaruh dua tangannya di dada, takut kalau Alka akan menghajarnya.


“Untung kau masih tetap membiarkan kami bisa melacak energi kalian, tidak sengaja memblok energi itu, kalau sampai itu terjadi, mungkin kakak akan membumihanguskan kampus ini. Karena dia pikir kalian sedang dicelakai.” Jarni tertawa melihat kelakuan kakaknya. Aditia bisa memblok energinya hingga tidak bisa dideteksi, itu kemampuan yang dia asah beberapa waktu belakangan ini, karena banyak kejadian jin maupun dukun yang mencoba selalu mendeteksi lokasi lima sekawan dan membuat rencana mereka gagal.


Makanya Aditia mempelajari ilmu yang bisa membatasi energi mereka berlima untuk tidak bisa dideteksi oleh siapapun, kecuali Ayi Mahogra yang kemampuannya pada dua dunia tidak terbatas.


“Kita harus masuk ke hutan itu lagi, tapi kemungkinan masuk ke dunia ghaibnya, bukan dunia kita.” Ganding tiba-tiba menjelaskan.


“Aku ambil peralatan dulu.”


“Pak, peralatan apa ya?” Aditia mengulang, dia dari tadi belum dapat jawaban soalnya.


“Senter kepala, makanan, baju dan lainnya, bagaimana kalau kita tersesat juga?” Parmin menjelaskan.


“Pak, kita memang butuh senter jika baru masuk ke hutan, tapi kalau di dunia ghaib, sentermu takkan berarti apa-apa. Kau pernah masuk ke dunia ghaib bukan? kalau senter tidak tembus kegelapan mereka.”


“Jadi kita tidak perlu bawa apa-apa ke hutan itu?” Parmin bertanya.


“Nggak usah ikutlah Pak, kita aja.”


“Lah, kan saya yang bisa nunjukin jalan, saya kuncen hutan loh.”


“Pak, kami kuncen dunia ghaib.” Ganding tertawa, Aditia tidak ingin Parmin ikut takut celaka, karena repo bawa manusia biasa ke dunia ghaib, mereka banyak takutnya. Walau Parmin seorang yang tidak lemah.


“Tapi saya ingin ikut, kan kalian anak muda semua, nanti kalau ada apa-apa gimana?”


“Pak, hutan sudah kosong, kami sudah melenyapkan isinya, kemarin pasukan Ayi ikut bantu, pasukan Ratu turun adalah bantuan yang artinya hukuman atas pengadilan yang tidak dilakukan, karena raja jin itu, mengambil korban untuk ditumbalkan, itu membuat Ayi marah, karena perjanjian jin dan manusia itu, tidak diperbolehkan membujuk manusia yang biasanya mengaku dukun untuk menumbalkan sesamanya.


Jin harus hidup di alamnya, kita juga, jadi pelanggaran itu membuat apa yang kita dilakukan Ayi Mahogra, selain dia tentu saja khawatir padaku, karena kau kerabatnya. Jadi, hutan itu tidak berbahaya lagi, kalau besok ada yang hilang, mungkin hanya tersesat dan halusinasi.”


“Dit, aku ikutlah, seru kayaknya kalau ikut kalian.” Parmin jujur, dia dulu juga kagum pada Mulyana yang terlihat gagah dan cerdas, dia benar-benar membuat Parmin kagum, sekarang anaknya, membuat dia makin kagum.


“Pak, tapi ....”


“Ayolah Dit.” Parmin seperti anak kecil yang merengek diajak kakaknya untuk ikut ke tongkrongannya.


“Ini pakai ini Pak.” Alka memberikan gelang yang terbuat dari kayu gaharu, “sudah kurendam di air daun bidara yang direbus selama 40 hari, dengan mantra pelindung. Jangan sampai lepas, ini bisa membuatmu bisa kami deteksi dan juga terlindung. Kalau nanti kau terpisah, pokoknya tetap di tempatmu tunggu kami datang.” Alka mengizinkan lelaki ini untuk ikut, dia hanya lelaki tua yang suka dengan petualangan horor.


“Baik, terima kasih ya.” Seperti dapat mainan baru, Parmin memakai gelang itu dan akhirnya mereka bersiap ke hutan itu lagi.


Begitu masuk, Aditia melakukan kuda-kuda membaca mantra dan menyentuh tanah hutannya.  Mereka masuk ke hutan itu, suasananya berbeda dengan hutan di dunia manusia. Lebih pengap, gelap tapi bukan gelap karena tidak ada cahaya, suasanya sangat kelabu dan sendu.


“Ternyata benar ya, tidak benar-benar gelap, tapi seperti cahaya remang, aneh, tak ada cahaya apapun di sini.”


“Pertemuan waktu di antaranya Pak, makanya menjadi seperti ini, tidak terang dan gelap.” Aditia menjelaskan.


“Winda!!!” Alka berteriak.

__ADS_1


Semua orang juga ikut berteriak.


Tidak ada jawaban, mereka terus jalan.


“Tidak ada Dit, aku tidak merasakan ada seseorang di sini.”


“Aku pikir ada yang memagari tempat mereka. Ka, cari dengan wujud jinmu, deteksi jiwa-jiwa itu dengan tubuh jinmu.”


“Dit, kok?”


“Baru perkiraan, setelah pasti, aku akan ceritakan kalian kemungkinannya, jika aku benar, mungkin kita bisa membuat Winda kembali ke tubuhnya.”


“Aku akan berubah, Pak jangan kaget ya.” Alka berkata.


“Memang kaget kenapa?” Parmin bingung.


Alka merubah tubuh manusianya ke tubuh jin penuh sisik itu, tanpa pakaian, tentu kalian tahu, bahwa ini bukan sesuatu yang mengganggu, karena tubuh itu dibanding terlihat vulgar, malah terlihat indah dan sekaligus mengerikan, tergantung siapa yang melihat.


Parmin jatuh, dia melongo. Tidak tahu, bahwa Alka bukan manusia biasa.


“Kau ... kau ....” Parmin kaget seperti dugaan semua orang, dia makin kaget karena Alka melayang, tidak jalan kaki lagi.


“Pak ayo, tadikan udah bilang jangan kaget. Kenapa malah pake jatuh, ah lemah.” Ganding meledek.


“Alka bukan manusia?”


“Manusia dia, tapi jin juga, cantik sekali dia memang jika sedang merubah tubuhnya.” Aditia menatapnya dengan berbinar, orang kasmaran memang berbeda.


“Cantik darimananya?” Parmin bingung.


“Pak, tahan deh mulutnya, kalau nggak mau habis oleh lelaki ini.” Ganding mengingatkan, Parmin menutup mulutnya dengan tangan.


Mereka berjalan, mata Alka bersinar, dia sepertinya melihat sesuatu. Alka terus melayang dan akhirnya ada gubuk yang dari kemarin tidak terlihat, tentu saja, karena gubuk itu masuk jauh lebih dalam dari lokasi yang mereka datangi kemarin-kemarin.


“Pantas kita dihadang terus, ternyata ada tempat yang tidak boleh kita datangi, sepertinya tempat ini memang dilindungi oleh raja jin itu.


Mereka masuk dengan paksa, benar saja ada pagar ghaib, tapi ini pagar ghaib yang tidak terlalu tebal, Aditia dan yang lain merobek pagarnya dengan cepat.


Saat masuk, dugaan Aditia benar.


“Winda!” Jarni dan Alka menghampirinya, mulutnya dijahit hingga tak bisa bicara, makanya dia tidak bisa minta tolong.


Alka merubah wujudnya menjadi wujud manusia, agar yang lain tidak ketakutan melihatnya, dia membuka jahitan di mulut Winda yang saat ini tubuhnya berupa ruh.


“Kak!” Winda memeluk Jarni dan Alka, dia ketakutan dan sangat lemah.


“Kenapa kau masih di sini ceritakan kejadiannya.” Jarni berkata.


MALAM ITU SAAT WINDA DAN SAMIDI KEMBALI


Heru menarik kain kafan yang mengikat di dua tubuh yang sukmanya lepas untuk masuk dunia ghaib.


Tapi dia hanya menarik kain kafan  Samidi, tidak dengan kain kafan Winda, Samidi kembali ke dunia manusia, sedang Winda, tertinggal.


“Kok aku nggak balik?” Winda bingung dan dia berteriak memanggil Samidi yang hilang, dia ketakutan.


“Pak! Pak!”


Saat dia sedang berteriak, tiba-tiba dari arah belakangnya Melati membaca mantra mangis, mulut Winda tiba-tiba terjahit hingga tidak bisa berkata apapun, dia berusaha membuka mulutnya tapi tidak bisa.


Selain mulutnya, tiba-tiba seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia jatuh dan saat jatuh, dia melihat seorang wanita mendekatinya, itu Melati. Winda senang Melati datang, tapi Winda salah, Melati tidak bermaksud menolongnya, karena Winda adalah korban lain.


Melati menarik jiwa Winda masuk ke gubuk itu, saat masuk Winda kaget, ada lima orang perempuan lainnya, mereka memiliki kondisi yang sama dengan Winda, tidak bisa bergerak dan mulutnya terjahit.


Winda menatap Melati, dia menangis, karena bingung, kenapa  dia ditarik ke sini, kenapa dia ditawan.


“Winda, terima kasih karena sudah datang ke hutan ini dan peduli pada Arif serta Nola, maaf aku harus meminjam ragamu, mungkin kamu pikir ini tidak adil, tapi ... kematianku pun, tidak adil.

__ADS_1


Menetaplah di sini beserta yang lain, akan tiba giliranmu untuk dijemput raja jin, setelah lima orang lainnya ini.


Aku hanya ingin hidup lagi, bersama kakakku dan kuliah lagi, aku hanya ingin hidup lagi, maafkan aku.”


Melati lalu menutup pintu gubuk dan membaca mantra pagar ghaib itu lagi, agar keberadaan gubuk tidak diketahui.


Satu hal yang kawanan dan Arif tidak sadar, bahwa Raja jin tidak mengincar Melati untuk dijadikan tumbal, karena dia sudah jadi tumbal yang Samidi berikan walau tidak tuntas, tapi Melati adalah perantara yang memberikan hadiah menyenangkan bagi raja jin, tubuh gadis perawan dan juga jiwa dari para gadis itu untuk dijadikan budak, kelak saat raja jin meminta, mereka akan menjadi monyet neraka, berubah wujudnya dari gadis cantik menjadi monyet neraka.


Melati pintar, saat sudah matipun dia tetap cerdas. Karena tahu jiwanya tersesat tidak bisa kembali kepada Tuhan, ketimbang menjadi penunggu hutan, dia lebih senang mengadakan perjanjian dengan raja jin, yaitu memuluskan rencananya untuk merasuki tubuh gadis perawan agar dia bisa merasakan hidup kembali.


Walau itu semua tidak bisa dilakukan selamanya dalam satu tubuh, karena satu tubuh perawan hanya mampu bertahan tanpa sukmanya selama enam bulan, setelah itu tubuh akan semakin lemah dan mati.


Maka sebelum waktu enam bulan itu habis, Melati akan menumbalkan tubuh gadis itu sebagai hadiah bagi raja jin, jiwanya yang dia tawan juga kelak akan dijadikan bala tentara raja jin. Lalu mencari korban baru lagi seorang gadis yang masih perawan.


Dia berubah menjadi bengis ketika dendam melanda jiwanya.


“Pantas tadi kau minta kakak mendeteksi jiwa-jiwa dengn tubuh jinnya, padahal kita hanya mencari Winda. Ternyata kau sudah curiga Dit?” Ganding bertanya.


“Ya, aku yakin, Winda bukan korban pertamanya.”


“Ada orang hilang yang belum ketemu juga kan Pak? pasti kebanyakan wanita.”


“Ya, betul, tapi kami tidak pajang semua, karena keluarganya menyerah untuk mencari, sedang foto Melati tetap kami taruh untuk menghormatinya, wujud dari harapan. Tapi sepertinya kami salah memilih orang untuk dihormati.”


“Tidak heran Pak, jika sudah mati, apalagi mati dengan keadaan yang tidak baik, masih menggantungkan cita-cita, tentu dia akan sangat serakah ingin hidup lagi, sedang tubuh tanpa jiwa yang dipilihkan tuhan, hanya akan menjadi tubuh kosong, seperti handphone, jika kita buka casingnya, lallu mengganti dengan casing lain yang tidak sesuai, maka handphone ini tidak aka ne berfungsi dengan baik.


Maka tubuh juga begitu, jika jiwanya bukan jiwa yang dipilihkan Tuhan, maka tubuh ini hanya sebuah daging yang kosong, lama kelamaan membusuk. Melati tahu itu dan tidak peduli, toh sebelum tubuh itu mati, dia akan menumbalkan tubuh itu persis seperti dia ditumbalkan.


Pasti Samidi yang membuat Melati mampu melakukan itu, dia pasti takut diancam oleh keluarga Melati hingga bisa meyakinkan keluarganya untuk mengembalikan Melati hidup lagi dalam tubuh gadis perawan lain.” Aditia kesal karena lagi-lagi ini adalah serangkaian melawan Tuhan.


“Jiwa-jiwa ini akan kita pulangkan kan Dit? Lalu jiwa Winda akan kita kembalikan ke tubuhnya. Winda, kau harus kuat ya, kau harus merebut kembali tubuhmu!”  Alka membantu Winda berdiri, Winda mengangguk.


“Kau orang baik Winda, kau itu teman setia, makanya kami tidak menyerah saat tahu kau hilang, maksudnya jiwamu.” Jarni ikut membantu Winda.


Winda menangis dan mengangguk.


“Sedari awal ternyata Heru memang sengaja memaksaku untuk ikut, bukan untuk menyelamatkan teman-temanku, tapi dia ingin tubuhku menjadi tubuh tantenya? Begitu kan?”


“Ya, kau benar, Heru begitu mendengar Nola dan Arif hilang bingung, karena bukan mereka dalangnya, tapi akhirnya Heru melihatmu yang kalut, dia tahu, bisa menjadikan alasan temanmu untuk membuatmu mau meninggalkan tubuhmu secara sukarela, pasti jiwa yang lain juga dibohongi seperti itu. Makanya ada korban tersesat yang kembali dan ada korban tersesat yang tetap hilang.


Korban yang kembali kemungkinan hanya pancingan untuk para gadis perawan yang tubuhnya diincar.


Sedang Nola dan Arif adalah rencanya yang tidak mereka susun sama sekali, jadinya mempermudah mereka untuk mendapatkan tubuh.” Ganding memberi penjelasan.


“Tapi soal kecelakaan bus itu gimana? apa Melati juga dalang?” Parmin tiba-tiba bertanya.


“Kemungkinan dia juga adalah dalangnya.” Aditia menjawab.


Mereka lalu kembali ke dunia manusia, Parmin kembali ke pos, sedang kawanan kembali ke markas, membawa Winda ke sana.


“Setelah kau kembali ke tubuhmu, aku akan buat kau lupa, lupa semua kejadian yang kau alami di hutan, hanya agar kau bisa menjalani hidup dan juga tidak tahu identitas kami. Kau tenang ya, di sini ramai, kami akan temani kau.” Alka menenangkan Winda yang masih menangis.


“Kami tidak akan mencelakaimu seperti yang lain.” Jarni ikut menenangkan.


“Bagaimana dengan lima wanita lain yang bersamaku di gubuk?” Winda tiba-tiba bertanya.


“Mereka sudah kembali ke tempat seharusnya, tubuh mereka akan diketemukan besok pagi, keluarga akan mendapatkan keadilan, kau tenang saja.”


“Kalian orang baik, terima kasih.”


“Kau juga orang baik, terima kasih karena kau masih bertahan.” Alka memeluk Winda, dia memang orang yang sangat mengayomi dan hangat, dibalik tubuh setengah-setangahnya.


“Har, apa yang kau temukan?” Aditia menyapa Har yang terlihat bersemangat keluar dari kamar penelitiannya.


“Kalian pasti kaget dengan data yang aku berikan, kalian akan menemukan benang merahnya! Kalian harus membaca data ini, ini adalah dokumen asli yang disembunyikan oleh suatu perusahaan dengan teknik double book keeping dalam membuat laporan keuangan.


Aku mendapatkannya saat meretas dokumen perusahana itu, kalian harus melihat datanya!”

__ADS_1


Hartino memberikan setumpuk dokumen, Hartino memang selalu bisa diandalkan.


__ADS_2