
1 Hari lalu saat Bayi itu diculik
Mulyana melepas khodamnya saat bayi itu terlepas oleh ayahnya karena diserang Mulyana, Khodam itu bernama Barung, dia berwujud seorang lelaki tua berwajah tampan, walau berumur sangat amat teramat tua, dia masih memiliki wajah yang rupawan.
Aura bijaksana selalu keluar saat melihat wajah jin soleh ini.
Ketika tubuh bayi itu hampir menyentuh tanah, khodam berhasil menangkapnya, setelah itu dia turun perlahan ke bawah dengan melayang.
Barung sebenarnya khawatir meninggalkan Mulyana melawan darhayusamang sendirian, tapi bayi ini harus ditolong, dia dan Mulyana telah mempelajari bagaimana melepas kutukan yang bayi itu tangkap saat dia dalam kandungan ibunya, karena sifat iblisnya memang sudah tertanam.
Barung meletakkan bayi itu ditanah, dia mengeluarkan kertas yang telah Mulyana berikan sebelumnya, kertas yang bertuliskan SABA ALKAMAH, kertas itu ditaruh didekatnya, sebuah air yang ditaruh di bejana perak juga sudah dipersiapkan, air itu berasal dari air laut dengan kedalaman yang belum pernah terjamah manusia, makanya dibilang air suci, karena berasal dari lautan yang paling gelap.
Air ini diambilkan oleh para Punggawa Ibu Ratu untuk penangkal, kertas yang telah diletakkan di atas tubuh bayi itu dibasahi oleh air suci tersebut, keluar asap hitam pekat, Darung membacakan mantra.
Kara dumangit gitlanetet
Grigelem hante tidak sanak
Hoiksa jakse inat
Olamihaden beksayed
Jardanung hadim!
Mantra ini bernama mantra penangkal dengan air suci yang diambil dari air laut pantai selatan yang diambil dari dalam laut terdalam belum dijamah manusia, nama mantra ini adalah mantra SABA ALKAMAH.
Setelah membacakan mantra, khodaam itu lalu mengiris setiap jari bayi itu, mengeluarkan semua energi hitamnya dari seluruh tubuh semua jarinya, ini bisa membuatnya menjadi lebih bersih, semuanya dia menunggu tiga belas tetes darah keluar dari semua jarinya, bayi yang sangat kuat dan tegar, karena selama ritual, dia tidak menangis sama sekali.
Bayi itu bahkan membuat Barung bergitu terpesona, dia sangat cantik, kulitnya putih bersih, bibirnya merah merona, alisnya tebal, rambutnya tebal, jari jemarinya lentik dan tubuhnya sangat wangi, berbanding terbalik dengan energi jahat yang dia bawa.
Setelah semua jari mengeluarkan tiga belas tetes darah hitam yang dialirkan ke bejana perak tadi sehingga darahnya bercampur dengan air suci, kata Ibu Ratu hal itu bisa membalik kutukan menjadi hal yang baik, tapi waktunya tidak lama, hanya beberapa lama, bayi itu harus melatih dan mengendalikan energi jahatnya kelak.
setelah berhasil melepaskan kutukan itu dengan lancar tanpa gangguan, Barung ingin sekali mengantar bayi itu kepada ibunya, tapi sinyal bahaya dia rasakan dari Mulyana, maka dia langsung menyembunyikan bayi itu disemak-semak dan memagari ghaib bayi itu, agar Darhayusamang tidak merasakan energinya apalagi menemukan bayi itu.
Barung terburu-buru hingga lupa bahwa hutan ini masih dilewati manusia dan bayi itu masih bisa didengar dan dilihat oleh manusia yang kebetulan lewat.
Barung lalu meninggalkan bayi yang tidak menangis tersebut untuk membantu Mulyana dulu.
“Bu, denger nggak?” Seorang lelaki yang berumur empat puluh tahunan bertanya pada istrinya, mereka adalah dua orang miskin yang bahkan masih menggunakan tungku kayu bakar untuk masak.
Mereka terbiasa pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan tentu tumbuhan liar yang bisa dimakan, mereka tidak punya anak untuk jadi tumpuan hidup, rumah hanya terbuat dari bilik dan jerami sebagai atap.
“Iya, kayak ada suara bayi ya?” Istrinya mendengar hal yang sama.
“Iya, kayak suara bayi tetangga kita yang lagi becanda sama ibunya ya?”
__ADS_1
“Tapi Pak, masa di hutan gini, jangan-jangan ....”
“Yuk kita buruan, merinding aku.” Pria itu dan istrinya lalu segera berjalan karena mengira itu suara hantu.
Tapi saat mereka dekat dengan semak dimana bayi itu disembunyikan oleh Barung, dua pasangan itu mendengar lagi suara bayi dan semakin jelas.
“Pak, aku kok dengarnya suara itu ada di sana ya, kita periksa saja ya? siap tahu benar ada bayi, kadang hutan ini suka dipakai oleh muda-mudi jahat untuk berzina lalu membuang mayat bayi, siapa tahu ini adalah bayi yang masih hidup.” Istrinya meminta suaminya untuk memeriksa.
“Tapi aku takut Bu.”
“Kau mau aku yang periksa?”
“Jangan, aku saja.”
Suaminya lalu menguatkan hati dan memberanikan diri, dia tidak mau istrinya yang akan memeriksa dan celaka, satu-satunya wanita yang selalu mendampingi dia walau keadaan begitu sulit.
Saat lelaki itu memeriksa, dia melihat sebuah kain jarik yang menutupi sesuatu, karena itu dia membuka kain jarik itu dan kaget.
“Bayi! bayi Bu.” Lelaki itu berkata dengan suara yang lantang.
Istrinya mendekat, “Cantik sekali bayi itu.” istrinya mengambil bayinya, dia melihat secarik kertas yang ada di dadanya, kertas itu tertempel di baju bayi itu.
“Jangan kau ambil, aku takut kalau bayi itu bukan dari pasangan yang baik.”
“Kau gila! kita untuk makan sehari-hari saja kesulitan, ditambah bayi ini lagi, mana sanggup aku membiayainya.”
“Pasti ada rejeki Pak, kita bawa saja dulu, soal biaya, kita bisa pikirkan nanti!” Istrinya mulai menggunakan nada tinggi, suaminya tidak berani untuk menolak lagi, dia tahu, bahwa istrinya sangat ingin anak, mereka berdua memang belum dikaruniai anak setelah belasan tahun menikah, maka di mengalah.
“Pak, ini ada tulisan SABA ALKAMAH, apa ini maksudnya adalah nama dia? pasti orang tuanya meninggalkan bayi ini untuk diambil orang dan member tahu siapa saja yang mengambilnya nama anak ini dengan tulisan ini.”
“Kau tidak ingin mengganti namanya saja Bu? kalau kita berniat menjaganya, tentu kita tidak ingin dia diambil lagi oleh orang tuanya kelak, bagaimana kalau kita ganti saja namanya?”
“Tidak Pak, aku suka namanya, SABA ALKAMAH, nama yang indah sekali rasanya.” Sebuah mantra yang disematkan menjadi nama, tentu ini buah dari salah paham karena kertas itu masih tertinggal di dada Alka saat mantra dan ritual dilaksanakan.
“Yasudah, semua terserah kau saja.” Suami istri itu lalu berjalan pulang kea rah gubug mereka.
Saba Alkamah atau yang kita kenal Alka itu dibawa ke rumah baru, dia tidak pernah menangis begitu di bawa, sehingga suami istri itu tidak tahu saat Alka lapar, buang air kecil atau besar, karena dia tidak pernah menangis, tapi dia selalu seperti bicara karena terlihat senyum dan mengoceh sendiri.
Tentu dia mengoceh dengan penghuni dunia lain yang dia lihat, karena melihat ‘mereka’ sangat jelas bagi Alka.
“Kita harus melaporkan pada Pak Kepala Dea besok, karena kalau sampai ketahuan dan kita tidak melapor, maka kita akan dicurigai mencelakai orang tuanya, kita besok harus lapor ya Bu.”
“Ya, tapi kita harus ngotot untuk menjaganya, aku tidak mau jauh dari anak ini, anak ini sangat cantik dan menawan, aku sudah sangat jatuh cinta padanya.”
“Ya, kita akan matian-matian berusaha untuk mengurus bayi itu.”
__ADS_1
Setelahnya mereka beristirahat, tidak sulit menjaga Alka karena dia tidak rewel sama sekali, hal itu menambah kecintaan istrinya pada anak itu.
Pagi tiba, mereka menunggu jam sepuluh pagi untuk kerumah Pak Kades, mereka akan melaporan tentang anak itu.
Begitu waktu menunjukan pukul sepuluh mereka berjalan kaki untuk sampai rumah Pak Kades, walau jauh, mereka harus menempuh perjalanan ini, demi bayi Alka.
Begitu sampai, mereka izin bertemu Pak Kades ke Pelayan yang membukakan pintu, sempat disangka pengemis, mereka lalu menceritakan tujuan kedatangan. Pelayan itu lalu bergegas memanggil Pak Kades yang memang sering ada di rumah dibanding di tempat kerjanya.
Pasangan itu disuruh masuk, Pak Kades sudah di ruang tamu, mereka duduk diruang tamu Pak Kades, teh hangat dan camilan sudah disediakan.
“Mana kulihat bayinya?” Pak Kades itu bertanya.
“Ini Pak.” Istrinya memperlihatkan wajah bayi itu kepada Pak Kades.
“Wah ini bayi yang cantik sekali ya.”
“Iya Pak, cantik sekali, saya sudah langsung jatuh cinta pada anak ini.”
“Jadi kalian menemukan dia dihutan dan namanya ditinggalkan di dadanya? siapa namanya?”
“Saba Alkamah Pak Kades.”
“Oh iya, Saba Alkamah, nama yang indah sekali.”
“Pak, saya dan istri tidak punya anak, kami sudah menikah belasan tahun, Pak mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa-doa kami, jadi, izinkan kami untuk merawatnya Pak, saya mohon.” Lelaki itu memohon, Pak Kades terlihat bingung.
“Begini Pak, saya juga tidak bisa mengizinkan Bapak merawat bayi ini atau tidak, tapi untuk sementara, sebelum kita bisa menemukan orang tua bayinya, saya akan izinkan Bapak dan Ibu untuk mengurus bayi ini, tapi jika orang tuanya ditemukan, dia harus segera dikembalikan.” Pak Kades hanya memberikan solusi yang seharusnya.
“Baik, tapi selama orang tuanya tidak ditemukan, itu artinya kami boleh mengangkat bayi ini menjadi anak kami ya Pak?” ucap lelaki itu lagi.
“Ya, saya akan izinkan, tapi mengenai semua biaya hidupnya bagaimana, seperti yang kita semua tahu, bahwa ini adalah musim panceklik, kita semua mengalami kerugian besar karena tanah di desa kita ini selalu gagal panen, saya tahu pasti kalian juga kesulitan, ditambah memang selama ini kalian hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk hidup, apakah tidak terlalu berat jika merawat anak ini?” Pak Kades berbicara apa adanya, di saat ini, desa mereka memang sedang sangat sulit, tanah yang mereka jadikan tempat menanam padi dan lainnya selalu gagal panen, bahkan desa mereka terkenal menjadi desa yang miskin karena itu.
“Saya akan berusaha sekuat tenaga memenuhi kebutuhannya Pak, karena saya dan istri saya benar-benar ingin anak ini Pak, kami akan menyayanginya dan akan berusaha memenuhi kebutuhan anak ini.”
“Baik Pak, kalau begitu, saya akan tetap menginformasikan mengenai anak ini, mengenai kehidupannya dan biaya hidupnya, kalian yang harus usahakan, saya tidak bisa membantu.”
“Baik Pak, terima kasih banyak karena mengizinkan, saya akan melakukan apapun agar anak ini terpenuhi kebutuhannya, saya akan kerja lebih keras lagi.” Lelaki itu terlihat bersungguh-sungguh, karena istrinya terlihat sangat bahagia di dekat anak itu, dia juga melihat betapa cantiknay anak itu, dia juga perlahan jatuh cinta padanya.
Setelah melapor, mereka pulang.
Tapi kabar tentang Alka langsung tersebar ke penjuru desa mereka, karena waktu itu belum ada media sosial, tentu soal ini hanya sampai desa mereka saja beritanya, tidak sampai desa sebelah dimana Meutia tinggal.
Kabar ini membuat sebuah keberuntungan untuk pasangan yang merawat Alka, banyak tetangga datang untuk sekedar melihat bayi cantik itu, beberapa membawa buah tangan atau susu yang bisa diminum oleh Alka, termasuk makanan, Alka bayi sudah bisa makan bubur diumurnya yang seminggu, hal yang tidak bisa dilakukan bayi jaman ini dan bayi manusia biasa.
Tentu Alka berbeda, karena dia setengah Jin dan setengah Manusia.
__ADS_1